
Arnius dan aku berdiri di hadapan kembang api yang lepas di atas langit. Hari itu merupakan hari istimewa dimana bulan juli telah datang atau musim panas. Aku mulai sadar, jika aku tidak mendengar apapun dari Dosen sebelumnya.
"Kalau begitu besok merupakan hari libur, bukan?." Ujarku.
"Ya, tentu saja." Ujarnya.
Aku juga mulai sadar, jika bibir pantai sebenarnya akan diramaikan oleh para pengunjung.
"Sebentar lagi lokasi ini akan semakin ramai. Sebaiknya aku pulang saja." Ujarku.
"Kenapa kau menghindar?. Jangan!, disini sungguh menyenangkan." Ujarnya.
"Cepat sekali waktu berlalu hingga aku tidak sadar liburan telah datang. Aku ingin pulang, bukan itu saja. Sebaiknya besok aku pulang ke Kampung Keluargaku." Ujarku dengan lembut.
"Kenapa kau pulang?." Ujarnya dengan raut wajah bingung.
"Aku bakal tidak melakukan apa-apa, bukan?. Kau juga sudah mengetahui rahasiaku tentang Imajinasiku. Kau pasti tahu alasannya. Aku juga ingin bekerja sampingan, tapi sepertinya tidak akan mungkin. Semua ini sudah jelas karena Imajinasiku." Ujarku dengan raut wajah pasrah.
"Ya untuk hari ini. Sebaiknya aku ingin lebih mengenalmu. Berikan aku waktu hanya untuk hari ini." Ujarnya.
Aku saat itu benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan Arnius padaku. Aku tidak tahu pasti, jika Ia seperti menginginkan lebih dari namanya teman. Lebih tepatnya seperti persahabatan. Tapi kenapa harus aku. Tiba-tiba pikiranku terlintas tentang Hideakou. Seketika aku menginginkan untuk bertemu dengannya.
"Astaga!, jika besor libur sepertinya aku tidak akan bertemu dengannya. Aku ingin bertemu dengannya." Ujarku dengan raut wajah panik.
"Kenapa?. Siapa yang ingin kau temui?. Apakah dia temanmu?." Ujarnya dengan raut wajah santai.
Seketika aku sadar, jika Arnius Mengatakan 'Teman' yang seketika membuatku bingung. Aku sadar, jika aku masih tidak menganggapnya srbagai teman. Aku mulai bingung, jika perasaan itu sendiri tidak aku ketahui.
"Aku tidak tahu. Mungkin dia hanya seseorang yang hampir dekat denganku. Dengan kata lain dia juga bukan temanku." Ujarnya.
"Pria?. Aku selalu melihatmu dengan seorang pria. Apa kau ingin aku juga mengantarmu kesana?." Ujar Arnius.
"Ya. Apa tidak mengharapkanmu, jika kau menguntitku. Lagi pula apa kau ingin mengantarkanku?." Ujarku.
"Tentu saja tidak! aku tidak menguntitmu. Oh ya, aku akan mengantarmu. Aku masih memiliki waktu yang banyak." Ujarnya.
Kami melangkah melewati keramaian Pengunjung sembari bertukar pikiran. Aku sadar, jika semua orang melirik ke kami. Aku bisa mendengar suara bisikkan keras dari mereka. Itu sangat aneh, bisikkan yang sangat mengusikku.
"Pasangan yang cocok. Pria itu seperti tidak bagian dari Negara kita. Sepertinya seorang blasteran. Tampan." Ujar salah satu mereka.
Seketika aku tersentak. Tubuhku mulai memberi jarak yang tepat menurutku padanya. Aku hanya melangkah dengan tatapan ke arah Motornya.
"Apa-apaan itu perbincangan mereka." Gumamku.
"Kenapa kau melangkah lebih cepat dariku?. Kau benar-benar ingin cepat pulamg dengannya." Ujarnya.
"Aku sudah biasa seperti ini. Ingat!, aku tidak memaksamu. Aku bisa kesana sendiri. Oh tidak aku tidak memiki informasi apapun tentangnya." Ujarku dengan raut panik
"Tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin sendiri sekarang. Yahh, bagaimana kita akan kesana, jika tidak dapat memiliki alamatnya." Ujarnya.
"Huh, aku menyesal tidak bertanya padanya." Ujarku dengan raut wajah pasrah.
"Sebaiknya aku mengantarmu pulang. Kau bisa bertemu dengannya di lain waktu." Ujar Arnius.
"Aku sangat ingin bertemu dengannya. Ada hal yang harus dibicarakan." Ujarku.
"Kau bisa berbicara saat liburan selesai. Tentu saja di Kampus. Berusahalah bersabar." Ujarnya
"Ya sudahlah. Aku akan menunggu hari itu." Ujarku dengan wajah pasrah.
Seketika aku hanya bisa pasrah. Arah tujuan kami mulai berganti menjadi ke Rumahku. Arnius pun telah berada di Motornya. Ia mengarahkan Motornya ke arah jalan. Pada akhirnya aku pun menaikinya, dan mulai pulang. Namun ruang imajinasiku datang kembali. Seketika tubuh Arnius menghilang terbawa angin.
"Oh tidak!." Gumamku.
"Aku merasakan hal aneh tapi aku tidak tahu apa itu." Ujar Arnius.
"Apa maksudmu?." Ujarku.
Perbincangan kami terhenti ketika. Percikkan warna-warni mulai datang. Angin lembut menghelus kulitku seakan membuatku bergairah. Tubuhku seperti terus tergertak, namun aku tidak tahu mengapa. Burung-burung membentuk posisi berantakan di atas langit. Warna langit seperti berubah mengikuti angin. Aku melihat jelas, jika aku seperti sedang dalam suasana pagi. Ternyata aku menaiki kuda, namun aku tidak sendiri.
"Ini Kuda. Lalu dengan siapa yang dihapanku. Sepertinya bukan aku yang mengendarainya." Gumamku.
Tengkuk lehernya sangat kelihatan di pandanganku. Rambutnya tertutupi oleh topi khas zaman dulu. Senapan panjang juga terlihat dari bagian sampingnya.
"Siapa dia?." Gumamku.
"Miyuki Chan ini aku." Ujarnya.
"Aku mengenal suara ini. Kau tidak lain Kou." Ujarku.
"Kenapa begini?." Gumamku.
Jari tanganku mulai melepaskannya. Belum saja terlepas, Kou kembali menarik tanganku untuk memeluknya dengan erat.
"Kenapa?." Tanyaku.
"Nanti kau jatuh." Ujarnya.
"Tidak apa-apa. Aku akan mencoba." Ujarku.
Seketika Kou pun pasrah dan membiarkan tanganku tidak memeluknya. Kou memperlambat lajunya. Tiba-tiba tangannya mengambil topinya. Ternyata Kou ingin aku mengenakannya.
"Pakailah. Rambutmu akan terlalu terlihat." Ujarnya.
"Hmm. Aku tidak tahu maksudmu, tapi ya sudahlah." Ujarku dengan raut wajah pasrah.
Aku pun hanya bisa pasrah untuk memakainya. Angin lembut melewati wujudku. Kou mengarahkan kudanya dekat dengan beberapa tumbuhan tinggi. Kou tiba-tiba saja memberhentikan Kudanya. Ia mulai turun meninggalkan diriku yang masih di atas Kuda. Ternyata Kou mengambil setangkai Bunga Mawar.
"Miyuki Chan!, simpanlah selalu." Ujarnya.
"Kenapa aku memberiku Bunganya?." Ujarku.
Kou mulai menaiki kembali kudanya. Aku hanya bisa kebingungan. Aku, dan Kou pun melanjutkan perbincangan yang berada di atas kuda.
"Kou?. Jika pun kau memberika bunga, aku tidak akan bisa menyimpannya di dunia asliku." Ujarku.
"Simpanlah hingga di dunia sana." Ujarnya.
"Sebenarnya apa maksudmu?. Tentu saja ini tidak akan ada saat penglihatanku berubah ke dunia asliku." Ujarku dengan raut wajah bingung.
"Bukan!, simpanlah Bunga itu di dalam hatimu. Aku ingin hatimu indah, dan berwarna seperti Bunga Mawar itu. Ingat!, percaya." Ujarnya dengan tersenyum.
Kou mengendarai kudanya dengan perlahan. Aku bisa merasakan angin lembut melewatiku saat itu. Aku juga bisa mendengar suara langkah kuda.
"Kou!. Jangan berbicara hal aneh. Aku tidak mengerti maksudmu. Mana mungkin bisa Bunga berada di dalam hati." Ujarku dengan raut wajah bingung.
"Ya ampun Miyuki. Ternyata kau masih sangat polos. Ingat!. Semua itu jawabannya ada di dalam hatimu, perasaanmu, dan pikiranmu. Kau harus menjadikannya satu." Ujarnya dengan tersenyum.
"Kau seperti memutar-mutar ucapanmu sendiri. Aku masih tidak mengerti." Ujarku dengan raut wajah bingung.
"Kau hanya perlu untuk ingin." Ujarnya.
"Hmm. Aku akan berusaha." Ujarku.
Angin tiba-tiba menerjang dengan kuat. Dedaunan kecil mulai melewati wajahku. Aku berpikir, jika perubahan akan dimulai. Ternyata tidak, angin itu berhembus nyata di dalam ruangan imajinasiku. Angin kencang itu benar-benar seperti ombak laut. Aku langsung mengedipkan bola mataku, agar tidak dimasuki debu. Ternyata topi yang aku kenakan mulai terbang ke arah angin, atau lebih tepatnya ke arah belakangku. Jari tanganku tidak sempat menahannya.
"Oh tidak!. Topinya terbang." Ujarku.
"Kita akan mengambilnya." Ujar Kou
Kou langsung membalikkan kudanya. Aku langsung pasrah dengan sikapnya. Tepat saja saat aku menoleh ke belakang. Aku melihat Arnius dengan jelas. Arnius memegang topi itu.
"Arnius?. Ternyata aku juga bisa melihatnya disini." Ujarku.
"Apa kau mengenalnya?." Ujar Kou dengan raut wajah bingung.
"Ya." Ujarku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Arnius. Aku benar-benar tidak mengerti dengan rupa Arnius yang mulai dapat terlihat olehku. Rasanya aku sedang di permainkan oleh ruang imajinasiku sendiri.
"Apa aku boleh percaya imajinasiku sendiri?." Gumamku.
Arnius terlihat jelas. Pakaiannya benar-benar seperti seorang ksatria unggulan. Bidang tubuhnya seperti seorang petinju muda. Arnius tinggi, putih, juga tegap. Aku sadar, jika wujudnya mengalahkan Hideakou. Sesaat ak melihatnya, aku hanya bisa mengedipkan kedua bola mataku berkali-kali.
"Deg."
"Oh tidak!. Apa yang membuatku memikirkan hal ini?." Gumamku.
"Bagaimana bisa pria itu berada disini?." Ujar Kou.
"Ini kan imajinasiku. Kenapa kau yang bertanya seakan kau yang memiliki ruang imajinasi ini?." Ujarku.
Arnius terlihat jelas dengan senyuman lebarnya. Kou terlihat menatap Arnius dengan raut wajah kesal. Aku sudah sangat jelas melihatnya. Aku mulai risih, dan tidak mengerti perasaan apa itu.
"Apa-apaan suasana ini!." Gumamku.