
Arnius terdiam di tempatnya sembari memegang topi yang sebelumnya terjatuh. Sedangkan Kou mulai turun dari Kuda dengan raut wajah kesal.
"Berikan itu padaku?. Bagaimana bisa kau berada disini?." Ujar Kou.
"Kenapa kau bersikap seperti itu?. Dia temanku?. Kalau masalah dia bisa disini, aku juga tidak tahu." Ujarku.
"Pulang!. Kenapa kau tidak pulang?." Ujar Arnius.
Aku mulai tidak mengerti maksud Arnius. Aku juga tida sadar, apa yang membuat Kou menunjukkan wajah kesal. Arnius mulai mendekati kami.
"Topi ini dikenakan oleh Miyuki, jadi aku akan mengembalikannya." Ujar Arnius.
"Aku yang memilikinya!." Ujar Kou dengan raut wajah sombong.
"Semua yang kalian bicarakan tidak ada gunanya. Seharusnya kalian saling menjabat tangan." Ujarku dengan raut wajah panik.
Arnius melangkah, termasuk Kou. Kou berpikir Arnius akan berhenti dihapannya. Namun ternyata Arnius melewati wujud Arnius. Kemudian Arnius mengenakan topi itu padaku. Aku langsung terkejut, dan terdiam karena terkejut. Arnius tiba-tiba saja menarik tanganku dengan lembut untuk menurunkan aku dari kuda.
"Aku akan menunggumu?." Ujar Arnius.
"Apa maksudnya itu?." Ujarku.
"Jangan bergerak dari sana Miyuki!." Ujar Kou.
"Pulang, dan teruslah memegang tanganku!." Ujar Arnius.
"Apa yang kau bicarakan?. Aku tidak mengerti Arnius." Ujarku dengan raut wajah bingung.
Tepat saja kakiku mulai menyentuh tanah. Tiba-tiba saja aku sama sekali tidak merasakan tanah. Bulu di bagian tubuhku seperti berdiri dengan bergetar. Mataku menatap tajam dengn raut wajah panik. Kali ini aku masuk ke ruang imajinasiku dengan dua lokasi yang berbeda.
"Aaaaaaa." Teriakku.
"Miyuki!." Teriak Kou dan Arnius bersamaan.
Ternyata lubang yang hadir dari dari imajinasiku itu adalah perubahan. Perbubahan itu bukan untuk kembali ke dunia asliku. Percikkan warna-warni mulai datang. Kupu-kupu bersinar mulai menyinari lubang itu.
"Aaaaaa." Teriakku.
Tiba-tiba saja Kupu-kupu itu berwarna gelap. Percikkan warna itu juga berubah menjadi warna gelap. Aku terjatuh tanpa merasakan rasa sakit. Aku merasakan, jika aku jatuh seperti jatuh dari kasurku atau lenih tepatnya seperti terbangun dari Mimpi. Aku merasakan tanah kasar, hawa yang panas, dan langit senja. Burung Gagak berterbangan tidak tentu arah.
"Apa yang terjadi pada imajinasiku?. Aku akan kembali kan. Aku harus kembali. Bagaimana ini?." Ujarku.
Aku mulai membersihkan beberapa dedaunan kering yang berada di sekitar tubuhku. Aku mulai bangkit. Terlihatlah dedaunan kering berserakan di sepanjang jalan. Aku mulai berteriak memanggil kedua pria yang sebelumnya telah bertemu denganku.
"Arnius Kun!." Teriakku.
"Kou kun!." Teriakku.
Burung Gagak itu semakin mendekat membentuk barisan tidak sejejar. Aku hanya melihat Pantai yang cukup tenang. Namun sekitarnya hanya rerumputan panjang yang kering.
"Pantai itu kelihatan suram sekali!. Dimana ini?. Apakah ini dari hasil keiinginanku?. Aku harus kembali." Ujarku.
"Kou Kun!." Teriakku.
"Arnius Kun!." Teriakku.
Burung Gagak itu terlihat semakin aneh. Tiba-tiba saja mereka mendekatiku, atau lebih tepatnya mengejarku. Aku terkejut, dan hanya bisa lari. Namun mereka sempat melukaiku dengan paruh mereka.
"Akhhh, sakit!." Ujarku.
Goresan luka mulai mengenai wajah dan lenganku. Aku terus berlari, tapi mereka terus mengikutiku.
"Apa salahku?. Pergilah!. Kenapa kalian melukaiku." Teriakku.
Aku mulai mendapatkan salah satu cara yaitu memasuki pantai itu. Lebih tepatnya menaha nafa di dalam air. Aku pun langsung berlari semakin kencang, luka-luka yang berasal dari Burung Gagak itu semakin banyak.
"Akhh sakit!." Ujarku.
Aku pun mulai memasuki diriku ke dalam ke dalam Pantai yang tenang itu. Tepat saja aku menyentuh air, tiba-tiba saja aku tidak dapat menyentuh permukaannya. Padahak aku belum melangkah jauh dari bibir Pantai.
"Aaaaaaa!, apa-apaan ini?." Teriakku.
Aku seperti memasuki ruangan imajinasi lain. Tiba-tiba saja dari dalam Pulau ada tumbuhan panjang. Kakiku di tarik dari dalam oleh tumbuhan itu.
"Deg!."
"Deg!."
Aku mulai sadar, jika aku tidak boleh percaya oleh imajinasiku sendiri.
"Ini tidak nyata!. Diriku yang disana, bukalah pikiranmu!." Gumamku.
Aku semakin sadar, dan terus sadar. Aku pun langsung menoleh ke arah tumbuhan itu. Aku hanya memikirkan, jika semua yang dihadapanku tidaklah nyata. Seketika tumbuhan itu melepaskan bagiannya dari bagian kakiku.
"Ah ya. Terlepas!." Gumamku.
Aku mulai membawa diriku ke atas permukaan. Tiba-tiba saja yang terlihat olehku adalah Hutan. Seketika Pantai telah berubah menjadi genangan air. Rasanya aku seperti keluar dari genangan itu.
"Ah, akhirnya." Ujarku.
Tiba-tiba saja aku melihat dari hadapanku beberapa serigala. Aku langsung panik. Mataku menatap dengan berdetar pada mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada imajinasiku?. Aku mohon kembalikan aku." Ujarku.
Mereka mulai mendekatiku. Ternyata aku benar-benar digigit oleh mereka.
Rasa sakit yang begitu nyata terasa.
"Aaaaaa." Teriakku.
Aku mencoba berpikir sebelumnya. Aku harus sadar, jika itu hanyalah Imajinasi.
"Ini tidak nyata!, aku tidak boleh!." Gumamku.
Aku mulai menenangkan pikiranku sembari memejamkan mataku.
"Aaaaa." Teriakku
"Ini tidak nyata. Ini tidak nyata. Ini tidak nyata. Ini tidak nyata." Gumamku.
Seketika rasa sakit mulai menghilang dari sekujur tubuhku. Gigitan mereka seakan tidak terasa bagiku. Aku mulai membuka mataku. Aku melihat Hideakou telah memegang bahuku, dan Arnius berada di sampingnya. Aku telah kembali ke dunia nyataku.
"Miyuki Chan!. Apa kau sudah sadar?. Aku bersyukur." Ujar Hideakou dengan lembut.
"Miyuki. Kau telah kembali." Ujar Arnius.
Seketika nafasku tidak berhenti karuan. Aku hanya bisa menatap mereka bingung. Tangan Hideakou yang sebelumnya berada di bahku mulai turun dengan lembut.
"Huuhhh, haaah, huhhh, haaa, huhh, haaa." Suara nafasku.
Aku mulai sadar, jika seharusnya Hideakou tidak berada disini. Aku pun dengan cepat menenangkan diriku.
"Hideakou, bagaimana bisa kau berada disini?." Ujarku.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan kalian. Lalu mengapa kau bersama dengan pria ini?." Ujar Hideakou.
"Dia hanya, hanya, entahlah aku juga tidak tahu. Apakah aku pantas menyebutnya teman." Ujarku.
"Ya ampun Miyuki. Mengapa kau masih menganggapku orang lain?. Aku tidak mengerti bagaimana pikiranmu bekerja. Aku akan berusaha menjadi temanmu." Ujar Arnius lembut.
Pikiranku seketika terasa seperti dipenuhi berbagai pertanyaan. Aku mulai merasa tubuhku semakin bergetar. Akhirnya aku sadar, jika Arnius tidak berkata seperti itu sebelumnya.
"Tidak!, kau berkata pada dirimu sendiri kau akan mencari arti teman. Sedangkan kau mengatakan padaku 'mengapa kau harus mencari arti teman, jika bisa lebih dari itu' Aku sangat jelas mendengarnya. Aku juga saat itu tidak mengerti maksudmu." Ujarku dengan raut wajah bingung.
Seketika suasana semakin tegang. Arnius tiba-tiba saja mendekatiku. Ternyata Arnius ingin memelukku. Ia memelukku dengan erat. Aku pun hanya bisa memberikan raut wajah bingung. Aku harus sadar, jika Arnius sendiri harusnya mengerti.
"Arnius!, apa ini Arnius asli?." Ujarku.
Seketika Hideakou hanya terdiam melihat kami. Tiba-tiba saja bibirnya Arnius mendekati Daun Telingaku.
"Tidak!, tentu saja ini imajinasimu!." Ujarnya.
Seketika aku menolak tubuhnya dari tubuhku. Aku menatapnya dengan kesal. Seketika angin berhembus kencang, tatapannya hilang. Tubuh mereka berdua mulai menghilang.