To Love

To Love
Astaga



Saat itu aku tidak berniat untuk bergabung dengan mereka, ataupun bertukar pikiran. Tiba-tiba saja pikiranku menginginkan diriku untuk mengetahui nama mereka. Setidaknya aku dapat mempermudah Kuliahku, juga menjalankan kegiatanku.


"Apa sebaiknya aku bertanya saja?." Gumamku dengan wajah bingung.


Tanganku mengikuti pikiranku. Aku melepaskan Headsetku. Seketika suara-suara pun datang dari bagai arah membuatku seakan terhenti dalam satu tatapan. Tentu saja aku sudah menduga suara mereka sangat mengusikku. Terutama aku bisa mendengar suara orang yang berlalu lalang dan saling berbicara dengan lawannya.


"Aku terlalu lama tidak melihat kenyataan. Dunia ini terlalu bising." Gumamku dengan wajah sedih.


Aku sangat bisa melihat wajah mereka yang sangat gembira, karena saling bertukar pikiran. Saat itulah aku sadar kembali. bahwa sudah lama diriku tidak mencoba untuk membuka pandanganku terhadap dunia yang lebih nyata.


"Mereka terlihat gembira sekali. Apa aku benar-benar menginginkan hal seperti itu?" Gumamku.


Kedua tanganku yang sebelumnya saling menempel di atas dadaku telah terpisah kembali. Sebaliknya, kedua tanganku semakin kuat memegang bajuku, akan gugupnya diriku saat itu. Semua itu tidak lain, karena nama mereka yang seharusnya aku tahu sebelum memulai kegiatan.


"Ini semua karena kebodohanku." Gumamku.


Kakiku terhentikan dari langkahku. Sesaat mataku mulai terpejam. Aku pun memulai teriakanku.


"Hei!. Aku ingin tahu nama kalian!. Maafkan aku tidak mengetahui nama kalian sebelumnya." Ujarku dengan berteriak.


Betapa malunya aku saat itu. Teriakkanku yang seperti tanpa sebab telah membuat beberapa orang di sekitarku mulai melirikku.


"Tidak!. Aku tidak suka suasana ini." Gumamku.


Mereka yang mendengar teriakku langsung serentak membalikkan badan ke arahku. Sesaat memang benar mereka terdiam, tetapi yang selalu memulai ucapan tetap saja Hideakou.


"Kau tahu namaku!." Ujarnya dengan tersenyum licik.


Ucapan Hideakou yang tidak terlalu penting seakan tidak mengusikku sedikit pun. Semua itu tidak lain, karena aku sedang fokus untuk mengetahui anggota lainnya.


"Dia memang terlihat tidak penting." Gumamku.


Mereka seakan mengerti alasanku dibalik ketidak tahuannya diriku akan nama-nama mereka. Mereka tidak segan membalas teriakku dengan suara mereka, dan memulainya kembali dengan senyuman mereka.


"Buka saja matamu!. Dan panggil aku Eiji!." Ujar pria di kelompokku.


Seketika pun mataku terbuka perlahan. Aku pikir mereka akan memberontak ternyata tidak. Satu demi satu mereka membiarkan namanya terdengar olehku.


"Kau tidak perlu sungkan, panggil saja aku Chieko." Ujar wanita dengan tersenyum padaku.


Tiga wanita lainnya bernama Izumi, Kirei, namun salah satu wanita tidak seperti lainnya yang tersenyum. Dia juga tidak memberikan namanya. Pada akhirnya aku pun mulai merasa pasrah untuk tidak dapat mengetahui namanya. Dia juga seakan tidak bermaksud untuk melirikku.


"Ya... Sudahlah. Sepertinya dia kurang menyukaiku." Gumamku.


Aku hanya melihat wajah wanita itu seperti kesal denganku. Saat itu aku benar-benar sangat jelas melihat raut wajahnya dari pandanganku. Tiba-tiba saja seorang wanita yang bernama Kirei telah menyebut nama wanita itu.


"Biarkan saja!. Dia selalu seperti itu. Panggil saja Mitsuko!." Ujarnya dengan tersenyum.


Perjalanan kami pun kembali berjalan normal, hingga akhirnya kami sampai di rumah Kirei yang katanya Ayahnya adalah seorang musikal juga.


"Ternyata Ayah Kirei hebat ya!." Ujar Eiji.


"Aku tidak terlalu peduli hal itu." Ujar Kirei.


Seiring waktu berjalan, ternyata aku mulai melupakan ketakutanku akan imajinasiku. Namun tiba-tiba saja ketakutanku akan hal itu mulai datang. Pada akhirnya, aku tetap saja kembali mengingatnya, dan membuatku seketika takut.


"Semoga saja..." Gumamku.


Namun harapanku menjawab sebaliknya. Sesaat aku mencoba melangkahkan kakiku ke dalam rumahnya. Perubahan yang tidak tepat waktu itu datang padaku. Aku juga merasakan betapa kecewanya diriku setelah mencoba melihat dunia nyataku yang kecil mulai datang, dan hilang kembali bersama perubahan itu.


"Tidak lagi..." Gumamku.


Kakiku tiba-tiba saja sangat dingin. Kedua mataku hanya dapat mengarah satu arah. Aku juga bisa merasakan angin yang sangat bertiup kencang. Saat itu aku merasakan seperti bongkahan es yang melewati sekujur tubuhku. Seketika kedinginan itu merayap seluruh tulangku. Rasanya badanku sudah seperti pahatan balok es.


"Kenapa aku selalu gagal?." Gumamku.


Badanku, dan tubuhku semakin lama semakin mengigil. Perubahan pun selesai. Ternyata aku berada dipusaran badai salju yang bisa saja kakiku terbawa oleh kekuatan angin dan salju itu.


"Akhgrrr..., dingin sekali. Akhgrr...,." Ujarku yang mulai cukup menggigil.


Sebelumnya aku pernah berharap suatu saat aku ingin pergi ke Gunung yang bersalju, tapi tidak seperti ini.


"Bukan seperti ini yang aku harapkan." Gumamku.


Aku takut semua orang akan menganggapku aneh diluar dunia imajinasiku. Salju yang terus datang ke arahku semakin sangat kencang, dan hampir benar-benar membekukan kakiku. Terutama aku tidak dapat melihat ujung dari hamparan padang salju. Kakiku yang tidak tahu akan melangkah ke arah mana telah membuat badanku sangat lemas, dan pasrah dengan apa yang akan terlihat oleh pandangan dunia nyataku.


"Aku hanya berharap, jika aku masih mempunyai kesempatan." Gumamku.


Dingin yang menggerogotiku, dan bibirku pun mulai beku. Kakiku yang semakin lama tenggelam di dalam lautan salju telah membuat mataku sayu, dan menggetarkan badanku. Dan juga semakin lama tidak terhankan, hingga akhirnya membuatku hilang pandangan.


"Aku sudah tidak tahan lagi. Aku benar-benar tidak dapat bertahan lagi. Aku mohon, kembalikan aku ke dunia yang lebih normal." Gumamku.


Tepat saja hal yang tidak terduga mulai terjadi pada tubuhku. Badanku seketika terjatuh bersamaan mataku yang mulai tertutup. Kedua tanganku perlahan demi perlahan saling menggenggam akan harapan seseorang akan menghampiriku.


"Aku berharap, jika seseorang akan datang kepadaku." Gumamku.


Aku pun telah tenggelam di dalam kegelapan yang berada dimana saat mataku hanya tertutup. Mencoba bangkit pun tidak akan bisa. Sesaat perasaan pasrah itu hilang bersamaan tangan seseorang yang sedang menghampiriku dan menarikku. Termasuk badannya yang sedang mencoba memikulku.


"Apakah aku bersama seseorang?." Gumamku.


Aku dapat merasakan kehangatan tubuhnya yang telah diselimuti balutan kain yang hangat. Kain hangat itu menandakan kulitnya yang sangat hangat. Walau mataku masih tertutup, aku juga bisa merasakan tubuhnya yang besar, dan tegap. Semakin lama aku mulai tidak merasakan kehangatan dari tubuhnya kembali di saat aku mulai terlelap. Aku Hanya merasakan lapisan yaang sangat keras, dan sedikit rerumputan yang masih terasa dingin. Akhirnya aku tersadar saat kehangatan itu, semakin lama semakin terasa padaku. Kedua mataku pun mulai berkedip berkali-kali untuk melihat dimana, dan dengan siapa aku berada.


"Rumput yang basah." Gumamku.


Semakin lama mataku pun terbuka. Terlihat langit yang gelap yang disinari cahaya bintang yang sangat berserakan di langit.


"Huhh, ternyata sudah malam." Gumamku.


Jariku pun kembali bergerak dari kekakuan yang sebelumnya tidak terasa. Tubuhku juga terus mencoba untuk bangkit.


"Dimana aku?." Ujarku dengan wajah gelisah.


Aku pun akhirnya terduduk. Aku juga sudah melihat api dengan potongan- potongan dari beberapa ranting pohon dihadapanku. Tapi aku tidak mendengar suara manusia dari manapun, dan hanya terlihat sebuah makanan.


"Apa itu makanan?. Bukankah sebelumnya aku telah tertolong oleh seseorang?. Kemana pergi pria itu?." Tanyaku.


Namun saat telapak tanganku bergerak menuju arah makanan itu. Penglihatanku terhalang dengan suatu yang tidakku sangka. Ternyata cap darah terlihat tepat dihadapanku yang berada di telapak tanganku.


"Aaaaa.." Teriakku terkejut.


Akupun langsung melirik ke arah mana mana cap darah itu berceceran. Betapa terkejutnya aku saat itu. Tepat dibelakangku telah terlihat tubuh seseorang tergeletak di atas rumput yang sudah berlumur dengan darah.


"Hahhh..., tidak mungkin!. Kenapa?." Ujarku dengan gugup dan histeris


Betapa semakin terkejutnyaku, jika itu adalah Hideakou yang telah tergeletak diatas rerumputan yang telah berumuran darah. Terlihat tangan yang sedang memegang darah yang terus mengalir dari perutnya.