To Love

To Love
Nyanyian



Aku sadar, jika aku sendiri belum memiliki teman. Kebingungan melanda disaat aku tidak tahu meminta tolong dengan siapapun. Aku dengan cepat langsung beranjak keluar dari kolam.


"Sebaiknya aku harus cepat!. Aku harus mengeringinya di ruang ganti." Ujarku.


"Huh, apa boleh buat. Ya sudahlah!, kau pergi saja. Aku akan melanjutkannya." Ujarnya.


"Ihh, memang sulit dimengerti." Ujarku.


Dengan cepat aku memasuki ruang ganti. Akhirnya aku menemukan ruang ganti sekolah. Dengan cepat aku membuka pakaianku. Balutan handuk hanya menutupi bagian tubuhku. Pakaian dalam milikku tentu saja sudah aku niatkan untuk kering sendiri.


"Sudahlah tidak apa-apa. Yah, karena mata pelajaran telah kami gunakan. Semoga saja ini sudah waktu pulang." Ujarku dengan raut wajah gelisah.


Aku langsung memeras pakaian badahku, dan aku letakkan di atas kursi dengan kipas angin yang menyala. Saat itu lagi penyakitku datang.


"Lagi, dan lagi aku terus seperti ini," gumamku.


Cahaya dari ujung kaki memutari tubuhku hingga seluruh tubuhku. Terbentuklah gaun panjang yang indah dengar gemilau kilauan.


"Wah ini sangat cantik. Apa Mama pernah memberikan aku seperti ini?. Rasanya aku ingin sekali memilikinya." Ujarku.


Cermin yang berada tidak jauh dari hadapanku membuatku mengarah ke cermin itu. Langkah demi langkah seolah membuatku telah memikirkan, jika aku seorang Putri Kerajaan.


"Cantiknya, cantiknya." Ujarku dengan tersenyum kecil.


Tiba-tiba saja suara pintu terbuka. Tanpa bertanya tentang seseorang itu langsung memasuki ruangan.


"Prak."


"Apa yang sedang kau lakukan?. Kau sangat percaya diri ya." Ujar Kirei.


"Kenapa kau tiba-tiba memasuki ruangan ini?. Darimana kau mengetahuinya?." Ujarku dengan raut wajah panik.


Aku langsung menoleh ke arahnya. Seketika raut wajah maluku pun mulai keluar. Malu yang kurasakan itu saat aku sangat mengatakan 'cantik' pada diriku sendiri dengan gaun yang terlihat oleh pandanganku.


"Maaf, aku juga tidak tahu kau berada disini. Rambutmu basah, apa kau jatuh?." Ujarnya.


"Ya sudahlah tidak apa-apa. Apa mata pelajaran sudah selesai? Sebenarnya apa yang membuatmu ingin ke ruangan ini?" Ujarku.


"Ya, sudah. Ouh, aku ingin mengambil  sesuatu diloker milikku" Ujarnya


Aku hanya bisa membiarkan dirinya berada diruanganku. Terbukalah loker miliknya ternyata Ia mengambil pakaian olahraga. Walaupun begitu aku tidak berusaha untuk meminta bantuan. Akhirnya dia sendiri mengetahui, jika aku sedang menjemur pakaian.


"Wah, pakaianmu basah. Apa kau ingin memakai ini saja?" Ujarnya.


"Apa tidak apa-apa?" Tanyaku.


"Tentu saja." Ujarnya.


Kirei meminjamkannya padaku begitu saja.  Tanpa melanjutkan obloran kembali, Kirei langsung pergi meninggalkanku.


"Untung saja, dia bermurah hati padaku." Ujarku.


Setelah beberapa menit aku berada di ruangan ganti, aku langsung mengambil barang-barang milikku yang berada di Kelas.


"Huh, akhirnya," gumamku.


Walau pakaian telah berganti pada tubuhku masih saja gaun panjang indah, dan gemilau masih terlihat ditubuhku. Aku benar-benar seperti Putri Kerajaan yang sedang berjalan di lorong. Kegemilauan itu sudah terpancar pada wajahku yang semakin berkilau dengan merah jambunya pipiku. Aku merasa seperti sangat percaya diri tanpa menundukkan kepalaku.


"Rasanya berbeda sekali," gumamku.


Pancaran kepercayaan diriku menambah kesan pada diriku hingga siswa yang berada di lorong itu memilirikku.


"Astaga, dia anak baru yang sangat cantik ya." Ujar salah gadis pada temannya.


Tanpa aba-aba aku langsung membereskan semuanya dan langsung pergi. Akhirnya aku telah berada di luar halaman Sekolah. Akhirnya penyakitku tanpa aku sadari telah hilang, dan membuatku kembali menunduk seperti biasanya aku lakukan.


"Yah beginilah hidupku, diam atau berisik, aku tetap saja tidak dapat tenang," gumamku.


Aku tidak langsung pulang menuju rumahku. Beberapa hari setelah aku pindah ke kota itu aku selalu berdiam di sebuah taman, dan duduk di atas ayunan. Hal itu dikarenakan Ayahku sangat fokus dengan pekerjaan.


"Kali ini Ayah akan pulang di jam berapa ya?. Padahal sebentar lagi aku akan kuliah, tapi dia tetap saja tidak peduli," gumamku.


Disetiap jalan aku hanya menendang dedaunan kering atau beberapa botol karena kesal. Akhirnya aku telah berada di taman itu dan duduk diatasnya.


"Sebentar saja untuk menunggu gelap," gumamku.


Aku memundurkan dan memajukan ayunan, agar sedikit tergoyang. Aku mulai teringat dengan Headset milikku yang telah rusak. Aku pun mengambilnya dari tasku, dan melihatnya dengan raut wajah kesal.


"Jika tidak ada seseorang seperti dia di Dunia ini, mungkin semua orang akan baik-baik saja," gumamku dengan raut wajah kesal.


Tiba-tiba saja suara nyanyian kecil datang dari jalan bersamaan dengan suara langkah kaki.


"I need somebody to know, somebody to care, somebody to love me, na ... " Nyanyian seseorang.


Aku hanya bisa meliriknya dengan raut wajah kagum dengan suaranya. Bukan hanya itu aku juga sedikit terkesan karena penampilannya yang terlihat berbeda. Tas Gitar melekat pada bagian punggung tubuhku. aku merasakan, jika Ia merupakan anggota band.


"Sepertinya dia campuran. Tapi suaranya bagus sekali," gumamku.


Ternyata lelaki yang lebih terlihat lebih tinggi dariku itu melangkah ke arahku. Lebih tepatnya mengarah ke ayunan yang berada di sebelahku.


"Kakak itu akan ke ayunan itu," gumamku.


Lelaki itu masih terlihat pendiam, dan acuh. Ia sama sekali tidak melirikku walau Ia telah berada di salah satu ayunan yang berada disampingku. Ia mengambil tas Gitar, dan mengeluarkannya.


"Huh, anginnya lebih tenang disini." Ujarnya.


Aku hanya bisa membiarkannya, dan kembali menggoyangkan ayunanya. Suara yang keluar dari balik bibirnya mulai menjadi nada bersama suara Gitarnya. Suara lembutnya sudah muaki kembali keluar.


"We we're both young when i first saw you, nananana ..," suara nyanyinya.


Angin lembut tiba-tiba saja hadir membawa dedaunan kecil bertebangan. Saat itu sangat tepat ketika suaranya mulai keluar. Rambut halusnya langsung bergoyang ke arah tidak tentu. Angin dan dedaunan yang telah menghelusnya saja telah diacuhkan olehnya. Aku sama sekali tidak bisa berkutik.


"Aduh anginnya kencang sekali." Ujarku.


"You'll be the princess, and i'll be the prince, its love story baby just say 'yes', nanana ...," suara nyanyinya.


Nada, lagu dan cara menyanyinya membuatku mengetahui lagu yang sedang dinyanyikannya. Aku sadar, jika lirik yang digunakannya salah. Tanpa sadar, jika aku telah bernyanyi padanya. Nada khasku mulai keluar dari balik bibirku, dan akan terdengar olehnya.


"Kakak?. Bukankah itu lagu Taylor Swift?. Bukankah liriknya seperti ini 'you'll be the prince and i'll be the princess'?" Ujarku dengan tersenyum.


"Ya. Sebelumnya maaf telah mengacuhkanmu. Suaramu benar-benar sangat menawan." Ujarnya dengan tersenyum.


"Kakak!, sepertinya mengalihkan pertanyaanku." Ujarku.


Tiba-tiba saja lelaki itu mengeluarkan suara dari tawa tipisnya. Seketika aku hanya bisa bingung melihatnya.


"Pfft. Kau ini!, maaf ya jadi tertawa." Ujarnya.


"Tidak apa-apa kakak. Apa aku ada salah?. Ujarku.


"Gimana ya?. Lagu itu dinyanyikan oleh seorang wanita dan ditunjukkan untuk seorang pria. Kalau aku mengikutinya alur lagunya, aku akan terlihat seperti ssorang putri." Ujarnya dengan tersenyum.


Seketika aku yang baru menyadari langsung tertawa tipis dan tawa itu aku tunjukkan untuk diriku sendiri.


"Pfftt, astaga. Aku tidak sadar. Maaf kakak." Ujarku.


"Sudah tidak apa-apa. Jujur!, suaramu tadi sungguh indah. Rasanya aku ingin sekali bernyanyi denganmu." Ujarnya.


Aku tidak sadar pipiku mulai memerah karena terus dipuji oleh seseorang yang lebih bagus dariku.


"Ya tidak mungkin sangat indah." Ujarku.


"Pipimu memerah!. Apa kau malu karena dipuji?." Ujarnya.


Kejujurannya dalam berkata membuatku semakin terpuruk dalam perasaan maluku. Aku langsung menoleh ke arah berlawanan. Lebih tepatnya aku mulai beranjak pergi darinya.


"Akhhh. Dia jujur sekali. Apa tidak bisa untuk tidak mengatakan hal itu?," gumamku.


Aku pikir dia akan membiarkanku pergi. Ternyata lelaki yang baru saja aku temui itu telah memegang tanganku.


"Padahal aku ingin berbicara banyak tentangmu. Sepertinya kau akan pulang." Ujarnya.


Angin mulai bertiup kencang. Ternyata  penyakitku hadir kembali. Bunga Sakura yang seharusnya tidak ada pada musim itu tiba-tiba saja terlihat bertebangan dihadapanku. Aku langsung menoleh ke arahnya, dan aku temukan Bunga Sakura yang berhamburan didekatnya.


"Deg."


Gemilau warna pink seperti terpancar olehnya. Dia sungguh seperti artis papan atas yang didambakan gadis seumuranku.


"Astaga," gumamku.


"Maaf telah memgang tanganmu. Maaf juga tidak sopan." Ujarnya.


"Ya tidak apa-apa. Kakak memanggilku untuk apa?." Ujarku dengan menunduk.


Aku hanya bisa menunduk, dan tidak terfokus pada wajahnya yang telah terpancar gemilau Bunga Sakura.


"Karena kau memiliki suara yang bagus. Aku memberikan tiket ke Band kecilan milikku. Aku sangat terhormat, jika kau menjadi tamu terhormatku disana." Ujarnya.


"Apa tidak apa-apa?." Ujarku dengan raut wajah bingung.


"Tentu saja." Ujarnya


Aku hanya bisa menetap tiket kecil miliknya yang telah berada di tanganku.   Walaupun begitu kami tidak melupakan untuk saling menanyakan nama.


"Nama Kakak?." Tanyaku.


"Namamu?." Tanyanya.


Ternyata pertanyaan kami serentak dimulai. Entah apa yang dipikirkannya saat itu hingga memulai pertanyaan itu termasuk aku. Rasanya seperti ada jaringan yang menyuruhku untuk bertanya.


"Kakak saja duluan." Ujarku dengan tersenyum.


"Kamu saja duluan. Kamu kan lebih mudah dariku, jadi aku harus mengalah." Ujarnya.


"Tidak kakak!. Kakak yang lebih tua dariku. Aku harus menghormati yang kebih tua." Ujarku.


"Jangan mengatakan aku tua!. Aku baru saja kuliah. Ya sudahlah!, daripada berdebat aku saja yang duluan. Namaku Arnius           . Kau boleh memanggilku antara kedua itu.


"Oh ya. Karena aku asli dari Jepang aku lebih suka Arnius saja. Panggil aku Miyuki.


"Aku senang kau memulai perbincangan sebelumnya. Sungguh aku ingin mendengar suaramu yang indah itu lagi. Kau sungguh aneh, dengan dipuji saja pipimu sudah langsung memerah." Ujarnya.


Kejujurannya membuatku kembali terpuruk. Raasanya asap di telingaku terus keluar. Aku langsung menoleh ke arah berlawanan dan pergi meninggalkannya.


"Aku ingin pulang duluan. Makasih telah mengobrol denganku." Ujarku.


Aku pun pergi dengan kepalaku yang sangat menunduk. Arnius pun tertawa tipis sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah bodohku.


"Lucu sekali. Sepertinya sulit kalau tidak memujinya. Bagaimana, jika aku mengatakan cantik padanya?, apa dia akan menjadi merah seperti apel tapi memang benar dia gadis yang cantik. Astaga." Ujarnya dengan tersenyum.