To Love

To Love
Apa Yang Aku lakukan?



"Terima kasih telah mengajakku. Aku benar-benar ingin istirahat." Ujarku.


Akhirnya aku benar-benar melangkah menjauhinya. Arnius hanya terdiam, dan tidak bisa berbuat banyak untukku karena kami juga masih baru berkanalan.


"Ya semoga saja kau benar-benar beristirahat dengan baik." Ujarnya.


Wujudnya benar-benar tidak terasa olehku. Jalan-jalan yang memiliki pohon-pohon mulai terlalui begitu saja. Aku hanya menunduk akan perasaa nlu yang kacau.


"Seandainya Mama tidak meninggalkanku seperti ini. Kenapa aku harus mempunyai penyakit yang telah merampas kehidupanku?. Aku hanya ingin tenang," gumamku.


Seharusnya aku sadar, jika penyakit itu dapat hilang bila aku mengatakan sejujurnya pada ayahku. Semua itu ada obatnya.


"Aku ingin ayah yang sadar sendiri. Kapankah ayah bisa peduli denganku?. Menanyakan keadaanku saja tidak pernah," gumamku.


Kakiku mulai melangkah sembari menendang beberapa daun kering di tepi jalanan. Akhirnya jalan yang aku lalui telah berubah. Beberapa toko, rumah-rumah mulai terlihat dihadapanku.


"Sebentar lagi aku akan sampai. Apakah ayah akan membawa wanita lain?," gumamku.


Hal yang mengejutkan saja, jika aku mendengar seseorang yang bertiak dari belakangku.


"Miyuki!." Teriak Hideakou.


Aku langsung menoleh ke arah belakangku. Tentu saja itu tidak lain merupakan suara Hideakou. Namun tiba-tiba saja tubuhku ingin menjauhinya. Aku berjalan cepat.


"Miyuki kemana kau akan pergi? Jangan kabur." Teriak Kirei.


"Miyuki!." Teriak Hideakou.


"Apa sudah waktu jam pulang?. Oh tidak aku bisa ketahuan karena mempersalah gunakan surat izin." Ujarku.


Aku berpura-pura seakan tidak melihat mereka, dan terus berjalan dengan cepat. Hingga aku sadar, ternyata mereka mengejarku. Aku seakan bermain suatu permainan kejar-kejaran. Hingga akhirnya aku memasuki sebuah toko.


"Semoga saja mereka tidak melihatku masuk kesini?." Gumamku.


Kaca lebar hanya bisa membuatku mengintip secara perlahan. Aku sadar, jika aku sendiri tidak mengerti perbuatanku saat itu.


"Sebenarnya apa yang aku lakukan ini?." Ujarku.


Belum saja Hideakou dan Kirei mulai jauh dari pandanganku,  aku melihat kembali sekolompok gadis yang mempunyai anggota bernama Mitsuko dan Haruka.


"Dunia ini sempit sekali. Dimana-mana aku melihat orang-orang yang begini saja," gumamku.


"Bukankah itu Kakaknya Kirei?." Tanya Haruka.


"Ya. Apakah kau ingin meminta nomornya?. Kenapa kau terlalu terosepsi dengannya? Sudah beberapa tahun sejak kau satu sekolah dengannya, kau terus mengusiknya." Ujar Mitsuko.


"Namanya juga Haruka." Ujar anggota lain.


"Kau tidak mengerti apa yang ingin aku maksud. Sudahlah kalian sebaiknya urus saja Kirei." Ujar Haruka.


Aku kembali sadar, jika aku menguping pembicaraan mereka. Kakiku mulai melangkah keluar dari toko itu.


"Pfft Hideakou yang seperti itu pun masih ada yang suka." Ujarku dengan tertawa.


Ternyata tepat disebelahku, dan di depan kaca yang lebar. Ada sebuah Gitar berwarna coklat dengan motif yang sangat indah, membuatku tidak fokus pada aksi sekelompok gadis seumuranku itu.


"Astaga. Jadi aku tadi berada di dalam Toko Musik?, Gitar ini sangat cantik. Aku yakin sekali, jika gitar ini dipajang karena populer." Ujarku.


Tiba-tiba ada suara Kirei yang memanggil Hideakou. Seketika aku kembali fokus ke arah mereka.


"Hideakou!." Teriak Kirei


"Kau akan baik-baik saja. Mereka pasti tidak jahat denganmu. Mitsuko juga orang yang pendiam. Mereka hanya ingin dekat denganmu." Ujar Hideakou.


"Ya tentu saja." Ujarnya Haruka.


"Sebenarnya mereka ini ada hubungan apa dengan sekelompok itu. Kenapa Hideakou sangat percaya dengan mereka." Ujarku.


Bersembunyi di balik beberapa Toko, dan beberapa barang seperti patung, atau apapum itu. Rasanya aku benar-benar seperti seorang mata-mata yang sedang mengintai.


"Astaga aku jadi seperti ini. Apakah baik melakukan hal ini?. Oh tidak." Ujarku.


Tiba-tiba saja Hideakou di bawa jalan santai ke salah satu toko yang tidak jauh dari hadapanku. Sedangkan Kirei di bawa ke arah Toko yang berada tidak jauh di belakang mereka.


"Jika kau mengatakan pada Hideakou. Kami akan mengatakan rahasiamu padanya." Ujar Mitsuko.


"Apa yang sebenarnya terjadi?." Gumamku.


Aku langsung merapatkan diriku ke arah dinding. Aku semakin merasa aneh dengan tingkah gadis yang bernama Haruka itu dengan Hideakou.


"Kenapa Hideakou lebih percaya dengan ucapannya?," gumamku.


Ternyata sekelompok gadis itu akan melewatiku. Langkah kaki mereka semakin terlihat. Aku pun dengan cepat  bersembunyi di balik salah satu furnitur  yang cukup besar.


"Apa-apaan ini perkerjaanku," gumamku.


Aku melihat mereka memasuki salah satu tempat toko pakaian. Seketika aku spontans untuk berpindah tempat bersembunyi.


"Sekarang apa yang mereka akan lakukan?." Ujarku.


Langkahku memasuki ke toko itu, dan bersembunyi di balik patung. Rasanya, jika aku sadar, aku benar-benar bodoh mengikuti urusan mereka.


"Kenapa jadi begini?. Seharusnya aku tidak mengikutinya," gumamku.


Mereka memilah pakaian yang terlihat bagus untuk mereka. Sedangkan Kirei hanya termenung melihat mereka.


"Ini sungguh terlihat bagus!. Aku ingin yang ini." Ujar salah satu mereka.


"Apakah kali ini kalian berusaha merebut uang sakuku?. Apa tidak bisa kita menyudahi hubungan yang telah rusak?. Aku tidak ingin memakai uangku hanya demi keinginan kalian." Ujar Kirei.


"Ya sudah!. Kau tidak ingin aku memberikan pada Hideakou, bukankah begitu?. Kau tahu kau itu sekelompok dengan kami, dan tiba-tiba saja kau keluar tanpa alasan." Ujar Mitsuko.


"Tapi apakah ini cara kalian marah denganku?" Ujar Kirei.


"Terserah. Aku ingin memilih pakaian. Jangan lupa pilihlah pakaian juga untukmu!." Ujar Mitsuko dengan tersenyum.


"Aku benar-benar tidak bisa memahami maksud mereka," Gumamku.


Akhirnya mereka semua telah memilah, dan beranjak untuk berada di kasir. Ternyata Kirei dipalak oleh sekelompok gadis seumuranku itu. Rasanya aku benar-benar tidak bisa berkata-kata akan perlakuan Mitsuko yang tidak permah terlihat seperti itu saat di sekolah.


"Berikan kartunya. Kau tidak perlu takut!, ayahmu akan menambahnya, bukan?." Ujar Mitsuko.


"Benar-benar kalian ini!." Ujar Kirei.


"Sungguh aku tidak percaya dengan kelakuan Mitsuko itu! Tingkahnya berbeda saat berada di sekolah kemarin. Seharusnya Kirei kabur, dan tidak memberikannya," gumamku.


Rasanya aku benar-benar tidak bisa diam begitu saja melihat kelakuan mereka. Perasaanku tidak bisa tersesuaikan kembali.


"Aku tidak akan membiarkan Kirei membiarkan uangnya terus-menerus diambil. Aku yakin ini perbuatan yang sudah sangat sering dilakukan." Ujarku.


Akhirnya aku pun berusaha mendekati Kirei. Tentu saja aku tidak ingin mendapatkan masalah dengan mereka, dan tidak ingin membuat Kirei semakin banyak masalah. Aku langsung berlari ke arah Kirei, merampas kartu ATMnya dan menarik tangannya keluar dari Toko itu.


"Kirei!." Teriakku.


Aku bisa merasakan dimana jantungku benar-benar terasa terkejut akan aksiku. Aku bisa melihat dimana raut wajah mereka seperti diantara kebingungan dan terkejut.


"Apa yang akan dilakukan Miyuki?," gumam Kirei.


Akhirnya aku benar-benar telah menariknya. Seketika sekelompok itu benar-benar berteriak memanggil Kirei. Terutama kebingungan untuk membayar pakaian yang sudah berada di kasir itu.


"Kirei!. Lihat saja nanti!. Kenapa bisa Miyuki tahu soal ini. Lihat saja kalian." Ujar Mitsuko.


"Kirei!. Jangan pergi!. Apa-apaan gadis bodoh itu. Ngapain dia ikut campur." Ujar salah satu lainnya.


"Pegang saja tanganku!." Ujarku.


"Jangan!." Ujarnya.


Akhirnya mereka membatalkan pembelian, dan langsung mengejar kami. Tidak jauh dari pandangan mereka, aku membawa Kirei memasuki lorong. Disanalah aku memulai perdebatan dengan Kirei.


"Lepaskan!. Apa-apaan yang kau lakukan ini. Kenapa kau ikut campur urusan orang lain!. Kau masih baru disini, tapi kau sudah berani!." Ujar Kirei.


"Aku hanya ingin membantu." Ujarku dengan raut wajah panik.


Hempasan tangannya seketika membuatku sangat terkejut. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang telah membuatnya kesal.


"Kau menambah masalah. Aku akan diperlakulan lebih buruk dari ini selanjutnya!." Ujar Kirei.