
Beberapa hari setelah aku memulai pendidikan di Kampus. Aku mulai sadar, jika hidupku semakin terisi oleh Hideakou yang berada di dunia keduaku maupun dunia yang lebih nyata. Aku juga tidak dapat menebak perasaanku saat itu.
"Hahh...., huhhh..... Belum saja aku bersenang-senang di dalam sana. " Ujarku dengan wajah kecewa.
Saat melihat diriku telah begitu saja berada didepan pintu rumahku. Aku merasakan perjalanan yang aku lewati sebelumnya sudah seperti sebuah petualangan baru di duniaku.
"Ada apa denganku?. Sebenarnya semua itu, apa hubungannya denganku." Ujarku dengan wajah penasaran.
Kaki pun melangkah untuk menginjak rumah yang aku tempati sendirian olehku. Aku telah mencoba belajar sendiri dari jauhnya keluarga. Aku pun membiarkan setiap jariku dan telapak tanganku mulai membuka sepatuku, dengan pikiran yang terus mengusikku. Aku pun langsung beranjak menuju kamarku. Aku langsung saja membiarkan kembali tubuhku terbaring di atas kelembutan kasur.
"Brak." Suara kasur.
Perubahan yang terahir saat sebelumnya bersama Hideakou. Aku mulai sadar, jika aku sedang menahan rasa malu setelah bersamanya. Terutama dengan kata terakhir yang di berikan HIdeakou saat menjelang perubahan di mulai sebelumnya.
"Akkhh.... Kenapa juga Hideakou memeberikan raut wajah itu?. Kenapa juga Hideakou memberikan kata-kata seperti itu." Ujarku.
Seharusnya aku sadar, jika semua itu hanya ada di dalam imajinasiku bukan dikanyataan. Hari esokku pun tiba. Kali ini aku masih merasa malu untuk memikirkannya, walaupun aku tahu bahwa Hideakou yang berada di dunia yang nyata tidak sama seperti Hideakou yang berada di ruang imajinasiku.
"Kenapa aku bisa merasakan hal seperti ini?. Untuk apa aku memikirkan hal bodoh ini?. Kenapa aku jadi memikirkan hal ini?." Ujarku di saat aku sedang menyimpul ikat tali sepatu.
Aku mulai tidak sadar, jika setiap jalan, dan setiap kendaraan yang telah membawaku masih membuatku memikirkan Hideakou. Aku juga semakin tidak sadar, bahwa aku telah menguatkan Volume yang berasal dari balik Headsetku. Meskipun begitu, tidak satu pun sumber suara yang dapat memberhentikan pikiran itu.
"Aku bisa jadi wanita rendahan, jika seperti ini terus." Gumamku.
Akhirnya aku pun sudah berada di depan ruangan. Aku langsung saja membiarkan wajahku semakin menunduk. Aku juga tidak sadar, jika Volume yang berasal dari lagu yang telah aku putarkan semakin besar dari sebelumnya.
"Tidak apa-apa MIyuki. Hideakou yang disini tidak sama seperti Hideakou yang disana." Gumamku.
Kakiku pun langsung memasuki ruangan itu. Namun belum saja berada di kursiku, Hideakou datang dari belakang. Salah satu tangannya ternyata telah beranjak untuk menuju pundakku. Hideakou ternyata juga ingin mengejutkanku. Dan benar saja aku tersentak. Tanpa berpikir panjang, aku telah mengetahui dengan siapa pelakunya.
"Huhhh..... Apa pria ini sudah dewasa?. pria ini benar-benar seperti anak kecil saja. Sepertinya aku dengannya baru saja kemarin bertemu. Apa pria ini sudah merasa dekat denganku?." Gumamku.
Hideakou langsung melangkahkan kakinya berhadapan padaku. Ia pun kembali mengejutkanku dan membuatkuĀ menoleh kearahnya. Namun aku menipis pandangannya, dan kembali menunduk.
"Apa kau memang wanita pemalu?. Ternyata tebakkanku benar saja. Oh, jadi begitu makanya kau selalu sendirian." Ujarnya dengan tersenyum licik.
"Terserahmu mau berkata apa." Ujarku.
"Begitukah?." Tanyanya.
"Kita satu kelompok ya ternyata. Bagaimana ini?. Aku tidak terlalu berharap bisa bersama denganmu." Ujarnya.
Hideakou yang di hadapanku tidak sama dengan Hideakou yang gagah, bijaksana, lembut juga indah seperti di dalam imajinasiku. Perasaan malu itu hilang sejak aku menoleh kearahnya, hingga tidak sadar, jika aku telah mengeluarkan suara dari balik bibirku.
"Siapa yang akan peduli tentang hal itu?. Aku saja menginginkan hanya untuk Individu" Ujarku dengan nada pelan.
Aku baru menyadari, jika dari tadi aku telah mendengar terus ocehan yang berasal dari Hideakou. Jariku langsung meraba ke dalam isi tasku. Aku menemukan Novel yang selalu aku bawa kemana-manah. Tiba-tiba aku semakin menyadari, jika Hide sangat mengusikku.
"Mungkin, jika aku jadi kau. Aku tidak akan tinggal diam dalam kesepian, dan kesendirian. Aku juga tidak berharap kalau kita satu kelompok. Aku sudah menduga hal ini. Kau benar-benar wanita yang membosankan, jika terus seperti ini." Ujarnya dengan suara tegas.
Pikiranku yang berada di hadapan sebuah karya seketika terhenti. Aku semakin menatap fokus pada satu arah yang berada di secari kertas sebuah Novel.
"Huhh.... Ternyata kau menyukai hal seperti ini ya. Kau ini benar-benar aneh. Kau pasti tidak memiliki satu pun teman ya. Sepertinya aku tidak seharusnya peduli padamu, karena kau tidak memperdulikan perkataanku." Ujarnya dengan santai.
Rasanya saat Ia berkata, dan terus mengeluarkan kata-kata yang semakin membuatku serius. Pikiranku seperti ingin meledak. dan ingin terus melawan perkataannya. Tapi saat itu, Dosen telah datang, dan telah berada di kursinya. Aku pun menyadari bahwa Hideakou selalu saja memberikan kata-kata yang membuatku ingin saja terus berpikir hal itu.
"Kenapa harus aku?. Kenapa dia terus mengusikku?. Dia tidak mengetahui masalah apa yang telah aku dapatkan selama hidupku. Dia hanya seseorang yang seharusnya tidak membuatku berbicara padanya." Gumamku.
Aku pun memulai mata Kuliahku. Dan rasa kesal setelah mendengar ucapannya. Aku tidak menduga, ternyata Ia masih sanggup berbicara ditengah mata Kuliah yang telah di mulai, walaupun dengan suara pelan.
"Seharusnya kau memikirkan perkataanku tadi. Aku percaya, kau pasti sangat menginginkan namanya pertemanan itu." Ujarnya dengan nada pelan.
Akhirnya Ia tidak melanjutkan ocehannya lagi setelah mengatakan hal itu. Pada akhirnya, aku hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapannya yang sebenarnya tidak ingin membuatku memikirkannya.
"Kenapa aku lagi?." Gumamku.
Pikiranku seakan diselimuti huruf, dan rangkaian kata yang berterbangan. Tapi aku tidak ingin jatuh dalam rangkaian kata-kata itu. Lalu, mengapa aku terus memikirkannya?. Apakah aku mulai ingin berubah?. Jika aku bukan aku, mungkin aku akan telah memarahimu. Tidak!, lebih tepatnya aku sangat ingin menentangmu.
"Huhh...,." Suara nafasku.
Rasanya kebenaran pada hidupku yang sedang diucapkannya. Aku mulai menyadari, jika aku memang menyesali kehidupanku yang telah berlalu. Kedua tanganku langsung melipat untuk merenspons perasaanku. Saat itu, wajahku langsung jatuh diatas kedua tanganku menutupi perasaan yang tidak kuterima itu. Perasaanku ingin menangis setelah mendengarnya. Semua itu tidak lain, karena aku tidak dapat melawan ocehannya dan bersembunyi dari rangkaian kata-katanya. Dan benar saja, setetes air mata telah jatuh mengenai secarik kertas yang berada di atas mejaku.
"Aku tahu..., aku tahu itu..... Hiks..., hiks... Aku tahu itu... Aku sangat ingin memiliki seorang teman." Ujarku.
Aku mulai teringat semua masa laluku yang kelam, dan hanya selalu diselimuti cacian akan kegilaanku. Kesepian yang terjadi dalam hidupku adalah dampak dari imajinasiku yang selalu datang tiba-tiba. Beberapa dari orang yang pernah bertemu denganku selalu saja membuaiku akan hidupku yang selalu mereka anggap tidak waras.
"Aku benar-benar tidak ingin dalam kesepian ini, tapi ini yang harus terjadi padaku." Gumamku.