
Kakiku sesaat terasa seperti menyentuh apapun termasuk tanah. Rasanya saat itu seperti aku sedang bermain dalam imajinasiku sendiri. Imajinasiku berubah dan membawaku berada di atas langit. Seketika aku hanya bisa berteriak.
"Aaaaaaa, apa-!apaan ini." Teriakku.
Aku tahu itu tidaklah nyata, namun perasaanku saat itu benar-benar terasa nyata. Angin menerjang dan melewati tubuhku. Aku tidak dapat fokus selain berteriak. Aku mulai sadar, jika aku tidak melihat permukaan tanah.
"Aaaa, kapan aku tidak akan berada di dalam permainan imajinasiku?." Teriakku.
Tiba-tiba saja aku melihat Kou. Ia memejamkann kedua matanya, namun tidak suara teriakkan darinya. Bukan itu saja aku melihat darah dari bagian dahi dan perutnya. Seketika darah itu terlihat terbawa angin yang kencang.
"Kou itu kau kan!. Kou!, bangun, bangun!." Teriakku.
Aku mulai sadar itu tidak nyata. Aku pun langsung menyelaraskan pikiranku. Dan membuat tubuhku seimbang di atas langit.
"Kou!. Jangan tunjukkan hal bodoh lagi!. Apa-apaan itu darah?." Teriakku.
"Miyuki Chan!. Ayo kembali!." Teriakku Arnius.
Aku mendengar suara Arnius dan langusung menolehkan kepalaku ke arahnya.
"Apa-apaan imajinasi ini?. Aku tidak suka permainan imajinasi. Apa kita akan terus seperti ini?." Ujarku.
"Kau hanya perlu kembali!." Teriak Arnius.
Aku mulai semakin tidak mengerti. Tiba-tiba saja Aku melihat permukaan tanah. Seketika aku menjadi semakin teriak. Aku tidak bisa fokus pada keadaan Kou saat itu. Aku mulai membuat gerakan seperti berenang ke arahnya.
"Kou. Aku akan terus memegang tanganmu. Aku tahu ini tidak nyata. Kita rasakan sama-sama, sepertinya kita akan jatuh. " Ujarku.
"Ya ampun Miyuki Chan. Kau sungguh tidak ingin mengerti dirimu sendiri. Nyata atau tidak kau hanya perlu kembali. Kembali ke dalam dirimu sendiri!. Aku berjanji, aku akan berada di sampingmu saat kau kembali." Ujar Arnius.
"Aaaa ..." Teriakku.
Aku tidak memperdulikan Arnius. Aku semakin kuat memegang tangan Kou. Mataku mulai terpejam karena rasa ketakutan. Tiba-tiba saja aku merasakan bagian bawah tubuhku terasa sangat lembut.
"Apa aku telah kembali?." Gumamku.
Saat itu rasanya aku tidak ingin membuka mataku. Namun aku merasakan, jika jari-jari tanganku berada di jari-jari seseorang. Aku benar-benar mulai membuka mataku.
"Hah." Suara nafas.
"Miyuki. Kau sadar!." Ujar Seseorang.
Ternyata aku di dalam sebuah ruangan seperti Rumah Sakit. Arnius berada di sampingku sembari merekatkan jarinya ditanganku. Air mata darinya terlihat ingin jatuh.
"Arnius?. Aku ada dimana?. Lalu dimana Hideakou?. Sebenarnya apa yang terjadi." Ujarku dengan lembut.
"Aku sangat rindu dengan suaramu. Jangan memikirkan seseorang dulu." Ujarnya.
Arnius tiba-tiba saja memelukku secara spontans. Tangis kecil mulai terdengar. Aku sama sekali tidak mengerti. Pikiranku terus terlintas oleh Hideakou. Aku sangat takut, jika yang dihapanku masih di dalam ruangan imajinasiku.
"Arnius kenapa kau memelukku?." Tanyaku.
"Karena aku sangat merindukanmu!." Ujarnya.
"Arnius!, dimana Hideakou?." Tanyaku.
Aku sadar, jika aku menggunakan selang. Namun pikiranku hilang saat aku terus memikirkan Hideakou.
"Tunggu!. Bukannya kau belum saling kenal dengan Hideakou." Ujarku.
"Tentu saja aku saling kenal. Aku mohon biarkan aku memelukmu dengan tenang." Ujarnya.
"Tidak bisa begitu!. Aku tahu Arnius dan Hideakou tidak saling kenal!. Jujurlah padaku!." Ujarku.
Arnius langaung melespakan pelukaannya termasuk aku. Ia memberikan raut wajah ketakutan sedangkan aku dengan raut wajah penasaran.
"Hideakou itu sudah meninggal Miyuki. Maafkan aku." Ujarnya dengan raut wajah ketakutan.
Air mataku langsung berlinang, tapi aku saat itu masih percaya, jika Hideakou masih hidup. Aku semakin bingung di saat rasa tidak percayaku tidak hadir dalam pikiranku. Arnius langsung memelukku kembali.
"Tetaplah di sampingku." Ujar Arnius lembut.
"Hiks.. hiks. Kau bohong. Tidak mungkin!. Kemarin aku baru saja melihatnya." Ujarku.
"Percayalah padaku. Hideakou sudah lama meninggal." Ujarnya.
"Tidak!. Kau bohong. Ini tidak nyata." Ujarku.
"Miyuki. Apa kau akan tidur?. Baru saja kau bangun." Ujar Arnius.
Aku melihat kegelapan di balik mataku yang tertutup. Suasana kegelapan itu mulai menghilang ketika angin lembut menghelusku. Langit yang menandakan malam telah hadir dipandanganku. Aku telah berada di dunia asliku. Dihadapanku hanyalah Arnius yang sedang memberhentikan keretanya.
"Arnius?. Kenapa kau memberhentikan Motornya?." Tanyaku.
"Bukankah dari tadi kau terus berteriak aneh,dan berbicara hal aneh?. Oh ya. Aku juga tahu tentang kau memiliki imajinasi. Apa benar kau sedang di dalam ruangan imajinasimu?." Ujar Arnius lembut.
"Ya, aku memang hampir tenggelam dalam imajinasiku sendiri. Apakah kau mengenal Hideakou?." Ujarku.
"Tidak!, tapi aku sering melihatmu dengan pria. Aku yakin pria itu yang kau sebut. Sepertinya aku melihat pria itu tadi." Ujarnya.
"Dimana dia?. Aku sungguh ingin bertemu dengannya!. Hideakou merupakan teman pria pertamaku." Ujarku dengan nada tinggi.
"Tenanglah!. Aku baru saja melihatnya. Aku yakin, jika dia tidak jauh." Ujarnya.
"Bisakah kau membantuku mencarinya?." Tanyaku.
"Tentu saja." Ujarnya.
Motor milik Arnius mulai bergerak. Aku membiarkan pandanganku fokus ke arah seseorang yang seperti Hideakou. Tapi aku belum melihat seseorang pun. Entah mengapa aku merasakan, jika jantungku terus berdetang kencang. Semakin aku fokus, maka semakin terasa, jika jantungku benar-benar sangat berdetak.
"Apa-apaan ini perasaanku." Gumamku.
"Miyuki Chan. Apakah kalian sudah pacaran?." Ujar Arnius.
"Oh tentu saja tidak. Aku dan dia seperti satu pendirian. Pikiran kami hampir sama." Ujarku.
"Ouh. Begitu ya." Ujar Arnius dengan tersenyum tipis.
Setelah menelusuri sebagian jalan. Arnius melihat seseorang yang persis seperti Miyuki katakan. Namun pergerakan Hideakou terlihat aneh. Sesaat Arnius melihatnya selalu saja perasaan sesak terasa olehnya.
"Aku merasakan hal aneh dengannya. Bagaimana bisa rasanya sesak ya." Gumamnya.
"Apakah kau menemukannya?." Tanyaku.
"Ya aku menemukannya. Aku harap ini tidak hal buruk ya." Ujar Arnius lembut.
"Apa maksudmu buruk?. Sudahlah sepertinya kita hanya perlu ke arahnya." Ujarku.
"Maaf." Ujarnya.
Seketika Arnius memberhentikan motornya disamping Trotoar jalan. Tanpa aba-aba aku langsung mendekatinya. Saat itu aku dan Hideakou berada tepat di bagian tengah Zebra Cross.
"Hideakou!. Maafkan aku yang kemarin!." Teriakku.
"Miyuki?. Apa yang kau lakukan?." Gumamnya.
Tanpa rasa malu, aku hanya berteriak di tengah jalan itu. Arnius hanya terlihat dengan raut wajah bingungnya. Arnius tidak ingin ikut campur, jadi Arnius hanya berada di atas Motornya.
"Miyuki!. Jangan disini!." Ujarku.
"Kenapa?." Tanyaku.
"Ini jalan umum! Miyuki. Pegang tanganku!." Ujar Arnius.
Aku pun hanya bisa membiarkan tangannya menarikku. Ia membawaku ke lorong. Namun kami tidak terlalu memasukinya hingga ke dalam.
"Miyuki!. Apa kau bersama pria itu?." Ujarnya.
"Ya. Tunggu!. Apakah kau sudah memaafkanku?." Ujarku.
"Tentu saja!. Aku juga tidak terlalu memikirkannya." Ujarnya.
Tiba-tiba saja Arnius memasuki lorong yang kami singgahi. Aku sungguh jelas melihatnya dengan raut wajah panik.
"Huh. Miyuki!. Pria ini tidak terlihat oleh orang lain!. Aku melirik ke segala arah saat sebelumnya. Aku melihat semua orang membicarakanmu." Ujar Arnius.
"Lalu kau mengapa bisa melihat Hideakou?. Jangan membuat lelucon. Kau ini aneh-aneh saja." Ujarku.
Hideakou hanya bisa terdiam di tempatnya melihat aku dan Arnius saling bertikai.
"Aku benar-benar tidak tahu. Apa ini semua?. Bagaimana bisa hanya kita berdua?." Ujarnya.