To Love

To Love
Lembut



Genangan darah yang berada dihadapanku, dan sedang diperlihatkan padaku mulai membuat sekujur tubuhku merinding tidak karuan. Bulu dari setiap kulitku seakan telah berdiri.


"Hahh..., huhhh..., hahh..., huh.., apa ini semua?." Ujarku dengan nafas yang tidak karuan.


Aku benar-benar telah menjatuhkan tubuhku di atas tanah yang sedang terinjak olehku sebelumnya. Mataku terus menatap ke arah genangan darah itu. Tubuhku tidak dapat bergerak sedikit pun.


"Darah siapa ini?. Aku mohon beri tahu padaku. darah siapa ini?." Ujarku dengan wajah panik.


Sekujur tubuhku yang sedang merinding, seperti sedang melihat sosok hantu yang sebenarnya tidak ada dihadapanku. Semakin lama, aku mulai sadar, jika menatap darah yang dihadapanku mulai membuatku mual, dan ingin muntah.


"Akhh, mualnya!." Gumamku.


Tiba-tiba saja jari seseorang datang dari belakang tubuhku. Aku pun tersentak, dan langsung menoleh ke arah belakangku.


"Ahhh, siapa...." Ujarku yang terpotong.


Seseorang yang dihadapanku ternyata adalah Arnius. Sikapnya dengan mengejutkanku, dan sosoknya telah membuatku berpikir, jika sebelumnya yang dihadapanku adalah sosok hantu.


"Kau ini Arnius, bukan?. Terkadang aku sangat aneh melihatmu. Kau benar-benar sudah seperti membuatku masuk dalam suasa horror." Ujarku tegas.


"Kau ini yang aneh!. Mengapa kau terus melihat darah itu. Apa kau tidak jijik melihatnya. Aku yakin sebentar lagi kau akan muntah. Berikan tanganmu padaku, cepat!." Ujarnya tegas.


Tanpa aba-aba, Arnius langsung menarikku. Arnius membawaku berlari bersamanya. Aku pun terpaksa memulai percakapan dengan kaki yang masih berlari.


"Arnius!, mengapa Arnius yang berada di duniaku sana tidak dapat melihat wajahku?. Apa kau juga tidak dapat melihatku?!." Ujarku lembut.


"Huhh, kau harus hati-hati saat berbicara sambil berlari. Lihatlah depanmu." Ujarnya tegas.


"Aku merasa kita berlari seperti orang bodoh, tapi terserah kaulah. Aku hanya ingin jawabanmu!." Ujarku tegas.


"Hmm, tentu saja aku dapat melihatmu." Ujarnya dengan lembut.


Aku mulai memberhentikan langkah kakiku yang seketika membuat langkah Arnius juga berhenti


Semua itu aku lakukan, agar perbincangan antara aku dan Arnius bisa lebih jelas,dan fokud di pendengaranku.


"Apa kau memang ingin berhenti disini saja?. Ya sudahlah, lagi pula genangan darah itu sudah jauh." Ujarnya dengan wajah gelisah.


"Tentu saja, kau kira wanita sepertiku tidak lelah. Tidak, sebenarnya aku hanya ingin percakapan kita lebih fokus.." Ujarku lembut.


"Ya sudahlah. Oh ya, kau harus bertanya pada Arnius secara jelas. Aku mempunyai keyakinan, jika Arnius telah mengetahui penyakitmu. Atau dia berpura-pura dengan mengatakan, jika dia tidak dapat melihatmu." Ujar Arnius dengan lembut.


"Apa iya?, tapi wajahnya benar-benar terlihat penasaran, dan aneh saat itu." Ujarku dengan lembut.


"Kau ini susah sekali menyadarinya ya. Tentu saja aku, dan Arnius yang disana merupakan satu bagian." Ujarnya dengan lembut..


Tiba-tiba saja Arnius melangkahkan kakinya. Tubuh Arnius mulai menuju ke arah pohon yang berada disekitar kami.


"Apa yang ingin kau lakukan?." Ujarku dengan tegas.


"Lihatlah saja!. Kau tidak perlu bertanya." Ujar Arnius dengan lembut.


Ternyata Arnius telah mengambil beberapa daun dari pohon yang tidak aku ketahui jenisnya itu.


"Jangan bergerak ya." Ujarnya lembut.


Aku semakin penasaran akan raut wajahnya. Suara yang diberikannya sangat lembut semua pria yang pernah bertemu denganku. Ternyata Arnius sedang membersihkan bercak darah yang menempel dari pakaian yang aku kenakan.


"Oh, apa tidak apa?, kalau kau yang melakukannya. Berikan padaku!, biar aku saja." Ujarku lembut.


Tanganku langsung mendekati tangannya untuk mengambil daunnya. Namun belum saja aku menyentuh daun itu, aku telah menyentuh bagian tangan Arnius.


Aku mulai tidak sadar, jika aku telah memperlama sentuhan tanganku padanya. Aku merasakan bentuk tangannya yang sangat halu, dan tidak kasar itu. Walaupun begitu aku memang tidak dapat melihat lekukkan tubuhnya. Aku mulai sadar, jika aku mulai sangat ingin melihat raut wajahnya.


"Ahh, astaga. aku seperti seorang wanita bodoh." Gumamku.


"Maaf, maaf aku tidak bermaksud melakukannya." Ujarku tegas.


"Sudahlah, aku tidak terlalu memperdulikan hal itu. aku jadi ingin tahu bagaimana perasaanmu yang tidak dapat melihatku?." Ujarnya lembut.


Aku langsung mengambil daun yang berada di balik telapak tangannya, dan jarinya. Aku pun membiarkan tanganku langsung dengan cepat membersihkan bercak darah, agar Arnius tidak langsung mengambil kembali daunnya.


"Sudah!, akhirnya sudah hilang. sudah tidak ada bau amis lagi. Sudah wangi seperti daunnya." Ujarku dengan tegas.


Tiba-tiba saja Arnius menghampiri daun yang berada di telapak tanganku. Arnius mulai menjatuhnya daunnya. Aku mulai tidak sadar, jika tangan Arnius telah membawa tanganku berada diatas kepalanya.


"Kau melakukannya secara tiba-tiba, jadi aku akan memintamu, agar menghelus rambutku secara tiba-tiba." Ujarnya lembut.


Suara, dan reaksi Arnius sangat menawan, dan akhirnya membuatku terpaksa untuk melakukannya. Ternyata Arnius tidak sama sekali membuat jantungku berdetak. Aku yakin semua itu adalah dampak dari tubuh, dan raut wajahnya yang tidak dapat aku lihat.


"Huhh, jika seandainya saja aku bisa melihatnya." Gumamku.


"Ya, aku ingin kau menghelus rambutku." Ujarnya tegas.


Akhirnya aku menyadari diriku yang telah mulai untuk menghelus rambutnya Arnius. Walaupun aku tahu, jika aku tidak dapat melihat bagian rambutnya yang terbentuk.


"Ahh, Sepertinya aneh sekali." Gumamku.


"Ya, aku ingin kau menghelus rambutku." Ujarnya dengan lembut.


Menghelus rambutnya seperti sedang memegang kapas.


Menghelus rambutnya seperti bantal yang sangat lembut.


Menghelus rambutnya seperti aku sedang menghelus anak kucing.


Menghelus rambutnya seperti aku berada dalam zona nyaman.


Tapi mengapa aku tidak dapat dapat merasakan hal lebih dari itu, Arnius?.


Aku membiarkan tanganku menghelus rambutnya secara perlahan, hingga aku mulai sadar, jika sosok Arnius seakan sedang menatapku. Aku mulai sadar setelah sosoknya terus menghadap ke arahku.


"Arnius, apa kau menatapku?." Ujarku lembut.


"Tidak, tidak, lanjutkan saja. Aku sangat nyaman seperti ini." Ujarnya lembut.


Aku merasa Arnius memang telah menatapku, terlihat dari kepalanya yang terus digelengkannya ke arah berlawanan.


"Ahh, sudahlah. Pria ini sudah seperti anak kecil saja." Gumamku.


Beberapa menit pun berlalu. Arnius tiba-tiba saja mengambil tanganku. Arnius mulai melepaskan tanganku dari bagian atas kepalanya. Tiba-tiba saja Arnius mendekatkan sosoknya ke arah samping telingaku, dan berbisik padaku.


"Apa kau yakin, kau tidak akan mencintai Hideakou. Lalu mengapa kau berpura-pura mengatakannya. Tenang saja Miyuki Chan. Aku hanya Arnius di duniamu bukan Arnius yang di dunia nyatamu, ingat ya!. Dan sekarang bangunlah nanti kau terlambat!." Ujarnya lembut.


Bisikkan Arnius seketika membuat pikiranku sedikit buyar. Arnius mulai memberi jarak normal kembali padaku. aku mulai sadar, jika Arnius telah membuatku tersenyum padanya.


"oh ya, aku tidak akan mencintainya, benar!." Ujarku dengan lembut.