
Sebenarnya aku tidak peduli, jika aku yang menaiki Motor. Tubuh Atletis milik Arnius lebih tidak cocok mengendarainya. Akhirnya aku telah berada di bagian belakang keretanya tanpa bertumpu padanya.
"Sudah siap!. Aku akan jalankan." Ujar Arnius.
"Astaga, kau pikir kau sedang menaiki Motor Balap ha!. Jalankan saja. Motor seperti ini tidak akan membuatku jatuh." Ujarku dengan menahan tawa.
"Wah apa kau menghinaku?. Jangan salahkan aku, jika kau akan jatuh." Ujar Arnius.
"Apa?." Tanyaku.
Aku dengan Arnius pun mulai berangkat. Aku juga tidak sadar, jika kami saat itu tidak memiliki tujuan yang belum disepakati. Kami saling bertukar pikiran, dan membalas pertanyaan yang keluar dari balik bibir kami.
"Kenapa kau memilih Motor ini?." Ujarku.
"Ya terserahku." Ujar Arnius.
"Kau ini ribet sekali. Aku bertanya dengan sungguh padamu." Ujarku dengan wajah kesal.
"Kau ingin sekali tahu ya. Aku menginginkan ini karena teringat dengan wanita yang senang menaikinya. Namun aku tidak tahu mengapa aku lupa dengan wanita itu. Peganglah bagian Jaketku!."
"Apa?!." Teriakku.
Tiba-tiba saja Arnius mempercepat laju Motornya. Angin bertiup lembut menyentuh bagian luar kulitku. Rasanya saat itu aku seperti sedang Deja Vu dengan saseorang. Namun aku tidak tahu dengan siapa itu. Motor kecil miliknya seperti sedang mangalahkan Motor normal lainnya.
"Aa!, kenapa kau tiba-tiba mempercepat laju keretanya?." Ujarku.
"Jangan merendahkan aku tentang hal ini." Ujar Arnius.
"Jangan!." Ujarku.
"Tidak!, aku akan mempercepatnya. Peganglah!." Ujar Arnius.
Langit berwarna Orange, entah dari mana asalnya. Permainan suara angin yang bertiup seperti mengajakku untuk berteriak. Rambut halus milik Arnius seperti membuatku ingin menariknya. Akhirnya angin yang menyeringai rambutku, dan tubuhku membuat jari-jari tanganku menyentuh bagian Jaketnya.
"Dasar!, apa kau senang aku seperti ini?. Aku ingin kau memperlambat lajunya!." Ujarku dengan raut wajah kesal.
"Tidak akan!. Sebab itu kau harus menikmatinya. Jangan takut dulu!." Ujar Arnius.
"Apa kau sedang mempermainkan aku?." Ujarku.
Seketika laju Motornya semakin kencang. Rambutku yang tergurai panjang mulai mengarah kebelakang sepenuhnya. Tubuhku rasanya seperti terangkat dari Motornya. Jari-jariku semakin kuat memegang Jaketnya.
"Aaaa, kenapa terus mengejutkanku?." Ujar Arnius.
"Aku akan menunjukkanmu betapa kehidupan itu menyenangkan bersama seorang teman." Ujar Arnius.
"Akhh, aku tidak ingin mengetahui hal itu." Ujarku dengan raut wajah kesal.
"Maka kau akan mengetahu hak itu." Ujar Arnius.
Arnius tidak mempercepat lajunya kembali. Ia mulai memperlambat lajunya. Aku mulai bisa menoleh ke arah manapun. Langitnya indah dengan perpaduan Orange dan Ungu. Lebih tepatnya hari mulai petang.
"Hm, sebenarnya apa yang kau inginkan dariku." Ujarku.
"Aku melihatmu dengan kegelapan yang menutupimu kemarin. Sejak aku dapat melihatmu tadi, entah mengapa aku seperti mengingat seseorang." Ujar Arnius.
"Terserahmu, sebaiknya aku tidak memperdulikan hal itu." Ujarku.
Ternyata lokasi yang sedang kami tuju adalah bagian bibir Pantai. Warna langit membias ke arah Pantai. Angin semakin lembut menyeringai telingaku. Pantai itu sungguh indah dengan ombaknya.
"Ternyata kau akan membawaku kesini." Ujarku.
"Bukankah ini sangat indah?. Aku sangat menyukai hal ini." Ujar Arnius.
"Sepertinya sedikit lagi." Ujarku.
"Apa yang sedikit lagi?." Tanya Arnius.
"Bukan apa-apa." Ujarku.
Arnius mulai memberhentikan Keretanya. Aku pun mulai turun dari keretanya. Aku langsung menoleh ke arah Pantai yang sudah terlihat ombaknya.
"Indah ya." Ujarku.
"Tentu saja, semua ini karena wanita itu." Ujar Arnius.
"Dari tadi kau mengucapkan soal wanita. Apa kau benar-benar tidak dapat mengingatnya." Ujarku.
"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa hidupku sekarang seperti berbeda." Ujar Arnius.
Belum saja aku melangkah mendekati bibir Pantai. Arnius menarikku. Jari tangannya mendekati rambutku.
"Kau ini!. Apa kau ingin dengan rambut acak-acak seperti itu." Ujar Arnius.
"Apa?." Ujarku dengan raut wajah bingung.
Jarinya mulai telah menyentuh rambutku. Ia membenarkan rambutku dengan raut wajah yang sangat fokus. Aku tidak sadar, jika aku menatapnya dengan raut wajah pasrah.
"Ya begini terlihat lebih baik." Ujarnya.
Kedua bola mata kami akhirnya bertemu. Aku merasakan, jika aku sendiri tidak dapat mengerti perasaanku.
"Deg!."
"Deg!."
Aku dan Arnius pun langsung menoleh ke berbagai arah. Dan kembali melihat ke arah yang akan dituju.
"Kenapa aku jadi seperti ini?. Dia bukan siapa-siapa bagiku. Dia hanya orang yang baru datang padaku. Aku hanya perlu mengangapnya orang yang baik, dan tidak lebih dari itu." Gumamku.
Tiba-tiba saja asap gelap datang dari angin yang bertiup. Dan mulai mendekati wajahnya. Rasanya aku mulai ingin menangis, dan perasaan itu tidak dapat aku mengerti.
"Oh jangan. Aku mohon jangan." Gumamku.
"Miyuki Chan!. Bertemanlah denganku. Aku juga ingin mencari tahu apa arti teman dari hidupku. Setiap aku melihatmu, aku seperti melihat wanita iu, tapi itu hanya perasaanku. Aku percaya, jika semua orang bisa mengerti kehidupan." Ujarnya.
"Deg!."
Tiba-tiba saja asap gelap itu semakin bertiup kencang. Angin itu membawa asap gelap itu, dan mulai menjauhi kedua wajah kami lebih kencang. Rasanya aku benar-benar ingin berteriak saat asap gelap itu benar-benar pergi.
"Apa ini benar?. Aku bisa melihatnya lagi." Gumamku dengan raut wajah bingung.
"Kenapa kau terlihat seperti kebingungan." Tanya Arnius.
"Bukan apa-apa. Aku hanya bingung mengapa langit itu memiliki banyak warna." Ujarku.
Lagi dan lagi aku mengatakan hal yang bukan sesungguhnya. Kebohonganku semakin membuatku berniat untuk terus membohonginya.
"Sepertinya seperti ini lebih baik." Gumamku.
"Aku sedikit tidak percaya, tapi ya sudahlah. Apa kau tahu tadi itu ada hal yang sangat aneh. Sepertinya kita tidak perlu membahas itu." Ujar Arnius.
Kami mulai menginjak pasir lembut di bagian bibir Pantai. Aku tidak peduli saat itu dengan orang-orang yang akan menganggap kami seperti apa. Aku hanya berharap kami akan berbincang seperti orang-orang yang baru bertemu.
"Ya sudahlah. Aku tidak perlu mengerti pikiranmu." Ujarku.
"Kenapa kau selalu menghindar dari semua yang aku katakan?. Apa kau telah mengangapku teman?. Saat ini aku hanya perlu mencari arti teman." Ujarnya.
"Kau terus saja mengatakan tentang teman. Apa kau tidak bisa mengatakan hal lain. Di atas namanya teman masih ada yang lebih. Bukankah kau memiliki banyak teman?. Aku melihatmu tadi dengan temanmu. Aku juga pernah melihat seorang wanita bersamamu." Ujarku.
"Aku tidak ingin memperdalam hal ini. Aku hanya percaya dengan apa yang aku rasakan sekarang. Semua perasaan ini datang setelah aku melihatmu." Ujarnya.
"Iya, tapi kenapa harus aku?." Ujarku dengan raut wajah bingung.
"Semua orang bisa mencari sendiri artinya. Mungkin dunia telah memilihku untuk memilihmu. Memilihmu untuk menjawab semua pertanyaanku akan wanita membuatku telah melupakannya." Ujarnya dengan tersenyum.
"Aku tidak ingin mendengar soal wanita itu. Kau pikir aku seperti dia. Bagaimana dengan wanita yang kemarin itu?." Ujarku.
"Dia hanya kakakku." Ujarnya.
Kami mulai tidak sadar, jika langit telah gelap. Tiba-tiba saja Kembang Api meluncur ke atas langit. Kembang Api itu seperti berasal dari tengah Pantai. Lebih tepatnya di ujung Pantai masih ada Kota.
"Ctar!, ctar."
"Apa hari ini yang istimewa?." Tanyaku.
"Tentu saja ada. Sepertinya kau melupakannya." Ujar Arnius.
Tiba-tiba saja Arnius melangkah kehadapanku. Matanya benar-benar berwarna biru tua. Kembang Api yang berwarna-warni mulai membiarkan warnanya ke arah rambutnya yang halus. Rambutnya terlihat berbinar seperti air mata yang tertahan.
"Deg!."
"Deg!."
"Kau tidak perlu mencari arti teman, jika kau bisa mengartikannya lebih dari itu." Ujar Arnius.