To Love

To Love
Arnius lagi



Jari-jariku menggapai surat itu hingga terlihatlah tulisan yang disampaikan oleh Hideakou.


"Kau sepertinya pingsan tadi malam secara tiba-tiba di pelukanku, jadi aku mengantarmu pulang. Maafkan aku sebelumnya, aku mengecek isi dompetmu untuk melihat alamatmu. Semoga kau baik-baik saja, jika kau masih belum baikkan kau tidak perlu mengikuti laporan kelompoknya. Esok hari libur, jika kau ingin bergabung datanglah ke rumah Kirei. Semoga kau lebih baikkan ya." Isi surat dari Hideakou.


Aku pun telah melihat tulisan yang disampaikan Hideakou dengan perasaan yang legah. Tanganku mulai bergerak untuk menghelus rambutku ke belakang. Aku mulai sadar, bahwa kemarin malam adalah hal yang sangat memalukan. Aku juga merasa takut setelah memberi tahu Hideakou tentang imajinasiku.


"Oh astaga, habislah sudah hidupku. Bagaimana rahasiaku nanti?. Aku harap dia akan menjaga rahasiaku." Ujarku dengan wajah gelisah.


"Ya, ya. Aku tetap harus ikut!. Aku sudah mengacaukan hari pertama laporannya. Aku tidak ingin mereka kesulitan karenaku." Ujarku dengan tegas.


Aku langsung beranjak untuk mandi, dan membiarkan tubuhku tanpa diselimuti kain. Aku pun mulai untuk berendap di dalam bak dengan busa-busa yang datang dari shampo, dan sabunku. Akhirnya aku pun selesai. Seperti biasanya bagi seorang wanita sebelum keluar dari kamar mandi. Aku menghadapkan wajahku ke arah cermin untuk mengoreksi diriku.


"Apakah aku boleh seperti ini saja?. Sepertinya aku lebih baik mengganti model pakaianku." Ujarku lembut.


Tanpa kusadari, jika aku telah mengikuti pikiranku. Padahak aku termasuk wanita yang jarang untuk memikirkan hal yang hanya untuk diriku sendiri.


"Aku akan memakai riasan sedikit saja."


Aku ambil beberapa pakaian yang yang cantik oleh pandanganku, namun tenyata tidak satu pun pikiranku menyetujui salah salah satu dari semua. Akhirnya aku menemukan Gaun Mini yang sangat menghiasi pandanganku. Gaun Mini tersebut telihat cukup santai namun indah. Hiasan dari motif juga Tekstur yang sangat mendominasikan sifatku, juga sangat membuatku terpesona. Tentu saja aku akan memakainya.


"Wahh,;ini sangat cantik. Sebaiknya aku akan memakainya. Kapan terakir aku memakainya ya?. Akhh.., sudahlah aku tidak terlalu peduli hal itu." Ujarku dengan tersenyum.


Akhirnya aku telah memakai Gaun Mini yang sangat memesona di pandanganku, hingga aku pun kembali untuk berada dihadapan cermin.


"Begini saja!. Apakah ini terlihat bagus ya?. Tentu saja aku harus merenovasi sedikit?" Ujarku.


Saat itu aku masih memikirkan perubahan rambutku, dan riasan di wajahku. Aku ambil beberapa riasan yang sangat cocok untuk usiaku, dan postur wajahku.


"Ini terlihat natural. Aku menyukainya!." Ujarku lembut.


Aku masih melihat sesuatu yang masih kurang yaitu penataan rambutku. Sepertinya saat itu aku tidak sadar yang sedang aku lakukan sebenarnya untuk siapa.


"Yah, begini. sedikit lagi, ahh okey. Aku sangat menyukai rambutku." Ujarku dengan lembut


Akhirnya rambutku yang tergurai panjang juga tertata rapi, dan sedikit mengandung unsur remaja. Akhirnya tibalah saatnya aku melangkahkan kakiku menuju luar yang sangat padat akan suara, dan mengusik diriku. Aku mengetahui penampilanku kali ini tidak akan bagus, jika dipadu dengan Headsetku. Untuk pertama kalinya lagi, aku tidak membawanya, atau memakainya.


"Huhhhh...., rumah Kirei tidak terlalu jauh. Sebaiknya aku berjalan saja." Ujarku.


Selangkah demi selangkah kakiku bergerak dengan kecepatan normal. Akhirnya aku menuju jalan yang lebih besar, dan diramaikan oleh pejalan kaki, dan beberapa kendaraan melintas. Saat itulah aku sadar, jika tidak memakai Headsetku suasana terlihat sangat ramau. Aku mulai sadar, jika beberapa orang melirik ke arahku.


"Aaaakh.., aku sangat benci hal ini. Aku tidak menyukai orang-orang yang hanya memandangiku secara fisik.., akh...". Gumamku.


Aku pun hanya bisa menunduk, dan terus menunduk. Akhirnya Aku mulai sadar, jika seseorang telah menabrakku. Namun kali ini aku mendengar dua suara yang berbeda. Aku sangat yakin bahwa itu adalah adalah sepasang kekasih.


"Akhh, maaf, maafkan....," Ujarku yang terputus.


Ucapanku seketika terhenti setelah aku menoleh kearah seseorang yang menabraku. Dan ternyata itu adalah sosok yang sebelumnya pernah bertemu denganku. Sosok itu membuatku selalu berpikir, jika dia adalah sosok hantu, ternyata tidak karena hanya akulah yang melihatnya seperti itu. Aku juga sedang berhadapan dengan seorang wanita yang aku anggap,jika dia adalah kekasihnya Arnius. Terlihat mereka saling menggenggam tangan.


Walaupun aku tidak dapat melihat rupa di wajahnya Arnius, aku yakin sekali bahwa Arnius sedang menatap tajamku.


"Ooh sayang. Dia bukan siapa-siapa jangan menghiraukannya. Dia hanyalah adik kelas di Kampusku." Ujar Arnius pada wanita itu.


"Ya, aku bukan siapa-siapanya, jadi tenang saja!." Ujarku pada wanita tersebut.


Seharusnya saat itu akulah yang sangat malu, dan takut akan hal yang sebelumnya terjadi di dalam Plaza. Aku kembali menunduk, dan pergi sembari mengucapkan 'maaf' kembali.


"Maafkan aku yang terlalu ceroboh." Ujarku lembut.


Tentu saja aku sangat ingin tahu bagaimana rupa seorang Arnius tenyata membuat wanita sangat cantik bisa mendekatinya.


"Huhhh, bagaimana bisa wanita seperti itu kekasihnya ya?!. Aku jadi ingin tahu rupa wajahnya." Gumamku.


Aku pun mulai sadar,dan mulai menjauhi mereka. Akhirnya aku telah menemukan satu jalan, yaitu arah menuju rumah Kirei.


"Wahh dekat juga ya. Sepertinya masih banyak waktu. Sebaiknya aku sedikit membantunya." Ujarku pelan.


Tepat saja aku belum melangkah kearah itu, aku telah ditarik oleh seseorang, yaitu Arnius.


"Apa yang kau lakukan?. Kau ini tidak ada hubungannya padaku?. Aku sudah ada janjian dengan beberapa orang." Ujarku tegas.


 


Aku telah menyadari dia sedang menarikku kearah salah satu Kafe yang berada tidak jauh dari jalah menuju rumah Kirei. Aku mulai sadar, jika Arnius telah berhasil membuatku duduk didalam Kafe tersebut dengan rasa panik.


"Hei!, hari ke hari, kau selalu muncul dihadapanku. Apa kau menguntitku kembali seperti kemarin?!." Ujarnya tegas.


Betapa terkejutnya aku bahwa Arnius telah mendugaku untuk menguntitnya. Saat itu juga mataku terbengkalai, dan ingin menatap tajam matanyan, namun karena rupa yang tidak dapat aku lihat membuatku hanya menatap sosoknya.


"Apa-apaan kau ini!. Aku bukan wanita murahan seperti itu?. Lalu, bagaimana kau bisa meninggalkan wanita itu sendirian tanpamu?. Aku tidak suka perbincangan seperti ini!." Ujarku tegas.


Aku langsung menghindar, dan bangkit dari kursi untuk meninggalkannya.


"Bukan?!, sebenarnya bagaimana bisa kau mengetahui namaku?." Ujarnya tegas.


Aku kembali mencoba untuk menghindar. Aku pun mulai pergi, namun Ia menarik tanganku. Aku pun kembali menoleh ke arahnya dengan wajah tegas.


"lalu, mengapa aku tidak dapat melihatmu?." Ujarnya dengan lembut.


Tubuhku seketika tersentak untuk berhenti. Aku pun seketika mengganti rupa wajahku yang tegas menjadi bingung, dan heran.


"Benarkah?. Bagaimana bisa?."


Entah mengapa aku tidak dapat mengatakan apa-apa, dan hanya bisa menghindar. Sebelumnya aku yakin semua itu terjadi padanya, karena mungkin saja dia memiliki kemampuan sepertiku atau penyakit.