To Love

To Love
Namamu



Saat itu aku baru menyadari aku masih belum mengucapkan terima kasih padanya. Kelas pun dimulai dengan pikiranku yang kacau akan rasa malu yang sebelumnya terjadi. Aku juga kebingungan dengan perasaan yang aku terima.


"Semoga saja, Aku tidak terlihat seperti sekacau dulu. Akkh..." Gumamku sambil memegang kepalaku dan menundukkannya hingga dagu ku berada diatas meja.


"Akhh.." Gumamku dengan wajah kesal.


Telah kusadari mata kuliahku pun telah selesai tanpa mendengarkan pria yang memberikan penjelasan.


"Akhirnya selsai juga. Sepertinya nilai mata kuliahku akan turun, jika aku terus seperti ini" Gumamku.


Aku kembali menghadapkan wajahku ke arah depan, sehingga aku dapat melihat situasi didalam ruangan. Tiba-tiba saja pikiranku langsung telintas untuk mengucapkan terima kasih pada pria yang masih belum aku ketahui namanya.


"Hei!, tunggu!." Teriakku dengan wajah tegas.


Pria itu pun langsung menoleh, dan memberhentikan langkahnya. Dia kembali menoleh kerahku dengan wajah penasaran.


"Ada apa?." Ujarnya dengan wajah yang mulai kesal.


"Makasih ya!." Ujarku sambil bergetar.


Aku juga merupakan gadis yang tak peduli sekitar, dan jarang untuk mencoba berbicara. Aku cukup hanya mendengarkan musik, membuat lagu, ataupun membaca novel saja sudah membuatku terlihat normal. sebab itu aku terlihat sulit oleh mereka untuk menemaniku, atau mengajakku berbicara. Semua hal itu terjadi karena alasan dibalik imajinasiku yang selalu datang tiba-tiba. Namun sekarang, aku yang telah memulai untuk membuka suara.


"Kau tak perlu memperdulikannya!." Ujarnya dengan santai dan memberikan wajah datar.


Sesaat Ia berbicara. Aku sadar bahwa dahinya juga terluka. Tanganku pun langsung menghampiri dahinya tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Akhhh." Suaranya dengan wajah kesakitan.


Suara yang keluar membuat jari tanganku menjauhi dahinya.


"Maaf!. Aku tidak bermaksud melakukannya." Ujarku dengan suara rendah.


Melihatnya terluka membuatku semakin yakin bahwa akulah yang memulai tubrukan yang sebelumnya terjadi.


"Kenapa kau menyentuh dahiku secara tiba-tiba?." Ujarnya dengan wajah kesal.


"Sekali lagi, Aku benar-benar minta maaf!. Aku hanya hawatir padamu." Ujarku dengan wajah panik.


Seketika tanganku langsung meraba isi tasku yang masih kemungkinan terisi sebuah plester. Aku adalah tipe wanita yang sangat peduli dengan hidupku. Kebanyakan wanita sudah terbiasa untuk membawa plester seperti ku.


"Kau tak terlu perlu khawatir!. Mengapa kau mengejutkanku dengan sikapmu itu?." Ujarnya yang tiba saja langsung memberikan wajah kesal juga tegas.


"Aku sudah katakan padamu. Aku hanya khawatir padamu. Aku yakin itu salahku, jadi maafkan aku!" Ujarku yang semakin lama memberikan wajah kesal.


Sikapku yang masih panik membuatku kesulitan untuk menemukan sebuah plester karena getaran yang timbul oleh tubuhku. Pria itupun langsung melangkah dan kembali menjauhi dari pandanganku. Aku masih mencoba untuk tidak membuatnya pergi dengan ocehan kecil yang tak kusadari telah keluar dari bibirku. Banyak hal yang ingin kutanyakan dengan pria yang masih belum kukenali itu terutama saat imajinasi yang tiba-tiba saja datang sebelumnya.


"aku hanya ingin mengobati lukamu!, Aku mohon!." Ujarku dengan wajah serius juga tegas.


Akhirnya aku pun menemukan plester dan langsung mencoba kembali memanggilnya, namun pria tadi masih berusaha untuk pergi dari pandanganku.


"Kenapa kau tidak ingin diobati denganku?. Aku tidak ingin menyesali perbuatan ini." Ujarku dengan wajah kecewa.


Saat itu aku hanya bisa menunduk, dan mengepal kedua tanganku menjadi satu, sembari memejamkan kedua bola mataku.


"Kuharap Ia membiarkan aku mengobatinya, kuharap Ia menoleh kearahku.


Angin yang sedikit di dalam ruangan itu tiba-tiba saja sangat kencang seperti angin riuh yang sejuk juga nyaman. Angin itu seperti berasal dari lautan yang sedang diterjang ombak.


"Klak." Suara selentikkan.


Ternyata aku hampir saja terlelap dalam kelembutan angin yang menghelusku. Akupun langsung tersentak setelah seseorang dari hadapanku mulai


"Akh.." Suara terkejutku.


Akupun langsung membuka mataku, dan melihatnya yang telah memberikan wajah kesal. Ternyata saat itu, aku telah berada di ruang imajinasiku dengan suasana seperti sebelumnya. Namun kali ini sedikit berbeda dengan rerumputan yang agak kusam juga kering.


Aku kembali melirik sekitarku secara perlahan yang telah berubah dengan sangat indah oleh percikkan yang ditimbulkan. Sesaat aku kembali melihatnya. Ternyata Ia masih dapat berhadapan denganku di dalam ruangĀ  imajinasi.


"Kenapa imajinasi ini datang di waktu yang tidak tepat?. Aku benci dengan penyakitku ini." Gumamku.


Aku pun kembali melihatnya sembari melototinya, karena yakin semua imajinasiku yang datang saat itu merupakan kesalahannya.


"Hei.., hei...,. Ternyata kau mempunyai plesternya?. Untuk apa aku susah payah mencari satu plester tadi!. Lalu, kenapa kau hanya diam saat itu?. Kau ini memang seperti wanita aneh." Ujarnya dengan wajah sangat tegas.


Wajah dan suaranya seketika membuatku yang sebelumnya melototinya kembalimenunduk dan mundur selangkah termasuk ucapannya yang membuatku menyadari bahwa plester sudah merekat didahiku.


"Maaf sekali lagi. Aku benar-benar baru menyadari hal ini." Ujarku sambil menyentuh plester di dahiku.


"Kau selalu saja meminta maaf, Aku tidak suka dengan wanita yang selalu menganggap dirinya selalu salah." Ujarnya dengan suara lembut.


"Kenapa kau mengatakan hal itu padakau?. Itu tidak penting bagiku, bukankah jika aku salah memang seharusnya aku meminta maaf?. Ujarku lembut.


"Terserahmu. Sepertinya aku tidak perlu peduli padamu. Ujarnya dengan wajah santai.


Tiba-tiba saja pria yang tidak aku ketahui namanya itu, mengambil paksa plester dari tanganku. Ternyata Ia memasangkan plesternya sendiri.


"Ekh." Suara terkejutku.


"Sudah!. Aku sudah memasangkan plesternya. Jadi kau tidak perlu memperdulikannya lagi." Ujarnya dengan wajah santai.


Suaranya pun membuatku hanya semakin tidak dapat berbicara. Aku hanya bisa pasrah dengan sikap dan perilakunya. Ia langsung pergi dan raut wajah yang santai.


"Apa itu sebuah Panah. Aku baru sadar, jika ini di dalam ruang imajinasiku." Gumamku dengan wajah penasaran.


Dunia yang tak jelas ini, sekarang terlihat Panah dan juga Anak Aanah yang berada di belakang punggugnya. Namun hal itu tidak sangat membuatku terusik. Aku pun kembali memangilnya tanpa sebutan namanya, agar aku bisa mengetahui namanya.


"Hei!. Siapa namamu?." Teriakku.


Ternyata Ia tidak membalas panggilanku padanya. Aku hanya bisa pasrah, dan kembali menunduk karena tak seperti ada tanda akan jawaban dari panggilanku. Tetapi keheningan sesaat itu hilang sesaat aku kembali mendengar suaranya.


"Namaku?. Hmm.,. Namaku Hideakou. Kau tidak akan bertanya tentang nama Margaku, bukan?." Ujarnya dengan wajah datar.


Akupun langsung tersentak. Seketika aku langsung menoleh ke arahnya secara perlahan, betapa terkejutnya aku saat itu. Hideakou memberikan senyum kepadaku, dan tatapan seperti bahagia kearah kedua bola mataku.


Matanya seperti tiupan angin dan bintang di malam hari.


Matanya seperti penyejuk dan selimut yang lembut.


Matanya seperti membuatku menyentuh air yang tenang.


Dan matanya seperti seorang prajurit dengan seragamnya.


Bolehkah aku terus mengunci hatiku agar aku tidak jatuh hati padamu?.


Sesaat aku menatap matanya. Seketika aku sadar Ia masih menunjukkan wajah kesal atas kebodohanku sebelumnya yang mulai tersembunyi di balik senyumannya.


"Aku akan memanggilmu Hide Kun!!." Ujarku dengan wajah tersenyum.


Hide pun langsung memasangkan senyumnya seperti saat pertama aku melihatnya di ruang imajinasiku. Kakinya dan wajahnya pun kembali menoleh menjauhi penglihatan oleh pandanganku. Entah mengapa aku terus tak lepas untuk memandangi gerak kakinya yang terus menjauhiku. Seketika saja langit berubah kembali secara perlahan seperti mencairnya sebuah batu es, dan diakhiri dengan wujudnya Hide yang semakin lama membuatku sakit. Sakit itu sangat sesak sangat nyeri di bagian dadaku.


"Kenapa sesak?. Kenapa sakit sekali rasanya?." Gumamku sembari menempelkan kedua telapak tangan, dan menaruhkannya di bagian atas dadaku.


Semakin aku melihatnya, dan juga semakin jauh wujudnya. Ternyata semakin terlihat dia sedang terluka. Aku bisa melihat jelas bercak darah yang mengenai pakaiannya, dan bermacam Anak Panah mengenai tubuhnya.


"Apa itu?." Tanyaku.


Semakin jauh kakinya melangkah. Ia seakan ingin jatuh, dan tak dapat menahan keseimbangannya. Semakin lama wujudnya menghilang bersama perubahan yang kurasakan saat itu. Ternyata aku telah kembali keduniaku yang nyata dengan air mataku yang ternyata telah kutahan.


"Hideakou!, apa kau akan baik-baik saja?." Gumamku dengan wajah sedih.