
Melihat mata Hideakou yang berbinar akan cahaya yang timbul dari bintang di langit membuat suasana semakin dingin. Aku merasakan, jika aku mulai merasa lebih sejuk. Hal itu juga membuatku telah melirik matanya terus menerus, hingga akhirnya Hideakoh pun sadar.
"Hei, mengapa kau menatapku seperti itu?. Jangan bilang kau jatuh Cinta padaku!. Aku sudah katakan ya. Aku tida akan mencintai siapapun!. Nanti kau menyesal, jika kau mencintaiku." Ujarnya dengan tersenyum.
Kata-kata yang disampaikan Hideakou menggertak tubuhku, dan membuatku mengepal kedua tanganku untuk memukulnya.
"Kau ini!, untuk apa juga aku jatuh Cinta pada orang sepertimu!. Kau saja selalu membuatku kesal. Hideakou kau itu bukan siapa-siapa aku. Dan lagi pula mengapa sekarang kita berada disini?." Ujarku dengan wajah kesal.
"Huhhh, syukurlah jika begitu. Aku membawamu kesini, karena kau bilang kau hanya selalu sendirian." Ujarnya.
"Aku tidak mengerti apa yang telah kau pikirkan. Aku merasa ucapanmu dari tadi semakin tidak penting." Ujarku.
"Huhh, terserahmu. Aku disini hanya untuk menamimu. Kau tahu itukan!." Ujarnya.
Wajahku kembali menoleh kearah langit, sembari menahan badanku yang tertumpu pada tanganku yang berada di atas rumput.
"Apanya yang aku tahu?. Seharusnya kau berbicara lebih dewasa. Dan jangan selalu mempermainkan dari semua kata-katamu Hideakou. Lagi pula, siapa juga sendiri?." Ujarku.
Sebelumnya aku benar benar tidak mengerti cara berpikirnya, hingga wanktu itu pun reaksinya selalu berubah, dan juga sikapnya padaku.
"Huhhh, sepertinya tidak akan aku katakan. Lagi pula, mengapa kau tidak berusaha berteman?. Aku hanya penasaran dengan orang sepertimu. Karena itu aku selalu menunggu reaksimu setiap hari di Kampus. Ingat!, itu bukan seperti Cinta." Ujarnya dengan wajah tegas menghadap langit.
"Kau ini benar benar tidak dapat aku mengerti. lagi pula, aku tidak berharap perkataanmu yang tidak penting itu. Dan tenang saja, aku tidak terlalu peduli tentang Cinta. Aku juga selalu menanti kesendirianku." Ujarku dengan tersenyum.
Tiba-tiba saja Hideakou mengarahkan jarinya ke arah langit, tanpa tujuan ke arah bintang yang berserakan.
"Lihatlah langit yang biru yang berada disana!. Apakah kau melihat bintang?." Ujarnya santai.
Aku langsung menoleh kearah langit, dan memfokuskan mataku kearah yang di tunjuknya. Namun sepertinya aku tidak melihat bintang yang dimaksudnya.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Tentu saja itu langit kosong."
Tiba-tiba saja Hideakou tertawa lembut mendengar perkataanku.
"Kau ini benar-benar polos ternyata, tentu saja kau tidak dapat melihatnya. Lihatlah dengan jelas langit itu, dan temukan bintang!." Ujarnya dengan tertawa kecil.
Aku pun langsung meliriknya dengan wajah kesal akan maksudnya yang tidak dapat aku mengerti.
"Sudah berkali-kali kau permainkanku, dengan kata-kata bodohmu itu." Ujarku dengan wajah kesal.
"Ternyata kau masih polos. Kau tahu langit yang disana itu sangat jelas mendung. Bintang-bintangnya tentu saja tertutup dengan awan yang pekat. Kau harusnya bisa memahami maknanya ya." Ujarnya lembut.
Sebelumnya aku tidak terkejut dengan perkataannya hanya saja telapak tangannya mendekati kepalaku. Aku mulai sadar, jika Hideakou menghelus lembut rambutku di akhir ucapannya. Mataku seakan tersentak untuk terdiam sejenak, hingga beberapa menit aku menyadari maknanya yang langsung membuat mataku berbinar.
"Huhh, Hide!. Mengapa aku selalu tidak mengerti sikapmu." Gumamku.
"Aku sangat heran dengan sikapmu!. Aku sangat heran mengapa kau berada di dalam sana. Aku tidak mengerti akal pikiranmu yang berjalan. Dan mengapa bisa-bisanya kau berada didalam sana?. Mengapa aku tidak dapat membenci mu?. Mengapa kau terus berkata tentang cinta yang tidak diperbolehkan?. Aku juga tidak tahu mengapa aku berharap cinta itu tidak ada." Ujarku lembut dengan tetesan air mata yang jatuh tanpa suara.
Hideakou yang masih menghelus rambutku seketika berhenti ketika mendengar ucapanku.
"Apa yang kau maksud di dalam sana?. aaku benar-benar tidak mengerti." Ujarnya dengan wajah penasaran.
Air mataku terus mengalir, hingga suara tangisku pun keluar. Aku mulai tidak sadar bahwa aku membiarkan perasaanku terungkap padanya. Tentu saja perasaan itu bukanlah tentang Cinta, namun perasaan akan pengungkapan imajinasiku.
"Hiks...hiks... Aku tidak mengerti mengapa aku memiliki imajinasi nyata yang hidup dalam kehidupanku!. Terkadang aku ingin sekali seperti manusia normal lainnya, aku ingin sekali. Lalu, mengapa sekarang Hideakou yang berada di hadapanku ini ada di dalam sana, dan menemaniku?. Aku selalu tidak mengerti. Aku hanya ingin kebahagian tanpa kesepian. Maaf!, maaf, aku berbohong!. Aku tidak pernah berharap kesendirianku. Aku hanya ingin aku dapat dianggap normal. hiks.., hiks.. " Ujarku dengan lembut juga mengalirkan air mata.
Ucapanku diikuti pelukan yang datang dari Hideakou dengan lembut, dan membiarkanku menangis didalam pelukannya. Tangisku pun semakin mengeluarkan suara yang kencang, walaupun Hideakou masih sedikit belum memahamiku.
"Hiks.., hiks..., hiks.. Maafkan aku.... Hiks.., hiks.., hiks... Aku sangat benci hidupku yang seperti ini. Hiks.., hiks...." Ujarku sembari menangis.
Sesaat pelukan yang tidak terasa olehku itu membuat kepalaku sangat pusing. Penglihatanku tiba-tiba saja seperti diputar-putar, hingga air mataku berhenti, dan menjauhi badan Hideakou. Ternyata aku melihat semua yang dihadapanku seakan dunia dalam sebuah putaran, juga wajah Hideakou yang seketikamenghilang. Aku yang sebelumnya terduduk di atas rumput tiba-tiba saja berdiri tanpa aku mengetahuinya.
"Apa ini?. Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya. Akhh, kepalaku sangat sakit. Apa ini?." Ujarku.
Tiba-tiba saja potret kehidupanku keluar mengelilingiku dari masa kecil, hingga wajah-wajah yang seperti tidak dapat aku ingat keluar dari potret yang mengelilingiku. Air mataku yang sebelumnya berhenti secara mendadak, kembali jatuh. Dan kali ini air mataku sudah seperti sebuah genangan.
"Hik..., hiks..., apa maksud semua ini?." Gumamku.
Potret kehidupanku seperti sebuah film, dan semakin tidak jelas. Aku mulai sadar, jika kepalaku seakan hampir meledak. Semakin lama aku tidak dpat melihat secara jelas. Walaupun begitu aku masih bisa melihat postur tubuh yang lewat bersama potret. Aku melihat beberapa postur tubuh seperti Hideakou, dan salah satu pria. Semakin aku mencoba untuk melihat jelas, rasa sakit di kepalaku semakin kuat, dan tidak dapat membuatku bisa memahami semua potret itu.
"Bukankah itu Hideakou?, lalu siapa pria itu?. Aku tidak dapat melihat jelas. Hiks.., hiks..." Ujarku.
Telihat juga bercak darah yang sangat banyak berada di dalam potret, dan sedikit tidak jelas. Semua penglihatanku tiba-tiba buyar. Aku hanya mendengar dari suara yang timbul dalam potret seperti film bergerak itu.
"Hideakou!. Jangan miyuki!, sudahlah. Apa yang kau tahu Arnius?!. Jangan urusin kehidupanku!!. Miyuki aku kan baik-baik saja." Suara yang bercampur dari tiga orang.
Penglihatan buyar itu semakin membuat kepalaku sangat terasa berat, juga sesak. Akhirnya aku pingsan di dalam potret yang masih berputar itu.
"Aku tidak sanggup lagi." Gumamku.
Cahaya terang menyinari ruangan diiringi kicauan burung di pagi hari, juga suara yang sangat mengusikku tidak lain adalah alarmku. Badanku pun bergerak kembali, juga tanganku yang mencoba menggapai jam bekerku, dan mematikannya. Aku pun mulai mengedipkan mataku yang berulang-ulang, hingga pandanganku telah terlihat sangat jelas. Ternyata aku telah berada di dalam kamarku.
"Huhhh..., apa yang terjadi tadi malam?. Mengapa aku tidak dapat mengingatnya. Akhhh kepalaku terasa sakit." Ujarku.
Kenyataannya aku benar-benar tidak dapat mengingat kembali semua potret itu. Aku hanya bisa mengingat kejadian antara aku dan Hideakou yang berada di hamparan rumput.
"Sebenarnya apa yang terjadi?." Ujarku kembali.
Kaki pun beranjak turun dari kasur beriringan wajahku yang kembali menghadap ke depan, hingga aku temukan secarik kertas yang berada di atas meja.