To Love

To Love
Kecoa



Tentu saja Burung Gagak yang aku temui saat kemarin hanyalah hasil Penyakitku.


"Ternyata memang benar." Ujarku


Aku langsung bergegas untuk bersiap-siap. Kali ini aku tahu, jika aku tidak akan membawa ponselku dikarenakan Headsetku yang telah rusak. Keluar dari rumah tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ayahku, walau aku sadar, jika Ia baru saja berada di dapur.


"Aku pergi." Ujarku.


Kakiku melangkah, dan menginjak tanah yang berada di luar rumahku. Kicau burung terdengar sangat jelas olehku. Orang-orang yang mengendarai sepeda berlalu lalang dari hadapanku.


"Apa sebaiknya aku membeli sepeda?. Hmm entahlah." Ujarku


Akhirnya aku telah berada di sekolahku. Hari pertamaku dimulai tanpa mengenal seseorang selain Hideakou, dan Kirei. Walaupun begitu mereka terlihat tidak terlalu ingin dekat denganku. Aku hanya bisa meletakkan sepatuku, dan kembali melangkah menelusuri kelas.


"Sungguh ini sangat tidak menyenangkan. Aku ingin berada di luar sekolah saja rasanya," gumamku.


Tepat saja aku telah tiba berada di kelas, aku menemukan siswa yang telah ramai diruangan.


"Aku menyukai kakak dari dulu. Apa kakak menyukaiku." Ujar seseorang.


"Ha?. Apa-apaan ini." Ujarku.


Seorang gadis yang berasal dari kelas bawah telah menyatakan cintanya pda Hideakou. Aku tidak terlalu terkejut akan hal itu. Hanya saja perilakunya Hideakou tidak sesuai dengan mendapatkannya.


"Astaga. Apa aku sedang bermimpi?." Ujarku.


Aku hanya melewati kerumunan itu seakan tidak perlu untuk aku lihat.


Kirei terlihat tersenyum tipis melihat Hideakou yang sedang kebingungan.


"Kirei?, dia tersenyum," gumamku.


Hal aneh yang aku temui pada Kirei adalah saat pergelangan tangannya berwarna merah keunguan.


"Apa yang kemarin itu memang dia?," gumamku.


"Hei, Miyuki?." Ujarnya.


Aku hanya bisa tersenyum melewatinya hingga akhirnya aku telah duduk di atas mejaku. Tentu saja keramaian itu tidak membuatku untuk ikut melihat kejadian itu.


"Hmm, Hideakou ternyata punya pesona sendiri bagi gadis itu," gumamku.


Sesekali aku melirik ke arah Kirei. Ternyata salah satu tangannya masih terlihat memegang pergelangan tangannya. Akhirnya aku pun bersuara demi mengetahuinya.


"Kirei, apa kemarin ada kejadian?. Kenapa tanganmu terluka?" Ujarku dengan raut wajah penasaran.


Kirei langsung memberikan raut wajah antara panik, dan tersenyum. Kejelasan itu membuatku yakin, jika kemarin itu dia.


"Ou!. Bukan apa-apa!. Kemarin tanganku digigit oleh anjing." Ujarnya dengan raut wajah fokus.


"Benarkah?." Ujarku.


"Tentu saja. Sudahlah tidak apa-apa." Ujarnya.


Tiba-tiba pandanganku terasa risih. Sesuatu yang bergerak berada di lantai kelas. Ternyata Kecoa yang cukup besar bergerak ke arahku. Kecoa adalah hewan paling menakutkan bagiku. Gerak-geriknya membuatku gemetar. Ternyata kecoa itu bergerak ke arahku.


"Aaaaa." Teriakku.


Aku semakin panik ketika melihat kecoa itu terus mengarah padaku. Ealah kakiku mulai terangkat, kecoa itu tetap berusaha naik untuk menuju ke arahku.


"Huaaa, kecoa!, kecoa!." Teriakku.


Seketika siswa lainnya melihat ke arahku termasuk Hideakou, dan gadis mudah itu. Aku langsung beranjak turun dari kursiku dan bergerak ke arah tidak tentu.


"Lihatlah Miyuki!." Ujar salah satu dari mereka.


"Dimana kecoanya?." Tanya salah satu lainnya.


"Itu!." Teriakku.


"Dimana?" Ujar Hideakou.


"Tidak ada kecoa Miyuki!." Ujar salah satu lainnya.


Seketika aku tersentak dan terdiam. Ternyata itu hanyalah hasil penyakitku. Aku mencoba untuk tidak panik kembali, namun kecoa yang berasal dari hasl penyakitku itu tetap terlihat dan nyata bergerak ke arahku.


"Bagaimana ini?. Hancurlah masa sekolahku!," gumamku.


"Sudahlah. Sepertinya dia baru bangun dari tidurnya." Ujar Hideakou.


Aku berpura-pura seakan tidak ada kecoa, namun rasa ketakutanku membuatku berdiri dengan cukup gemetaran. Orang-orang melihatku bingung akan perilaku milikku. Kecoa itu terlihat mulai mendekat ke arah kakiku. Ternyata aku dibawa hingga telah berada di samping Hideakou. Mereka terlihat mencurigai sifatku. Aku hanya fokus dengan kecoa, tanpa sadar, aku tepat berada dikerumunan siswa.


Keinginanku berkata sebaliknya. Kecoa itu benar-benar mulai bergerak ke atas kakiku. Kecoa itu telah berada tepak di atas jari-jari Kakiku. Seketika tubuhku semakin bergetar tidak karuan. Rasanya aku telah menelah ludahku. Gigiku seakan mengigit bibirku.


"Huhh, huhh, haa, huh." Suara nafas yang tidak karuan.


Keringat dingin mulai turun, mataku rasanya benar-benar terasa ingin tertutup, dan rasanya aku benar-benar ingin berteriak.


"Huhh, hhuuhh, huhhh." Suara nafas.


Kecoa itu belum menghilang dari pandanganku. Ternyata kecoa itu mulai bergerak. Jantungku terasa berdebar kencang. Tiba-tiba saja kecoa itu bergerak dengan cepat menuju kaki atasku. Akhirnya perasaan itu membuatku benar-benar pingsan, namun pingsan itu dimulai setelah teriakanku selesai.


"Aaaaaaaaa." Teriakku.


Mataku pun akhirnya tertutup. Ternyata aku tertolong dengan bahu milik Hideakou. Seketika Hideakou pun langsung membawa tangannya untuk menahan tubuhku.


"Astaga. Miyuki lagi-lagi membuatku bingung. Apa-apaan sih tingkahnya ini." Ujar Hideakou.


"Tunggu kakak. Apa kakak menerimaku?" Ujarnya gadis mudah itu.


"Sebentar ya. Gadis ini harus saya bawa ke Klinik dahulu. Sepertinya sebentar lagi Guru kamu akan datang. Sebaiknya kamu ke kelasmu saja dulu." Ujar Hideakou.


"Aku akan menunggu balasan kakak. Aku pergi ya kakak." Ujarnya.


"Ya. Maafkan aku ya." Ujar Hideakou.


Orang-orang ternyata tidak memperdulikanku,dan hanya peduli dengan suasana tentang percintaan itu.


"Yah ternyata ... " Ujar Siswa lainnya.


Hideakou terpaksa membawaku ke Klinik karena Ia tahu aku jatuh dan tertahan olehnya. Tepat saja saat Hideakou mulai keluar dari kelas, Hideakou telah bertemu oleh Sang Guru.


"Ada apa dengan Miyuki?" Tanya Sang Guru.


"Pak, tadi dia tiba-tiba pingsan." Ujar Hideakou.


"Ya sudah. Kamu saja yang mengurusnya. Kalau sudah bangun kabari dengan saya." Ujar Sang Guru.


Hideakou seketika menatap satu arah akan ketidak inginannya mendapat tugas  itu dari Sang Guru. Hideakou sebelumnya hanya berniat untuk mengantarkanku, namun rencananya telah berubah.


"Astaga, apa mimpiku semalam hingga aku harus menunggunya bangun?. Bisa stress sendiri aku menunggu gadis bodoh ini," gumam Hideakou.


Hideakou terpaksa memopongku hingga berada di Klinik. Akhirnya aku telah berada di kasur milik Klinik.


"Dokter!, seseorang pingsan." Ujar Hideakou.


"Ya, tunggu saja disana. Aku akan membawa pelaratan dulu." Ujar Dokter.


Hideakou hanya bisa duduk di kursi yang berada di samping Kasurku. Hideakou yang tidak tahu harus melakukan apa-apa hanya bisa melirikku.


"Astaga, bisa-bisanya aku melirik gadis bodoh ini," gumamnya.


Tanpa sadar, jika aku telah menyebut Mamaku berulang-ulang sehingga membuat Hideakou kembali melirik.


"Mama!, mama!, mama!," panggilku.


"Apa?. Apa dia merindukan mamanya?. Bukankah setiap hari dia bisa saja bertemu?," gumam Hideakou.


Setetes air mata mulai jatuh dan mengenai pipiku. Semua itu adalah hal yang tanpa sadar telah terjadi. Hideakou kebingungan dan hanya bisa mencoba menyapu air mataku dengan jarinya.


"Jangan menangis!. Kau tidak sendirian sekarang. Sepertinya dia benar-benar sakit." Ujarnya.


Jari Hideakou mulai mengenai pipiku. Entah apa yang dipikirkannya, tapi Ia semakin serius menatapku yang pulang tidak sadarkan diri.


"Pipinya lembut. Dia gadis yang selaku merawa diri. Apa dia tidak memliki seorang Pacar?. Sepertinya gadis bodoh ini juga cantik, pasti gadis cantik seperti ini memilikinya." Ujar Hideakou.


Hideakou yang baru sadar mengatakan hl itu langsung membuang muka, dan menoleh ke segala arah. Jantung Hideakou yang tidak Ia sadar telah berdetak cukup kencang.


"Astaga, apa-apaan ini pikiranku," gumamnya.


"Dokter?." Ujar Hidrakou.


Akhirnya Dokter pun tiba untuk memeriksanya. Beberapa menit telah berlalu. Akhirnya Dokter telah selesai memeriksanya.


"Dia hanya pingsan karena panik, bukan? Ini hanya masalah kecil tidak apa-apa. Sebenarnya apa yang membuatnya panik?" Ujar Dokter.


"Saat itu dia berteriak 'Kecoa', namun anehnya kecoa tidak ada dimana-mana." Ujar Hideakou.