
Kemunculanku untuk Hideakou membuatnya beranjak bangkit, dan mulai melangkah. Aku tidak tahu mengapa aku sangat ingin, walau menjadi temannya saja. Kakiku terus melangkah mengikutinya, namun Hideakou berusaha tidak menerimaku untuk mengikutinya.
"Apa yang kau lakukan?. Pulanglah!, sebelum stasiun itu jauh. Aku tidak akan bertanggung jawab apapun!." Ujarnya dengan tegas.
"Aku tidak terlalu peduli hal itu, lagi pula aku selalu sendirian. Seharusnya kau itu berterima kasih padaku karena telah menemanimu." Ujarku lembut.
Ternyata pernyataanku masih tidak terbalaskan olehnya. Hideakou terus melangkah seakan tidak menganggapku berada disana. Aku mulai sadar, jika kami mulai berjalan ke arah persempitan yang berada di tengah Kota yang sangat ramai orang berlalu lalang.
"Aku tidak mengerti bagaimana cara berpikirmu. Kenapa kau selalu membuatku kesal di Kampus. Lalu, kenapa kau menghindar olehku?. Terus terang saja, banyak sekali yang ingin aku tanyakan padamu!. Sikapmu ini selalu berubah." Ujarku dengan serius.
Tetap saja Hideakou tidak membalas semua ucapanku, malahan sebaliknya Hideakou terus menyuruhku kembali pulang.
"Kau ini memang tidak ada kerjaan ya!. aku tidak berharap kehadiranmu. Pulanglah!. Disana ada Stasiun lagi, sepertinya tidak terlalu jauh." Ujar Hide sembari mengarahkan jari tangannya ke satu jalan.
Entah mengapa aku tidak memperdulikannya, dan hanya melangkah kembali untuk mengikuti Hideakou.
"Aku belum ingin pulang!, seharusnya kau jawab dulu semua pertanyaanku." Ujarku lembut.
Lagi dan lagi Hideakou hanya melangkah. Semua perbuatanku saat itu hanyalah untuk mencari tahu mengapa Hideajou berada di dalam Imajinasiku. Namun tiba-tiba saja Hideakou menyuruhku untuk membeli sesuatu.
"Belikan aku minuman di dalam Toko itu, jika kau menginginkan aku untuk berbicara padamu. Ini uangnya!." Ujarnya sembari mendorongku ke dalam sebuah Toko.
Reaksi Hideakou langsung membuatku menoleh kearahnya, tapi kali ini Hideakou hanya memberikan wajah Sedikit gelisah. aku pun terpaksa untuk membeli minuman hanya untuknya.
"Apa ini sebaiknya yang aku lakukan?." Gumam Hideakou.
Aku pun membeli sekaleng minuman. Dan aku mulai sadar, jika di dalam uang yang terlipat dari Hideakou berisi secarik kertas yang bertuliskan.
'Minumannya untukmu saja!.'
Setelah membacanya aku pun langsung berlari keluar dengan sebotol minuman yang telah aku beli.
"Apa yang anak itu pikirkan. Kapan juga dia menulis?. Astaga!, sekarang aku sendirian. Dia pasti masih belum jauh. Aku akan mencarinya." Ujarku dengan wajah kesal.
Aku terus melangkah ke depan, dan membiarkan tubuhku melewati keramaian kota. Aku mulai menememukan satu tempat dengan banyak pria yang sedang duduk di atasnya.
"Apa dia akan kesana ya?. Kenapa aku semakin aneh dengan mengikutinya, hingga seperti ini." Gumamku.
Semua pria itu hanya santai dengan perbincangan mereka, namun hanya ada satu yang sangat sesuai dengan bentuk tubuhnya Hideakou. Tengkuk lehernya yang tegas, dan juga rambutnya seperti model telah menandakan ciri khasnya. Aku pun berjalan kearah yang akan aku tuju.
"Hideakou, itu kaukan!. Kenapa kau meninggalkanku?." Ujarku dengan wajah kecewa.
Aku semakin mendekat. Aku mulai sadar, jika pria yang aku duga Hideakou, ternyata tidak. Dan aku mulai sadar, jika aku berada dihadapan pria yang saling berbincang dengan pria lainnya.
"Nona!, apakah kau mencari pacarmu?." Ujar salah satu dari mereka.
"Nona ini sepertinya tidak memiliki pacar. Mungkin, dia mencari temannya." Ujar pria berambut abu-abu.
"Maaf!, aku tidak bermaksud mengganggu kalian. Apa kalian melihat pria yang memakai pakaian berwarna hitam dengan gambar musik?." Ujarku dengan wajah gelisah.
Ternyata diantara mereka masih ada yang berbincang dengan satu sama lain, dan membuatku risih karena mereka masih tidak menjawab pertanyaanku. Kedatanganku juga membuat mereka semua menoleh kearahku. Aku hanya berpikir saat itu, jika mereka orang yang tidak akan berbuat jahat, karena lokasi yang ramai dengan pejalan kaki, dan pengunjung.
"Lihatlah bidang dadanya, juga wajahnya!. Dia sangat cantik. Aku akan jadi pacarnya, jika kalian lama." Gumam pria berbaju putih kepada temannya.
Saat itu aku masih memberi jarak yang sangat normal, dan tidak dapat mendengar obrola diantara mereka. Aku mulai sadar, jika mereka terus melirikku.
Aku melihat mereka yang semakin melirikku yang membuat langkahku semakin mundur secara perlahan.
"Disini saja!. Kau bisa menunggu disini." Ujar pria berbaju putih.
Aku mulai sadar, jika seorang pria terlihat dari kejauhan sedang berlari kearahku dengan wajah yang sangat fokus pada pandanganku. Ternyata pria itu adalah Hideakou.
"Hideakou.." Gumamku.
Hideakou langsung membawa tanganku dalam genggamanya, hingga aku mulai sadar, jika Hideakou terlihat seperti Hideakou yang berada di dalam ruangan imajinasiku dengan raut wajah yang sangat tegas, dan fokus dalam suatu tujuan.
"Kau ini!." Ujarnya.
Akhirnya Hideakou pun membawaku jauh dari tampat sebelumnya. Beberapa saat setelah berlari, Hideakou pun kembali melepaskan genggamannya, sembari memulai perbincangan.
"Kenapa kau tinggalkan aku?. Apa kau tega meninggalkan aku dengan cara seperti itu?. Apa kau ingin mempermainkan aku lagi?." Tanyaku dengan tegas.
"Aku tidak menyuruhmu untuk mengikutiku!." Ujarnya dengan tegas.
"Aku masih baru di kota ini. Biasanya aku tinggal bersama orang tuaku. Seharusnya kau tidak pergi dengan cara seperti itu!. Katakan padaku, jika kau punya urusan penting sehinnga aku tidak dapat mengobrol denganmu." Ujarku lembut.
"Kau yang seharusnya tahu, jika mereka terus memikirkan hal aneh tentangmu. Kau kira, kau akan baik-baik saja menunggu disana, hah!." Ujarnya tegas.
"Kelihatannya mereka baik-baik saja. Ternyata kau mulai khawatir padaku ya. Pftt..." Ujarku sembari tertawa santai.
"Aku tidak akan bertanggung jawab, jika kau dapat masalah. Hah.., terserahlah. Bukan urusanku menjagamu." Ujarnya santai.
"Ya, aku yang salah. Aku akan pergi sekarang, jika kau sangat menginginkan aku untuk pergi." Ujarku lembut.
Aku pun menoleh kearah berlawanan dari Hideakou, dan melangkahkan kakiku. Namun kenyataannya Hideakou kembali menarik tanganku.
"Sudahlah, kau tidak perlu pergi sendirian. Aku akan menemanimu. Lagi pula ini salahku tidak merensponsmu, hingga berujung seperti ini." Ujarnya sembari menarik tanganku.
Aku pun kembali menoleh kearahnya , dan memberi senyuman kecil akan apa yang telah aku dengarkan darinya.
"Jadi sekarang kau ingin menemaniku ya, ya sudahlah." Ujarku dengan tersenyum.
Hideakou termasuk salah satu orang yang telah merubah cara bicaraku. Dan aku mulai sadar, jika diriku yang semakin percaya diri.
"Hmmm, cepatlah semua ini karenamu.
Aku juga jadi ingin bertanya tentang suatu hal tentangmu." Ujarnya.
"Ya, aku mengerti. Aku juga bisa menebak apa yang akan kau tanyakan." Ujarku santai.
Aku dan Hideakou pun melanjuti langkah kami yang beriringan dengan suatu pembicaraan santai, hingga aku mulai sadar, jika aku telah berganti lokasi yang lebih sepi. Hideakou turun dari jalan, dan melangkahkan kakinya ke arah tepi Sungai. Aku hanya bisa mengikutinya bersama obrolan kami yang terus berlanjut.
"Apa kau punya masalah, hingga kau hanya mencariku?." Tanyanya dengan lembut.
"Tidak ada masalah darimu. Aku merasa, jika kau terlalu bijak dalam menyampaikan kata, walau sedikit menusuk." Ujarku tegas.
Aku dan Hideakou pun telah berada di tepi sungai, dan duduk diantara rerumputan, sembari melihat langit yang berwarna hitam pucat.
"Aku sangat yakin, jika kau mempunyai suatu masalah." Ujarnya tegas.