
Mataku langsung menatap ke satu arah setelah bisikkan dari Kirei yaitu Hideakou. Aku langsung menoleh ke arah berlawanan cepat, dan memundurkan tubuhku, agar berjarak kembali.
"Ahh, Kirei kau ini aneh-aneh saja!." Ujarku dengan wajah tegas.
Sesaat akan hal itu, semua anggota lain langsung melirik kami termasuk Papa Kirei yang masih memberikan raut wajah yang sulit aku mengerti.
"Kalian kalau rahasia bagi tahu pada kami juga." Ujar Eiji.
Serontak yang lainnya hanya tersentum tipis. Namun semua itu hilang sekejap sesaat Chieko mengatakan sesuatu yang membuatku melirik ke arah Eiji.
"Wah, sepertinya di kelompok kita ini, Eiji dan Miyuki dimabuk asmara!." Ujar Chieko dengan santai.
Setelah mendengar ucapan Chieko, aku pun langsung menoleh ke arah Eiji. Tentu saja Eiji membalas tatapanku. Aku langsung menggelengkan kepalaku berkali-kali, dan tanganku ke arah yang terus mengarah berlawanan.
"Hah!, tentu saja tidak!." Ujarku dengan wajah kesal.
"Ya, Kenapa kau berkata seperti itu?." Ujar Eiji.
"Kalian yang hanya saling merona di antara kelompok ini." Ujar Chieko.
"Sepertinya aku setuju. Eiji juga selalu melirik Miyuki." Ujar Izumi.
"Kaloan tidak boleh seperti itu. Perasaan itu hanya mereka yang saling mengetahui." Ujar Mitsuko
Aku tidak menyadari, jika setelah mendegar perkataan Chieko, aku langsung menoleh ke arah Hideakou. Entah mengapa Hideakou tersenyum sangat indah, dan alisnya yang sedikit diangkat berkali-kali. Tiba-tiba saja Hideakou mengangatkan jempolnya ke arahku. Dia seperti menganggap hal itu bagus untukku.
"Apa maksudnya itu?." Gumamku.
Sesaat aku ingin kembali menoleh kepada Eiji untuk mengatakan hal sejujurnya. Aku mulai merasakan bahwa ada perasaan kecewa yang tersembunyi oleh senyuman milik Kirei. Aku tidak tahu mengapa, dia terlihat sangat kecewa, dan sedih.
"Hei Kirei!, mengapa kau tiba-tiba terlihat sedih?. Kau membuatku mulai memikirkanmu Kirei." Ujarku dengan nada gelisah.
"Oh tidak!, Aku sangat bahagia mendengar kabarmu dekat dengan Eiji." Ujar Kirei dengan santai.
"Astaga, aku sama sekali tidak berhubungan apa-apa dengannya!." Ujarku dengan tegas.
Aku pun langsung mengatakan pada Eiji tentang perasaanku padanya.
"Hei, Eiji!, kalian juga!. Aku benar-benar tidak memiliki perasaan seperti itu sedikit pun. Aku mohon, jangan pernah mengatakan hal yang seharusnya tidak ada!." Ujarrku dengan nada tegas.
Setelah mengatakan hal itu, wajah Eiji dan Kirei terlihat persis dipandanganku, jika mereka berdua saling memberikan wajah kecewa yang tersembunyi di balik senyuman mereka.
"Aduhh, sebenarnya apa sih permasalahan ini." Gumamku dengan wajah gelisah.
"Wah, jadi ceritanya ini, Eiji ditolak Miyuki atau Miyuki ditolak Eiji." Ujar Chieko
"Sudahlah Chieko, tidak baik mengatakan hal seperti itu." Ujar Mitsuko.
"Sepertinya kita sebaiknya membahas hal lain saja." Ujarku.
Akhirnya beberapa jam telah berlalu, kami pun memutuskan untuk pulang. Terlihatlah langit yang mulai gelap. Aku bisa mendengar suara kicauan Burung Gagak mulai bertebangan.
"Oh ya, Mitsuko!, kita bareng lagi. Ayolah berangkat!, sebentar lagi matahari akan tenggelam. Oh ya Izumi!, Chieko!, kita satu arah sepertinya. Sebaiknya kita pulang bersama saja." Ujar Eiji dengan tegas.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya kami telah berada di halaman rumah Kirei. Aku tidak tahu mengapa Eiji terlihat sangat bergegas.
"Oh ya, kami duluan ya. Terima kasih semuanya." Ujar Izumi.
"Ya, tidak apa-apa." Ujar Kirei.
Terlihatlah mereka yang mulai menjauh dari rumah Kirei. Aku mulai sadar, jika yang tersisa antara aku, dan Hideakku.
"Oh ya. Aku sangat berterima kasih sekali, jika kau telah memberikan Gitar ini padaku, Kirei!. Aku akan menjaganya selalu." Ujarku dengan tersenyum.
"Sudahlah!, kau tidak harus memikirkan hal itu untukku. Sebaiknya kau bergegas pulang, sebentar lagi langit akan gelap. Aku masuk rumah dulu ya." Ujar Kirei dengan santai.
"Hmm, ya sudahlah." Ujarku.
Aku mulai sadar, jika Kirei mulai bergegas untuk memasuki rumahnya.
"Ahhh, sebaiknya Kirei mengatakan padaku, jika aku melakukan hal yang telah menyakiti perasaanya." Gumamku dengan wajah gelisah.
Mataku seketika langsung melirik ke arah seorang pria di sampingku. Pria itu tidak lain adalah Hideakou.
"Huhh, kau lagi Hideakou.. Kenapa juga harus pulang bersamamu." Ujarku dengan wajah kecewa.
"Sudahlah!, aku juga tidak ingin. Ini semua karena kita satu arah. Terima sajalah. Seharusnya kau bersyukur memiliki teman yang masih mau menemanimu." Ujarnya dengan santai.
"Apa aku harus memiliki teman sepertimu?, sepertinya tidak." Ujarku.
"Terserahmu. Aku tidak peduli kau menganggapku seperti apa." Ujarnya tersenyum.
Aku mulai tidak sadar, jika Hideakou menghelus bagian atas rambutku.
"Apa yang kau inginkan?. Jangan pernah menyentuh rambutku lagi!." Ujarku
"Huhh, aku tidak mengerti apa maksudnya!. Dasar pria aneh. Aku tidam akan jadi bahan permainanmu." Gumamku dengan wajah kesal.
"Sudahlah!, sebaiknya kita bergegas pulang." Ujarnya.
Kami mulai melanjuti langkah kami. Aku mulai tidam sadar, jika langit telah berwarna abu-abu pucat. Tiba-tiba saja langkahku terhentikan setelah setetes air hujan mengenai bagian atas lenganku.
"Apakah hujan?." Ujarku.
Aku langsung melirik ke atas langit. Tiba-tiba pandanganku buram. Langit yang sebelumnya sudah terlihat gelap telah berubah menjadi berwarna putih seperti salju. Angin yang lembut melewati kulitku membuatku bergairah. Akhirnya perubahan itu selesai. Ternyata aku berada di hamparan salju.
"Tasss!." Suara sesuatu yang telah mengenai tubuhku.
Aku pun langsung melirik kearah seseorang yang telah melempar sesuatu ke arahku. dan benar saja, aku telah berada di dalam ruang imajinasiku. Ternyata seseorang itu adalah Kou.
"Hei Kou!, apa yang kau lakukan?." Teriakku.
Benar saja, aku telah telah terhasut oleh pandangaku yang berada di dunia palsuku. Aku juga tidak memikirkan dampak yang terjadi di dunia asliku.
"Wah, ternyata kau yang melemparku." Ujarku dengan tersenyum.
Aku mulai tidak sadar, jika aku telah membuat satu gumpalan salju. Aku pun mengarahkannya ke arah Kou, dan melemparnya.
"Taasss." Suara salju yang mengenai Kou.
"Jangan!." Teriak Kou.
Aku berpikir, jika Kou tidak suka lemparan saljuku. Aku memberhentikan lemparanku setelah melihatnya sedikit kecewa. Ternyata setelah aku melangkah untuk mendekatinya, tiba-tiba saja Kou kembali melemparku.
"Taasssss!." Suara salju yang mengenaiku.
"Benar-benar dia menantangku untuk melawannya." Gumamku.
Akhirnya kami benar-benar saling mengejar hanya untuk melempar gumpalan salju. Aku mulai tidak sadar, jika kakiku terus melangkah dengan semangat. Perasaanku saat itu tidak dapat aku jinakkan. Suasana yang nyaman membuatku terlelap di ruang imajinasiku. Salju yang lembut terus mengenaiku.
"Kou, jangan berlari!." Teriakku
"Tasss." Suara salju mengenai Kou.
"Tass." Suara salju mengenaiku.
Angin yang riuh membuat suasana semakin terasa sedang bersenandung. Pakaianku yang telah berubah sebelumnya tidak membuatku terasa dingin karuan. Aku kembali mengejarnya dengan senyuman, dan tawa yang segar. Aku mulai tidak sadar, jika aku terus berteriak saat mengejar Kou.
"Tasss, tasss, tass." Salju yang terus mengenaiku.
"Kau ini lemah sekali. Kau ketinggalan jauh dariku, Miyuki!." Ujarnya dengan tersenyum.
"Kou!, kau dari tadi mengenaiku." Ujarku dengan wajah kecewa.
"Seharusnya Kau lebih cepat mengejarku." Ujar kou dengan berteriak
Untaian teriakkan terus mengundangku semakin memasuki ruangan imajinasiku. Aku mulai merasa seperti kembali ke masa kecilku.
"Apa aku seperti anak kecil?." Gumamku.
Aku hanya bisa mengikuti pikiranku yang sedang nyaman. Dan reaksi tubuhku yang terus bersemangat.
"Kou!, kali ini sungguh menyenangkan." Teriakku.
"Ya, aku tahu itu!." Teriak Kou
"Tass, tass, tass." Suara salju yang terus mengenaiku.
Akhirnya akulah yang menyerah. Aku mulai menjatuhkan tubuhku di atas selimut yang lembut dan dingin.
"Ahh, lelah juga ya." Ujarku lembut.
Kou yang melihatku telah terbaring di atas hamparan salju telas membuatnya berjalan santai kearahku. Kou mulai mengikutiku untuk juga terbaring. Tubuhnya mulai nyaman di atas hamparan salju itu.
"Wahh, senangnya salju datang lagi!. Ternyata aku rindu dengan salju." Ujarku.
Kou pun ternyata telah terbaring di sampingku, namun aku tidak menghiraukannya. Aku terus asik dengan salju yang berada di bawah tubuhku.
"Miyuki, apakah kau senang seperti ini?." Ujarnya.
Mendengar suaranya langsung membuatku menoleh kearahnya secara perlahan. Aku tidak tahu mengapa raut wajahnya terlihat gelisah.
"Kenapa rupanya?." Ujarku.
Aku tidak sadar, jika aku mulai mengikuti raut wajahnya. Tiba-tiba saja terlintas di pikiranku tentang Gitar yang telah diberikan padaku dari Kirei sebelumnya.
"Gitarnya!." Teriakku.