To Love

To Love
Episode 2 : Kembali ke awal



Aku melangkah memasuki kelas baruku untuk kelas akhir dari masih Sekolahku.  Langkah demi langkah mulai membuatku gemetaran.


"Semoga mereka senang dengan kehadiranku." Gumamku


Aku tahu saat itu aku diiringi oleh seorang Guru, namun tetap saja aku masih dilanda dengan ketakutan. Akhirnya aku telah berada di kelas, dan berada dihapan para siswa lainnya.


"Sepertinya kalian mendapatkan teman baru. Dia pindah kesekolah kita dikarenakan pekerjaan Ayahnya yang membuat mereka berpindah tempat tinggal. Hei nak bisakah kamu memperkenalkan dirimu?." Ujar Sang Guru.


"Ya. Nama saya Miyuki Furuka. Kalian bisa memanggil Miyuki. Saya harap kalian senang dengan kadatangan saya." Ujarku.


"Nak, duduklah di kursi kosong itu." Ujar Sang guru.


Aku bisa melihat posisi kursi milikku. Saat itu sangat jelas, jika aku mendapatkan posisi yang dikelilingi oleh para lelaki. Depan, belakang, dan samping kananku hanyalah lelaki. Dan hanya samping kiri yang diisi oleh gadis.


"Hei salam kenal!. Panggil aku Kirei." Ujarnya.


"Ya. Salam kenal juga!." Ujarku.


Mata Pelajaran langsung dimulai tanpa memberi waktu untukku berbicara banyak dengan lainnya.


"Jadi langsung belajar." Gumamku.


Sang Guru pun mulai membahas Mata Pelajaran. Tentu saja aku tidak diiringi dengan kefokusan. Aku memiliki kekurangan atau penyakit. Itu disebut Halusinasi, namun aku masih ditahap rendah. Aku masih bisa membedakan kenyataan atau bukan saat itu. Aku sadar, jika penyakit itu sendiri tidak  pernah membuatku berusaha mengatakannya pada kedua orang tuaku.


"Semoga saja. Aku bisa diterima." Ujarku.


Mata Pelajaran telah selesai, dan sudah waktunya istirahat. Beberapa dari kami selalu membawa bekal termasuk aku. Tiba-tiba seorang siswa lelaki yang berada di depanku menoleh ke arahku. Saat itulah aku memulai kembali halusinasiku.


"Hei!. Aku ingin merasakan masakan anak baru!." Ujarnya dengan nada tegas.


Aku melihat kupu-kupu yang bercahaya berlalu lalang dihadapan wajahnya. Kupu-kupu itu seakan menari dihadapan lelaki itu. Bukan hanya itu. Aku melihat bola matanya sangat bercahaya, hal itu juga belum pernah aku temui sebelumnya selain dengannya. Namun ternyata cara bicara lelaki itu tidak membuatku menyukainya. Nada tegas, raut wajah sombong, dan tatapan kebencian telah membuatku sangat risih akan gerakannya.


"Kenapa dia bersuara seperti itu?." Gumamku.


"Berikanlah!." Ujarnya kembali.


Sifat asliku telah keluar. Ketika aku tidak menyukai sesuatu hal, aku bisa melawan kembali. Bersama hal itu halusinasiku sebelumnya mulai menghilang.


"Kenapa juga harus aku?. Apa beginilah caramu meminta sesuatu?. Kau saja belum berkenalan denganku." Ujar dengan raut wajah kesal.


"Ooo, aku pikir kau takut denganku ternyata tidak. Salam kenal namaku Hideakou!. Siapa saja bisa memanggilku Kou. Aku merupakan lelaki yang tampan dari sepenjuru kelas ini!." Ujarnya.


"Apa?. Bisakah kau tidak mengatakan hal bodoh?." Ujarku.


Aku pun langsung mengambil Headset yang selalu aku bawa kemana-mana. Tanpa aba-aba aku langsung memakainya dan memutar lagu kesukaanku. Aku tidak pernah takut, jika aku akan dimarahi dengan membawa barang Elektronik ke Sekolah. Sifatku memang terkenal egois.


"Sepertinya begini lebih baik." Ujarku.


Aku menyangka, jika Ia akan pasrah, dan ternyata tidak. Suara gertakan tangannya yang berada di meja membuatku terkejut.


"Brak!." Suara meja.


Aku mencoba mengacuhkannya dan terus menikmati santapanku bersama lagu yang aku dengarkan. Tiba-tiba saja  tangannya merenspon untuk merebut Headset milikku, dan melepaskannya dari daun telingaku.


"Apa-apan kau ini!." Ujarnya.


"Kau yang apa-apaan." Ujarku.


"Jangan mengacuhkan aku!. Aku tidak menyukai itu." Ujarnya denga nada tegas.


"Kau juga tidak sopan denganku!." Ujarku.


Seketika semua siswa melihat kami. Hal yang paling tidak aku guna ketika tiba-tiba saja Ia melempar Headsetku ke lantai.


"Apa-apaan kau itu!." Teriakku.


"Terserah aku." Ujarnya.


Tiba-tiba saja Ia menginjak Headset milikku. Aku langsung merenspon untuk mengambil Headsetku yang berada ditelapak kakinya.


"Hentikan itu!." Teriakku.


Ternyata Headset milikku telah hancur duluan. Seorang gadis bernama Kirei sebelumnya tiba-tiba berteriak dari arah pintu.


"Kou!, hentikan itu." Ujarnya.


"Apa hubungannya dengan dia?." Gumamku.


Kirei langsung menerebos semua siswa, dan langsung memarahi Hideakou.


"Kakak seharusnya bersikap baik!. Apa Papa pernah mengajarkan hal ini?." Ujar Kirei dengan nada tegas.


"Jangan ikut campur!." Ujarnya.


Aku tida bisa dia saat Headsetku telah rusak. Aku pun langsung menarik rambut Hideakou dengan kasar. Lebih tepatnya menjambaknya.


"Aa sakit." Ujarnya.


"Miyuki!. Hentikan." Ujar Kirei.


"Kalian datanglah ke kantorku sekarang juga!." Tegas sang guru.


Aku pun termenung dengan terkejut. Aku hanya bisa mengikuti langka Sang Guru hingga memasuki kantor.


"Kamu baru saja anak baru!. Apa beginikah kebiasaanmu?. Kamu juga Kou selalu saja bertingkah." Ujar Sang Guru.


Kami hanya bisa menunduk, dan tidak bisa berkata-kata. Aku pikir aku akan dipanggil oleh kedua orang tuanya ternyata tidak.


"Jika kalian tidak ingin aku memanggil wali kalian. Aku akan memberikan hukuman." Ujarnya.


"Ya Pak." Ujar kami serentak.


Pada Akhirnya kami berdua disuruh membersihkan kolam berenang. Sapu yang digunakan untuk menyapu kolam telah berada di kedua tangan kami.


"Astaga! Habislah aku. Kenapa kau bertingkah bodoh!." Ujarku.


"Terserahku." Ujarnya


"Sekarang kau yang mengacuhkan aku!.  Aku ingin cepat." Ujarku.


Kami pun menyapu bagian bibir kolam. Keringat dari bajuku dan bajunya mulai kelihatan. Rambut milik Hideakou mulai terlihat basah.


"Dia berkeringat mengerikan sekali." Gumamku.


Tangannya langsung merenspon ke arah rambutnya. Ia menghusap rambutnya ke belakang. Saat itu lagi halusinasiku mulai datang. Air yang jatuh dari rambutnya membuat percikkan cahaya. Sungguh saat itu rambutnya sungguh memesona. Hingga aku sadar, jika aku telah melirik ke arahnya.


"Hei kau!. Kerjakan yang benarlah!." Ujarnya.


"Jangan menyuruhku, aku bisa." Ujarku.


Aku pun langsung menoleh ke segala arah. Namun aku sadar, jika sabun pembersih sebelumnya telah aku tungangkan ke lantai dengan banyak sehingga membuat lantai menjadi licin. Seketika aku tidak dapat menjaga keseimbangan.


"Aduhh. Aku bodoh sekali!. Licinnya.!" Gumamku.


Benar saja, aku mulai terasa ingin jatuh. Jika aku jatuh, mungkin aku akan basah, karena akan jatuh ke dalam kolam yang berisi air.


"Astaga, astaga licinnya." Ujarku.


"Kenapa kau menuangkan sabunnya dengan banyak?. Ini sangat licin bodoh!." Ujarnya tegas.


Entah apa yang dipikirkan Hideakou, Ia mulai mendekatiku. Termasuk sapunya. Ternyata bagian ujung sapu milik Hideakou mengenai bagian kakiku. Seketika aku pun mulai jatuh.


"Aaaaaa." Teriakku.


Aku pikir Ia tidak akan menolongku, ternyata tidak. Salah tangannya mendapat salah satu tanganku. Seketika tubuhku miring ke arah kolam.


"Huhh. Kau ini memang bodoh ya." Ujarnya.


Tepat saat aku menoleh ke arahnya. Aku telah jatuh ke tatapannya. Halusinasiku mulai datang disaat hak berbahaya mulai hadir. Matanya kembali memercikkan cahaya warna-warni. Ternyata aku dan Hideakou telah saling membalas tatapan.


"Deg."


"Astaga!. Jangan menatapku!." Ujarnya dengan tegas.


Tiba-tiba saja Hideakou melepaskan tangannya yang berada di tanganku. Seketika tubuhku yang telah miring ke arah kolam benar-benar akan jatuh ke kolam.


"Bodoh!. Aaaaa." Teriakku.


"Pussssss." Suara kolam


Akhirnya aku benar-benar telah basah. Air kolam terus membasahi bajuku. Diantara kami hanya menunjukkan raut wajah kesal.


"Aaa, bagaimana ini?. Kau benar-benar bodoh. Seharusnya kau menahannya." Ujarku dengan raut wajah kesal.


"Kau yang aneh. Mengapa tiba-tiba saja kau menatapku fokus?. Untung niatku tadi sempat walau kau jatuh juga. Ya


Sudah basah!." Ujarnya dengan tersenyum licik.


Perkenalan Awal.



Miyuki Furuka merupakan gadis yang memiliki kekurangan yaitu sindrom pada halusinasinya. Gadis yang memiliki sifat yang dapat berubah sesuai lawan berbicaranya memperlakukannya. Penyakit itu hadir sejak Ibu Miyuki meninggal beberapa tahun lalu. Rasa kesepian, rasa kasih sayang, dan cinta mulai hilang. Walaupun begitu Miyuki akan berusaha.



Hideakou Kichida merupakan kakak dari Kirei Kichida. Ayah mereka merupakan musisi. Sifatnya buruk miliknya hanya dikeluarkannya pada orang yang dianggapnya cocok. Sebenarnya Hideakou memiliki hati yang lembut terutama dengan Adiknya. Terkadang Ketegasannya dalam berbicara membuat seseorang sulit mengerti dengannya. Terutama aksinya yang selalu spontans.



Kirei Kichida merupakan adik dari Hideakou Kichida. Mereka memang berbedan setahun. Kedua orang tuanya sepakat saat itu untuk mendidik mereka pada tingkatan kelas yang sama. Ia memiliki sifat yang dikatakan sulit dimengerti, namun Kirei cenderung memiliki perilaku yang aktif.



Arnius Alrdich merupakan blastran Jepang-Amerika. Pesona dari nuansa baratnya terkadang membuat orang mengira Ia seorang Aktor dengan sifat lembut. Memiliki mata biru tua yang dapat terlihat dengan jarak dekat. Sifatnya bisa membuat seseorang mencair karena suara dan ucapannya yang lembut. walaupun begitu Arnius bisa saja menjadi kasar ataupun tegas suatu waktu.


Cerita ini tidak berhubungan dengan seseorang, penyakit atau sejenisnya. Ini hanya sebagai Fiksi belaka atau hiburan semata. Saksikan terus!. Mohon dukungan, dan kritikannya.