To Love

To Love
Sakura



Aku mengalihkan pandanganku dari Hideakou yang terus melirikku. Aku mencoba untuk tidak merenspons tatapannya, dan kembali untuk melanjutkan obrolan kami.


"Uhhh, jadi Kirei kita akan menanyakan soal musik oleh papamu, bukan?." Ujarku pada Kirei.


Pentanyaanku telah membuat suasana kembali serius. Tangan Kirei yang merangkulku kembali menjauhi tubuhku. Ternyata aku sudah memulai perbincangan yang lebih serius.


"Oh ya, tentu saja!. Papaku berada di ruangannya!. Apa kalian ingin melakukannya sekarang?." Ujar Kirei dengan lembut.


"Ya, sebaiknya kita lebih cepat menemui papamu saja." Ujar Mitsuko.


"Tidak, sebaiknya kita memakan masakan Kirei, dan Miyuki terlebih dahulu baru kesana. Jika tidak makanannya akan dingin." Ujar Chieko dengan tegas.


Ternyata ucapan Chieko menjadi kesepakatan untuk memakan santapan terlebih dahulu sebelum memulai laporannya.


"Huhh, ya sudahlah. Sebaiknya kita menghabiskan makanannya terlebih dahulu." Ujar Eiji.


Suasana Jepang yang natural, dan beberapa Bunga khas Jepang membuat pandanganku sangat nyaman. Aku pun mulai menyantap makanan yang terhidang. Akhirnya piring yang terisi bermacam menu telah habis, dan tidak tersisa. Kami pun memulai langkah kami menuju ruangan Papa Kirei.


"Karena makannannya sudah habis, sebaiknya kita mulai saja. Ayolah!." Ujar Mitsuko.


Benar saja aku, dan lainnya telah beranjak, dan melangkahkan kaki. Namun kali ini aku mengambil posisi di samping Hideakou untuk berbincang olehnya.


"Hei, Hideakou!. Mengapa kau terus tersenyum seperti itu?. Oh ya, tadi malam tidak terjadi apa-apa, bukan?. Jangan pernah mengingat rahasiaku kemarin!. Dan jangan pernah memberi tahunya pada siapapun." Ujarku dengan nada sangat rendah.


Hideakou tiba-tiba saja menepuk halus bagian atas kepalaku,dan membuatku sedikit memejamkan mata.


"Miyuki!..., Miyuki!..., santai saja dan percayalah padaku. Lagi pula, kenapa kau tiba-tiba saja mengganti penampilan?. Tapi sepertinya memang sangat terlihat bagus untukmu!." Ujarnya dengan tersenyum.


Aku langsung memberikan jarak pada Hideakou, dan melepaskan tangannya yang terus menghelus rambutku.


"Jangan menyentuh rambutku lagi!. Aku hanya ingin terlihat bagus saja." Ujarku.


Aku mulai tidak sadar, jika aku tidak ingin menyadari hawa yang berbeda telah datang. Aku juga tidak ingin menyadari atau memperdulikan bahwa jantungku saat itu sedang menggebu. Terutama saat mengingat kejadian di lorong gelap bersama Hideakou.


"Berjanjilah!, kau tidak akan mencintaiku." Ujarnya dengan lembut.


Ucapannya membuat raut wajahku menjadi kesal, dan ingin sekali-kali aku memukulnya. Namun semua itu tidak akan aku lakukan disaat anggota lainnya berada tidak jauh dihadapanku.


"Aneh!, kau kira aku wanita murahan ya!. Tentu saja aku tidak mungkin mencintaimu yang begini.. Pfft, kau sangat lucu." Ujarku sembari menahan tawa.


Hideakou tiba-tiba saja memberikan Jari kelingkingnya ke arah pandanganku.


"Ya sudah, aku tidak perlu ocehanmu. Berjanjilah!." Ujarnya dengan tersenyum.


Aku pun terpaksa mengikuti perjanjian oleh ikatan janji yang disaksikan oleh kedua jari kelingking kami.


"Huhh, apa boleh buat. Terserahmulah. Dan berjanjilah untuk ini juga kau tidak akan memberi tahu rahasiaku." Ujarku dengan wajah datar.


Aku dan Hideakou pun merekat kedua jari kelingking kami untuk dua perjanjian. Akhirnya aku mulai sadar, jika aku telah berjarak sangat jauh oleh anggota lainnya.


"Akhhh, ini semua karenamu!. Kita ketinggalan!." Ujarku tegas.


Aku pun langsung meninggalkan Hideakou yang masih berjalan dengan laju normal. Aku juga membiarkan diriku berjalan cepat ke arah mereka.


"Hei!." Teriakku pelan.


Aku mulai sadar, jika tiba-tiba suasana mulai berubah, dan membuat langkahku kembali berhenti. Angin yang sebelumnya tidak banyak memasuki rumah Kirei, seketika seperti sebuah angin yang berasal dari ombak laut. Warna Pink muda menjadi awal dari percikkan perubahan itu. Aku juga bisa melihat Sakura yang terus berterbangan di sekitarku. Akhirnya perubahan itu selesai. Aku berada di tempat yang penuh dengan pohon sakura. Aku bisa melihat setiap jalan sudah seperti lautan Bunga Sakura.


"Hahhh, tidak lagi!." Gumamku.


Ternyata aku baru sadar, jika seorang pria sedang berada disampingku. Tentu saja tidak lain itu adalah Kou atau lebih tepatnya Hideakou. Kou yang berada di ruang imajinasiku ini telah menyuruhku untuk tidak memanggil namanya dengan sebutan 'Hideakou', walau begitu aku bisa mengerti maksudnya.


"Kou!."Ujarku dengan nada pelan.


Walaupun begitu aku tidak menganggap perkataannya adalah hal yang berhak untuk aku dengarkan. Jika aku terus mengikuti alur di dalam ruang imajinasiku ini dapat membahayakanku.


"Huhhh..., aku hanya ingin pulang Kou. Bagaimana aku tahu, jika aku dapat berada disini." Ujarku.


Tangan Kou tiba-tiba saja mengarah ke atas langit. Ternyata Kou mengambil salah satu Bunga Sakura yang masih bertangkai. Walau begitu aku hanya bisa mengikuti reaksinya dengan penasaran, dan bingung.


"Apa yang ingin kau lakukan?." Tanyaku.


"Tenanglah!. aku tidak akan berbuat hal yang aneh!." Ujar Kou.


Tiba-tiba saja Kou menghadapkan wajahnya ke arahku. Aku, dan Kou saling bertatapan. Benar saja aku kembali terjatuh di dalam matanya yang sungguh indah.


"Aku rasa kau lebih indah bersama mata itu Kou." Gumamku.


Aku telah jatuh ditatapannya. Aku mulai tidak sadar, jika Kou sedang membenarkan rambutku untuk menaruhkan Bunga Sakura di atas telingaku.


"Aku sangat yakin, jika didunia sana sangat banyak yang menyayangimu, dan mencintaimu. Karena kau sangat indah sama seperti Bunga Sakura ini." Ujar Kou dengan lembut.


"Kau indah dengan mata itu, jika saja aku bisa melihat seseorang dengan mata indah itu." Gumamku.


Akhirnya aku tidak mendengar ucapannya, dan hanya mengikuti gerak-gerik matanya. Ia kembali menghelus rambutku. Dan aku mulai tidak sadar, jika Kou semakin mendekat padaku.


"Cup."


Seketika aku baru sadar, jika tubuhku seakan menerima hal yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya, yaitu sebuah kecupan di dahiku. Kou membuatku tidak tergertak sedikit pun sebelumnya. Suhu tubuhku seakan ingin meledak, dan detak jantung lebih cepat dari lajunya kuda. Kedua bola mataku seketika tidak dapat melihat tatapannya. Aku juga yakin, jika pipiku telah memerah seperti sebuah Cerry. Ternyata Kou masih dapat berbicara padaku dengan senyuman khas Kou setelah mengecup dahiku.


"Aku mencintaimu lebih dari siapapun. Walaupun begitu kau tidak berhak mencintaiku yang berada di dunia ini. Berjuanglah menemui Cintamu." Ujar Kou dengan tersenyum.


Saat itu aku hanya bisa menunduk untuk menahan rasa malu yang terdapat di wajahku.


"Apa yang terjadi padaku?. Oh astaga." Gumamku.


Tiba- tiba saja angin bertiup kencang melewati setiap wilayahku. Hamparan Sakura pun bertebangan tidak tentu arah. Aku mulai sedikit melirik kehadapan Kou. Ternyata tubuh Kou hilang secara perlahan bersama Bunga Sakura yang terus terbang ke arah mata angin.


"Wahh, indah sekali." Ujarku.


"Cintailah seseorang lebih dariku diluar sana Miyuki." Ujar Kou bersama hilangnya rupa wajahnya.


"Apa maksudnya?. Apakah aku mencintai Kou ini?." Gumamku.


Walaupun begitu aku masih merasakan perasaanku yang menggebu tidak henti. Jantungku semakin berdetak kencang bersamaan kepergiannya. Terlihat seorang pria yang tampak tegas, dan tegap dibalik tubuh Kou yang mulai menghilang. Namun aku tidak dapat melihat wajahnya, karena jaraknya yang sangat jauh.


"Siapa dia?." Tanyaku.


Pria itu semakin mendekat. Aku bisa melihat kakinya yang panjang, dan rambutnya yang kecoklatan muda. Aku masih kesulitan melihat rupa wajahnya, karena masih jauh dari pandanganku.


"Dia seorang pria. Apa aku pernah menemuinya sebelumnya?." Ujarku lembut.


Pria itu terus melangkah ke arahku. Matanya mulai terlihat jelas berwarna biru tua. Ternyata dia terlihat seperti seorang Blasteran dari Jepang. Tentu saja aku masih tidak dapat melihat jelas wajahnya.


"Bola matanya ternyata berwarna biru tua.


." Ujarku lembut.


Hingga aku mulai sadar, jika pria itu sedang berlari ke arahku dengan langkah yang cukup cepat. Namun semakin dia melangkah aku menyadari, jika ada sesuatu yang datang padanya. Tiba-tiba gumpalan asap menuju wajahnya. Benar saja aku tidak dapat melihat rupa wajahnya, karena telah tertutupi oleh gumpalan asap yang datang pada pria itu sebelumnya.


"Aku sangat heran mengapa dunia palsuku semakin hari terlihat aneh." Ujarku.


Ternyata Bunga sakura terus berterbangan ke arah tidak tentu. Aku langsung menutupi pandangku dengan kedua telapk tanganku. Aku semakin sadar, jika angin yang terus bertiup itu semakin hangat. Ternyata aku mulai kembali ke dunia lebih nyataku.