
Wajahku langsung saja menoleh ke arah mereka.
"Ya..., ya, tentu saja!. Sepertinya aku menyusahkan kalian ya." Ujarku dengan wajah panik.
Sejak Hideakou dapat kembali terlihat dihadapanku, perasaanku sebelumnya mulai kembali redah.
Kirei langsung mendekatiku, dan duduk disampingku sembari merangkulku. Chieko duduk dihadapanku dengan memegang kedua tanganku, termasuk Izumi.
"Jika kau berada dalam masalah, minta bantuanlah pada kami. Kami akan senantiasa membantumu." Ujar kirei tegas.
Wajahku pun langsung menghadap ke wajah mereka berdua secara bergantian. Entah mengapa perasaan yang timbul dari benakku sangat terharu. aku sangat ingin menangis akan hal yang tidak pernah sebelumnya terdengar olehku.
"Benarkah?.." Ujarku dengan mata yang mulai berbinar.
Izumi yang memegang kedua tanganku mulai menaikkannya menghadap wajahnya.
"Tenang saja!. Kau akan baik-baik saja selama bersama kami. Aku berharap kita bisa semakin dekat." Ujarnya.
"Terima kasih. Aku akan selalu mencoba untuk dekat dengan kalian." Ujarku.
"Baguslah jika seperti itu." Ujar Chieko.
"Aku ingin kau tersenyum sekarang Miyuki yang cantik, dan polos." Ujar Kirei.
Aku pun mulai memberikan senyumku pada mereka. Beberapa menit setelah berkumpul di dalam kamar Kirei, aku dan yang lainnya sudah memutuskan untuk pulang, karena langit telah berubah semakin gelap.
"Ya.., sepertinya sudah semakin gelap. apa sebaiknya kita pulang saja?." Ujar Mitsuko.
Saat itu aku, dan yang lainnya telah berada di luar rumah Kirei, namun langkah kakiku seakan terhenti secara perlahan akan wajah Hideakou yang terus membuatku meliriknya.
"Hei, Miyuki Chan!. Apa kau akan baik-baik saja pulang sendirian?." Ujar Eiji dengan wajah cemas.
"Aku sudah merasa lebih baik. Aku bisa pulang sendirian." Ujarku.
"Tenang saja, aku akan tetap menemanimu." Ujar Eiji.
Aku pun tersentak untuk menoleh kearah Eiji, wajahnya yang begitu cemas seakan membuatku untuk membiarkan langkahku terjaga olehnya, namun tidak. Aku menolaknya begitu saja.
"Tidak!, tidak perlu. Aku sudah merasa sangat baik. Tenang saja." Ujarku tegas.
Wajahku yang langsung menoleh kearah mereka dengan suara tegas seakan membuat mereka terpaksa membiarkan diriku untuk melangkah sendirian.
"Sudahlah...tak..apa...lagian...mungkin sekitar sini..tak jauh lagi dari..rumahku.." Ujarku dengan tegas kembali.
Alasanku yang terus terusan keluar dari mulutku akhirnya diterima dari mereka.
"Aku...tak berharap..kau kenapa..kenapa." Ujar Mitsuko.
Betapa terkejutnya aku saat mitsuko yang tak pernah berbicara padaku satu kata pun akhirnya berbicara padaku walau terkadang masih memberikan wajah kesalnya, akupun membalasnya dengan senyuman kecil dari bibirku.
"Yasudah aku akan pergi, aku akan naik kereta api...yang tak jauh dari sini." Ujar Mitsuko.
Akhirnya kakiku, dan mereka mulai melangkah, termasuk aku. Terutama Eiji dan Mitsuko yang akan menaiki Kereta Api secara bersamaan.
"Aku akan melihatmu di Kampus, jadi tetaplah sehat!." Ujar Eiji.
"Ya.., aku akan selalu menjaga tubuhku sehat." Ujarku dengan tersenyum.
Wajah mereka pun semakin jauh, dan membuatku terus melangkah laju yang semakin cepat. Aku juga kembali memakai Headsetku.
"Apa Hideakou akan ada di ruang imajinasiku?. Aku berharap, jika aku dapat bertemu dengannya lagi disana." Gumamku.
Tiba-tiba aku mulai merasakan bahwa aku tidak sedang sendirian. Suara telapak sepatu terdengar sangat jelas olehku.
"Apa ini perasaanku saja?. Atau apa ada seseorang yang melewati jalan yang sama denganku?." Gumamku.
Wajahku pun langsung menoleh ke arah belakangku. Tepat saja dugaan yang tersampaikan pada perasaanku, jika seseorang telah berada di sekitarku. Walaupun begitu aku tidak terlalu terkejut, karena seeorrang itu adalah Hideakou.
"Hide!... Mengapa kau mengikutiku?." Tanyaku padanya.
Seketika wajah Hideakou pun langsung menghadap ke arahku. Namun apa daya diriku saat itu, Ia tetap saja memberikan wajah kesal seperti biasanya.
Wajahnya yang kesal tanpa sebab itu, dan ucapannya semakin tidak membuatku mengerti dengan apa yang akan dimaksudnya.
"Entahlah.., kau benar-benar sangat aneh. Kenapa kau membalas senyumku saat itu?." Ujarku dengan tegas.
"Lalu, mengapa kau tersenyum padaku?." Ujarnya.
"Aku hanya ingin tersenyum untuk semuanya." Ujarku dengan berbohong.
Sembari obrolan kami berlanjut, kakiku terus beranjak untuk kembali melangkah sesuai tujuan.
"Etsss.., aku sudah bilang, jika aku tidak pernah membencimu. aku ingin jujur saja padamu, aku hanya senang kau mulai bisa berteman." Ujarnya.
"Kenapa juga kau memperdulikan hal itu?. Jangan mencampuri urusan hidupku!." Ujarku.
"Akukan hanya membantumu untuk mengerti dengan namanya sebuah teman." Ujarnya.
"Lalu, mengapa kau terus mengusikku. Kenapa kau seolah tidak ingin satu kelompok denganku?. Kau juga selalu merendahkanku. Terkadang kau selalu mengingatku tentang masa laluku s merendahkan akulah. Lalu, kenapa kau mengikutiku?. Apakah kau berniat untuk berteman denganku?." ujarku dengan tegas.
Ucapan ku saat itu seketika memberhentikan kakiku, dan kembali menoleh ke arah hadapan Hide secara tegas, terlihatlah hide hanya terdiam di tengah jalan.
"Suatu saat nanti kau akan tau, jika saja!!, jika saja itu terjadi aku akan langsung mengatakannya." Ujarnya dengan pelan.
Aku pun mulai sadar, jika Hideakou mulai tidak menunjukkan wajah kesal. Hideakou juga semakin menunduk. Sikapnya yang tiba-tiba berubah membuatku seketika melanjutkan perbincangan kami.
"Aku berharap kau seperti di dalam pikiranku. Pria yang tegas, bijaksana juga tidak seperti anak kecil yang selalu mengusikku." Ujarku dengan tegas.
Hideakou yang mendengar ucapanku seketika kembali menatap wajahku. hideakou seketika membuatku tersentak akan tatapannya yang secara tiba-tiba.
"Apa seperti itu tipe seorang temanmu?. Kau salah menilaiku Miyuki!." Ujarnya dengan tegas.
Salah satu tangannya tiba-tiba saja menarik tanganku dengan cepat. Tubuhnya seakan berlari mengajak tubuhku megikuti langkahnya.
"Ekhhh... Apa yang ingin kau lakukan?." Ujarku dengan diawali suara terkejutku.
Kali ini aku yang memberikan wajah sangat kesal daripada dirinya, namun Ia tidak menghiraukannya, dan terus berlari hingga terlihat dihadapanku sebuah lorong yang sempit.
"Diamlah!. Aku tidak akan melakukan buruk. Bukankah kau mengatakan padaku tentang tipe temanmu?. Jadi aku akan menunjukkannya padamu." Ujarnya tegas.
"Lalu, mengapa harus seperti ini?. Kenapa harus berlari?." Ujarku.
Hideakou terus membawaku ke lorong yang sangat sempit itu, hingga akhirnya aku sadar Hideakou mencoba menyenderkanku ke dinding lorong.
"Apa yang kau lakukan?." Ujarku.
Kedua tangan Hideakou tiba-tiba saja berada di dua samping pipiku. wajahnya Hideakou berhadapan sangat dekat dengan wajahku.
"Hideakou Kun!. Jangan melakukan hal aneh padaku!." Ujarku.
Namun Ia tidak menghiraukanku, dan terus melakukan aksinya. Kedua tanganku seketika kaku bersama hawa yang semakin dingin, dan suasana yang senyap saat dilorong.
Rasanya perasaan ini seperti pernah terjadi. Detak jantung Hideakou semakin kencang terdengar olehku. Keringat dingin itu keluar dari wajahnya, dan suara nafas yang pernah aku dengar saat bersama Hideakou yang berada didalam imajinasiku. Kedua mata kami yang saling bertatapan, dan semakin membuatku takut akan aksinya.
"Jangan macam-macam padaku!." Gumamku.
Detak jantungku semakin kencang, dan tidak dapat aku kendalikan. Pikiranku semakin kacau akan maksudnya yang tidakku mengerti. aku mulai sadar, jika aku mulai semakin kaku pada tatapannya.
Tiba tiba saja salah satu tangannya menghampiri kedua mataku.
"Jangan melihatnya!." Ujarnya lembut.
Tangan Hideakou menutupi mataku, dan hanya kegelapan yang terlihat dibalik mataku.
"Ada apa?." Gumamku.
Namun Hideakou membiarkan pertanyaanku pergi begitu saja. Entah mengapa rasanya seketika wajahku semakin tidak dapat bergerak. Rasanya saat itu ada yang menjanggal. Rasanya aku tidak ingin melihatnya. Rasanya benar-benar seketika membuatku hangat begitu saja. Dan rasa itu sangat lembut. Pikiranku seakan tidak ingin membahas perasaan itu, namun tetap saja perasaanku yang mulai bergejolak membuat tubuhku mulai gemetar.
Akhirnya aku pun bisa merasakan kehangatan itu yang mulai menghilang bersama hembusan angin, hingga seketika mataku terbuka. Namun entah mengapa aku merasa sangat janggal dengan bagian bibirku. Tubuhku juga terus bergetar tanpa alasan, dan seketika angin yang dingin mulai kembali ke arahku.
"Hahhh..." Suara hembusan nafasku.