
Jack masih menatap Lucas yang terlihat tak berdaya. Pria itu baru saja menempelkan besi panas di inti tubuh Lucas.
"Kau tahu? Dari caramu menginginkan istriku, kau itu tak lebih dari seorang maniak gila."
"Bunuh saja aku," ucap Lucas dengan suara bergetar. Dia sudah merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama dibagian inti tubuhnya.
"Kenapa? Apa kau sudah tidak sabar bertemu dengan ayahmu?" Jack kembali menyeringai. Seringai pria itu begitu menakutkan.
"Bukankah kau penasaran dengan iblis sepertiku?" lanjut Jack. Lucas tiba-tiba saja tertawa. Jack melipat kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Lucas.
"Apa kau tahu, Tidak hanya aku yang menginginkan untuk menyentuh istrimu itu. Daddy ku juga sangat ingin meniduri ****** kecil itu," ujar Lucas. Dia ingin memprovokasi Jack. Agar Jack segera membunuhnya. Dia sudah tak tahan dengan rasa sakit yang dia rasakan.
Tanpa menunggu lagi Jack meninju wajah Lucas dengan keras. Lucas tersenyum dia harap setelah ini Jack benar-benar akan membunuhnya.
Namun, saat Jack akan melayangkan tinjunya lagi. Ponsel Jack bergetar di sakunya. Mau tak mau dia akhirnya menghentikan aksinya karena Jack melihat nama Louisa di layar. Jack lantas keluar untuk mengangkat panggilan istrinya.
"Halo, Sayang. Ada apa?"
("Dimana?") tanya Louisa dengan lirih
"Sedang mengurus sesuatu, Sayang. Ada apa?"
"Jack, perutku sakit." Sekarang suara Louisa terdengar bergetar.
DEG!
Jack langsung berlari keluar. Dia menyerahkan Lucas pada Hugo. Jack mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. pangggilan Louisa masih terhubung. Jack berusaha menenangkan istrinya, Louisa pasti sangat ketakutan sekarang.
"Kau dikamar sendirian?" tanya Jack. Dia masih fokus menyetir, tapi perhatiannya tak lepas dari sang istri.
"Mona ada di sini menemaniku. Mrs Carrol juga ada di sini. Mereka ingin membawaku ke rumah sakit, Jack, tapi aku ingin kau ada di sini."
"Hmm, Jack. Jangan matikan teleponnya."
Setelah mengatakan hal itu, Suara Louisa tak terdengar lagi. Jack justru semakin panik dan menginjak pedal gasnya semakin dalam.
"Loui, apa kau mendengarkanku? Loui!"
Hening tak ada sahutan. Jack tiba di mansionnya dan memarkirkan mobilnya asal. Dia berlari tanpa mempedulikan tatapan bingung para pekerjanya. Setibanya dia di kamar, jack langsung menghampiri istrinya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" jack mengusap kening Louisa yang berkeringat dingin. Mona dan Mrs Carrol masih setia berdiri di samping ranjang tuannya. Wajah pucat Louisa semakin membuat Jack cemas. Apalagi Louisa terlihat sangat lemas.
***
Louisa baru saja tertidur setelah dokter memberi obat pada Louisa. Beruntung Jack segera membawa Louisa ke rumah sakit. Louisa mengalami flek dan kram karena stress.
Jack tak tahu apa yang membuat istrinya seperti itu. Dia tadi tak sempat menanyai Louisa macam-macam. Padahal tadi saat dia meninggalkan Louisa, Wanita itu tampak baik-baik saja.
Mona datang membawa keperluan Louisa selama dirawat di rumah sakit. jack lantas meminta Mona untuk menceritakan semuanya.
"Tadi setelah anda pergi, Nyonya tidur cukup lama. Lalu setelah itu nyonya sepertinya mendapat mimpi buruk. Dia seperti gelisah. Saya mencoba membangunkannya. Saat nyonya bangun dia terlihat ketakutan dan tak lama nyonya kesakitan, Tuan."
"Terima kasih, Mona."
"Ini sudah tugas saya, Tuan." Mona pun akhirnya pergi keluar setelah memastikan tuannya tidak memerlukan apa-apa lagi.
Jack duduk di dekat ranjang Louisa. Dia menggenggam jemari Louisa.
"Maaf aku tidak menjagamu dengan baik."