To Love

To Love
Arnius



Akhirnya perjalanan kami pun tiba di sebuah Plaza yang populer di Tokyo. Kirei langsung menarik tanganku, juga yang lainnya. Aku pun berusaha untuk mengerti sikap mereka, dan tindakan mereka. Aku pun hanya bisa mengikuti mereka.


"Sebaiknya belanja baju dulu!." Ujar Izumi.


Aku yang tidak berniat membeli sesuatu hanya bisa melirik, dan menyentuh beberapa pakaian karena masalah keuangan yang kritis tanpa menghiraukan pelayan yang akan datang untuk mempromosikan.


"Huhh, apa sebaiknya aku membeli saja?." Gumamku.


Aku mulai sadar, jika suara mereka sangat membuatku terusik karena kesibukan mereka yang terus memilih pakaian.


" Yang ini!." Ujar Kirei.


"Tidak!, ini lebih cantik.'' Ujar Izumi


"Akhh, kalian ini berisik sekali, keduanya saja!. Apa susah sekali?." Ujar Chieko dengan tegas.


Aku pun hanya bisa melirik mereka, namun suasana kacau dari mereka terhenti saat seorang menyenggol sikutku. Aku pun mulai tersentak, dan langsung menoleh kearah pria tersebut. Namun betapa tidak aku sangka, jika Ia bukan hanya pria biasa dengan wujud manusia. Dia seperti Arnius yang aku lihat kemarin malam. Wujudnya juga sama seperti yang terakhir aku lihat, yaitu asap yang membentuk tubuh manusia, dan dikelilingi pasir tipis yang menutupi setiap tepi wujudnya.


"Hei, anda yang disana!,'' Ujarku lembut.


Pria itupun langsung memberhentikan langkahnya, dan menoleh kearahku. Suranya pun keluar dari balik wajah tanpa rupa itu. Sungguh saat itu aku ingin sekali mengetahui reaksi wajahnya. Aku hanya bisa melihat kedua bola matanya. Terkadang aku sempat berpikir Arnius itu sudah seperti sosok arwah, ternyata tidak. Saat itu pun aku berpikir, jika Arnius dengan sosoknya adalah salah satu penyebab dari imajinasiku.


"Maaf, apakah anda mengenal saya?." Ujarnya sopan.


Tentu saja aku tidak bisa memberi alasan. Aku masih bingung mengapa penyakitku ini semakin tidak aku mengerti. Aku bisa merasakan perasaanku saat ini yang sangat ingin melihat rupa di wajahnya.


"Ohh, tidak. Maafkan saya!. Anda hanya mirip dengan seseorang bernama Arnius." Ujarku dengan menunduk.


Aku pun terpaksa berpura-pura memberikan alasan, namun ternyata sosok yang berada di hadapanku semakin mendekat. Trnyata alasanku sebelumnya semakin membuat situasi semakin buruk.


"Hei, tentu saja itu namaku!. Bagaimana bisa ada kedua orang yang mirip, dan juga mempunyai nama yang sama?." Ujarnya.


Aku yakin sekali pria itu pasti sedang memberikan wajah kesal di balik sosoknya. Tanganku pun langsung bergetar, juga langsung mengepal akan kebingunganku dengan apa yang akan aku jawab.


"Pasti ada.." Ujarku dengan suara pelan.


Pria itu dengan santai memegang kedua bahuku. Ia mulai engeluarkan suara yang sangat tegas, dan tidak memakai sikap sopan seperti sebelumnya.


"Mana ada yang begituan!. Kau menguntitku ya, atau jangan-jangan kau satu Kampus denganku, lalu menguntitku!. Rasanya wajahmu juga seperti pernah terlihat olehku." Ujarnya tegas.


Wujudnya yang sangat dekat denganku membuatku takut. Aku mulai sedikit merinding, karena sosoknya yang sangat gelap. Namun karena reaksinya yang tidak patut dilakukan di depan umun mulai membuatku risih, dan menegurnya.


"Seharusnya anda tahu ini dimana. Lepaskan tangan anda dari bahuku. lagi pula siapa juga yang akan menguntit anda, jika pun satu Kampus." Ujarku dengan tegas.


Suaraku yang besar seakan mengajak temanku yang telah selesai memimilih pakaian mulai untuk menemui kami. Arnius pun langsung melepaskan tangannya, dan memberikan jarak normal kembali.


"Kakak seharusnya lebih sopan ya!. Lagi pula kakak, kenapa berada di toko wanita?. Apa kakak mau membelikan pacar kakak ya?." Ujar Chieko dengan lembut.


Sebelumnya aku berpikir, jika aku telah tidak waras karena berbicara dengan sosok yang tidak ada, ternyata tidak. Namun mengapa Chieko memanggil kakak terhadapnya. Temanku yang lain juga langsung menarikku dari tempat itu tanpa membiarkan Arnius menjawab pernyataan Chieko.


"Kak maafkan teman saya ya kak!." Ujar Izumi dengan tersenyum.


Aku dan temanku pun langsung meninggalkan kejadian. Kami pun berhenti tidak jauh dari tempat itu.


Mereka pun merapatkan tubuh mereka kepadaku. Dan Kirei kembali menggertakku dengan sikutnya. Aku pun hanya bisa membalas sikap Kirei dengan meliriknya


"Kau tahu dengan siapa kau berbicara taadi?" Tanya Kirei tegas.


Aku pun hanya bisa menggelengkan kepalaku kearah berlawan, dan terus memberikan rupa wajah yang bingung.


"Tentu saja dia kakak di Kampus kita. Dia itu udah semester ke-empat. Dia juga anggota Band terkenal di Kampus." Gumamnya.


Walaupun begitu aku tidak ingin memberikan sikap panik, dan merendahkan diriku. aku pun kembali berpura-pura seakan itu hanyalah hal sepele.


"Aku tidak terlalu peduli hal itu. Mau siapa dia, mau dian anak orang pemilik perusahaan sekali pun, jika tidak ada sopan santunnya seperti tadi, aku tidak akan takut." Ujarku tegas.


Tentu saja aku sangat malu saat situasi tanya-jawab dengan Arnius, karena sebenarnya akulah yang salah telah memulai. Aku hanya bisa menutupi segala hal tadi dengan sikapku yang tinggi hati. Serentak mereka pun menatapku, namun kali ini mereka memberikan wajah pasrah.


"Terserahmu.." Ujar Chieko.


Seiring waktu berjalan, dan menikmati berbagai kenangan bersama mereka. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang.


"Akhirnya kita pulang juga ya ." Ujar Izumi santai


"Huh..., sayangnya ada yang tidak menikmati hal ini ya, siapa lagi kalau bukan Miyuki." Ujar Kirei sembari melirikku.


Aku hanya membalas wajah mereka dengan sikap acuhku, dan kembali melangkah. Aku juga membuat mereka mengikuti langkahku, hingga akhirnya kami pun telah berada di depan Stasiun sebagai pembubaran dari pertemuan kami.


"Aku akan naik Kereta Api jalur pertama, jadi tenang saja. Oh ya, Izumi kita juga satu jalur bukan?." Ujar Chieko santai.


Izumi pun membalasnya dengan senyuman, dan anggukan pada Chieko, namun berbeda dengan Kirei.


"Oh baguslah, jika kalian satu Stasiun ini semua. Tenang saja, aku tidak terlalu jauh lagi dari sini." Ujar Kirei lembut.


Namun percakapan akan perpisahan langkah kami ini terhenti sejenak, saat aku memutuskan pergi secara sepihak. Sebelumnya aku hanya melirik seseorang pria yang tidak lain itu adalah Hideakou. Ia sedang memberikan beberapa makanan pada seekor kucing.


"Oh ya, maaf ya. Aku ada janjian di sekitar sini, jadi duluan saja. Terima kasih juga telah mengajakku." Ujarku sembari menoleh ke arah Hideakou.


"Huhh.., apa ada temannya yang lain?." Ujar Izumi.


"Pfttt.., entah.. Biarkan saja dia pergi." Ujar Kirei sembari tertawa.


Lagi dan lagi aku kembali memberi alasan yang tidak terduga yang telah aku ucapkan. Akhirnya aku pun telah melangkah. Setelah aku mulai melangkah, semuanya mulai beranjak untuk bubar.


"Hideakou!. Apa yang sedang kau lakukan?." Ujarku tegas.


Hideakou pun langsung menoleh ke arahku. Aku bisa melihat wajahnya yang mulai sedikit heran.


"Apa yang kau lakukan disini?." Ujarnya lembut.


"Entahlah, aku pun juga tidak tahu alasannya." Ujarku lembut.


Hideakou adalah teman pria pertamaku, walaupun Ia mungkin saja tidak menganggapku sebagai seorang wanita. Semua itu tidak lain karena kejadian sebelumnya yang pernah terjadi.


"Kau ini, lihatlah jalan ini sepi!. Berbahaya, jika kau berada disini. Seharusnya kau pulang saja!." Ujarnya dengan tegas.