
Keluarga Benjamin Alexander kini sudah berkumpul di meja makan. Louisa bahkan sudah berkenalan dengan Diana, istri dari Jared.
Louisa masih tak menyangka dirinya berada di tengah-tengah keluarga yang begitu hangat dan penuh dengan kebaikan. Gadis itu belum menyadari jika saat ini dia berada di tengah-tengah para mafia kejam.
"Jadi apa yang akan kau bicarakan dengan kami, Son?" tanya Ben memulai percakapan setelah mereka selesai makan siang.
"Ehm, aku akan menikahi Louisa dalam minggu ini, Dad. Aku meminta restu pada kalian semua," kata Jack. Tentu saja hal itu membuat Louisa tertunduk malu. Sementara Giani berbinar senang.
"Lebih cepat lebih baik, Jack. Mommy setuju kau segera menikah. Tidak baik berpacaran terlalu lama. Apalagi kau dan Louisa tinggal bersama dalam satu rumah. Jangan sampai kau membuat calon menantuku hamil sebelum kau menikahinya."
Louisa dan Jack hanya saling melempar tatapan saat mendengar perkataan Giani yang terakhir. Giani mengernyit melihat kelakuan putranya.
"Jangan bilang kalian sudah melakukannya?" tanya Giani memasang wajah berang.
"Oh ayolah, Mom. Kita hidup di era apa? Hal seperti itu sudah wajar. Itulah kenapa aku ingin segera menikahi Louisa. Salah satu alasannya ya karena kita sudah ...."
Giani seketika memijat pelipisnya yang berdenyut. Bagaimana bisa putranya begitu santai mengatakan hal seperti itu di depan adik-adiknya.
"Sudahlah, Honey. Putra kita pasti tahu apa yang harus dia lakukan. Kau jangan terlalu memikirkan putramu itu. Dia sudah cukup dewasa untuk memutuskan segala sesuatu yang menurutnya baik untuk dia lakukan. Lebih baik kau pikirkan saja kesehatanmu, karena sebentar lagi kita akan mengadakan pesta untuk putra kita," kata Ben menenangkan istrinya.
Giani menghela napas panjang. Dia tak lagi bersuara dan memilih menuruti ucapan suaminya. Jack tersenyum menggoda dan mengusap tangan ibunya seolah memberikan ketenangan. Louisa hanya menunduk takut. Dia sungguh tak berani menatap wajah calon ibu mertuanya saat ini.
Usai makan siang bersama, Jack, Jared dan ayahnya masuk ke ruang kerja ayahnya. Mereka akan membicarakan perihal penyerangan yang telah Jack lakukan beberapa waktu yang lalu.
Louisa terpaksa memilih ke kamar, karena dia masih belum berani berhadapan lagi dengan calon ibu mertuanya karena pengakuan Jack tadi. Jujur saja Louisa merasa takut jika dirinya dicap membawa pengaruh buruk pada Jack.
Saat Louisa baru saja berganti baju, pintu kamarnya diketuk dari luar. Louisa segera membukakan pintu. Dia tersenyum mendapati Josceline ada di hadapannya dan tersenyum manis.
"Apa aku mengganggu, Kak?"
"Tidak, Celine. Masuklah!"
"Ada apa, Celine?"
"Aku hanya ingin mengenal kakak lebih dekat lagi. Kemarin saat di San Francisco kita hanya sebentar saja berkenalan. Jadi aku mau tahu tentang kakak."
"Apa yang ingin kau ketahui?" Louisa tersenyum lembut pada Celine.
"Kenapa kau menyukai kakakku?"
"Karena dia baik."
"Hanya itu?" Celine mengangkat sebelah alisnya tak percaya.
"Ya, semua berawal dari kebaikan kakakmu. Dia dengan tulus membantuku tanpa pamrih."
"Apa kau yakin? Dia pria paling perhitungan di keluarga kami. Mungkin saja niatnya membantumu karena dia ingin menjerat dirimu."
"Jika begitu dia telah berhasil," jawab Louisa enteng. Celine mengangguk-angguk, sepertinya calon kakak iparnya itu sudah bucin akut pada kakaknya.
"Kau tidak mau ke luar? Mommy mungkin masih penasaran denganmu," tanya Celine. Louisa menunduk dengan wajah memerah.
"Sebenarnya aku ingin, tapi aku malu."
"Malu? Kenapa?"
"Itu karena kakakmu bicara sembarangan tadi. Aku jadi tidak punya muka di depan mommymu."
"Kakak ipar tenang saja. Mommy tidak serius menanggapinya. Lagi pula hal itu bukanlah hal yang memalukan. Toh kakakku sudah serius ingin menikahimu. Jadi tidak perlu malu dengan mommy. Ayo kita keluar, kakak ipar!" Celine menarik tangan Louisa agar berdiri dari tempatnya duduk. Dengan berat hati Louisa akhirnya menuruti ucapan Celine.
...****************...