Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 20. Jack Terluka



Louisa tak dapat menolak perintah Jack. Dia langsung menekan tombol lock di sampingnya. Mobil Jack bukan mobil sembarangan. Mobil itu di lengkapi dengan kaca yang tebal anti peluru dan kaca mobil Jack sulit untuk dihancurkan.


Bukan tanpa alasan jika mobil yang digunakan oleh Jack memiliki standar proteksi yang sangat tinggi, mengingat dirinya adalah putra seorang mafia juga. Semua kemungkinan buruk bisa saja terjadi.


Louisa menghitung orang yang mengepung Jack. Mereka semua berjumlah 12 orang. Sangat timpang sekali dengan keberadaan Jack yang berdiri dengan gagah seorang diri.


Louisa sejenak menahan napas saat salah satu pria yang membawa tongkat bisbol mulai mengayunkan tongkatnya ke arah Jack. Namun dengan gerakan yang begitu cepat, Jack bisa memukul mundur lawannya. Karena perlawanan Jack itu, sebelas orang lainnya mulai mendekat dan mengeroyok Jack. Louisa tak sanggup melihat adegan selanjutnya. Dia menutup wajahnya dan tak mau melihat apapun.


Tak berselang lama, Kaca mobil diketuk dari luar. Louisa meringkuk takut. Namun, saat orang yang mengetuk kaca mobilnya bersuara, Louisa baru berani membukanya.


"J_jack." Louisa segera menekan lagi central lock agar pintu bisa terbuka. Louisa masih sedikit linglung melihat 12 orang tadi kini semua tergeletak di jalan. Dua orang anak buah Jack langsung membereskannya.


Jack membuka pintu mobil dan tersenyum pada Louisa. Titik-titik keringat terlihat membasahi kening Jack. Sesaat Jack mengernyit dan mendesis sembari memegangi perut bagian kirinya.


Tatapan mata Louisa otomatis langsung tertuju pada bagian itu. Mata Louisa kembali melebar melihat tangan Jack sudah bersimbah darah.


"Jack, kau terluka?"


"Tidak apa-apa. Ini hanyalah luka kecil."


Louisa hampir menangis lagi jika saja Sebastian tidak menghampiri mobil mereka. Para mayat pria-pria penyerang tadi sudah dimasukkan ke dalam mobil mereka. Beruntung jalanan itu sangat lengang.


"Tuan, apa perintah selanjutnya."


"Singkirkan mereka. Lempar mobil mereka ke laut."


Setelah Sebastian pergi, Louisa kembali menatap luka Jack. Tangannya bergetar ingin menyentuh luka yang Jack dapatkan.


"Jack kita kembali saja. Lukamu harus segera diobati." Suara Louisa terdengar serak saat mengatakan hal itu.


Wajah Louisa memerah karena menahan air mata. Di mata Jack, wajah Louisa saat ini benar-benar sangat menggemaskan. Terlihat sekali jika gadis itu sebenarnya ingin menangis, tapi mungkin dia takut dikira cengeng.


Tanpa basa basi, Jack langsung menarik Louisa dan memeluknya, Seketika tangis gadis itu benar-benar pecah.


"Loui, kau sangat cengeng sekali," kata Jack menggoda. Namun, bukannya berhenti, gadis itu semakin terisak karena merasa sangat bersalah. Dia merasa hanya menjadi beban untuk Jack.


Jack mengusap punggung Louisa dengan sebelah tangan, Dia tak mau membuat baju Louisa kotor karena terkena darahnya.


Jack menghela napas kasar mengingat perkelahian tak imbang tadi, tapi untungnya Jack membawa senjata api kedap suara. Dia tanpa ampun menembaki orang-orang itu.


Namun, naasnya ada 1 pria yang belum terkena tembakannya dan mencoba mengayunkan pedangnya pada Jack. Jack langsung mendesis saat ujung pedang pria tadi mengenai dirinya. Tanpa menunggu waktu Jack langsung menembak pria itu tepat di dahinya.


Jack mendesis dan memejamkan matanya. Louisa langsung mengurai pelukan Jack dan mencoba melihat luka dari pria penolongnya itu, tapi Jack buru-buru menutupinya dengan tangannya.


"Sebaiknya kau tidak melihatnya," kata Jack.


"Kita ke rumah sakit, ya." Louisa tampak sangat berharap Jack setuju dengan usulnya. Pria itu akhirnya mau tak mau mengangguk dan memutar kemudinya menuju rumah sakit.


...****************...