To Love

To Love
Kembali!



Pikiranku tidak dapat menerima sendiri. Aku terus menepis perkataan Arnius. Tia-tiba saja Hideakou tersenyum tipis namun indah.


"Aku tidak dapat percaya hal seperti!. Tidak mungkin!." Ujarku.


"Jika, kau tidak percaya, ayolah!. Kita lihat saja. Buka pandanganmu. Aku semakin pusing ketika hanya kita berdua yang bisa melihatnya." Ujarnya


"Ini merupakan hal bodoh!. Kau merencanakan hal bodoh!." Ujarku.


"Percayalah padaku." Ujarnya.


Arnius menarik aku dan Hideakou dengan cepat. Zebra Cross itu penuhi oleh pejalan kaki. Arnius menyuruh kami berbicara tepat di tengah jalan.


"Hideakou?. Bagaimana bisa seperti ini?." Ujarku.


"Aku tidak tahu tapi semua ini Karena ..." Ujarnya yang terpotong.


"Tidak pernah ada hal seperti ini!. Tidak pernah ada!. Tidak mungkin Fantasi itu bisa berada di dalam dunia!." Ujar Arnius sembari menghelus lembut rambutnya


Semua orang menghilang termasuk Hideakou dan Arnius. Kupu-kupu bercahaya keluar dari bagai arah. Namun!, dihapanku yang terlihat hanyalah kegelapan. Aku bisa sangat jelas melihat, jika ruangan imajinasiku saat itu sama persis seperti sebelumnya yaitu karpet merah yang terang.


"Tidak!. Tidak!. Astaga, aku tidak gila. Arnius, kenapa kau mengungkap sesuatu. Semua rancanganku hancur, hancur sudah." Ujarku.


Air mata itu mulai jatuh dari mengenai pipiku. Aku menoleh ke dapan, dan suara teriakan dari balik bibirku mulai keluar.


"Aaaaaaa. Aku tahu!. Aku tahu!. Aku tahu!. Aaaaaaaa. Aku tahu!. Janji itu bodoh!. Janji aku antara dia itu hal bodoh!. Aku sangat mencintainya. Aku tahu itu. Aaaaaaa. Ini semua karena aku tidak sadar diri." Ujarku dengan air mata yang terus jatuh.


Aku sadar, jika siluet yang berada si sekitar juga mengusikku bersama suaranya.


"Kemarilah!. Kita bisa mencoba bersenang-senang. Kenapa kau terus memikirkannya." Ujar salah satu Siluet itu.


"Bodoh!. Ini ruang imajinasiku, dan tidak mungkin imajinasi ini merupakan hasil keinginanku. Aku!, aku yang disana!. Aku!. Aku. Aku tidak pernah menginginkan hal ini!. Aaa, balikkan!." Ujarku dengan nada tinggi.


Tiba-tiba saja jatuh dari atas setetes air yang merupakan hujan. Setetes itu semakin lama tidak terhitung, dan kemudian menjadi deras. Air hujan itu seperti melenyapkan kegelapan. Warna dari balik kegelapan mulai hadir, dan siluet itu mulai terlihat raut wajahnya, dan warna tubuhnya.


"Kenapa?. Kenapa aku seperti ini?. Kenapa Hideakou membuatku menjadi seperti ini?." Ujarku dengan nada tinggi.


Siluet itu ternyata adalah aku sendiri, dan kedua pria yang telah kutemui sebelumnya. Mereka mengarah ke arahku, dan memberikan senyuman. Seakan Siluet itu mengetahui kehadiranku. Mereka berbicara padaku


"Sedikit lagi!, sedikit lagi!. Kau benar-benar harus kembali!." Ujar Arnius.


"Kau tahu, cinta itu tidak harus memiliki. Cinta itu hadir untuk memberikan warna indah dalam kehidupan. Cinta, cinta, cinta itu bukan seharusnya dimulai untuk seseorang." Ujar Hideakou.


"Cintailah dirimu dahulu!. Maka kau bisa terlihat indah di mata orang lain. Cinta yang pertama itu berasal dari dirimu sendiri. Mencoba mencintai diri sendiri merupakan kesulitanmu sendiri, bukankah begitu?. Aku dan kau adalah satu. Aku merupakan dirimu yang sudah memiliki cinta." Ujar Miyuki yang merupakan penggalan dariku.


Dihapanku telah terlihat diriku sendiri. Rasanya saat itu aku berbicara pada cermin yang terbalik. Air mata berlinang dan telah membuat kerah leherku basah.


"Hiks, hiks, hiks. Apa aku tidak mencintai diriku?. Bagaimana caraku bisa mencintai itu." Ujarku.


"Dengan membuka pandanganmu bersama hatimu, dan menerimanya." Ujar Hideakou.


Cahaya mulai menyinari seisi ruangan imajinasiku. Rasanya saat itu cahaya terang itu telah menghusap air mataku dengan lembut. Seketika suara keramaian mulai hadir di telingaku. Suara Hideakou seperti membuatku terus sesak untuk melihatnya. Suara Arnius yang lembut membuatku sadar.


"Miyuki!, apa kau baik-baik saja?." Tanya Hideakou.


"Miyuki?." Ujar Arnius.


Semua orang menatap kami. Suara bisikkan kecil masih dapat terrdengar olehku. Tentu saja mereka mengusikku.


"Kau sakit jiwa. Seharusnya kau berada disana di Rumah Sakit jiwa. Oh ya, sakit jiwa itu tidak dapat mengerti apapun." Ujar seseorang dengan nada tinggi.


Senyuman kecil mulai terasa olehku. Bersama senyuman dariku, aku juga mengeluarkan air mata kebahagian. Entah apa yang telah aku pikirkan saat itu, aku sangat terasa.


"Aku tidak gila!. Buktinya saja aku masih berpikir. Kau saja tahu arti sakit jiwa. Tentu saja aku tidak. Ini hanya kelebihan atau kekurangan dariku." Ujarku dengan lembut.


Arnius menarik tanganku, dan membiarkan kerumunan manusia itu mulai mengeluarkan raut wajah bingung.


"Arnius?. Apa yang kau ingin lakukan?." Tanyaku dengan raut wajah bingung.


Dia membawaku tepat di tengah jalan. Entah apa yang dipikirkannya, dia sungguh membuatku semakin bingung. Tragedi tidak diinginkan bisa saja hadir. Kendaraan yang memiliki laju normal berlalu lalang hanya bisa menghindar.


"Hei kalian!, anak muda!. Tidak ada untung." Ujar salah satu pengendara.


"Arnius ini berbahaya!. Kau ini!." Ujarku dengan raut wajah panik.


"Kau melupakan tentang sebelumnya. Dunia yang nyata itu tidak mungkin seperti Hideakou yang hanya antara kita yang melihat. Kau pikir itu hal yang harus diterima!, tentu saja tidak!." Ujarnya.


"Apa maksudmu?." Tanyaku.


Kedua tangan Arnius mulai memegang bagian atas bahuku. Wajah fokus dan tatapannya hanya berada pada pandanganku. Tiba-tiba saja Arnius memelukku, dan aku hanya bisa menatap pada satu tatapan.


"Arnius?, bukankah kita baru kenalan satu hari?." Ujarku.


"Tidak!. Percayalah pada dirimu sendiri." Ujarnya.


"Hei kalian jangan bermesraan di tengah jalan!." Ujar salah satu pengendara.


"Miyuki!, Arnius!." Ujarku


Suara teriakan dari Hideakou tiba-tiba saja terdengar. Seketika Arnius langsung melepaskan pelukannya dariku. Kami pun menoleh ke arah suara itu.


"Hideakou." Gumamku.


"Apa yang dia lakukan?." Tanya Arnius.


Hideakou berjalan dengan santai, namun sesuatu hal aneh membuatku berkata-kata. Yaitu setiap langkahnya dan tubuhnya terlihat seperti terluka.


"Hideakou!." Teriakku.


"Jangan Miyuki." Ujar Arnius.


Arnius kemudian membuatku menghadap ke arahnya dengan kedua tanganya yang kemudian berada di atas bahuku.


"Miyuki!. Jangan berpura-pura. Aku sudah sadar, sangat sadar!. Kau berpura-pura tidak pernah menemuiku!. Aku mulai ingat semuanya." Ujarnya.


"Arnius!. Aku lelah kau terus saja mengatakan hal aneh!. Aku tahu!. Aku hanya ingin membuat diriku senang." Ujarku.


Arnius mendekatkan wajahnya, mata kami benar-benar berada dalam satu tatapan.


Selama ini aku hanya mengatakan dunia palsuku yang telah aku rangkai itu adalah dunia asliku. Aku berbohong demi cintaku padanya Hideakou. Aku berusaha keras membuat ruangan imajinasi, namun Arnius telah sadar. Ia mulai membongkarnya, dan semakin membuatku sesak.


"Arnius!. Aku tahu!. Aku tahu. Berikan aku waktu." Ujarku.


"Kau berbohong seolah kau tidak mengingat Hideakou dan memulai kehidupan baru oleh ruangan imajinasimu ini. Aku mohon kembalilah." Ujarnya.


Suara terisak masih belum keluar, namun air mata dariku mulai semakin berlinang. Salah satu tangan Arnius mulai menggenggam salah satu tanganku.


"Aku mohon!." Ujarnya.


"Miyuki!." Teriak Hideakou.


Aku semakin bingung ketika setiap langkah dari Hideakou semakin membuatku sesak. Namun perkataan Arnius lebih membuatku tidak dapat menahan tangisku.


"Hanya untuknya saja. Aku tidak pernah merasakan hal ini." Ujarku.


"Inikah caramu mencintai. Kau melupakan dirimu sendiri!. Peganglah tanganku selalu. Aku akan ada disampingmu disaat kau telah kembali." Ujarnya.


Aku mulai terisak bersama air mataku yang berlinang. Hideakou juga terlihat seperti mengeluarkan darah yang terus mengalir. Aku tidak tahu mengapa, tapi seperti itulah yang terlihat. Hideakou juga terlihat mengelurkan air mata yang telah berlinang bersama darah yang jatuh dari atas kepalanya.


"Hideakou. Hiks hikss ... hiks hikss ..." Ujarku.


"Miyuki!, aku berjanji padamu. Aku akanĀ  selalu memegang tanganmu. Aku disini bukan aku yang asli. Pikiran aku di dunia aslimu membuatku seperti ini!. Dia sangat ingin kau membuka mata. Ingat orang-orang yang pernah bertemu denganmu!. Ruangan imajinasi ini bukanlah hal yang baik bagi dirimu." Ujar Arnius.


Rasanya aku sangat sesak saat mendengar Arnius berbicara. Cahaya dari bola mata Arnius seperti memantul di mataku. Aku pun terus terisak akan kebingungan yang tidak ingin aku terima.


"Hahh, hu... hiks hiks hikss.. hu.. hikss. Arnius!, Hideakou tidak akan ada lagi disana!. Hideakou telah tiada disana!." Ujarku dengan terisak.


"Aku akan mencoba menggantinya. Aku mohon kembalilah." Ujar Arnius.


Hideakou mulai mendekati kami. Ceceran darah terus mengikuti setiap langkahnya. Tepat saja saat itu Hideakou telah berada dihadapanku.


Tubuhku langsung merenspon dengan memeluknya.


"Hideakou!, hiks.. hiks.. hiks.. kenapa kau pergi meninggalkanku. Kenapa sekarang aku harus pergi meninggalkanmu?. Hideakou!.. hiks hiks." Ujarku dengan terisak.


"Aku sangat mencintaimu!. Sangat dan sangat!. Simpanlah bunga itu, bunga yang telah aku berikan di dunia nyatamu. Aku akan selalu ada untukmu!. Aku sangat mencintaimu!. Tapi aku tidak bisa, jika kau sendiri tidak mencintai dirimu!." Ujarnya.


"Hideakou, hiks.. hikss.. hikss.. Aku lebih dari lebih yang kau katakan. Semua yang kita lalui di dunia nyata itu membuatku tidak bisa melupakanmu. Hiks.. hiks..." Ujarku dengan terisak.


Tiba-tiba saja Hideakou melepaskan pelukan dariku. Seketika aku hanya bisa menatap bingung ke arahnya. Air mata Hideakou sungguh terlihat walau tidak terisak. Hideakou langsung menunjukkan raut wajah fokus padaku.


"Prakk." Suara tamparan.


"Hideakou?. Kenapa?." Tanyaku.


Betapa terkejutnya aku saat itu, jika Hideakou telah menamparmu. Jari tanganku pun langsung merenspon untuk memegang pipiku.


"Kau!, kau bodoh!. Aku tidak ingin mendengarmu seperti itu. Kau sungguh lemah terlihat dengan ucapan itu. Aku sangat yakin, jika aku berada di dunia nyata pasti aku sangat marah." Ujarnya.


"Hideakou?. Tapi aku mencintaimu." Ujarku.


"Miyuki atakan 'Aku mencintai diriku!' Cepatlah." Ujarnya.


Seketika aku hanya bisa menuruti perintahnya. Salah satu tangan Arnius langsung kembali menggenggam tangaku dengan kuat.


"Miyuki!." Teriaknya.


"Aku mencintai diriku!." Ujarku.


"Lebih kuat!." Teriak Hideakou.


"Aku mencintai diriku!." Ujarku dengan nada mulai tinggi.


Hideakou mulai melangkah untuk mendekati Arnius, dan memegang kedua bahu Arnius. Mereka sungguh menunjukkan raut wajah fokus.


"Arnius!. Aku tidak ingin kau melukai hati Miyuki!. Semoga Arnius disana bisa mengerti dengan apa yang aku ucapkan ini!." Ujarnya Hideakou.


Hideakou kemudian kembali menoleh ke arahku dan kembali menyuruhku seperti sebelumnya.


"Miyuki!, katakan lagi dengan cukup kuat. Aku ingin itu berasal dari hatimu sendiri." Ujar Hideakou dengan tegas.


"Aku aku! Diriku, jiwaku, pikiranku. Aku mencintai diriku!. Aku mencintai diriku!. Aku mencintai diriku. Hikss.. hikss... hikss... hikss." Teriakku diakhiri dengan terisak.


Seketika cahaya muncul dari wajah Hideakou hingga ke seluruh penjuru. Air mataku seketika semakin berlinang bersama isakkan tangis.


"Hiksss.. hikss.... hikss..Hideakou!." Ujarku dengan terisak.


Genggaman Arnius sangat erat. Aku bisa merasakannya seperti dijepit. Cahaya itu seketika membuat penglihatanku tidak jelas. Aku hanya bisa melihat cahaya itu membuatku melihat warna putih dari setiap penjuru.


"Hikk... hikss.. hikss Hideakou." Ujarku dengan terisak.


Cahaya putih, suara keramaian mulai kembali terdengar olehku. Dan genggaman yang terasa oleh tanganku. Seketika aku pun langsung membuka mataku.


"Akhh, dimana aku?." Ujarku.


"Miyuki!. Akhirnya kau terbangun lagi." Ujar Arnius.


"Rumah Sakit sayangku." Ujar Mamaku dengan menangis.


Aku telah melihat beberapa orang mengelilinginku. Kedua orangtuaku dan teman-temanku. Rasanya aku ingin mengambil hembusan nafas dalam dalam.


"Huhhhh.... hahhh....huhhh." Suara nafasku.


Pengumuman


*Season pertama telah selesai. Saya akan menjelaskan maksud season ini agar mudah mengerti.


Penjelasan


Miyuki adalah seseorang yang mempunyai penyakit pada sistem pikiran, dan pandangannya sehingga membuatnya bisa melihat hal yang tidak nyata. Season ini adalah hal yang dilihatnya selama koma di rumah sakit setelah mengetahui Hideakou telah meninggal. Miyuki mencoba berbagai cara (cerita ini akan dilanjutkan di season kedua saya), agar melihatnya kembali. Akhirnya ia memaksakan dirinya pada ruangan Halusinasinya. Miyuki selalu menganggap hal itu hanyalah penyakit pada imajinasinya, namun salah. Penyakit itu tidak berasal dari Imajinasinya melainkan sindrom pafa halusinasinya. Arnius yang telah dekat dengannya (cerita ini akan dijelaskan di season kedua) hanya bisa memegang tangannya, dan berada disamping Miyuki selama koma. Arnius selalu berkata-kata ataupun berteriak memanggil Miyuki,agar bangun dari komanya. Ternyata panggilan itu memasuki dunia Miyuki. Miyuki membuat dunia yang seolah nyata baginya dari hasil penyakitnya. Miyuki telah mengetahui Hideaou, namun agar telihat nyata, ia berpura-pura tidak mengenalnya. Miyuki berpura-pura, agar tidak terlihat aneh pada dunianya. Ternyata jaringan Arnius lebih kuat hingga bisa menyadarkan Miyuki. Janji untuk tidak bercinta antara Miyuki dan Hideakou, agar tidak menimbulkan hal buruk. Semua itu dilakukan hanya untuk dapat melihat Hideakou. Orang-orang memang tidak bisa melihat Hideakou karena sesuatu yang telah tiada tetaplah tiada. Arnius bisa melihat Hideakou karena Arnius memiliki ikatan kuat dengan Miyuki atau janji (Cerita ini akan dijelaskaan di cerita kedua). Hideakou terkadang berpura-pura berbicara dengan seseorang yang sebenarnya orang tidak melihatnya, agar terlihat natural oleh Miyuki.


Maafkan saya, jika masih sukit dipahami. Berikan saja pertanyaan di komentar saya, saya akan berusaha menjawabnya. Saya terpaksa memperpendek season pertama dikarenakan terlihat seperti cerita yang tidak ada awal, sebab, akibat, dan konflik juga penyelesaian. Saya mohon komentar, kritik, dan lain sebagainya*.