
Tentu saja, aku mengganti topik cerita. Aku menyuruh Arnius untuk menyanyikan lagu kembali untukku.
"Sudah sudah! Aku ingin kakak nyanyikan sebuah lagu untukku." Ujarku dengan tersenyum.
"Kau ini terus memintaku bernyanyi. Seharusnya kau juga harus bernyanyi." Ujar Arnius.
"Tentu saja tidak. Jika kakak ingin aku datang di acara kecil kakak, kakak harus tunjukkan suara kakak yang indah itu." Ujarku dengan tersenyum.
"Oh kau ini seperti mengincar suaraku saja." Ujarnya.
Kali ini Arnius tidak mengeluarkan gitarnya dari tasnya. Sebaliknya, Arnius mulai bernajak bangkit dari ayunan. Arnius berdiri dihadapanku dengan wajah fokus.
"Ini untukmu." Ujarnya.
Tiba-tiba saja Arnius mengedipkan salah satu matanya ke arahku. Seketika aku hanya bisa mengerutkan dahiku kembali.
"Apaan itu?," gumamku.
" So as long as I live I love you
Will haven and hold you
You look so beautiful in white
....," Nyanyiannya.
Aku sangat terkejut ketika Arnius bernyanyi sembari menatap fokus mataku. Jantungku berdebar dengan hanya menatap matanya. Ia terus tersenyum padaku. Rasanya tubuhku kaku pada tatapannya, seperti menelan ludahku sendiri. Bukan hanya sebuah nyanyian, Ia juga menggerakkan kedua tangannya dan kakinya dalam permainan musiknya.
"Kenapa jadi seperti ini?" Ujarku
Bunga Dandelion yang telah lepas dari tangkainya berterbangan kehadapan kami. Hal yang aneh adalah karena Dandelion itu sendiri tidak berasal dari lokasi itu.
"Apakah ini juga penyakitku?," gumamku.
"And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight....," Nyanyiannya.
Dandelion yang bertebangan lebih tepat menuju arahku. Arnius tetap melanjutkan nyanyiannya walau Ia tahu sikap aneh yang mulai aku tunjukkan.
Dandelion yang bertebangan seakan menutupi pandanganku.
"Oh tidak bisakah satu hari saja aku tenang?," gumamku.
Angin kemudia kencang, akhirnya Dandelion itu mulai terbang mengikuti angin. Namun tepat saja penglihatan mulai jelas. Aku melihat pakaianku yang berubah menjadi gaun berwarna putih.
"Apa?, apaan ini," gumamku.
Aku mulai menebak, jika hasil penyakitku itu berasal dari perasaanku. Kalau perasaanku buruk maka hal buruklah yang aku dapatkan, hal itu juga sebaliknya.
"Benarkah ini suasana yang baik?," gumamku.
Arnius yang merasa diacuhkan karena tidak dilihat olehku membuatku memberhentikan nyanyiannya.
"Sepertinya kau tidak mendengarkanku." Ujarnya.
Aku langsung kembali menuju wajahnya. Namun tepat saja aku menoleh ke arahnya, aku melihat pakaiannya yang tertutupi untaian benang berwarna putih. Bentuk rambutnya semakin rapi dengan pakaiannya yang telah ditata sedemikian mungkin. Lagi, dan lagi aku sudah seperti menelan ludahku.
"Astaga apa-apaan ini?," gumamku.
"Aku mendengarnya. Aku ingin kembali mendengarnya. Nyanyikan sekali lagi untukku!." Ujarku
"Tentu saja, jika itu untukmu." Ujarnya dengan tersenyum.
"Apa?." Ujarku dengan raut wajah bingung.
"Bukan apa-apa." Ujarnya dengan tersenyum
Aku langsung menggelengkan kepalaku berlawanan berkali-kali. Akhirnya penyakitku hilang sendiri selama aku bisa merasakan jantungku yang mulai tidak berdebar kencang lagi.
"Akhirnya! Begini saja lebih baik," gumamku.
" So as long as I live I love you
Will haven and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight....," Nyanyiannya.
Kali ini aku hanya berusaha fokus pada suaranya yang indah khas lelaki. Namun kefokusan itu mulai menghilang sesaat aku melihat mobil yang melewati jalan kecil itu.
"Kenapa mobil ini lewat disini?." Ujarku.
Arnius pun kembali memberhentikan nyanyiannya, dan menoleh ke arah mobil yang berada tidak jauh dari punggungnya.
"Yah mungkin dia tersesat. Bukankah jalan ini juga diperbolehlan bagi mobil selagi masih bisa?" Ujar Arnius.
"Ya sepertinya begitu." Ujarku.
Tiba-tiba saja jendela mobil utama bagi Sang Sopir mulai terbuka. Puntung rokok milik penggunanya mulai jatuh begitu saja.
"Dasar orang sampah!." Ujarku.
"Yah tidak tahu diri." Ujarnya
Namun ucapanku selanjutnya tertahan ketika melihat Ayahku berada di dalam Mobil yang seharusnya bukan miliknya.
"Apa?. Itu Ayahku. Itu bukan mobil miliknya. Bukan!." Ujarku.
"Ternyata itu ayahmu. Maafkan aku berkata kasar seperti tadi." Ujar Arnius.
"Itu sudah pantas untuknya." Ujarku.
Kakiku seakan spontans untuk bergerak ke depan mobil itu. Jantungku kembali berdebar. Namun debaran itu berasal dari ketakutanku melihat tingkah lakunya sebagai Pria yang sudah tidak cocok dengan perbuatan lelaki sampah.
"Apa dia sudah gila?. Apa dia tidak tahu diri. Aku yakin kali ini dia membawa wanita lain." Ujarku.
Aku telah tepat berada dihadapannya. Seketika aku dan ayahku berada di satu tatapan walau Ia masih menatapku di balik kaca depan mobilnya.
"Yuki?, apa yang dilakukannya disini. Bukankah ini jam waktu sekolahnya." Ujar Ayahku.
"Ada apa?. Apa kau mengenalnya." Ujar Wanita yang berada di dalam mobilnya.
"Tentu saja itu anakku." Ujar Ayahku.
Teriakanku mulai membuatnya kembali menatapku. Padahal aku tahu suaraku sendiri tidak terlalu terdengar dari dalam mobil itu.
"Ayah!. Ayah tidak tahu diri. Ingatlah ayah masih mempunyai anak!. Jadilah Pria yang berguna, dan jangan jadi Pria tua yang menjadi sampah sepanjang hidupnya." Teriakku.
"Apa dia berteriak tentangmu?." Ujar Sang Wanita.
"Sepertinya begitu." Ujarnya.
Hal yang paling membuatku terkejut, jika Ayahku seakan berpura-pura tidak mendengarku. Ia mulai mengacuhkanku dan menekan klakson mobil.
"Tittt, tittt." Suara klakson mobil.
"Apa?. Apa dia sudah gila?. Di rumah dia berlaku baik padaku, berbicara baik, dan mungkin saja dia menggedor pintuku demi berbicara padaku. Tapi apa-apaan sikap Pria sampahnya ini." Ujarku.
Ayahku mulai menggerakkan mobilnya ke depan secara perlahan. Suara klakson mobilnya lebih membuatku panik. Aku langsung saja berteriak menyebut-nyebut wanita yang berada di dalam mobilnya.
"Hei wanita mudah. Seharusnya kamu itu mencari yang waras. Ayahku hanya pria sampah!." Teriakku.
Ayahku kembali menggerakkan mobil. Suara Klaksonnya seakan merensponsku untuk menghindar dari mobilnya. Aku hanya bisa bergerak ke samping sembari merautkan wajah kesal padanya.
"Apa begini seorang ayah memperlakukan anaknya di luar rumah?." Ujarku.
Aku mulai berada di samping mobilnya dan tepat berada di samping jendelanya.
"Buka!, ayah buka jendelanya!." Teriakku.
Ternyata Ayahku membuka kaca mobilnya. Kali ini aku melihat Ia sedang merautkan wajah santai padaku. Belum saja aku berkata, ayahku telah cepat mengeluarkan suara dari balik bibirnya.
"Jangan campuri urusanku. Lagi pula ini waktu kerjaku. Mengapa kau berada di luar?. Bukankah ini waktu jam sekolah?. Kalau kau telah pulang ke rumah. Kau harus berbicara padaku!." Ujarnya.
Tepat saja aku melihat bagian dalam mobil. Jantungku berdebar kembali. Rasa sakit yang tidak jelas mulai merasukiku. Aku melihat sesuatu yang merupakan hasil penyakitku. Yaitu air yang memenuhi mobilnya, dan diisi berbagai hewan yang menggeliat. Tubuhku bergetar akan rasa jijikku melihatnya.
"Rasanya aku ingin muntah," gumamku.
Rasanya aku benar-benar menahan ludahku jatuh. Aku hanya bisa memberikan raut wajah antara kesal, takut, dan bingung. Tentu saja aku tidak dapat berbicara setelah mendengar ucapannya, dan melihat isi mobilnya. Ia langsung menggerakkan mobilnya sembari menutup kaca jendelanya.
"Apa?, jadi begini!." Ujarku.
Aku hanya bisa termenung melihat mobil yang ia kendarai semakin menjauh. Arnius pun melangkah ke arahku, dan memegang bahuku.
"Bersabarlah! Ini juga merupakan waktu kerja dan waktu sekolah. Mungkin saja Ia memang sedang berhadapan dengan kliennya. Aku juga baru sadar hal itu. Kenapa jam segini kau berada di luar?" Ujarnya.
"Akhh. Kakak sama saja. Kakak memang tidak bisa mengerti perasaanku." Ujarku dengan raut wajah kesal.
"Bukankah kau belum menceritakan sesuatu padaku?." Ujarnya.
"Aku sekarang keluar karena sakit,dan mendapatkan izin pulang. Seharusnya aku juga bertanya kembali pada Kakak!. Kenapa kakak mulai dari kemarin tidak berada di kampus?." Ujarku dengan raut wajah kesal.
Tiba-tiba saja Arnius menarikku. Lelaki yang baru saja aku temui dua hari itu tidak aku sangka telah berani menarikku. Aku hanya bisa memberikan raut wajah bingung padanya.