
Bagaimana pun keadaan didalam duniaku yang berbeda haruslah aku yakini bahwa apa yang kulihat hanyalah sebuah penyakit didalam imajinasiku. Tidak seharusnya aku meyakini keadaan, dan suasana yang terjadi disana. Semua itu tak lain merupakan sesuatu yang bukan termasuk nyata. Justru sebaliknya itu akan menjadi suatu masalah juga kesulitanku dalam mengatasi kehidupanku, dan menjalankannya.
Mataku langsung berkedip berkali-kali untuk mencoba menenangkan diri dari perasaan yang tidak boleh membuatku terjatuh. Semua itu aku lakukan agar, apa yang kulihat tidak membuatku merasuki hal yang buruk lagi.
"Itu takkan terjadi, dan itu bukan apa apa!. lagi pula kenapa harus khawatir padanya." Ujarku dengan wajah gelisah.
Aku akhirnya hanya bisa membiarkan diriku menghirup nafas berkali kali, hingga aku pun merasa tenang akan perasaan yang membuatku tidak merasa tenang. Tangan aku pun langsung meraih Headset, dan kembali memutarkan lagu yang kusuka.
"Aku lebih pantas seperti ini." Gumamku dengan wajah datar.
Akhirnya kakiku pun kembali melangkah untuk melewati setiap koridor Kampus. Aku bisa sadari bahwa aku tak pernah ingin mencoba untuk melihat seseorang yang berada disekitarku, dan hanya fokus dengan tujuanku. Aku juga tak ingin menyadari bahwa beberapa orang melirikku seperti seekor mangsa.
"Lagu ini terdengar bagus." Gumamku dengan wajah santai.
Aku sampai kerumah walau harus menaiki Kereta Api sekaligus Bis. Aku mulai sadar, senja pun datang membuat beberapa setiap lampu jalan hidup, dan menerangi setiap pandangan yang kulewati.
"Akhirnya sampai juga. Aku tak menyangka sejauh ini. Apa aku akan melalui tiap hariku selama ini?. Jika aku berpikir semakin dalam, banyak sekali resiko aku hari ini." Ujarku sembari membuka pintu rumah.
Pintu yang telah aku buka pun menandakan diriku yang hampa. Yang terasa hanyalah kesunyian tanpa seseorang. Aku hanya terbiasa sendiri dengan suara musik yang selalu aku dengarkan. Semua itu sangat terasa olehku karena tak ada gerak-gerik seorang pun kecuali aku.
"Yahh..., kesendirian itu memang sepertinya menyenangkan." Ujarku dengan wajah antara sedikit kecewa dan tersenyum.
Aku langsung menghampiri kasurku. Aku juga langsung membiarkan tubuhku jatuh dalam kelembutan, dan kesejukan ruangan.
"Kenapa juga harus hari pertama." Ujarku dengan wajah datar.
Salah satu tanganku langsung mengarah ke langit kamar. Aku membiarkan diriku terus memandangi jari-jariku.
"Huhhh...., Apa aku boleh selalu seperti ini?." Ujarku dengan wajah gelisah.
Aku membiarkan pikiranku berkhayal sembari melihat tanganku yang sedang menghadap langit kamar. Aku mulai tersadar bahwa semua yang terjadi di dalam imajinasiku bukanlah hal yang biasa aku temukan sebelumnya.
"Bagaimana bisa Hide kun berada disana?." Gumamku.
Pikiranku yang terus bertubrukan dengan berbagai pertanyaan mulai membuatku semakin sesak, dan tak ingin terus memikirkannya.
"Aku benci sekali memikirkan imajinasi bodohku ini." Ujarku dengan wajah kesal.
Namun dari pertama hingga terakhir. Aku hanya menemuka hal yang tidak masuk akal pada hari pertama memasuki Kampus.
"Ini tak masuk akal, aku tidak mengerti!." Ujarku dengan wajah gelisah.
Imajinasi adalah suatu hal apa yang pernah aku pikirkan sebelumnya. Imajinasi hanyalah sebuah angan-angan dan keinginan.
"Akhhh.., bikin kesal aja. Kampusnya udah jauh. Penyakit aku tidak karuan lagi. Akh...," Ujarku sambil mengerakkan badan ku kearah yang terus berlawanan.
Perasaan kesal aku saat itu mulai membuat kasurku bergoyang. Tiba-tiba aku mulai sadar bahwa sebuah kartu ATM, dan kertas saldo juga keluar dari dalam bantal yang sudah menjadi tempat penyimpanan keuanganku.
"Apa itu?." Tanyaku dengan wajah penasaran.
Mataku langsung melirik. Termasuk tanganku yang langsung meresponsnya begitu saja.
"ATMnya...., berapa ya sisanya?." Ujarku dengan wajah penasaran.
Akupun mengecek Jumlahnya. Terlihatlah jumlah saldo terakhir yang mungkin masih dapat memenuhi, walau tidak dapat membuatku sangat menikmatinya.
"Akhh.., kalo segini sekali-sekali mencari hiburan pun tidak akan bisa. Aku juga naik Kereta Api dan Bis. Apa aku minta uang saja dengan Mama?. Aku sudah seperti penuntut saja kalau begitu. Bagaimana kalau aku mencari kerja saja?. Akhhh..., tidak mungkin. Bisa saja aku dikira orang tidak waras nanti. Akhh..., sepertinya aku harus berhemat." Ujarku dengan kesal.
Kebingunganku membuat diriku mulai memarahi diri sendiri. Aku pun merobek kertas saldo di setiap incinya. Aku pun sadar robekkan kertas itu sangat benar-benar kecil. Tanganku mulai membiarkan robekkan itu berjatuhan dihadapanku. Tanpa aku sadari, jika ternyata robekan itu telah membuat kasurku terlihat berantakan.
"Akhh..., sebenarnya mimpi kemarin itu apa ya?. Mengapa aku sedikit kesulitan mengingatnya?. Kalau aku terus memikirkan ini, sepertinya aku bakal benar-benar tidak waras." Ujarku dengan wajah kesal.
Aku telah mulai untuk mencoba tidur sebelumnya, namun tepat saja dengan apa yang aku percaya akan setiap harinya. Saat aku menutup mataku untuk tertidur. Aku selalu dilalui oleh imajinasiku yang terkadang bisa saja membuatku terbangun tidak pada kasurku.
Penyakit imajinasiku sangatlah berbeda. Bukan hanya sekedar imajinasi, aku juga bisa sangat jelas merasakan hawa, angin yang bertiup, langit yang berganti, dan itu sangat seperti nyata. Kali ini aku memasuki imajinasiku dengan keadaaan seperti biasa. Imajinasi kali ini tidak seperti saat berada di Kampus sebelumnya. Tepat saat mataku mulai tertutup. Aku pun mulai merasakan, jika aku berada di dunia kegelapan yang sangat nyata terasa olehku.
"Kenapa harus gelap lagi?." Gumamku.
Secara perlahan perubahan pun datang kembali. Percikkan dari perubahan itu menghilangkan kegelapan dari balik bola mataku. Kali ini benar seperti apa yang kuinginkan. Lantunan musik memyeringai ditelingaku. Warna-warni indah keluar dari berbagai percikkan. Alat alat musik yang sangat terasa nyata saat didengarkan. Dan permainan musik yang keluar dari balik alat-alat itu.
"Wah..., ini yang aku mau." Ujarku dengan tersenyum.
Aku langsung menghampiri Gitar dengan model yang pernah aku lihat sebelumnya.
"Terkadang menguntungkan. Terkadang rumit. Aku benar-bemar tidak mengerti imajinasiku ini."
Ujarku dengan tersenyum licik.
Akupun mengambil Gitar dan meletakkan jariku di senar. Aku lansung menyesuaikan senarnya dari jariku, dan membiarkan suaraku keluar saat petikan pertama dimulai.
"Im standing here to look out everything. And Im silent now to know what you mean," Nyanyianku.
"Dug.., dug..,dar..,." Suara dari Drum Set.
Suara itu berasal dari Drum Set. Suaranya juga membuatku memberhentikan nada yang keluar dari balik bibirku. Termasuk aku langsung memberhentikan petikkan dari Gitar.
"Sepertinya tidak ada seseoranglah. Dunia ini kan hanya aku seorang. Bagaimana bisa ada suara musik lain?" Ujarku sambil melirik kearah sekitar.
Karena aku merasa tidak ada seseorang. Aku pun kembali memainkan permainan musikku.
"Im standing here...," Nyanyianku kembali.
Namun suara Drum Set itu datang kembali.
"Drag.., klak.., tas..," Suara rendah dari Drum Set.
Aku kembali melirik sekitar. Aku melihat Drum Set yang tak jauh dari hadapanku, namun tetap saja, tidak terlihat seseorang dari arah itu.
"Mungkin ini Gitar model baru ya. Keren banget!." Ujarku sambil tersenyum.
Jari tanganku kembali memetikkan Gitar. Akj kembali mengeluarkan suara dari balik bibirku.
"Im standing here...." Nyanyianku kembali.
Dan sesaat. Aku kembali mendengar suara Drum Set dengan cukup kuat, hingga telah membuatku tak dapat meneruskan permainan pada Gitarku.
"Akh..., ini membuatku semakin bingung saja." Ujarku dengan wajah semakin bingung.
Suasana yang aku mimpikan sebelumnya telah berubah menjadi suasana aneh, dan juga ditambah perasaan kesal dariku. Terutama hawa dan udara yang sepertinya tidak aku seorang.
"Hei Miyuki Chan." Ujar seseorang dengan suara keras.
Suara yang berada dibelakangku itu, langsung saja membuatku menoleh kearahnya.
"Klak." Suara selentikkan dari dahiku yang membuatku sesaat memejamkan mata.
"Akh.., sakit tau." Ujarku tegas.
Aku langsung menoleh kearah seorang itu. Ternyata seseorang itu tak lain adalah Hideakou.
"Ha!, Hide!. Bagaimana bisa kau berada disini lagi, dan mengapa kau tahu namaku? " Ujarku dengan kesal.