
Tentu saja ucapan Arnius langsung membuatku sedikit panik. Pikiranku tidak dapat menerima apa yang Ia katakan. Aku sedikit meracik bumbu kebohongan di dalam kata-kataku.
"Aku tidak tau apa yang kau maksud, jadi kau pikir aku melihatmu seperti itu tentu saja tidak. Mungkin saja kau memiliki kelebihan dalam pandanganmu. Jangan ganggu aku lagi!. Kau seharusnya memeriksa ke Rumah Sakir Jiwa, jadi lepaskan aku!." Ujarku dengan tegas.
Arnius melepas tanganku yang telah disentuh oleh tanganya, dan pergi dengan meninggalkan wajahnya yang panik juga bingung.
"Hahh..., apa aku sedang sakit ya?. Bagaimana bisa dua kali pertemuan dengannya di masih terlihat seperti itu?." Ujarnya pelan.
Akhirnya aku pun pergi dengan banyak pertanyaan didalam pikiranku.
"Oh astaga..., bagaimana bisa seperti itu?. Huhh.., pasti didunia seperti ini masih ada yang memiliki imajinasi nyata sepertiku." Gumamku.
Aku melanjutkan langkahku untuk menuju rumah Kirei, dan meninggalkan Arnius dengan perasaan yang sedang dihadang kebingungan dengan berbagai pertanyaan pada dirinya sendiri.
"Sebaiknya aku lebih cepat, agar bisa membantu Kirei." Gumamku.
Lain dengan Arnius dialah yang lebih kebingungan daripada aku.
"Sebaiknya aku akan memeriksa ke rumah sakit. Lagi pula, kenapa aku lupa untuk menanyakan namanya ya?. Tapi benarkah aku sedang dihadang penyakit!?. Akhhh..., sebaiknya aku lebih cepat memeriksa!. Ujar Arnius.
Arnius pun pergi tidak lama setelah aku mulai menjauhinya. Aku tidak terlalu memperdulikan dirinya. Walaupun begitu aku sedang terperosok dengan ucapannya yang masih sulit ditetapkan kebenarannya. Tidak lama akhirnya aku telah sampai di rumah Kirei. Ternyata waktu yang sedikit telah terpotong itu tidak merubah niatku untuk membantunya.
"Kirei!, Kirei!. Aku masuk ya?." Ujarku sembari berteriak.
"Ya, masuklah!. Sepertinya kau orang pertama yang datang, Miyuki chan." Ujar Kirei sembari berteriak dari dalam rumahnya.
Aku lanjutkan langkahku memasuki rumahnya. Aku biarkan diriku terduduk di atas tempat duduk yang khas Jepang. Aku juga bisa melihat beberapa foto lama yang mengelilingi ruangan, dan sedikit diperlihatkan oleh pandanganku.
"Kirei terlihat sangat imut di waktu masa kecilnya, tapi terlihat berbeda karena sifatnya yang sedikit terbuka ,dan aktif. Apa yang sedang Kirei lakukan ya?. Sebaiknya aku datang ke tempatnya." Ujarku lembut.
Aku pun mulai sadar, jika aku berbicara pada diriku sendiri. Kakiku pun kembali untuk bangkit, dan melangkah menuju Kirei, sembari menulusuri beberapa kenangan lama yang diselimuti bingkai foto itu.
"Kirei, kau pasti di dapur. Kirei!, aku akan kesana!." Ujarku lembut.
Melihat kenangan Kirei membuatku mengingat kenanganku bersama keluarga yang berada di Kampung. Tapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Sebelumnya aku hanya berniat untuk lepas dari kekangan keluarga saja.
"Kirei sangat terlihat senang. Apakah aku seperti itu ya dulu?." Ujarku lembut.
Aku terus melangkah, hingga aku menemukan satu foto yang sangat mengusikku. Foto itu terlihat seperti dua orang yang bersaudara, namun kali ini salah satunya terlihat sama persis seperti Arnius. Salah satu dari foto itu tidak dapat aku lihat oleh pandanganku.
"Siapa itu?. Apakah Arnius?!. Huhhh.., sepertinya bukan!. Kemarin saat aku tidak sengaja menemui sosok Arnius di Plaza, Kirei saja tidak menyapa Arnius." Ujarku dengan raut wajah penasaran.
Aku cukup heran dengan perkembangan imajinasiku yang semakin lama mengusik kehidupan nyataku. Aku sebelumnya yakin, jika itu adalah pandangan dalam imajinasiku yang membuatku tidak dapat melihatnya. Aku kembali melangkah menuju dapur rumah yang besar khas Jepang, hingga aku menemukan Kirei yang sedang mencoba untuk memasak sesuatu.
"Hei!, Kirei!. Biarkan aku membantu mu!." Ujarku dengan tegas.
"Tentu saja, tapi aku tidak memaksakanmu untuk membantu. Mungkin walau hanya menemaniku itu saja sudah membuatku senang." Ujar Kirei dengan tersenyum.
Jari tanganku dengan cepat menyentuh bahan makanan yang sebenarnya aku belum mengetahuinya. Entah apa yang akan dimasak, dan aku hanya bisa menanyakannya pada Kirei.
"Kirei!, kau akan memasak apa?." Ujarku dengan wajah penasaran.
"Yakitori, dan Okonomiyaki. Miyuki!, tolong ambilkan bahan yang disana!." Ujar Kirei dengan lembut.
"Bukankah itu sedikit sulit. Terserahmulah Kirei, aku hanya bisa membantumu." Ujarku sembari mengambil bahan.
"Sepertinya sikapmu mulai berubah Yuki Chan. Oh ya, aku akan memanggilmu Yuki saja ya. Aku sangat suka memanggilmu dengan nama itu." Ujarnya lembut sembari memasak.
"Entahlah aku juga tidak merasa seperti itu. Oh ya, biasanya itu panggilan dari keluargaku, jadi tentu saja boleh." Ujarku lembut.
"Jangan katakan, jika kau tidak tahu Yuki, semua perubahan itu tidak lain dari keputusanmu. Aku pikir sebelumnya kau tidak akan membantuku karena sikapmu, ternyata tidak. Kau cukup bisa dibilang teman yang sangat membantu." Ujarnya dengantegas sembari memasak.
"Entahlah. Oh ya, apakah kau memiliki saudara?." Tanyaku dengan suara pelan.
Tiba-tiba saja pikiranku terlintas mengenai foto aneh yang aku temukan sebelumnya. Aku pun menanyakannya secara spontans. Aku melihat reaksi wajah Kirei hanya terlihat santai.
"Banyak, mungkin puluhan saudaraku." Ujar kirei sembari tersenyum kecil juga menahan tawa.
"Hei Kirei!, jangan bercanda. Aku benar-benar menanyakannya." Ujarku tegas.
Tawa,dan senyum Kirei selintas menghilang. Aku melihat dari samping wajah Kirei yang memunculkan wajah yang mulai tegas.
"Hmm, tentu saja ada. Aku dengannya terpaut perbedaan setahun saja. Dia sangat baik, benar sangat baik, tampan juga penyayang." Ujar Kirei.
Ternyata pertanyaanku datang diakhir saat Kirei selesai memasak. Aku juga mendengar suara teman sekelompokku yang mulai memanggil. Obrolan mengenai saudara Kirei pada akhirnya tidak diteruskan.
"Kirei!, Kirei!, apakah kau ada di dalam rumah?." Ujar Eiji dengan berteriak.
"Hei!, kalian!. Masuklah, dan duduklah disana. Aku, dan Miyuki akan menghidangkan makanan!." Ujar Kirei dengan berteriak.
Akhirnya aku, dan Kirei pun menghidangkan makanan. Namun sebelum itu, tiba-tiba saja Kirei melirikku dengan tersenyum.
"Oh ya, aku tidak menyangka, jika kau mengganti cara pakaianmu. Kau terlihat sangat memukau hari ini Yuki Chan." Ujar Kirei.
Aku, dan Kirei pun mengantarkan masakan yang dimasak oleh Kirei.
"Wahh, wangi sekali masakan kalian. Aku semakin lapar saja." Ujar Chieko.
Lebih tepatnya mereka sedang milirikku karena model penampilanku yang sedikit aku ganti. Hanya saja itu tidak terlalu mengusikku, karena aku sudah terbiasa dengan pandangan orang-orang padaku. Namun itu terabaikan di saat Eiji menatapku sangat tegas. Tidak seperti Hide yang sibuk membahas makanan bersama Chieko.
"Kau terlihat bagus seperti itu." Ujar Eiji.
"Oh ya, sebaiknya kau seperti itu kedepannya saat berada di Kampus." Ujar Mitsuko dengan suara rendah.
Tiba-tiba saja Kirei merangkulku, juga sedikit menggertakku dengan sikunya yang mengadu ke lenganku.
"Ohh tentu saja. Kirei banyak yang punya, bukan?!." Ujar Kirei dengan wajah licik.
"Siapa?." Ujarku dengan wajah penasaran.
"Tentu saja kamikan. Aduh, susah sekali ya mengatakannya." Ujar Kirei sembari mengadu sikutnya kearah lenganku.
Terlihatlah senyuman yang muncul dari mereka. Terutama Kirei yang tersenyum, hingga terlihatlah giginya yang rapi.
"Sudah lama rasanya, aku tidak melihat senyuman-senyuman seperti ini. Apakah aku boleh bahagia disaat seperti ini?." Gumamku.
Tiba-tiba saja Hideakou memberikan senyum hangat ke arahku. Seketika saja aku kembali melirik Hideakou dengan wajah yang bingung, dan canggung akan rahasia yang telah aku katakan, dan reaksiku kemarin malam.