
Aku pun langsung menoleh kearah berlawanan. Aku lakukan itu, agar aku dapat memberhentikan obrolan kami.
"Huhhhah." Suara nafas.
Lagi dan lagi Hide mencoba membuat diriku merasakan kesal. Kedua tangannya begitu saja memegang bahuku, seakan menyuruh wajahku kembali memandangnya. Dan benar saja Ia terus membuatku kesal.
"Selama kau berada disini, aku akan menemanimu di perjalanan ini." Ujarnya dengan
Aku pun langsung menoleh ke arah berlawana. Kali ini entah mengapa aku tak dapat mengeluarkan kata-kata dari perasaan kesalku. Aku hanya bisa melangkahkan kakiku untuk menghindari senyumannya .
"Huhh..., Terserahmu'' Ujarku dengan suara rendah.
Langkahku pun mulai membuat Hideakou mengikuti setiap langkah dari kedua kakiku. Suara rerumputan yang terinjak, suara burung yang berkicau, suara air dari suatu tempat, dan suara langkahan kakiku terdengar olehku yang telah menandakan suasana keheningan.
"Rasanya terlalu hening." Gumamku.
Beberapa menit kakiku melangkah begitu saja. Tiba-tiba saja beberapa Serigala datang kearah kami membuat tanganku merenspons untuk memegang bagian tepi bajunya dengan kuat.
"Astaga!. Bagaimana bisa disini ada beberapa Serigala?.'' Ujarku gemetar.
Tangan Hideakou pun langsung membawa badanku berada di belakangnya.
"Tenanglah!. Kau hanya perlu berada dibelakangku." Ujarnya dengan tegas.
Suasana yang sangat aku inginkan sebelumnya pun menghilang. Suasananya mulai berubah menjadi suasana yang mencekam. Walaupun imajinasi bukanlah hal yang nyata, terkadang suasana seperti itu juga menandakan aku yang sedang dalam bahaya.
"Hideakou!. Bagaimana ini?, aku takut." Ujarku dengan wajah gelisah.
"Kau tidak perlu bergerak!. Teruslah di belakangku ya!." Ujar Hide dengan tegas.
Tangan Hideakou pun langsung meraba ke arah pedang yang berada di sampingnya. Ia langsung mengambilnya dengan cepat, dan menodongkannya didepan serigala tanpa langsung menyerangnya.
"Hati-hati Hide!. Ujarku tegas.
"Tenang saja!. Ini hanya kecil bagiku." Ujar Hide tegas.
Mata Hideakou terus melirik pada serigala. Kakinya juga terkadang berubah arah sesuai wajah serigala itu bergerak. Aku baru sadar, jika aku telah melirik gerak-gerik Hideakou yang sangat tegas.
"Hideakou.." Gumamku.
Kaki serigala yang mulai bergerak perlahan. Tubuh Hideakou pun semakin condong ke depan. Dan tibalah saatnya dimana Serigala mulai mendekatinya. Hideakou langsung saja menangkis semua Serigala itu dengan cepat. Hideakou seperti tidak memberikan waktu untuk serigala menyerang. Pertarungan mereka pun selesai dengan cepat, tanpa luka dari tubuh Hideakou.
"Apakah kau telah membunuhnya?." Tanyaku dengan wajah gelisah.
"Hal seperti ini kecil bagiku." Ujarnya dengan wajah tersenyum.
Darah Serigala yang berserakan langsung merenspon Hideakou untuk menoleh kembali kearahku. Tangan kanan Hideakou langsung menutupi mataku.
"Jangan pernah mencoba menyingkirkan tanganku dari pandanganmu!.." Ujarnya sembari menutup mataku dengan telapak tangannya.
Tangannya yang menutupi kedua mataku, seketika membuatku tersentak dan bingung.
"Kenapa?. Ada apa?." Ujarku.
Pertanyaanku ternyata tak dibalaskan olehnya. Hideakou hanya mengeluarkan suara yang semakin memaksaku untuk tak menanyakannya lagi.
"Jika kau mencoba melihatnya, semoga saja kau tidak pingsan. Teruskan saja langkahmu" Ujarnya dengan suara sangat tegas.
Suaranya yang sangat tegas membuatku tidak dapat berkata-kata. Aku hanya bisa melangkahkan kedua kakiku. Kali ini, aku benar-benar seperti sedang di pandu olehnya. Akhinya lokasi itu mulai terlihat jauh dari pandangan Hideakou. Hideakou pun langsung melepaskan tangannya.
"Aku sepertinya melakukannya secara tiba-tiba, jadi maafkan aku ya." Ujarnya.
"Aku sudah tidak terlalu peduli lagi hal itu. Aku hanya ingin kau melepaskan tanganmu dari mataku." Ujarku dengan wajah datar.
Jari-jari Hideakou pun menjauhi kedua bola mataku. Tentu saja aku dapat melihat garis yang berada di telapak tangannya. Aku pun kembali melihat suasana hutan yang indah tidak seperti saat sebelumnya. Namun tepat saja saat satu kata dariku masih belum terlontarkan, Hide langsung berkata.
"Kau tak perlu menanyakanku tentang hal tadi. Teruslah melangkah." Ujarnya dengan tegas.
"Dia benar benar seperti mata-mata di pikiranku saja." Gumamku dengan wajah kesal.
Perjalanan pun terus berjalan dengan keheningan seperti sebelumnya. Sebenarnya aku sangat ingin bertanya dan berbicara padanya. Namun tepat di tengah perjalanan Hide menarik tanganku dengan cepat. Seketika saja kakinya melangkah dengan cepat. Aku pun tidak dapat berkata-kata hanya bisa berlari bersamanya.
Wajahnya yang begitu tegas, matanya yang terus berbinar, dan sangat fokus pada suatu tujuan membuatku ikut menikmati setiap langkahnya. Walaupun aku tidak kemana tujuannya.
''Jika seperti ini, sejahat apapun dia di duniaku yang nyata tidak akan membuatku membencinya." Gumamku saat berlari.
Terlihatlah dari jauh, Goa dengan tirai serabut, akar dan dedaunan, yang seketika aku pun tahu ke arah yang akan aku tuju. Namun aku terkejut dan takut karena tiba-tiba saja Ia membawaku kesana.
"Hide!. Kenapa kita ke arah Goa itu?. Ujarku dengan wajah gelisah.
"Nanti kau akan menyadarinya." Ujarnya lembut.
Terutama semakin lama rerumputan itu semakin tinggi. Ternyata Hideakou telah menggenggam erat tanganku.
"Hide!. Kenapa?. Aku mulai takut." Ujarku dengan wajah semakin gelisah.
"Jangan panik!. Aku akan terus melindungimu. Tenanglah!. Ujarnya dengan lembut.
Kakiku pun terus melangkah dan menginjak semua rerumputan itu. Akhirnya aku pun telah berdiri memandangi serabut yang seperti tirai itu. Secara bersamaan, Hide pun melepaskan tangannya.
"Tidak apa-apa. Aku disini akan terus menjagamu." Ujarnya sambil memandangi wajahku.
Wajahnya yang terlihat senang membuatku pasrah untuk melangkahkan kakiku melewati tirai itu.
"Kau akan terus menjagaku. Kau harus berjanji padaku." Ujarku dengan wajah gelisah.
"Ya. Aku akan terus ada untuk menjaga dan melindunginmu." Ujarnya dengan nada fokus.
Akhirnya kakiku pun melangkah kembali. Tanganku juga merenspons untuk membuka tirai itu. Kegelapan yang terlihat dari luar Goa pun mulai menghilang. Seketika datanglah cahaya dari dalam Goa. Terlihatlah padang hijau, air terjun, dan bebatuan yang sangat menakjubkan. Betapa tidak menyangkanya aku saat itu, bahwa di balik goa itu tersimpan tempat yang sangat indah. Aku pun tidak dapat berkata apa-apa. Aku hanya terdiam dalam keindahan itu.
"Aku tidak menyangka kau bakal membawaku kesini. Aku sungguh sangat berterima kasih padamu Hide." Ujarku dengan wajah yang masih menghadap ke depan.
Hide langsung melihat wajahku dengan wajahnya yang sangat tenang.
''Ini imajinasimu bukan aku." Ujarnya dengan suara lembutnya.
"Ya, semakin lama aku mulai tidak mengerti dengan imajinasiku sendiri." Ujarku dengan wajah yang masih menghadap ke depan.
"Kau hanya tidak perlu memahaminya.
Suatu saat nanti kau bakal tahu jawabannya. Ujarnya lembut.
Aku pun melirik ke arah bola matanya yang ternyata sedang melihat wajahku.
Aku membiarkan dirinya melihat ke arah wajahku yang sangat senang. Ternyata Ia ingin memanggilku untuk menoleh kearahya.
"Hei." Ujarnya memanggilku.
Suaranya yang tegas seketika membuatku menoleh kerahnya secara perlahan, agar dapat sedikit melirik sekitar hingga akhirnya wajah kami bertemu dalam satu tatapan. Tapi kali ini wajahnya sungguh berseri. Ia pun langsung mengeluarkan suara dari balik bibirnya secara perlahan yang seketika membuatku melirik kearah bibirnya.
"Aku berharap, kau bisa selalu menampilkan wajah itu!." Ujarnya lembut.
Tiba-tiba saja wajahnya terlihat buram dan mulai bercahaya di pandanganku. Ternyata perubahan itu telah datang.
"Kenapa sekarang?. Aku belum saja melihat lebih dalam." Gumamku.
Aku pun langsung melirik ke arah sekitarku. Setelah beberapa saat, aku kembali ke arahnya untuk tetap mendengar ucapannya.
"Aku akan sangat kecewa, jika kau terus mengeluh dan tak mencoba hal baru. Carilah temanmu!, karena imajinasi ini hanyalah angan-angan." Ujarnya dengan tersenyum.
"Kenapa harus aku?." Ujarku dengan wajah kecewa.
"Kau akan sangat penting bagi mereka semua, karena kau sangat istimewa. Aku sangat percaya, kau pasti mendapatkan banyak hal baru. Aku percaya hal itu.
"Kenapa aku?. Kenapa harus aku?, Hide!." Ujarku dengan wajah penasaran.
"Kau akan mengetahuinya suatu saat nanti. Tersenyumlah lagi Miyuki!. Ujarnya dengan tersenyum.
Perubahan itu pun diakhiri oleh wajahnya dan suaranya. Seketika suasana berubah dan menghilangkan duniaku keduaku. Aku mulai kembali ke dunia yang lebih nyata. Perubahan itu pun seketika membuatku hanya bisa mengedipkan mata berkali-kali. Ternyata aku telah berada tepat di depan pintu rumahku.