
Jusy semakin menjilati beberapa area tubuhku. Aku mengangkat anjing itu dan membawanya keluar dari kamarku. Bukan aku yang tidak ingin, terkadang jusy menggangguku di tiap malam.
"Jusy!, kau akan membangunkan aku lagi, jika disini terus!." Ujarku.
Aku mulai menurunkan kakiku menuju permukaan lantai. Tentu saja malam yang aku temukan itu masih belum terlalu menuju tengah malam.
"Sebaiknya aku memakan makanan malamku daripada begini terus." Ujarkus sembari mengangkat Jusy.
Tepat saja aku telah berada di depan sembari mengangkat Jusy, aku mendengar suara dari bagian bawah lantai.
"Apakah makanan buatanku enak?" Ujar wanita muda.
"Tentu saja seenak aku memandangmu." Ujar Ayahku.
"Apa-apan ini. Sejak kapan wanita ini diizinkan menginap di rumah ini!. Ayah belum saja menikahinya. Aku juga belum mengizinkannya." Ujarku.
Aku langsung turun sembari mengangkat Jusy hingga tepat di bawah yang merupakan tempatnya Jusy.
"Kau disini saja ya!." Ujarku.
Kakiku langsung spontans menuju suara berisik itu. Wanita yang belum saja aku kenal itu langsung menoleh ke arahku dengan wajah gelisah.
"Ada apa denganmu? Jangan melihatku seperti itu!." Ujarku
"Maafkan aku." Ujarnya.
Entah mengapa aku merasa seperti seseorang yang sangat benci dengannya. Walaupun aku tahu wanita itu juga tidak terlalu disebut wanita buruk.
"Apakah aku terlalu jahat berbicara begini?," gumamku.
Sungguh kemesraaan bodoh milik mereka tersaji di atas meja. Senyuman ayah terus ditunjukkan padanya tanpa sadar, jika aku telah berada di sekitar mereka. Tatapannya terus menghadap wanita muda itu dengan senyuman anehnya.
"Bisakah aku tidak melihat hal bodoh ayahku lagi?," gumamku.
Aku langsung menghadapt ke arah Ayahku. Suara mulai kembali keluar dari balik bibirku.
"Ayah?. Sejak kapan kau mengizinkan wanita ini disini? Bukankah ayah belum menanyakannya padaku? Aku tidak ingin Ayah mengsampingkan diriku atas wanita ini!." Ujarku dengan raut wajah kesal.
"Ayah akan menikahinya minggu ini. Ayah tidak ingin masalah kandungannya menjadi pembicaraan." Ujarnya.
Wanita muda itu langsung beranjak ke arahku. Dia telah tepat berada di sebelahku. Tangannya mulai mendekati rambutku, dan menghelus rambutku.
"Maafkan aku telah menyusahkanmu. Izinkan aku menikah dengannya. Kau bisa memanggilku apa saja setelah itu." Ujarnya dengan menghelus rambutku.
Aku yang merasakan tangannya di berada di atas kepalaku langsung menepisnya. Aku bisa jelas melihatĀ wajahnya sedikit kecewa.
"Jangan menyentuhku selama kau dan aku belum memiliki hubungan apapun." Ujarku.
"Kenapa Yuki sangat benci dengannya? Percayalah pada ayah, dia wanita yang baik." Ujar Ayahku.
"Kalian terus terang tanpa berbicara padaku tentang pernikahan kalian. Sejak ayah bertemu dengannya saja, ayah tidak pernah membuatku mengenalnya terlebih dahulu. Ayah hanya melakukannya secara diam-diam. Ini semua salah Ayah!." Ujarku.
Tepat dimana emosi tidak jelasku mulai terasa olehku, penyakitku hadir. Kali ini lebih buruk daripada sebelumnya. Aku merasakannya lebih besar dan sangat nyata bagiku.
"Oh tidak." Ujarku.
"Apakah kau sakit?" Ujar Wanita itu.
Aku melihat air menenggelamkan aku, air itu memenuhi setengah ketinggian rumah. Tentu saja aku sangat tidak bisa merasakan kenormalan. Rasanya aku semakin sesak, dan tidak bisa menghirup nafas.
"Astaga!, kau sangat pucat Yuki!. Kau sakit! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?." Ujar Ayahku dengan raut wajah bingung.
Saat itu aku benar-benar sangat ingin membalas ucapan ayahku, namun dengan mengeluarkan suara saja aku sangat sulit.
"Oh tidak!. Apakah ini tandanya aku harus mengatakan penyakitku?," gumamku.
Aku langsung melangkah, walaj aku tahu setiap langkahanku seperti sedang mengambang. Aku berlari mencari angin, angin yang bisa membuatku bernafas dengan legah.
"Aku sudah tidak tahan lagi! Mengapa ini sangat terasa nyata. Aku mohon Tuhan! Hilangkanlah penyakitku ini," gumamku.
Tanganku mulai mengepal menjadi satu berada di hadapan dadaku. Namun semua itu berkata lain ketika bagian luar rumahku juga seakan lautan. Dan aku berada di dalamnya.
"Astaga aku sudah tidak tahan lagi!," gumamku.
Ayahku dan wanita itu langsung bergegas mengikuti langkahanku dengan raut wajah antara panik dan bingung. Kulit di bagian wajahku sudah sangat terlihat oucat dihadapan mereka.
"Kau benar-benar sakit Yuki anakku!. Istirahatlah, berikan tanganmu padaku." Ujar Ayahku.
Tentu saja aku tidak bisa menahan lebih lama. Aku menoleh ke arah mereka dengan raut wajah kecewa. Akhirnya aku benar-benar pingsan tepat berada di teras.
"Aku tidak tahan lagi," gumamku.
Mereka langsung berlari ke arahku. Tepat sebelum aku benar-benar jatuh, mereka mendapatkan bagian tanganku. Mereka langsung menahannya. Ayahku melepaskan tangannya wanita itu, agar ayahku bisa memopong dengan cepat ke bagian kamarku.
Ayahku hanya melarikanku ke kamarku, dan membiarkanku terbaring di atas kasur milikku.
"Maafkan ayah nak! Ayah terlalu jarang untuk menanyakan tentangmu." Ujar Ayahku.
Entah beberapa lama, aku benar-benar sudah merasakan pergantian udara yang masuk dari pernapasanku. Air hangat terus dibiarkan masuk ke dalam tenggorokanku. Salah satu tangan ayahku menahan tengkuk leherku.
"Hukk, hukk." Suara batuk.
"Akhirnya terbangun juga." Ujar Ayahku.
Cahaya lampu mulai tepat berada di hadapanku. Silauannya mengalahkan matahari di pagi hari. Tentu saja karena aku telah kembali terbangun.
"Ternyata aku benar-benar tidak bisa menahan lebih lama lagi," gumamku.
Wanita itu sekarang tepat berada di sampingku,dan telah berada di kasurku. Entah apa yang dipikirkannya hingga Ia sendiri terus-terusan menghelus rambutku.
"Rasanya aku seperti kembali jadi anak kecil. Apa dia tidak bisa mengganggapku seperti ini?," gumamku.
"Kalau misalnya aku menjadi mamamu yang kedua. Bolehkah aku selalu melakukan ini?," gumamku.
Ayahku hanya membiaskan senyumannya. Aku hanya bisa mengerutkan dahiku tanpa memberikan emosi.
"Kenapa kau ingin menghelusku? Lakukan saja pada Jusy yang dibawah sana" gumamku.
"Bukan apa-apa. Rasanya melihatmu terus memberikan raut wajah seperti ini sangat menggemaskan." Ujarnya.
Kali ini rasanya aku benar-benar dilanda kebingungan. Entah apa yang dia maksud, aku benar-benar tidak menyukai perkataannya.
"Sungguh rasanya muak sekali mendengar hal menjijikkan ini. Terserah dia. Aku mohon cepatlah kedua orang ini pergi dari kamarku," gumamku.
"Istirahatlah!. Ini sudah hampir tengah malam. Apa kau ingin ditemani olehnya?" Ujar Ayahku.
Mendengar ucapannya, ayahku benar-benar tidak bisa mengerti perasaanku. Ia tidak benar-benar menanyakan kondisiku. Aku hanya ingin ayahku sendiri yang mengetahui penyakitku.
"Tidak perlu. Aku ingin sendiri. Aku sudah sangat merasa lebih baik. Aku hanya kelelahan. Sudahlah aku ingin sendiria. Sebentar lagi aku akan kuliah, ayah jangab menganggapku anak kecil." Ujarku.
"Tentu saja sayang! Jadi benarkah tadi pagi itu kau bolos?. Kalau kau izin, bukankah harusnya pulang? Sudahlah ayah tidak ingin menanyakan ini. Aku percaya pada anakku saja." Ujar Ayahku.
Aku hanya bisa tercengang dalam satu tatapan ketika ayahku ternyata masih mengingatnya. Aku sama sekali tidak bisa berkutik kembali selain menunggunya untuk pergi.
"Ya semoga kau lebih sehat lagi untuk besokmu." Ujar Wanita itu.
Mereka pun beranjak dari kamarku. Wanita itu tiba-tiba saja spontans kembali menghusap rambutku, dan kemudian pergi.
"Selamat malam!." Ujarnya.
Lagi dan lagi aku dibuat tercengang dengan perlakuan wanita yang selalu berbuat spontans itu.
"Astaga, sepertinya dia benar-benar mencoba mendakatiku," gumamku.
Entah apa yang aku rasakan, saat itu aku benar-benar ingin menanyakan nama wanita itu.
"Tunggu!. Nama?." Ujarku dengan raut wajah kesal.
"Hana panggil aku Hana. Senang rasanya setelah kau menanyakannya." Ujarnya.
Akhirnya mereka benar-benar telah keluar dari kamarku. Tentu saja aku berpura-pura memberikan raut wajah kesal padanya.
Perkenalan kedua
Ayahnya bernama Sooka furuka
Seorang Pengacara dikenal dengan keaktifannya dalam dunia hukumnya. Sooka menikah dengan Istri pertamanya saat 19 Tahun lalu. Lebih tepatnya tahun 2000. Istrinya meninggal saat Miyuki Furuka mulai memasuki Sekolah Menengah Akhirnya. Ia memiliki sikap yang terlalu egois, dan terkadang masih mementingkan dirinya sendiri. Terkadang juga Sooka sangat lembut, murah hati, dan mudah menyesuaikan suasana. Hanya saja kesalahannya Ia belum mengerti dengan anaknya sendiri yaituMiyuki.
Hana Tanaka merupakan rekan kerja jauh dari Sooka. Mereka dipertemukan di satu acara hingga akhirnya mulai membuka hati. Tentu saja Sooka membuka hatinya setelah melihat sikapnya dengan Hana.
Haruka Yamaguchi. Seorang gadis yang memiliki umur yang setara dengan Miyuki. Haruka memang memiliki hubungan dengan Hideakou.(Namun hubungan apa itu akan dijelaskan di cerita). Sifanya juga sedikit Egois, Ia rela menyakiti seseorang demi mendapatkan apa yang seharusnya Ia dapatkan. Namun hubungan pertemanan dengan Kirei menjadi konflik (akan dijelaskan di ceritanya). Mereka satu sekolah sangat.
Sekelompok gadis ini memiliki hubungan dengan Kirei (semua itu akan terungkap di cerita mendatang). Mereka memang memiliki cara sendiri. Yaitu dengan cara kasar, dan spontans mereka. Semua itu tidak lain karena mereka hampir memiliki sikap yang sama yaitu Egois tanpa memikirkan apa dampak yang akan terkena oleh orang lain.
Penyakit pada Miyuki memang terkadang terjadi dari hasil tekanan emosinya. Miyuki sebenarnya tidak bermaksud jahat pada Hana yang merupakan calon istri ayahnya. Miyuku hanya ingin dia bisa disayangin oleh ayahnya sebelum menyayangi seseorang terlebih dahulu.