Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 40. Hamil



"Sebaiknya sesuai saran saya, Tuan Jack. Anda harus membawa istri anda periksa di spesialis kandungan." Dokter yang tadi di telepon Jack langsung menyarankan Jack untuk memeriksakan kondisi Louisa ke dokter kandungan. Tadi di sudah memeriksa kondisi Louisa. Tekanan darahnya sangat rendah dan Dokter itu tidak berani memberi resep sembarang. Dia khawatir kondisi Louisa saat ini dipicu oleh kehamilan.


"Baiklah. Terima kasih, Dokter."


Setelah mengantar dokter tadi hingga ke pintu depan, Jack segera kembali ke kamar. Dia sudah meminta sopirnya untuk menyiapkan mobil. Jack mengusap pipi Louisa dengan lembut.


"Sayang, kita ke rumah sakit, ya?" ujar Jack. Louisa membuka matanya yang tampak sayu.


"Kepalaku sakit, Honey."


"Ya, nanti kita bilang pada dokternya. Agar kamu diberi obat."


Louisa mengangguk, Jack lalu mengangkat tubuh Louisa dan membawanya keluar kamar. Mereka akhirnya mulai meninggalkan mansion menuju ke rumah sakit.


Selama dalam perjalanan Louisa bersandar di bahu Jack. Pria itu menggenggam tangan Louisa dan sesekali mencium punggung tangan sang istri.


"Apa aku sakit parah? Kenapa kita harus ke rumah sakit?"


"Tidak. Kau baik-baik saja, Sayang. Hanya saja tadi prediksi Dokter kemungkinan kau hamil."


Louisa menegakkan duduknya dan menatap Jack dengan raut wajah yang rumit.


"Kau bilang apa tadi?"


"Ada kemungkinan kau hamil, Sayang," ucap Jack dengan wajah sumringah.


"Kau tidak sedang membohongi ku, kan?"


"Tentu saja tidak, Sayang, tapi ini baru kemungkinan dari Dokter."


"Hmm, sepertinya apa yang dokter katakan ada benarnya, Honey. Aku lupa mengatakan padamu jika sudah lama aku tidak mendapatkan siklus menstruasiku."


"Oh my ... kenapa kau tidak bilang, Sayang."


"Entahlah, Sayang. Aku hanya pintar mengoperasikan komputer dan meramu seperti ilmuwan. Aku belum berpengalaman soal kehamilan," kata Jack. Louisa memanyunkan bibirnya mendengar jawaban suaminya.


Setibanya di rumah sakit, Jack langsung mendaftarkan Louisa di spesialis kandungan. Beruntung hari sudah cukup siang sehingga antrian sudah tidak terlalu panjang.


"Kau mau kubelikan sesuatu?" tanya Jack.


"Tidak usah, Aku belum lapar."


"Baiklah jika begitu. Jika nanti kau mau sesuatu katakan saja padaku."


"Ya, Suamiku sayang."


Tak berselang lama nama Louisa dipanggil. Jack dan Louisa duduk di depan dokter wanita yang usianya sekitar 40 tahunan.


"Selamat siang, Tuan dan nyonya. Apa yang bisa saya bantu?"


"Begini dokter, tadi istriku sempat pingsan. Saat diperiksa dokter keluargaku, tensinya sangat rendah. Dan dokter itu berkata jika ada kemungkinan istriku hamil. Aku hanya ingin memastikannya."


Dokter bernama Serina itu tersenyum lembut. "Baiklah, mari kita periksa. Berarti kalian belum pernah memakai tespeck sama sekali?"


Baik Jack maupun Louisa sama-sama menggelengkan kepalanya. Dokter itu tersenyum dan meminta Louisa untuk berbaring di brankar. Dia akan melakukan USG pada perut Louisa.


Jack tampak serius memperhatikan layar monitor. Saat perut Louisa sudah diberi gel, dokter mulai menggerakkan probe di atas permukaan perut Louisa. Tak lama muncul gambar hitam dan abu-abu di layar itu. Jack memperhatikan dengan seksama. Dia tersenyum saat melihat titik hitam di layar itu. Dia tahu jika Louisa benar-benar hamil.


Jack seperti kembali ke masa lalu dimana dia dan kakaknya diajak sang ibu untuk memeriksakan kandungan. Sensasinya terasa sama. Hanya euforianya sedikit lain karena ini adalah darah dagingnya sendiri. Hasil kerja kerasnya bersama sang istri.


"Ini janinnya sudah terlihat. Usia kandungannya 9 minggu. Selamat untuk kalian."


...****************...