
Seminggu sudah Louisa melewati bulan madu di pondok. Sepertinya setelah ini dia perlu memeriksakan kondisi jantungnya. Karena selama berada di dalam hutan, ada saja hewan buas yang diperlihatkan oleh Jack. Terakhir sebelum mereka pulang, Jack membawa seekor anak hyena dan justru berakhir tragis. Induk Hyena mungkin berpikir Jack mencuri anaknya. Hingga hewan itu mengamuk dan mengejar Louisa juga Jack. Beruntungnya Jack membawa senjata bius. Dia membidik induk hyena itu. Namun, naasnya Louisa harus menderita luka gigitan di kaki kirinya karena ulah hewan itu.
"Baby, aku sungguh minta maaf. Apa masih sakit?" tanya Jack, dia terus menggenggam tangan Louisa. Wanita itu membuang muka. Giani menggelengkan kepalanya. Dia bersyukur luka Louisa tidak terlalu parah.
"Kau memang harus mendiamkannya, Loui. Dia memang pantas dimusuhi. Ayah dan anak sama saja," gerutu Giani. Ben yang sedang duduk di samping Giani hanya bisa menghela napas panjang, karena dia disangkutkan dengan masalah putranya. Padahal jelas-jelas di sini Jack yang salah.
"Mom, aku kan sudah minta maaf. Lagi pula ini juga di luar prediksiku. Aku juga tidak mengira dengan kejadian ini."
"Kau teledor menjaga menantu mommy. Bagaimana jika saat ini Loui sedang hamil? Itu benar-benar berbahaya. Lagi pula kalian ini seperti kehabisan uang untuk mengajak bulan madu istri-istri kalian ke luar negeri."
Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Jika Giani sudah mulai marah, tidak ada yang berani menyela atau menggodanya. Jack yang terbiasa humoris pun kini hanya diam sembari menggenggam tangan Louisa.
"Jack, bawa istrimu istirahat di kamar," perintah Ben. Jack segera mengangkat Louisa dan membawanya naik ke kamarnya.
Selepas Jack dan Louisa pergi. Ben mengusap punggung istrinya. "Sudah, Sayang. Sebaiknya kau jangan marah-marah. Ini benar-benar kecelakaan yang tidak diinginkan oleh siapapun. Lagi pula menantu kita baik-baik saja. Kau lihat sendiri bukan? Kau juga mendengar kata dokter yang memeriksa Loui tadi."
"Tapi tetap saja, kebiasaan kalian itu benar-benar membuatku kesal." Giani melipat kedua tangannya di depan dada.
"Baiklah, aku janji tidak akan menambah peliharaan lagi. Cukup mereka saja. Ok!"
"Dasar menyebalkan. Giani memilih beranjak dari ruangan itu menuju kamar. Jared yang sejak tadi mendengar suara mommynya hanya bisa diam. Dia bersyukur dirinya dulu tak seteledor Jack. Bagaimana bisa Jack membawa istrinya melihat peliharaan mereka?
"Sudahlah, kalian tidak usah memikirkannya. Sebaiknya kau juga bawa istrimu beristirahat, Jared. Ibu hamil tidak boleh ikut stres."
"Ya, Dad."
Di kamar Jack, Louisa tidur memunggungi Jack. Kakinya terasa sakit dan berdenyut. Mungkin efek biusnya sudah hilang. Louisa terpaksa mendapatkan dua jahitan dari gigitan hyena itu. Kekesalan Louisa masih tersisa banyak untuk suaminya. Bisa bisanya Jack membawa dirinya mendekati sarang hyena dan berujung kejadian seperti ini.
"Baby, jangan diamkan aku seperti ini." Jack benar-benar menyesali perbuatannya, tapi dia bisa apa sekarang. Nasi telah menjadi bubur. Dia tidak bisa memutar keadaan.
"Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku." Suara Jack terdengar parau. Louisa langsung menoleh. Dia mendapati suaminya meneteskan air mata. Louisa segera bangkit dari posisinya. Namun, karena kurang berhati-hati dia justru menjerit kesakitan saat kakinya yang sakit tertekan.
"Arrgh."
"Baby, kau baik-baik saja?" tanya Jack cemas.
"Kenapa kau menangis, Jack."
"Jangan diamkan aku, Baby. I'm sorry."
...****************...