Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 6. Ace02



Akhirnya, Jack, Mario dan Jean berhasil mengeluarkan Louisa dari apartemen Mario dengan bantuan orang tua Mario. Mario meminta ayahnya untuk mengirim sebuah helikopter di atas apartemen mewah itu. Ayah Mario memiliki sebuah rumah sakit. Sehingga orang yang melihat pasti akan berpikir itu helikopter yang akan menjemput pasien.


Di dalam helikopter itu, Jack masih sibuk menggerakkan jarinya di atas layar tabletnya. Louisa duduk di samping Jean. Dia terus menunduk, tangan Louisa gemetaran.


"Kenapa tubuhku rasanya sakit sekali, Kak?" ujar Louisa dengan suara bergetar. Jean yang semula sedang menatap ke bawah menoleh pada Louisa, begitu juga dengan Jack.


Jack mengamati Louisa. Dia lantas mengumpat kesal. Kondisi Louisa sangat mirip dengan orang yang sedang sakau.


"Mario, kapan kita sampai ke rumah sakit?"


"5 menit lagi, Jack. Bersabarlah."


"Louisa sakau!" Jack meletakkan tabletnya dan menggenggam tangan Louisa yang duduk di depannya.


"Ada apa denganku, Jack?"


"Tenanglah, sebentar lagi kita sampai."


"Mario, kau hubungi ayahmu. Tanyakan padanya apa dia juga memesan Ace02 pada ayahku. Kita memerlukan obat itu sekarang."


"Aku akan bicara dengannya, kita sudah sampai di rumah sakit. Kak Jean akan menyiapkan kamar untuk kalian sementara waktu."


"Baiklah. Terima kasih, Bro."


"Ini tidak gratis, man."


"Kau boleh menyebutkan 1 permintaan, tapi bukan sekarang."


"Kau harus memberi 2. Kau juga sudah melibatkanku, Jack."


"Baiklah, kalian memang perampok," ujar Jack.


Helikopter itu mulai mendarat di rooftop rumah sakit. 3 orang perawat sudah bersiap di sana sesuai intruksi Jean. Jack mengangkat tubuh Louisa dan membaringkannya di atas brankar.


Brankar didorong menuju ruangan yang sudah disiapkan. Mario menemui ayahnya yang memang saat itu berada di rumah sakit. Pria paruh baya seusia daddy Ben itu ikut turun ke ruangan Louisa.


Saat ini Louisa sedang di dekap Jack. Gadis itu semakin menjadi, tubuhnya tak hanya gemetaran, tetapi juga Louisa mulai berhalusinasi dan ingin melukai dirinya sendiri. Jean sudah mengambil sampel darah Louisa untuk diperiksa di lab.


Ayah Mario masuk bersama Mario. Jack menoleh dan menatap pria paruh baya itu. "Aku akan memberikan obat itu. Kau harus mendekapnya dengan kuat Jack."


Jack mengangguk dan mendekap Louisa semakin erat. Louisa menjerit histeris. Jack memejamkan matanya karena suara lengkingan Louisa memekakkan telinga.


Carlos ayah Jack, langsung menyuntikkan obat yang dimaksudkan oleh Jack. Obat ciptaan Ben itu berfungsi untuk memurnikan sel darah merah yang tercemar kandungan zat-zat berbahaya dalam obat-obatan.


Setelah Louisa disuntik obat oleh Carlos, tubuhnya seketika lemas dan Louisa tak sadarkan diri. Jack masih menahan tubuh Louisa. Dia tidak memberi ijin siapapun menyentuh Louisa. Jack merasa waspada dan membiarkan orang lain menyentuh Louisa. Jack berpikir jika saat ini keselamatan Louisa sedang terancam. Jadi sebaiknya dia tidak mempercayai siapapun saat ini.


"Siapa dia, Jack?"


"Dia kekasihku, uncle." Jack terpaksa berbohong agar ayah Mario tidak menanyainya macam-macam. Jack membaringkan Louisa ke bed pasien. Jack merapikan rambut Louisa yang berantakan.


"Apa kau membutuhkan obat itu dalam jumlah banyak?"


"Aku belum tahu, Uncle. Aku juga masih harus menunggu hasil labnya."


"Baiklah, katakan saja padaku jika kau membutuhkannya."


"Thankyou, Uncle. Aku pasti akan meminta daddy menggantinya nanti."


Carlos tertawa. Dia tahu Jack sangat paham berapa harga sebotol kecil Ace02 itu.


"Kau sangat pengertian seperti Daddymu, Jack. Jangan lupa sampaikan salamku padanya."


"Tentu, Uncle."


"Kau menyukainya, Jack."


"Aku tidak tahu, yang jelas aku tidak membencinya. Aku justru iba dengan hidupnya. Sepanjang dia berada di bawah kekuasaan Zeus dia pasti sangat tertekan. Dia pasti merasa takut, akan mati di tangan Zeus atau di tangan Lucas."


"Hati-hati, nanti jatuh cinta," ujar Mario.


"Jika dia mau dengan pria sepertiku, kenapa tidak? Dia juga cantik, itu nilai lebihnya," jawab Jack tersenyum miring. Mario hanya berdecak mendengar jawaban Jack.


"Baiklah, Campervan sudah ada di parkiran rumah sakit ini. Ini kuncinya. Kabari aku jika kau sudah akan pergi."


"Tentu, Bro. Thanks untuk bantuanmu."


Setelah Mario pergi, Jack duduk di tepi ranjang Louisa. Jack bisa menjamin jika Louisa baru akan tersadar nanti malam. Sekarang dia ingin menghubungi ayahnya terlebih dulu.


Jack menunggu panggilannya tersambung sambil sesekali menatap Louisa.


"Halo, Dad."


("Hai, Son. Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?")


"Tidak, Dad. Aku baik-baik saja. Bisakah Daddy kirimkan 5 botol Ace02 ke rumah sakit uncle Carlos? Aku tadi meminjamnya untuk mengobati temanku."


("Nanti akan daddy kirim. Ada apa dengan temanmu, Son?")


"Aku juga tidak tahu, sepertinya dia kecanduan narkotika."


("Teman atau kekasihmu? Laporan yang aku terima sangat berbeda dengan apa yang kau katakan, Son. Apa kau ingin menyusul ketertinggalanmu?") Ben tertawa dan itu membuat Jack berdecak kesal.


"Aku belum berpikir sampai ke sana, Dad. Aku masih ingin menikmati perjalananku. Dan satu lagi, siapa yang membuat laporan palsu pada daddy?"


("Itu rahasia, Son. Yang jelas di mana pun kalian berada, Daddy pasti bisa tahu apa yang kalian lakukan, karena mata daddy banyak. Bukankah lebih baik kau sambil menyelam minum air? Melakukan perjalanan sekaligus untuk mencari tambatan hati.")


"Aku belum berminat, Dad."


("Baiklah, Daddy akan kirimkan pesananmu, nanti. Daddy juga akan kirimkan beberapa orang kepercayaan daddy untuk berjaga-jaga jika kau membutuhkan mereka.")


"Ok, thanks Dad."


Jack mengakhiri panggilan teleponnya. Dia melihat darah lagi, tapi kali ini darah itu menempel di seprai. Jack menghembuskan napasnya.


Jean masuk ke ruangan Louisa dengan membawa kotak nasi dan hasil lab Louisa. Jean menyentuh bahu Jack.


"Kau belum makan sejak tadi kan? Sebaiknya kau makan dulu. Hasilnya sudah keluar dan sesuai dugaanmu, tapi kemungkinan mereka sudah sering menyuntikkan obat itu ke tubuh Louisa. Semoga dengan obat dari ayahmu darahnya bisa segera bersih."


"Semoga saja. Kasihan sekali hidupnya," kata Jack. Jean menyodorkan kotak makan yang dia bawa pada Jack. Pemuda itu menerimanya dengan senang hati.


"Sepertinya luka Louisa berdarah lagi."


"Aku akan memeriksanya, kau makanlah dulu."


Jack lalu pindah duduk di sofa dan makan. Sesekali dia melirik ke arah Louisa. Dia baru ingat gadis itu juga belum makan sejak pagi seperti dirinya.


Jean sudah selesai dengan tugasnya. Dia mendekat pada Jack. "Aku ada jadwal piket hari ini. Aku tinggal dulu. Nanti jika aku sempat aku akan kemari lagi."


"Thanks Jean."


Setelah Jean pergi, Jack bangkit untuk ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan dirinya karena pagi tadi dirinya juga belum sempat mandi.


...****************...


NB : Ace02 tu ciptaan author ya alias fiktif 🥰😆