To Love

To Love
Burung Gagak



Aku berjalan sembari melihat secarik kertas yang berupa tiket itu. Pinggiran jalan yang sebelumnya hanya pepohonan telah berubah seiring kakiku melangkah. Rumah-rumah, dan toko tersebar di pinggiran jalan walau saat itu aku tidak tinggal di kota pusat seperti Tokyo.


"Aku sudah tidak sabar acara itu dimulai," gumamku.


Belum saja aku samapi di rumahku, aku melihat suara berisik yang berasal dari lorong yang sempit. Bayangan mereka terlihat jelas dari ujung lorong


"Apa yang mereka lakukan?," gumamku.


"Kau orang kaya, berikan uang pada kami. Dimana kakak kesayanganmu itu, katanya dia akan melindungimu. Berikan uang atau, atau," ujar Pelaku.


"Atau apa?. Kakakku akan datang." Ujar Sang Korban.


Terlihat jelas, jika pelaku beranggotakan beberapa orang. Aku terlalu sering melihat hal seperti itu. Dulunya setelah mendapatkan penyakit, aku diperlakukan rendahan seperti itu. Namun aku bukan gadis lemah yang hanya diam. Ketika pikiranku berkata kasar, maka aku harus lakukan.


"Apa sebaiknya aku membantunya?," gumamku.


Namun tubuhku berkata lain. Aku seperti disuruh untuk tidak mendekat. Pada akhirnya aku hanya mengacuhkannya, dan pergi tanpa mencoba untuk mendekat.


"Sudahlah. Lagi pula itu bukan urusanku. Kalau aku ikut campur dengan masalah seseorang, aku bakal terkena impasnya. Semoga saja dia akan baik-baik saja." gumamku.


Aku terus melangkah, dan membiarkan diriku menjauh dari lorong itu. Beberapa rumah-rumah, dan toko mulai  terlewati. Tiba-tiba aku melihat Hideakou yang telah keluar dari sebuah Toko.


"Hideakou?," gumamku.


Tubuhku spontans untuk melarikan diri darinya. Entah apa yang aku pikirkan hingga aku tidak ingin bertemu drngannya. Supaya terlihat normal, aku hanya berjalan santai, dan tidak melirik ke arahnya.


"Gawat!. Semoga saja dia tidak melihatku," gumamku.


Hideakou ternyata benar-benar tidak melihatku. Dia melewati seakan tidak ada hubungan persekolahan. Raut wajahnya sungguh cemas. Sebaliknya diriku menoleh ke arahnya. Terdengarlah suara teriakan yang berasal darinya.


"Kirei!, Kirei!. Dimana kau?. Kirei!, Kirei!." Teriak Hideakou.


Rasanya mataku menatap pada satu arah. Pikiranku terbawa tentang sebelumnya yang terlihat. Namun lagi dan lagi, rasanya ada sesuatu di dalam diriku yang mengatakan, jika korban itu bukanlah Kirei.


"Apakah tadi Kirei?. Tidak!, pasti tidak. Lagi pula wajahnya terlihat tidak mungkin diperlakukan seperti itu," gumamku.


Aku kembali mengacuhkan situasi, dan aku kembali melangkah untuk ke arah tujuanku. Tidak lama dari jalan itu, akhirnya aku telah melihat rumahku.


"Huh, akhirnya aku pulang juga," gumamku.


Terlihatlah mobil khas milik ayahku. Ternyata apa yang tidak aku duga itu telah membuatku terkejut.


"Bukankah ayah tidak pernah pulang secepat ini?. Hmm,  atau ayah ingin lebi h dekat denganku," gumamku.


Aku langsung berlari menuju bagian dalam rumahku. Sepatu khas wanita tersaji di bagian rak sepatu.


"Bagaimana bisa ada sepatu lain disini?." Tanyaku.


Rasanya jantungku yang menerima itu seperti berdetak dengan cepat. Aku berjalan perlahan demi menenangkah pikiranku.


"Semoga saja," gumamku.


Aku memilih untuk mengecek bagian kamar milik ayahku. Belum saja aku mencoba untuk membuka secara perlahan, aku telah mendengar percakapan mereka mengenai pernikahan.


"Apa kita akan benar-benar menikah?." Ujar seorang wanita.


"Tentu saja, sayangku." Ujar ayahku.


"Cup, cup."


"Tidak mungkin!. Ayah belum memberi tahukannya padaku." Ujarku.


Telingaku seperti mengeluarkan api, pikiranku seperti meledak akan emosi. Tubuhku langsung menggertak mereka, dan membuka pintu secara spontans. Terlihatlah mereka yang sedang saling bermesraan.


"Apa-apaan itu!. Ayah!." Teriakku.


Kedua kekasih yang sedang bermesraan itu langsung melihatku dengan tatapan panik. Ayahku pun langsung bersiap-bersiap.


"Yuki!. Aduh, bagaimana ini?." Ujarnya.


"Itu anakmu?." Ujar Sang Wanita.


"Ya." Ujarnya.


Aku langsung berlari menuju kamarku, dan menahan tangisku. Pada akhirnya air mataku menetes. Aku tidak menangis dikarenakan ayahku akan menikah, melainkan karena Ia sendiri tidak memperdulikanku.


"Aku benci Ayah!." Teriakku.


Aku lansung menjatuhkan tubuhku di atas kasur. Bantal yang lembut langsung menutupi air mataku.


"Hiks hikss, jika begini ayah harus bertanggung jawab dengan wanita itu. Hiks, hiks. Ayah tidak memperlakukan adil padaku." Ujarku dengan terisak.


"Tok, tok!, tok." Suara ketukan pintu.


"Yuki, maafkan ayah. Ayah tahu mungkin ayah tidak mencoba dekat denganmu. Tapi ayah juga perlu masa depan yang indah." Ujarnya.


Bukannya semakin redah, aku semakin meninggikan emosiku pada ayahku. Aku langsung menghusap air mataku dan berbicara padanya dengan nada keras.


"Ayah!, ayah. Kau tahu sebentar lagi aku akan kuliahkan!." Ujarku dengan nada tinggi.


"Ya." Ujarnya.


"Seharusnya kau mencoba dekat dengan anakmu sebelum aku sendiri meninggalkan rumah." Ujarku.


"Tapi Yuki, kau juga sudah besar." Ujarnya.


"Bukan itu!. Ayah menginginkan pernikahan itu tanpa berbicara padaku. Dan sekarang kau harus bertanggung jawab dengan anak yang akan di kandungnya." Ujarku dengan nada tinggi.


"Maafkan aku. Jadi apa kau ingin aku meperdulikanmu?." Ujarnya.


"Pernikah itu, dan anak itu. Ayah akan melupakanku. Dan ayah lebih memperdulikan keluarga kecil yang baru." Ujarku.


"Maafkan aku." Ujarnya.


Pikirannya sama sekali tidak mengerti tentangku. Aku yang sudah tidak tahan terpaksa untuk tidak mendengarkannya lagi.


"Sudahlah Ayah. Ayah terus membuatku tidak ingin mendengar Ayah. " Ujarku dengan nada tinggi.


Aku pergi kehadapan jendela, dan membukanya. Angin kencang membuat tirai seakan menari. Senja telah terlihat di hadapanku. Rasanya senja itu sendiri seperti sedang menangis.


"Rasanya aku sangat ingin bertemu dengan mamaku." Ujarku.


Penyakitku yang masih ditahap rendah itu mulai kembali lagi. Senja yang terlihat dihapanku semakin indah dengan kilauan yang tidak aku tahu. Aku hanya melihat boneka pasangan yang sedang menari di atas langit.


"Astaga." Ujarku.


Aku hanya bisa menangis dihadapan langit yang senja itu tanpa mengeluarkan suara terisak sembari melihat apa yang seharusnya tidak terlihat olehku.


"Aku benci dengan semuanya." Ujarku.


Angin lembut melewati sela-sela rambutku. Tiba-tiba saja aku melihat burung gagak yang seakan sedang tersenyum padaku.


"Apa itu seekor burung?" Tanyaku.


Burung gagak itu terlihat mendekat ke arahku. Ternyata dugaan itu benar saja. Burung itu terbang ke arahku hingga akhirnya ia berada di jendela.


"Apa ini juga hasil penyakitku?." Ujarku.


Ternyata mata gagak itu berkilau seperti neon. Gagak itu mendekati telapak tanganku. Ia seakan meminta aku untuk menghelusnya.


"Apa kau ingin aku menghelusmu?. Ya sudahlah." Ujarku.


Aku tahu Burung Gagak tidak mungkin mendekat. Semua itu tidak lain hasil penyakitku.


"Sepertinya sebentar lagi kau juga bakal menghilang dihadapanku." Ujarku.


Aku menghelusnya di bagian atas kepalanya hingga bagian pundaknya.


Bulu halusnya seperti diriku yang sedang memegang bantal. Ia seperti mengangguk padaku.


"Seandainya kau benar-benar peliharaanku." Ujarku sembari menghelus.


Beberapa menit kemudian tanpa aku sadari, jika aku terasa ingin menutup mataku. Rasanya mataku sungguh sangat ingin terlelap hingga aku sadar, jika aku telah tertidur.


"Sepertinya aku akan terlelap," gumamku.


"Maafkan aku Burung Gagak." Ujarky sembari menghelusnya.


Kepalaku berada di atas meja, dan tanganku berada di atas burung gagak itu. Jendela yang terbuka terus memasukkan angin alaminya. Rambutku juga seperti dihelus oleh angin. Hingga akhirnya cahaya pagi membangunkan diriku.


"Apa?. Ternyata sudah pagi." Ujarku.