
"Bagaimana hasilnya?" tanya Ben. Begitu mereka duduk, suasana menjadi sedikit serius. Ben yakin jika putranya bisa menyelesaikan masalahnya. Hanya saja, sayangnya putranya masih menyisakan musuh yang sewaktu-waktu bisa saja menyerang balik.
"Seperti apa yang sudah aku perkirakan. Aku sudah berhasil menghancurkan markasnya dan membunuh Zeus."
"Lalu, kenapa kau menyisakan putranya. Ini sangat beresiko, Jack. Seharusnya kau habisi sekalian putranya agar mereka tidak bisa membalas apapun padamu nantinya."
"Daddy tenang saja. Semua sudah dalam rencanaku. Yang terpenting sekarang adalah memikirkan rencana pernikahanku dulu."
"Kau sepertinya sudah sangat tidak sabaran, Jack."
"Ya. Aku juga ingin seperti Jared yang setiap pagi bangun tidur bisa menatap istrinya," jawab Jack enteng.
"Apa kau sekalian ingin menghabiskan malam di pondok hutan?" tanya Jared tersenyum smirk. Jack pun mengangguk.
"Tentu saja."
Ketiga pria itu tertawa. Ben senang akhirnya Jack juga telah menemukan jodohnya. Dia tak begitu peduli dengan latar belakang keluarga para menantunya. Asal anak-anaknya mencintai wanita itu dengan sungguh-sungguh, maka dia akan selalu mendukung.
"Mungkin sebentar lagi kedua kakak Louisa akan tiba ke sini. Mereka sudah terpisah sangat lama dengan Louisa dan baru ini mereka akan bertemu lagi."
"Hidup gadis itu sudah sangat menderita sejak kecil. Daddy berharap kau bisa memberikan sedikit kebahagiaan untuknya."
"Tentu saja, Dad. Aku akan memberinya banyak cinta hingga dia akan lupa dengan semua hal buruk yang terjadi di masa lalunya."
Ben tersenyum puas. Putranya benar-benar telah dewasa. meski usia mereka terbilang masih muda, tapi mereka bisa berpikiran dewasa. Hal itulah yang mendasari Ben begitu percaya dengan apapun yang kedua putranya lakukan.
Sementara itu di ruang keluarga, wajah Louisa tampak sangat malu setelah Celine menggodanya habis-habisan di depan calon mertuanya.
"Celine, jangan membuat kakak iparmu malu," tegur Giani. Dia pun jadi tak tega melihat calon menantunya sampai memerah seperti itu.
"Aku hanya ingin membuatnya rileks mom."
Gadis itu terus saja menanyakan hal yang bukan-bukan pada Celine. Bahkan Celine juga membandingkan Louisa dengan mantan kekasih Jack dulu.
Keesokan harinya, Louisa terbangun dari tidurnya karena dikejutkan dengan kedatangan kedua kakaknya. Dengan wajah yang masih mengantuk, Louisa memeluk kedua kakaknya sembari menangis.
"Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, Loui. Maafkan kami yang dulu tidak bisa melindungimu dan menjagamu."
Louisa tidak menjawab apapun. Dia hanya terus menangis di pelukan kedua kakaknya. Giani yang menyaksikan pertemuan keluarga Louisa itu pun tak dapat menahan laju air matanya. Dia turut bahagia melihat Louisa akhirnya bisa bertemu dengan kedua kakaknya.
Jack tersenyum tipis sembari bersedekap, menatap Louisa dan kedua kakaknya. Sedangkan anggota keluarga Jack lainnya juga turut menyaksikan pertemuan keluarga yang cukup mengharukan itu.
Kedua kakak Louisa berulang kali mengucapkan terima kasih pada keluarga Jack yang begitu baik mau menerima adiknya. Nielson dan Steve juga menunduk memberikan penghormatan pada Jack yang sudah menyelamatkan adiknya.
"Kalian tidak perlu seperti itu, Louisa adalah wanita yang sudah aku pilih untuk menjadi pendampingku, jadi sudah menjadi kewajibanku untuk melindunginya," ujar Jack.
"Apapun alasannya kau sudah menyelamatkan adik kami. Kami benar-benar mengucapkan terima kasih dari hati kami yang terdalam," sahut Nielson.
Beberapa saat mereka berbincang dengan hangat, Jack dan kedua kakak Louisa sedang membahas rencana pernikahan Jack dan Louisa yang akan diadakan 5 hari lagi. Jack meminta saran pada kedua kakak Louisa tentang segala persiapan yang akan dia lakukan, tapi kakak Louisa menyerahkan semuanya pada Jack. Mereka juga belum menikah, jadi mereka juga bingung ketika dimintai pendapat mengenai konsep pernikahan.
"Kami ikut saja dengan pengaturanmu. Karena aku dan Steve juga belum pernah menikah jadi kami tidak tahu konsep pernikahan yang pas untuk kalian," ucap Nielson sembari mengulum senyum. Jack tertawa mendengar ucapan kakak Louisa itu.
"Baiklah, jadi kalian tidak keberatan jika nanti konsepnya menyesuaikan pengaturan dariku?" tanya Jack menegaskan.
"Tentu saja kami tidak keberatan. Bisa menyaksikan Louisa menikah saja, sudah merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk kami."
Jack dan Ben sama-sama tersenyum mendengar penuturan Nielson.
...****************...