Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 50. Kehadiran Yang Dinantikan



Beberapa bulan berlalu, saat ini kehamilan Louisa sudah mencapai puncaknya. Hanya tinggal menunggu waktu kelahiran buah hatinya. Hari ini Jack sedang pergi meninjau bisnisnya dengan Mario. Mereka membangun kerja sama untuk membuat sebuat pabrik penyulingan wine. Sejak tadi Jack duduk dengan tak tenang. Keringat dingin membasahi dahinya.


"Ada apa denganmu, Brother?" tanya Mario. Saat ini Jack dan Mario sedang ada di ruangan Jack, membahas tentang pemasokan anggur yang sedang terhambat.


"Entahlah, sejak tadi aku merasa perutku aneh."


"Aneh kenapa?"


"Aku tidak tahu, tetapi perutku seperti diremas dan pinggangku juga rasanya seperti mau putus."


"Apa kau se-rapuh itu? Kau pasti semalam menyerang istrimu dengan brutal. Sehingga pinggangmu sakit."


"Aku memang semalam melakukannya, tapi aku juga punya otak. Tidak mungkin aku membabi buta disaat kandungan istriku sudah sangat besar."


"Apa kau mau ke dokter? Kau tampak pucat, Jack."


"Hugo!" Jack memekik.


"Ya, Tuan."


"Antar aku pulang, sepertinya ada yang salah dengan perutku."


Sementara Jack menahan kesakitan yang tanpa sebab itu, di kediaman Jack terjadi kehebohan. Ketuban Louisa pecah saat dia berjalan-jalan di taman. Mona dan Mrs Carrol panik. Namun, Louisa terlihat tetap tenang. Dia mengusap-usap perutnya yang terasa menegang.


"Rupanya kau sudah tidak sabar untuk segera keluar, Sayang." Louisa berbicara dengan calon buah hatinya sembari melangkah perlahan. Mona menghubungi Hugo untuk mengabarkan jika dirinya akan mengantar Louisa ke rumah sakit karena Louisa mengalami pecah ketuban. Saat sampai di ruang tengah, Louisa menghentikan langkahnya dan mencengkeram tepian sofa dengan kuat. Dia merasa perutnya mengalami kontraksi.


Louisa hanya memejamkan mata, mengatur napas dan mendesis saat rasa sakit itu menyerang. Disaat yang sama, kakak Louisa yang bernama Steve datang berkunjung.


"Loui, Ada apa denganmu? Apa kau sudah akan melahirkan?" Steve melempar buah tangan yang sebenarnya akan dia berikan pada adiknya. Namun, melihat kondisi Louisa, Dia dengan sigap langsung mengangkat tubuh Louisa dan membawanya keluar. Sangking paniknya, Steve memasukkan Louisa ke mobilnya dan langsung bergegas mengemudikannya menuju rumah sakit. Steve melupakan keberadaan Mrs Carrol dan juga Mona.


"Kau meninggalkan pengawalku dan pelayanku, Kak."


"Nanti aku akan jemput mereka lagi. Kondisimu lebih darurat sekarang ini."


Louisa tersenyum meski merasakan sakit yang luar biasa. Dia senang di saat sakit seperti ini ada kakaknya yang memperhatikan dirinya.


"Thankyou, Kak. Aku sangat senang akhirnya salah satu mimpiku menjadi nyata," ucap Louisa dengan berkaca-kaca.


"Sebisa mungkin kakak dan Nielsen akan selalu meluangkan waktu kami untukmu. Setidaknya kami berdua ingin menggantikan keabsenan kami dulu tak sempat melindungi dan merawatmu."


Tanpa terasa perjalanan mereka sampai di rumah sakit. Louisa langsung ditangani dokter. Bahkan tadi saat datang, Louisa langsung di sambut langsung oleh kepala rumah sakit yang merupakan ayah Mario. Semua itu juga atas permintaan Jack. Dia ingin Louisa mendapatkan perhatian khusus.


Jack tiba beberapa saat kemudian. Dia lantas menemui Steve dan menanyakan keberadaan istrinya. Steve langsung membawa Jack menuju ke ruang bersalin. Dari luar memang tak terdengar suara apa-apa. Namun, saat Jack berusaha mendorong pintu masuk. Suara kesakitan Louisa mulai terdengar. Tubuh Jack langsung menegang. Dia segera mendekati Louisa.


"Ah baiklah, Jack menerima sebuah jubah berwarna biru muda dan langsung memakainya. Dia berdiri di samping Louisa yang tidur dengan posisi miring ke kiri.


"Sayang, maaf aku terlambat datang."


"Tidak sama sekali. Anak kita mungkin memang menunggu ayahnya datang lebih dulu," ujar Louisa terengah. Dia tiba-tiba mencengkeram tangan Jack dengan kuat saat kontraksi kembali menderanya.


"Ouh, ini sakit sekali, aku tidak kuat, Jack." Louisa mengatur napasnya berkali-kali.


"Bertahanlah, Sayang. Aku yakin kau pasti kuat." Sudut mata Jack seketika berembun, melihat istrinya kesakitan seperti ini.


Dokter yang memantau Louisa memberi arahan pada Louisa agar kembali terlentang. Louisa dengan patuh mengikuti semua intruksi dari dokter. Setelah diperiksa pembukaan jalan lain bayi Louisa ternyata sudah lengkap.


"Sudah siap, ya. Ikuti aba-aba saya."


Louisa seketika mengejan saat Dokter mulai memberikan arahannya. Tak butuh waktu lama sesosok bayi mungil dengan tangisan keras kini sudah berada di tangan dokter Serina.


"Selamat, Tuan dan nyonya. Bayi kalian berjenis kelamin laki-laki."


Air mata Louisa seketika mengalir. Senyumnya mengembang diantara wajah letihnya.


"Terima kasih, Sayang." Jack mengecup bibir Louisa tanpa malu.


Setelah Dokter menyelesaikan proses persalinan Louisa, sekarang Louisa dan bayinya sudah berada di ruangan VVIP.


"Dia tampan sekali," puji Steve. Dia sangat bahagia bisa melihat keponakannya.


"Ya, dia sangat tampan seperti aku," kata Jack penuh kenarsisan. Louisa hanya tersenyum, dia bisa melihat mata suaminya sejak tadi terus memancarkan binar kebahagiaan.


"Akhirnya hari ini kehadiran yang dinantikan terwujud sudah."


"Apa kau sudah menyiapkan nama untuk putra kalian?" tanya Steve sembari menggenggam tangan sang ponakan


"Sudah."


"Oh ya? Siapa namanya?"


"Lionel Alexander."


...****************...