To Love

To Love
Merah



Sesaat yang terlihat di pandanganku hanyalah buram. Aku mulai sadar, jika aku telah kembali di dunia nyata.


"Huhh.., akhirnya." Gumamku.


Ternyata aku berdiri tidak jauh dari tempatku sebelumnya. Aku masih terdiam sejenak setelah aku bertemu dua pria yang berada di ruang imajinasiku.


"Huhh, kira-kira siapa dia?." Gumamku dengan wajah yang masih memerah.


Tanpa aku sadar, ternyata anggota kelompok lainnya sedang berteriak padaku, seperti memanggilku untuk fokus kearah langkahku.


"Miyuki!, kenapa kau hanya diam?." Ujar Eiji dengan raut wajah yang bingung.


Tentu saja saat itu semuanya telah melirikku. Tiba-tiba saja Kirei melangkahkan kakinya untuk mengarah padaku. Termasuk Izumi yang mulai mengikuti langkahnya Kirei.


"Aduh, temanku satu ini." Ujar Kirei.


Kirei langsung menarik salah satu tanganku dengan sikap yang tegas juga senyuman yang biasa Ia berikan.


"Akkhh, Kirei!." Ujar dengan wajah terkejut.


Tiba-tiba saja Chieko mengelurkan kata-kata yang membuat lainnya semakin melirikku.


"Wah, pipi Miyuki sangat merah. Apa kau sedang jatuh cinta?." Ujar Chieko dengan senyuman liciknya.


Ucapan yang terdengar olehku membuatku merasa semakin panik.


Aku mulai bingung untuk mengatasi perasaanku yang telah terjadi sebelumnya.


"Hah!. Tidak, benar!. Aku tidak perlu hal seperti itu sekarang ini." Ujarku dengan wajah yang makin tambah memerah.


"Wahh iya!, ajah Miyuki terlihat merah. Ternyata merahnya sangat memukau. Aduh.., temanku yang polos sepertinya baru saja memikirkan cinta ya." Ujar Kirei.


Tangan Kirei pun langsung menyentuh bagian atas kepalaku. Kirei langsung mengacak-acak rambutku dengan lembut. Aku mulai sadar, jika anggota lainnya sedang tersenyum ke arahku.


"Akhh!, jangan lakukan itu Kirei!. Aku sudah mengatakan padamu, jika aku belum ingin memikirkan namanya cinta." Ujarku dengan wajah yang masih memerah.


Kirei pun melepaskan telapak tangannya dari hadapanku. Aku pun melangkahkah kakiku kembali, agar mereka tidak terus melirikku. Akhirnya kami pun kembali melangkah secara beriringan.


"Huh.., aneh-aneh saja!. hal seperti itu masih belum ingin aku pikirkan." Gumamku.


Setika langkah kami kembali normal. Aku kembali melirik Hideakou, namun ternyata Ia telah berada diposisi antara Izumi dan Chieko.


"Huh, sebenarnya apa yang aku pikirkan sampai ingin melihat Hideakou lagi." Gumamku.


Akhirnya kami beranjak untuk melangkah ke anak tangga secara berurutan. Aku juga baru sadar, jika menuju tangga yang berada di rumah besar Kirei cukup jauh. Namun aku tidak menghiraukannya, dan kembali melangkah.


"Wahh, ternyat rumah Kirei sangat luas." Gumamku sembari melirik kearah tak tentu.


Aku pun hanya melangkah melewati setiap anak tangga dengan melirik sekitar rumahnya. Aku mulai tidak sadar, jika salah satu barang yang berasal dari tas Mitsuko jatuh ke arahku, dan mengenai wajahku. Barang itu adalah sebuah bedak yang seperti serpihan bubuk yang khas untuk para gadis.


"Akhhhhhh, apa ini?. Buram!." Teriakku.


Saat itu aku benar tidak sadar, jika bedak itu terbuka, sehingga isinya mengenai wajahku. Seketika pandanganku pun kacau. Mitsuko, dan angota lainnya langsung berhenti melangkah setelah mendengar teriakkan dariku. Penglihatanku yang mulai buram seketika membuatku tidak dapat menjaga keseimbanganku. Akhirnya aku pun terjatuh.


"Aaa......." Teriakku.


Ternyata aku tidak menyadari, jika dibelakangku masih ada seseorang. Dan seseorang itu adalah Eiji. Reaksiku yang membuat Eiji terkejut telah membuat Eiji panik, dan tidak berbuat apa-apa. Akhirnya kami berdua terjatuh.


"Brakk.." Suara jatuh.


Suara dari tubuh kami yang telah terjatuh, membuat semuanya bergegas untuk menolong kami.


"Miyuki!, Eiji!." Teriak Hideakou dan lainnya.


Aku pun terjatuh dengan posisi terduduk. Aku juga menahan rasa sakit setelah menerimanya.


Anggota lainnya pun langsung menuruni tangga, dan mendekat kearah kami. Ternyata Eiji menoleh kearahku setelah suara serentak akan kesakitan itu terdengar oleh kami. Telapak tanganku pun langsung menyapu wajahku yang terkena bedak sebelumnya.


"Akhh." Ujarku dengan wajah kecewa.


Saat itu aku masih belum menyadari bahwa Eiji menoleh ke arahku, hingga aku mulai sadar, jika Eiji telah menatapku. Seketika aku pun langsung menoleh ke arahnya, dan membalas tatapannya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?." Ujarku.


"Oh maaf. Apa kau sangat kesakitan?." Ujarnya dengan lembut.


Ternyata Eiji meneruskan tatapannya. Namun aku tidak terlalu suka dengan tatapan yang Ia berikan. Bola matanya semakin membesar setelah menatapku. Tatapan yang di berikan Eiji sama persis dengan pria lain yang selalu mengganggap wanita adalah mangsanya, dan santapannya.


"Akhh.., ya!." Ujarku.


Eiji langsung membawa salah satu tangannya ke arah tengkuk lehernya, dan mengusap lehernya.


"Maaf!. Apa kau masih merasakan sakit?." Ujarnya dengan wajah bingung.


"Ah ya. Aku tidak terlalu merasakan sakit lagi." Ujarku dengan wajah tersenyum


Kirei, Hideakou, dan lainnya pun telah berhadapan denganku. Ternyata Kirei lebih cepat melangkahkan kakinya ke arah Eiji untuk menolongnya. Setelah Kirei berada dihadapan Eiji, Kirei pun baru bertanya padaku.


"Apa kau tidak apa-apa Eiji?. Oh ya, Miyuki apakau kau merasa sangat kesakitan?." Ujar Kirei dengan wajah gelisah.


"Aduh.., maafkan aku Miyuki...." Ujar Kirei yang tiba-tiba pendengaranku terpotong ketika Hideakou berada dihadapanku.


"Hideakou?." Ujarku.


Aku sedikit merasa aneh pada Kirei akan reaksinya yang telah ditunjukkannya pada Eiji. Namun perasaan itu lenyap seketika saat ucapan Mitsuko terdengar olehku.


"Miyuki, maafkan aku. Berikan tanganmu, aku akan membantumu untuk bangkit." Ujar Mitsuko dengan lembut.


"Oh ya, Mitsuko!. Itu bukan masalah bagiku. Tenang saja, aku bisa bangkit." Ujarku dengan wajah tersenyum.


Wujud Hideakou yang tiba-tiba saja menutupi pandanganku terhadap Mitsuko. Semua itu dilakukannya, agar aku tidak mengabaikannya yang ingin menolongku.


"Beri tanganmu!. Kau ini terlihat jelek dengan bedak di mukamu itu." Ujarnya dengan tersenyum licik.


Sebelumnya aku tidak sadar, jika aku dan Hideakou saling membalas tatapan, dan senyuman licik.


"Kau pikir aku menginkan hal itu darimu. Kenapa dia terus menatapku?." Gumamku dengan wajah kesal.


Aku pun menoleh kearah berlawanan dari pandangannya. Aku kembali ke arah Mitsuko, Izumi, dan Chieko yang masih gelisah melihatku.


"Apakah kau ingin duduk disitu saja sebentar?." Ujar Chieko dengan wajah gelisah.


"Miyuki!, itu pasti sakit." Ujar Izumi dengan wajah gelisah.


"Akhh, aku merasa bersalah sekali. Apa yang akan aku lakukan?. Mengapa kau tidak menginkan aku membantumu?." Ujar Mitsuko dengan wajah panik.


Reaksi mereka lebih membuatku cemas, terutama saat melihat wajah gelisah mereka yang terus ditunjukkan padaku.


"Ahh, tidak kok!. Tenang saja!. Aku sudah merasa lebih baik. Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku sekali. Sakitnya hanya tadu saat terjatuh, sekarang sudah hilang." Ujarku dengan tersenyum.


Tiba-tiba saja Hideakou kembali berdiri dihadapanku, dan menutupi pandanganku pada mereka.


"Apa yang dia inginkan?." Gumamku.


Sekali lagi reaksi Hideakou benar-benar membuat mataku tiba-tiba saja menatap kearahnya. Tangannya mulai menyentuh tanganku. Hideakou langsung membawa tanganku berada di belakang tengkuk lehernya.


"Akhhh." Teriakku terkejut.