
Arnius tetap dihadapanku saat aku kembali. Ternyata dia telah membawaku ke Gudang.
Aku sempat tidak memperdulikan itu. Bukan hanya itu, aku juga telah duduk di atas kursi yang bersampingan dengannya.
"Hikss, hikss.., aku takut." Ujarku dengan raut gelisah.
Arnius terus menyapu air mata yang jatuh dariku. Lalu, memegang kedua tanganku dengan rapat.
"Jangan menangis, Apa hal itu sangat menyakitkan bagimu?. Aku tidak akan memperdulikan hal itu. Percayalah padaku." Ujar Arnius.
"Hikss..Hikss. Kau bukan siapa-siapa aku. Mengapa kau datang padaku?. Kau seharusnya bukan denganku disini?. Kita saja belum saling menganggap teman. Hikss..hiks." Ujarku.
Arnius kemudian memegang kedua bahuku, dan menatapku tajam kedua bola mataku. Air mataku seketika berhenti karena reaksinya yang spontans. Seketika air mataku yang jatuh pun mulai berhenti.
"Tidak baik, jika terus menangis. Anggap saja semua itu adalah kebahagianmu yang tersembunyi." Ujar Arnius dengan tersenyum.
"Sebenarnya apa yang membuatmu ingin berteman denganku?. Kita berjumpa karena tidak sengaja. Mengapa hanya karena hal itu, kau terus mengusik hidupku." Ujarku dengan raut wajah gelisah.
Aku mulai sadar, jika aku terus memberi jarak pembicaraan padanya. Semua itu aku lakukan karena takut dengan apa yang akan terjadi setelahnya. Aku pun bangkit dari kursi, dan meninggalkannya dengan jari tanganku yang terus menghusap air mataku yang telah lembab di pelipis mataku.
"Kenapa kau selalu menghindar?. Aku hanya ingin mengerti." Ujar Arnius.
"Jangan berbicara padaku seolah kita sangat dekat. Aku masih bisa menghitung berapa kali kita bertemu. Dan itu tidak lebih dari dua, dan satu lagi sekarang." Ujarku dengan raut wajah gelisah.
Beberapa langkah kakiku mulai mendekati pintu. Aku pun bisa mencium bau karat yang berada di Gudang itu. Tepat saja saat aku mulai keluar, Arnius kembali memberikan suara dari balik bibirnya.
"Aku juga tidak tahu mengapa. Aku merasa seperti pernah menemuimu, dan bermain bersamamu. Aku tidak pernah tahu perasaan apa yang memanggilku untuk mengajakmu berbicara. Aku mohon beri kesempatanku untuk percaya, jika aku memang pernah dekat denganmu sebelumnya. Sejak aku menemuimu kemarin, semua yang aku rasa seperti tidak normal padaku." Ujar Arnius dengan raut wajah gelisah.
Aku pun memaksakan diriku untuk menoleh ke arahnya kembali. Entah mengapa aku mulai merasakan sesak di dadaku. Kakiku mulai melangkah ke arahnya, dan menarik tangannya. Sungguh saat itu, aku tidak mengerti diriku sendiri.
"Aku akan memberikannya. Kau hanya perlu mencoba mengartikan arti teman saja padaku. Aku juga tidak ingin mendengar tentang perasaan itu padaku." Ujarku dengan raut wajah panik
"Aku sungguh berterima kasih padamu telah memberikan aku kesempatan berteman. Aku ingin jujur, Saat kemarin kau tidak melihatku. Aku seperti tidak berada di Dunia yang benar karena tidak dapat melihatmu." Ujar Arnius.
Jari tanganku mulai mendekati bibirnya, agar Arnius tidak berbicara hal yang membingungkan. Aku sangat sesak setiap Arnius terus mengatakannya semakin dalam.
"Sebaiknya kau memberhentikan ucapanmu yang aneh itu. Aku mengajakmu, agar aku tahu bagaimana cara bertemanmu. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan namanya pertemanan. Tapi kau terus mengusikku." Ujarku.
"Maafkan aku. Aku sangat ingin meneruskan ucapan yang mengenai perasaan anehku, tapi kau melarangnya. ." Ujar Arnius.
Aku pun menariknya terus menuju luar lorong Kampus. Aku tidak sadar, dengan apa yang telah aku lakukan padanya. Arnius pun menggertakku yang terus menariknya.
"Lalu, mengapa kau terus menarikku?. Kemana kau ingin mengajakku?." Ujar Arnius.
Seketika aku pun langsung melepaskan tanganku yang berada di tangannya, dan menoleh ke arah berlawanan berkali-kali.
"Akhh!. Mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi?. Aku juga tidak tahu harus kemana." Ujarku dengan raut wajah panik.
"Bukankah kau yang menarikku terus-menerus?. Jadi dari tadi kau tidak tahu ingin mengajakku kemana." Ujar Arnius.
"Kenapa aku yang harus mengajakmu?." Ujarku.
"Pffft, ternyata kau sangat lucu. Sepertinya kau banyak memiliki teman. Kau yang dari tadimenarikku. Kau juga yang akan mengajakku tadi. Pfftt, aku jadi mulai bingung." Ujar Arnius.
"Singkirkan tanganmu dari kepalaku. Aku belum saja menganggapmu teman." Ujarku dengan dengan tersenyum tipis.
Aku mulai semakin bingung pada diriku sendiri yang mulai aneh. Aku tidak sadar, jika cara bicaraku semakin aneh,dan tidak seperti biasanya. Bukan hanya itu, aku juga tidak bisa membedakan perasaanku yang sedang kesal, dan senang.
"Mengapa aku yang jadi mengajaknya ya?. Apa hubungannya aku dengannya?. Dia hanya ingin berteman denganku, bukan?. Akhhh, mengapa aku jadi bersamanya?." Gumamku.
Arnius melihat raut wajahku yang mulai bingung. Pada akhirnya Arnius yang menarikku. Aku mulai bingung, jika kami seperti sedang bermain tarik-tarikkan.
"Sepertinya aku saja yang mengajakmu pergi ke suatu tempat." Ujar Arnius.
"Ini semua karenamu." Ujarku dengan raut wajah kesal.
"Jika begini terus, sebaiknya kau mengikuti langkahku saja. Apa kau ingin aku terus menarikmu seperti anak kecil?." Ujar Arnius.
"Kenapa tidak dari tadi saja?. Lama sekali pikiranmu berjalan ya. Lalu, mengapa kau yang jadi menyuruhku mengikutimu?." Ujarku.
"Ya ampun Miyuki Chan. Kau membuat dirimu yang semakin bingung. Sepertinya kita jalan saling beriringan saja, jika kau tidak ingin mengikuti langkahku." Ujar Arnius dengan tersenyum.
Rasanya aku sangat ingin tertawa pada diriku sendiri, tapi aku tidak akan menunjukkannya. Akhirnya kami melangkah menuju Parkiran.
"Apa kau menaiki Mobil ke Kampus?." Tanyaku.
"Tidaklah!, aku hanya menggunakan Motor." Ujar Arnius.
Arnius menunjuk Motor miliknya. Betapa terkejutnya aku, jika Motor itu adalah Motor Metik. Lebih tepatnya Motor yang seperti Skuter itu. Seketika aku tercengang, dan menatap ke arah Motor Skuter itu dengan tertawa tipis. Tubuhnya Arnius, wajah, dan gayanya Arnius benar-benar tidak cocok dengan Motor Skuter itu.
"Pfftt, Kau bergaya seperti Artis di Kampus. Motormu saja Skuter. Kau lebih imut dari dugaanku." Ujarku dengan tertawa.
"Ini tidak lucu. Membeli Motor dengan uang sendiri baru namanya keren. Mereka dengan Motor besar biasanya juga dari uang orang tuanya." Ujar Arnius dengan raut wajah pasrah.
Arnius mendekati Motornya dan menaikinya. Aku semakin tertawa ketika tubuhnya yang seperti Artis Atlet itu menaiki Motor Kecil.
"Pfftt, aku tidak tahan melihat ini!. Ya ampun, kenapa juga kau berusah mendapatkan hanya mendapatkan Motor kecil ini?." Ujarku dengan tertawa.
"Kenapa kau tidak naik saja?. Kau mau ikut atau tidak?." Ujar Arnius.
Aku mulai tidak sadar, jika aku tertawa hingga mengelurkan air mata. Aku pun langsung mengusapnya sambil melanjutkan tawa dariku.
"Pfftt, maafkan aku. Kau sangat tidak cocok dengan Motor itu." Ujarku.
"Apa kau selalu seperti ini dengan temanmu?. Sudahlah, ayo naik!." Ujar Arnius dengan raut wajah pasrah.
Aku mulai sadar, jika aku tidak seharusnya bersikap seperti itu. Aku yang mendengar ucapanya pun akhirnya bisa pasrah.
"Ya, maafkan aku!. Ini pertama kalinya lagi aku tertawa seperti ini." Ujarku.
Seketika suasana kembali serius. Aku pun menaiki Motornya.