To Love

To Love
Gitar indah



Hideakou merangkul, dan membawaku secara perlahan dalam rengkulannya.


"Miyuki!, apa kau tidak apa-apa, jika kau berjalan seperti itu?." Tanya Mitsuko.


"Benar, aku baik-baik saja, tenanglah Mitsuko." Ujarku dengan wajah tersenyum.


Aku merasakan, jika kakiku tidak sangat sakit. Aku pun langsung melepaskan tanganku yang berada di tengkuk lehernya.


"Lepaskan aku!. Aku tidak merasakan sakit sama sekali. Kau tidak perlu membantuku." Ujarku lembut.


Namun Hideakou tetap menahan tubuhku berada di rengkulannya kembali. Dilain sisi, Kirei sedang membantu Eiji dengan sangat teliti. Namun Eiji tidak memerlukan bantuan dari Kirei.


"Eiji!. Berika tanganmu, jika kau merasaa masih sakit." Ujar Kirei dengan wajah gelisah.


"Sudahlah!. Jangan memperlakukanku seperti itu. Aku pria yang masih kuat, tidak apa-apa. Bantu saja Miyuki!." Ujar Eiji dengan tegas.


Entah mengapa wajah Kirei sangat memesona dengan warna merah jambu di bagian pipinya. Kirei tiba-tiba saja memberikan wajah kecewa setelah mendengar perkataan Eiji.


"Hmm, ya sudahlah. Katakan padaku, jika kau perlu bantuan padaku ." Ujar Kirei.


"Ya, Terima kasih." Ujar Eiji lembut.


Kembali padaku, Hideakou bersih keras untuk terus merangkulku. Akhirnya aku membuatnya menatapi wajahku yang yang sangat kesal padanya.


"Huhh, Aku sudah katakan padamu, jika aku tidak ingin. Lepaskan tanganku." Ujarku dengan wajah kesal.


"Huhh, tersarahmulah. Tidak ada untungnya bagiku menolongmu." Ujarnya dengan wajah santai.


Seketika aku punĀ langsung menoleh ke arah lainnya. Aku menunjukkan pada mereka, jika tubuhku, dan langkahku sangat baik-baik saja


"Oh ya, kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku. Lihatlah!, aku baik-baik saja!." Ujarku dengan raut wajah yang tersenyum.


Akhirnya kami pun kembali jalan, dan melewati kembali tangga sebelumnya. Kami telah sampai di hadapan ruangan Papa Kirei.


"Halo Pa, adakah Papa disana?!. Kami ingin membicarakan sesuatu." Ujar Kirei sembari mengetuk pintu.


Ruangan pun seketika terbuka setelah Papa Kirei mengetahui suaranya Kirei hadir.


"Wahh, ada perlu apa sayangku?." Ujar Papa Kirei lembut.


"Pa, kami ingin bertanya tentang musik. Bolehkah kami bertanya pada Papa?." Ujar Kirei santai.


Papa Kirei tiba-tiba saja melihatku dengan cara melirik seperti tidak menyukaiku. Tentu saja aku tidak tahu mengapa. Aku pun tidak membalas raut wajahnya itu.


"Oh ya!, tadi Papa mendengar suara, jadi Papa langsung melihat kalian. Apakah kalian baik-baik saja?." Ujarnya dengan wajah serius.


"Tentu saja!. Kami baik-baik saja, jadi Pa!, bolehkah Papa membantu kami?." Ujar Kirei dengan wajah serius.


"Oh silahkan, masuklah keruangan ini." Ujar Papanya kembali.


Akhirnya kami pun memasuki ruangan itu Terlihatlah suasana khas Musik yang telah mengelilingi kami seperti Gitar, Drum Set, Gitar Bass, Piano, dan macam-macam alat lainnya.


"Wah, banyak sekali." Ujarku.


"Tentu sajalah Miyuki. Papa kireikan seorang penulis." Ujar Chieko.


Pria tua itu sudah membuatku menduganya, jika ia seorang musisi yang berkelas.


"Wahhh, apa kita bahas ya?. Oh ya, kalian jangan lupa untuk merekap suara, dan mencatat hal penting." Ujarnya Izumi.


Kami pun memulai perbincangan sembari membahas tentang macam Genre Musik-Musik. Akhirnya beberapa jam telah berlalu, laporan kami telah selesai.


"Ahhh, akhirnya selesai juga. Wahh, melelahkan ya." Ujar Eiji.


Setelah membahas laporan Musik. Papa Kirei memulai pertanyaan santai Ala-remaja seperti kami. Tentu saja tidak lain tentang Genre-Genre musik yang sedang populer termasuk lagunya.


"Apa kalian menyukai lagu yang keluar tahun ini?." Ujar Papa Kirei.


"Tentu saja!. Aku menyukainya." Ujar Eiji.


Entah mengapa kedua bola mataku mulai melirik ke segala arah. Aku pun mengabaikan pembicaraan itu. Tiba-tiba saja, aku menemukan Gitar yang sangat membuatku terus meliriknya. Gitar itu sangat indah dengan motif Sakura.


Ternyata sikapku yang mengabaikan mereka telah membuat anggota lainnya mulai melirikku.


"Hei Miyuki, apa yang kau lihat?." Ujar Chieko.


"Oh, aku tidak sengaja melihat Gitar indah itu." Ujarku dengan lembut.


Tiba-tiba saja Kirei beranjak dari kursi mendekati Gitar yang sedang aku lihat sebelumnya. Kirei membawa Gitar itu mengarah pada pandanganku.


"Oh kau pasti bisa menggunakannya. Aku ingin kau memainkannya untukku." Ujarnya.


Papa Kirei seketika bangkit, dan kembali melirikku dengan wajah kesal yang mulai tersembunyi.


"Hmm, Kirei!. Bukankah itu Gitar kesayanganmu?. Lalu, kau ingin memberikannya." Ujar Papa Kirei dengan wajah gelisah.


"Tenanglah Pa!. Aku memiliki banyak Gitar kesayangan. Ini hanya pertama kalinya bagiku untuk memberikan Gitar pada seseorang. Papa!, jika permainan Gitar Miyuki bagus aku baru memberikannya. Aku juga tidak akan memberikannya, jika yang permainan Gitar Miyuki tidak bagus. Jadi!, bolehkan Papa?." Ujar Kirei dengan tersenyum.


"Oh astaga.., aku tidak memerlukannya. Tidak apa-apa Kirei. Aku tidak terlalu memerlukannya." Ujarku dengan wajah panik.


"Maaf!, aku berbicara seperti itu tadi. Aku hanya ingin melihat caramu memainkan Lagu dengan Gitar ." Ujar Kirei.


Serontak anggota lainnya tersenyum licik padaku. Seketika aku pun tidak dapat lepas dari kekangan raut wajah mereka.


"Wah.., wah.., aku jadi ingin tahu." Ujar Eiji.


"Aku juga ingin mendengarnya." Ujar Chieko.


Aku pun bisa melihat wajah Papa Kirei yang langsung tidak melihatku lagi. Aku pun pada akhirnya terpaksa memainkan Gitarnya, dan menyanyikan sebuah Lagu.


"Huhhh, aku berharap kalian menyukai permainan Musik milikku. Oh ya Kirei, aku melakukan ini bukan untuk Gitarmu melainkan karena dirimu, oke!." Ujarku dengan tersenyum.


Kirei pun membiaskan senyum cerianya padaku tanpa membalas pernyataanku.


"Akhirnya, aku memainkan Gitar lagi." Gumamku dengan tersenyum.


Petikkan senar dari Gitar telah dimulai saat suana terasa nyaman untukku. Untaian nada keluar dari Gitar menghiasi suara yang keluar dari balik bibirku. Pikiranku yang terasa nyaman menambah ketukan dalam permainanku. Aku pun memainkan perlawanan antara suara dari balik bibir dan Gitar yang menjadikannya senadum.


"Im, standing here to look out of everything, and im silent now to find out what you mean...," Suara dalam nyanyianku.


Terlihatlah senyum mereka dari pandanganku . Aku mulai tidak sadar, jika aku mulai melirik ke arah wajah Hideakou, dan matanya secara lembut. Aku pun tersentak, dan langsung mengubah arah pandanganku. Aku pun tidak sadar, jika pipiku kembali memerah.


"Oh astaga, kenapa aku melirik ke arahnya." Gumamku.


Akhirnya aku pun memutuskan untuk berhenti melanjutkan permainan Musikku.


"Huhhh, selesai juga." Ujarku lembut.


Suara decitan senyuman, dan suara pujian terdengar olehku.


"Kau ini benar-benar membuatku tidak menyangka hal seperti ini." Ujar Mitsuko lembut.


"Wahh hebat, suaramu indah!." Ujar


Eiji.


"Kau bernyanyi seperti bermain dengan perasaanmu. Pipimu merona saat itu." Ujar Chieko


Aku mulai sadar setelah mendengar perkataan mereka, jika raut wajahku telah berubah saat aku bernyanyi sebelumnya.


"Pfft, bukan!. Tentu saja perasaan itu untuk kalian." Ujarku.


Tiba-tiba Kirei semakin mendekatiku. Ternyata Ia mengambil Gitar yang berada di kedua tanganku secara mendadak.


"Jrenng..., jrenggg..." Suara gitar.


"Huhh, tentu saja aku akan menepati janjiku. Kau ini aneh, tidak mungkin perasaan itu untuk kami, hingga membuat pipimu merona. Aku sangat percaya kau menyembunyikan sesuatu." Ujar Kirei dengan tersenyum licik.


Kirei seketika melangkah menuju arah samping tubuku. Kirei langsung mendekati telingaku secara perlahan. Ternyata Ia berbicara padaku dalam bisikkan.


"Yuki Chan, Aku akan mendengarkan curhatmu, jika itu tentang masalah cintamu." Ujarnya lembut.