
Jack dan Louisa tampak sangat bahagia saat semua anggota keluarganya berkumpul di mansionnya. Sudah 6 bulan berlalu sejak Lionel lahir dan menjadi pelengkap keluarga Alexander.
Hubungan antara Louisa dan juga kedua kakaknya semakin akrab sejak kehadiran Lionel. Nielson dan Steve sering mengunjungi mansion adiknya hanya untuk bertemu dengan Lionel.
"Berikan Lionel padaku. Aku sangat gemas sekali melihatnya, Kak."
"Apa kau yakin bisa menggendong anakku?" Jack menatap ngeri ketika Celine mengangkat Lionel.
"Kakak, kau jangan meragukan kemampuanku. Sean dan Beryl saja senang saat ku gendong, ucap Celine penuh percaya diri.
Giani hanya bisa menggeleng melihat Jack yang begitu protektif pada Lionel.
"Percaya pada adikmu, Jack. Dia sudah pandai menjadi babysitter."
"Dengarkan itu kata mommy, Kak."
"Tapi tetap saja. Kau tetap harus berhati-hati saat akan menggendongnya."
"Tentu saja. Aku pasti hati-hati."
Lionel tertawa melihat wajah kesal Celine. Bayi itu benar-benar menggemaskan dengan tubuh gempal dan pipi yang chubby dengan rona merah.
Semua tampak berbaur dalam ruangan itu. Steve dan Nielsen justru sekarang malah sedang memangku Beryl dan Sean anak Jared.
"Beryl dan Sean sepertinya nyaman juga dengan kedua kakak Loui. Kalian sepertinya sudah pantas menjadi ayah," ujar Celine. Steve dan Nielsen saling melempar tatapan dan tersenyum.
"Do'akan saja, semoga tahun ini salah satu dari kami bisa menyusul Loui."
Louisa menyandarkan kepalanya di dada Jack. Dia mengamati semua orang yang di ruangan itu. Semuanya terlihat sangat senang dan bahagia. Louisa seperti menemukan padang oase saat dia kehausan. Haus akan kasih sayang, karena sejak kecil dia tak pernah mendapatkannya. Dan kini saat dia berada di tengah-tengah keluarga Jack, dia merasa begitu disayangi.
"Kak, kenapa kau menangis? Apa ada yang sakit?" Celine tiba-tiba mendatangi Louisa dengan panik. Louisa yang tadi ternyata melamun, tak menyangka jika air matanya tiba-tiba luruh. Semua diruangan itu mengalihkan perhatiannya pada Louisa.
Jack langsung membungkam bibir Louisa dengan ciuman. Dia tidak ingin Louisa membahas masa lalu yang buruk. Mata Louisa terbelalak, segera dia memukul dada Jack tanpa memakai tenaga. Bagaimana pun dia sangat malu karena seluruh atensi keluarga besarnya saat ini masih tertuju pada mereka berdua.
Ulah Jack barusan memancing beberapa ekspresi dari keluarga besarnya. Ben geleng kepala dengan tingkah putranya. Giani melotot kesal, Celine membuang tatapannya sembari mendengus, sedang kedua kakak Louisa juga bereaksi sama seperti Ben. Yang tampak lain hanya Jared dan Diana, karena mereka berdua justru mengikuti kegilaan sang tuan rumah.
***
"Kakak, ayo kejar aku!" Lionel, Beryl berlari menghindari Sean, putra pertama Jared. Kini ketiga pria Alexander itu berusia 7 tahun.
"Kalian benar-benar kekanakan," seru seorang gadis yang juga merupakan keturunan Alexander. Dia adalah Diandra adik dari Lionel.
"Bilang saja kamu iri pada kami," ujar Lionel memprovokasi adiknya yang berusia 5 tahun.
"Dari pada iri pada kalian aku lebih senang menunggu kedua adikku. Sebentar lagi aunty Celine dan uncle Damian akan datang bersama si kembar," kata Diandra acuh. Louisa yang duduk tak jauh dari putrinya hanya tersenyum sembari mengelus kepala Diandra. Jack datang dari arah samping. Dia langsung menarik bahu Louisa dan mengecup kening istrinya itu.
"Bagaimana kondisimu? Apa masih mual?"
"Tidak. Siang ini dia cukup kooperatif. Aku sudah makan 2 pancake dan sepotong pie daging," ucap Louisa mengusap perutnya yang membuncit.
"Aku bahagia sekarang, Loui. Terima kasih kau sudah memberikanku keluarga kecil yang sangat aku impikan sejak lama."
"Kau sudah memiliki keluarga yang sempurna, Aku hanya membantumu melengkapinya saja."
"I Love you, Louisa.
"Me too my husband."
...********* Selesai *******...