Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 10. Berbagi Apapun



Wajah Louisa langsung memerah mendengar ucapan ramdom Jack. Louisa buru-buru membalikkan badannya memunggungi pria yang telah banyak membantunya itu.


Jack tersenyum samar melihat wajah Louisa yang memerah. Dari belakang pun Jack bisa melihat jelas, telinga Louisa yang juga memerah.


"Tidurlah dulu. Aku masih harus mengurus sesuatu," ujar Jack. Louisa mengangguk dan berjalan ke bagian kursi di samping kemudi. Namun, Jack menahannya.


"Mau kemana?"


"Tidur di kursi itu, Jack."


"Tidurlah di ranjang. Kau butuh tempat tidur nyaman agar lukamu lekas sembuh."


"Tapi tempat tidur itu hanya 1, Jack."


"Kita bisa berbagi. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu, Loui."


"Ta_tapi." Louisa terpaksa menoleh menatap Jack. Jujur saja dia berpikir dia tak akan bisa tidur jika harus satu ranjang dengan Jack.


"Kenapa?"


"A_ku .... "


"Jangan malu, Loui. Mulai sekarang kita akan berbagi apapun yang ada di dalam mobil ini. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang berlebihan. Namun, jika kau menginginkanku, aku akan siap kapan pun kau membutuhkanku."


"A_ku tidak mengerti." Wajah Louisa semakin merah padam. Dia tak tahu arah pembicaraan Jack. Dia takut menyalah artikan candaan yang dilontarkan oleh pria itu.


Jack menghimpit tubuh Louisa di depan pintu kamar mandi. Jantung Louisa mulai berdebar tak beraturan. Dia tak berani mengangkat kepala karena Jack terus memandanginya dengan tatapan yang begitu dalam.


"Berapa umurmu, Loui? Kau bukan anak kecil lagi. Kau pasti tahu apa yang aku maksudkan."


Louisa menelan salivanya kasar. Hembusan napas Jack terasa menggelitik wajah Louisa. Jika dia menggeser sedikit kepalanya, sudah pasti wajahnya akan semakin dekat dengan wajah Jack. Louisa tiba-tiba terkejut saat Jack mengangkat dagunya dan membenamkan ciuman di bibir merah miliknya. Mata cantik gadis itu seketika terbelalak.


Jack tersenyum melihat wajah kaget Louisa. Dia mengusap bibir Louisa yang basah dan kemudian berbisik di telinga Louisa.


Jack langsung keluar dari campervan, Louisa masih berdiri kaku di tempatnya. Dia masih mencerna ucapan dan kelakuan Jack barusan. Kenapa pria itu malah justru berbuat seperti ini padanya.


Louisa berjalan linglung ke ranjang yang ada di sebelah kamar mandi itu. Ranjang dengan ukuran 140x110 itu tampak sangat nyaman dan hangat. Louisa duduk di sana dengan tatapan yang masih menerawang.


Sementara itu, di luar Campervannya, Jack tampak menghela napas panjang. Hampir saja dia kebablasan. Untung saja otaknya masih bekerja dengan waras. Setelah menenangkan perasaannya yang tiba-tiba bergejolak pada Louisa. Jack kembali masuk ke dalam mobil Campervannya. Dia melihat Louisa sudah berbaring memunggungi pintu dengan tubuh yang terbalut selimut.


Jack tak ingin mengganggu istirahat Louisa. Dia memilih menyalakan laptopnya dan mencari segala informasi mengenai Zeus dan Lukas.


Jack memeriksa semua informasi yang dia dapat dengan serius. Musuhnya memang hanya seorang bandar narkoba, tapi Zeus ini memiliki jaringan yang cukup besar. Akan sangat kewalahan jika dia menghadapinya sendiri.


Jack berpikir ingin menghubungi Jared, tapi dia masih ragu. Jared terbilang masih pengantin baru. Pasti akan sangat merepotkan sekali. Meski Jack tahu kakaknya pasti akan sangat senang jika diajak menumpas musuhnya kali ini.


Jack menghela napas. Dia lalu menutup semua info mengenai Zeus. Nanti akan dia pikirkan lagi caranya. Sekarang Jack memilih membuka file pekerjaannya. Sudah sejak 3 hari yang lalu dia belum memeriksa hasil laporan orang-orangnya. Jack bahkan juga lupa mengecek emailnya.


Keesokan harinya, Loiusa terbangun. Dia terkejut melihat tangan Jack melingkar di perutnya. Louisa tak berani bergerak. Dia kembali memejamkan mata meski berdebar. Jack semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat Louisa menahan napasnya.


"Kau sudah bangun?" Suara serak Jack mengejutkan Louisa.


"Su_sudah. Bisakah k_au melepas pelukanmu?"


"Bisakah sebentar saja biarkan seperti ini? Tubuhmu sangat hangat, Loui."


"Kau memanggilku seperti kedua kakakku dulu," ucap Louisa lirih.


"Kau keberatan?" tanya Jack sembari membelai perut Louisa.


Ti_tidak. A_ku menyukai panggilan itu."


...****************...