To Love

To Love
always you



Suaranya yang terasa sesak, dan mendengung di telingaku membuatku terdiam sejenak, hingga membuatku mulai tak mengerti dengan apa yang selalu Ia katakan. Aku pun menolak bahunya, dan menjauhinya dari wajahku


"Hei!." Teriakku dengan wajah bingung.


Hidepun langsung kembali dari jarak normal dihadapanku. Tapi tetap saja Ia tetap memasang wajah kesalnya. Tanganku langsung kembali untuk mengambil headset yang berada ditangannya tanpa harus melihat wajahnya.


"Entah apa yang dipikirkan pria itu, dasar brengsek, ia merendahkanku!." Gumamku dengan wajah kesal.


Namun tepat sebelum Ia menoleh kedepan. Hide tersenyum, dan senyumannya itu tak dapat aku bedakan antara senyuman licik, ataupun senyuman canda.


"Tidak berguna banget sih!." Ujarku dengan suara nyaring.


Beberapa menit kemudian pun Dosen pun datang. Akhirnya aku pun memulai mata kuliah dengan perasaan lebih buruk dari kemarin.


"Kalian akan mengerjakan laporan, dan mengamati secara langsung tentang


musik. Dan itu dikumpulkan saat sebelum semester pertama selesai. Kelompok hanya sesuai dari barisan...,." Ujar Dosen sembari menutup pertemuan.


Aku yang berharap tenang dan berharap, jika setiap laporan hanyalah individu menjadi harapan yang musnah bersama suara yang disampaikannya. Meskipun aku panik dan melirik setiap orang yang berada diruangan, pikiranku masih menyarankan aku untuk mengerjakannya sendiri. Wajahku berhenti melirik sekitar dan kembali memakaikan headset untuk kembali mendengarkan musik.


"Huhhh.., tidak apa!. Takkan ada masalah. Aku pasti bisa!." Ujarku dengan wajah gelisah.


Walaupun aku tahu seberapa kuat diriku untuk menahan, tetap saja sebenarnya rasa sedih akan kesepian lebih mendahului. Akupun beranjak menyusun buku catatan kedalam tasku, namun setelah kakiku mulai kembali melangkah, Hideakou tiba-tiba menoleh kearahku.


"Hei!." Ujarnya memanggilku.


Sekesal apapun aku padanya, jika ada suara yang seakan memanggilku. Tetap saja aku akan menoleh kearah suara yang memanggilku.


"Hah!. Ada apa lagi?." Ujarku dengan nada yang pelan.


Kali ini, aku tak mengerti mengapa Hide berbicara padaku dengan wajah yang tak dapat kubedakan antara mencaciku atau kasihan padaku.


"apakah kau tetap saja menginginkan kesepian itu?." Ujarnya bernada pelan dengan wajah tegas dan alis yang seakan menunduk padaku.


Perkataannya pun langsung membuatku fokus pada wajahnya yang seketika membuat seakan menahan ludahku yang berada ditenggorokanku.


"Apa maksudmu?." Ujarku dengan nada yang berat.


Semua rasa kesepian adalah pilihanku akan takutnya dengan imajinasi yang menjadi cacian padaku.


"Kau terlihat seperti itu!, itu lebih tidak ada gunanya." Ujarnya dengan tegas kembali.


Hideakou pun meninggalkan kata terakhirnya dan kembali melangkah untuk menjauhi kembali dari hadapanku, entah mengapa, selalu saja Hide membiarkan kata-kata yang membuatku terdiam sejenak setiap saat Ia mulai pergi dari hadapanku dan membuatku langsung memikirkan kata katanya.


"Hah!, kenapa harus aku?." Ujarku dengan wajah gelisah.


"Aku hanya heran dengan sikapmu. Ya.., sudahlah. Aku juga tidak ingin membahas ini. Aku duluan ya!. Ujarnya dengan tegas.


"Kenapa juga aku harus peduli dengan pertanyaannya. Dasar pria menyebalkan" Gumamku.


Akupun kembali beranjak dari lokasiku, melangkahkan kakiku sembari memutarkan musik melalui ponsel dan headset ku menuju tempat tinggalku. Aku juga membiarkan tubuhku dibawa oleh beberapa kendaraan, dan tak membiarkan pandanganku terbawa suasana oleh jalan yang aku lewati, hingga saat kakiku beranjak turun dari dalam bis. Tepat saja kakiku telah menyentuh aspal, seketika percikkan berwarna hijau, dan perpaduan warna lainnya muncul dari sela-sela sepatuku.


"Huhh.., lagi dan lagi. Kenapa imajinasi ini selalu saja mengusikku." Gumamku.


Perubahan kali ini adalah sebuah hutan. Hutan yang banyak dengan hewan-hewan manis seperti Kelinci, Tupai, dan Spesies lainnya yang tidak pernah aku temukan di setiap jalan yang kulewati di tokyo.


Bisnya pun seketika hilang bersama angin dari perubahan sekitarku. Aku pun mulai memandangi langit yang cerah dengan mendengarkan teriakan hewan dan kicauan burung yang sedang terbang melintasi langit. Aku juga tidak lupa untuk melirik perubahan yang sangat kusakai pada pakaianku.


"Ini tak seperti pakaian yang biasa kulihat. Lebih tepatnya seperti Gaun pendek." Ujarku sembari melirik kearah pakaianku yang mulai berubah.


Aku pun mencoba kembali melangkahkan kakiku diantara pepohonan yang sangat besar, tanpa mengetahui tempat apa yang akan memberhentikan aku didunia yang nyata. Tapi dibalik keindahan yang membuatku terkesima, aku merasa seakan dipantau disetiap balik pohon yang terus membuatku canggung.


"Aku harap itu bukan hewan buas." Ujarku dengan nada yang pelan.


Aku kembali melangkah. Tapi pandanganku terus mengikuti oleh sesuatu yang hitam, dan berlari disetiap pohon yang membuat pandanganku mulai risih.


"Apa itu?." Ujarku sembari mengedipkan kedua bola mataku berkali-kali.


Aku mencoba untuk melihat wajah sosok itu, namun pakaiannya yang berwarna gelap dan bayangan dari setiap pohon membuatku tak dapat melihat wajahnya. Ketakutanku menyeringai disetiap ujur kulitku, membuatku memejamkan mata. Aku semakin tidak ingin melihat sosok itu. Tapi sesaat aku memejamkan mata, aku merasakan Ia mendekatiku dengan cepat. Getaran dari rerumputan dan angin yang semakin mengarah padaku, membuatku semakin khawatir. Aku juga semakin merasakan dadaku yang mulai sesak. Tiba-tiba saja Ia menyentuh pundakku. Tubuhku pun seketika tersentak hanya dapat menggetarkan saja. Ia semakin membawaku mundur dengan kedua tangannya hingga berada dibalik pohon.


"Hahh..., huhh..., hahh..., huhh...,." Suara nafasku.


Aku bisa mendengar suara jantungku. Aku bisa merasakan kehadirannya. Aku juga bisa mendengar suara nafas yang terus berganti.


"Bukalah matamu!. Ini hanya aku!." Ujarnya sosok itu.


Suaranya yang lembut dan halu, seketika membuat mataku perlahan mulai terbuka. Dan ternyata aku berada dihadapan seorang pria yang hanya beberapa inci dari wajahku. Aku sedang menatap pada kedua bola matanya yang cokelat mudah dan sangat berbinar. Itulah Hideakou yang berada didunia imajinasiku. Aku pun seketika terdiam d idalam matanya yang juga menatapku. Tanpa aku sadari, jantungku mulai berdegup kencang. Dan hawa yang mulai membuatku sesak.


"Hahh.., huhh..., hahh..., huh..,." Suara nafas.


Angin yang kencang melewati setiap sela rambutku, kicauan burung terus semakin terdengar, wajah yang nyata berada dihapanku. Tepat saat aku berada di tatapannya, dedaunan jatuh dari atas pohon dan mengikuti angin yang bertiup. Batang hidungnya yang sangat berdekatan. Dan kedua tangannya yang berada tepat di samping wajahku membuatku terus gugup dan kebingungan.


"Hahhh...huhhhh....,." Suara nafas yang semakin dalam


Tanganku langsung merenspons untuk segera menolak dadanya mundur dari hadapanku. Namun sebelum aku mulai melakukannya, aku tidak sengaja melirik dadanya yang sangat terbuka. Ternyata baju yang Ia kenakan merupakan model kerah leher yang sangat pendek. Aku bisa sangat jelas telah melihat bidang bagian atas dadanya yang sangat bagus dan berbentuk. aku pun merasa seperti telah menelan ludahku kembali. Aku pun hanya bisa mengepal kedua tanganku.


"Kau ini sangat menyebalkan!." Teriakku dengan wajah kesal.


Aku pun langsung meredakan jantungku yang terus berdegup kencang. Walaupun begitu aku tetap memukul dadanya, meskipun harus memejamkan mataku.


"Jangan pernah melakukan seperti itu lagi!" Teriakku dengan wajah kesal.


"Oh ya maaf, aku tak bermaksud melakukannya!." Ujarnya sembari mengangkat kedua tangannya.


"Kau tidak sopan melakukan itu dengan wanita!" Teriakku dengan wajah kesal.


"Kau terlihat lucu kalau marah ya." Ujarnya dengan lembut.


Suaranya yang santai telah membuatku lebih cepat, walaupun tetap saja aku merasa kesal padanya. Betapa terkejutnya aku, Ia mengenakan pakaian yang selintas seperti seorang pria yang gagah dengan pedang yang merekat di samping pinggangnya.


"Terserahmu kau mau berkata apa. Aku tidak ingin mendengar darimu hal yang tidak penting. Kenapa kau berada disini?." Ujarku dengan wajah datar.


"Mana aku tahu. Mungkin saja aku telah di pilih oleh jiwamu untuk menjadi pemandu melintasi dunia imajinasimu ini." Ujarnya dengan tersenyum.


"Jangan berkata hal aneh. Lagi pula kenapa juga jiwaku memilihmu." Ujarku yang mulai menahan tawa.


Senyuman, dan wajahnya yang tenang seakan tak pernah ada kejadian yang mengerikan. Senyumannya terlihat seperti ingin memaksaku untuk membalas senyumnya.


"Jangan tersenyum padaku!. Kau selalu saja membuatku sesak dengan senyumanmu itu." Ujarku yang terus menatap matanya dengan wajah kesal.