To Love

To Love
Pertama kali atau tidak?



Sesaat Hideakou kembali memberi jarak, jari telunjukku langsung memegang bibirku. Betapa tidak menyangka aku saat itu, mata sayu hangat milik Hideakou seakan menandakan, jika itu sebuah nikmat baginya.


"Maafkan aku!. Apa kau menganggamku pria, dan teman, jika aku melakukan itu?!." Ujarnya dengan lembut.


Melihat wajahnya yang juga sayu, membuatku merasakan tubuhku yang semakin bergetar tidak karuan. Dingin yang sesaat datang itu kembali hilang, dan berubah menjadi sangat panas dari sekujur tubuhku, seakan sebuah alat yang ingin meledak. Dan aku mulai sadar, jika Hideakou telah menciumku walau dengan mataku yang tertutup.


"Aaa., tentu saja aku selalu menganggammu pria dan temanku, .dasar bodoh... apakah kau menyuruhku untuk mencintaimu setelah melakukan hal itu?. Aku benar-benar tidak suka pria yang selalu menganggapku sebagai mangsa." Tegasku.


Wajahku langsung memerah, dan menahan rasa malu yang sesaat baru aku sadari. telapak tanganku pun langsung menutupi wajahku dari hadapan Hideakou.


"Aku semakin bingung melihat tingkahmu." Ujarku yang masih menutupi wajahku.


Aku pun menoleh kearah berlawanan, dan kembali melangkahkan kakiku menjauhi dirinya. Hideakou pun hanya bisa menyesali, dan terdiam kaku.


"Akkkh.., astaga... Kenapa aku melakukan hal gila seperti itu?. Sebenarnya perasaan apa yang telah membuatku melakukan hal seperti itu padanya?." Tegas Hideakou pada dirinya sendiri.


Aku pun dengan cepat melangkahkan kakiku keluar dari lorong menuju jalan yang lebih besar dengan rasa kacau, dan hanya bisa menutupi wajahku hingga akhirnya aku pun membuka kembali mataku.


"Aku ini senang atau tidak sih?. Ooohh...., tidak., tidak.. Miyuki sadarlah kau!. Tentu saja dia tidak sama dengan Hideakou yang di dalam ruangan imajinasiku." Gumamku.


Meskipun begitu selama mungkin Hideakou tidakingin diam begitu saja menyesalinya. Hideakou juga merasa tubuhnya seperti telah diserang beberapa macam minuman yang panas, namun Hideakou tetap berusaha untuk melangkah kembali.


"Aku seharusnya menemaninya!. Makin kacau aja!." Ujarnya.


Hideakou pun berlari menghampiriku, walau sebenarnya Ia sudah tahu akan semakin canggung, jika menemaniku. Namun semua itu tidak lain dari niat Hideakou sebelumnya yang hanya ada untuk menemaniku.


"Aku harap dia tidak terlalu marah!." Gumamnya kembali.


tidak disangka saja Hideakou telah berada disampingku dengan jarak yang cukup dibilang jauh sebagai seorang teman.


"Hah... Mengapa dia mengikutiku kembali. Apa dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukannya padaku tadi?. Dia benar-benar pria yang sangat aneh." Gumamku.


Aku dan Hideakou pun hanya bisa terdiam di setiap jalan dengan rasa canggung, dan tidak ingin mencoba salah satu diantara kami untuk menoleh salah satu sama lain.


"Sebenarnya apa yang telah aku lakui, hinga dia mau melakukan itu padaku?. Dia telah mencuri ciuman pertamaku. aku bisa gila memikirkan hal ini." Gumamku dengan wajah kesal.


Namun kecanggungan itu tidak diinginkan oleh pria yang sangat tidak aku mengerti. Ternyata Hideakou punya banyak pertanyaan, dan pernyataan yang ingin sekali disampaikannya.


"Miyuki...." Panggilnya yang terhenti.


Hideakou pun menggerakkan salah satu tangannya menuju tengkuk lehernya, dan terus memberi wajah bimbang dan bingung, hingga akhirnya Hide pun memberanikan diri untuk berbicara.


"Miyuki Chan!. Apakah tadi itu pertama kalinya, jika benar, aku mohon maafkan aku."


Aku pun tersentak. Kedua bola mataku pun langsung menatap pada satu arah, sembari menjawabnya.


"Kau ini!, tentu saja kau merebutnya dariku. Apakah kau sudah gila?. Aku saja belum memili perasaan apapun padamu, jika iya pun aku tidak akan menginginkan perasaan itu padamu." Ujarku dengan tegas.


Jawaban yang gugup aku berikan padanya masih membuat Hideakou terus tidak membiarkan dirinya menerima pikirannya yang bergejolak akan semua pertanyaan, dan pernyataannya.


"Kau tidak perlu takut Miyuki!. Aku tidak akan mencoba mencintaimu, dan juga wanita lain. Kau juga tidak perlu menanyakan itu!. Maafkan aku akan hal tadi. Aku hanya tidak suka kau meremehkanku." Ujarnya dengan lembut.


Kali ini benar saja aku kembali menatap pada satu arah, juga bola hitam mataku pun semakin membesar, dan hanya bisa melangkah kembali dengan rasa penasaran yang tidak ingin Hideakou dengar olehku.


"Apa kau tidak malu mengatakan hal itu?, Apakah kau penyuka sesama jenis?." Ujarku dengan tegas.


Mendengar Hideakou yang sebelumnya memberikan pernyataan. Entah mengapa rasanya aku tidak perlu merasa canggung untuk tidak berbicara padanya, namun tetap saja aku masih sedikit tidak percaya padanya.


"Hei!, tentu saja tidak. Aku tidak akan menjelaskannya padamu. Kau mungkin saja akan menangis, jika mendengarnya, jadi tidak perlu." Ujarnya tegas.


"Kau pikir dengan siapa kau bicara padaku. Aku tidak akan memperdulikan hal itu." Ujarku tegas.


"Ya, sudahlah. Aku harap kau benar-benar memafkanku tentang hal tadi." Ujarnya lembut.


"Apa kau senang mempermainkan perasaanku?. Tentu saja aku perlu waktu untuk memaafkanmu!." Ujarku tegas.


"Aku akan menunggunya." Ujarnya lembut.


"Haaahaha... Kau tetap saja pria bodoh, dan aneh ya." Ujarku sembari tertawa.


Tidak berapa lama, akhirnya aku dan Hideakou pun berada di perempatan jalan yang akan menjadi pemutus keberadaan diantara aku dengannya.


"Aku tidak memaafkanmu tentang tadi, juga makasih telah menemaniku." Tegasku.


Hideakou pun hanya bisa membuang muka, dan tidak ingin kembali berdebat hanya tentang hal itu. Akhirnya langkahku pun semakin menjauhinya.


"Huhhh, banyak sekali kejadian hari ini." Gumamku.


Rasa dingin dari malam pun kembali datang setelah Hideakou mulai menjauhiku. Namun aku tidak menyadari perasaan dari diriku sendiri yang sebenarnya kecewa akan ucapan Hideakou untuk tidak mencintai seorang pun. Aku juga tidak menyadari, jika perasaan itu membuatku mulai merasa sesak, dan kesal yang masih terselimuti.


"Cinta.., sepertinya aku sudah lama tidak mendengarnya. Apa aku menginkan Cinta?. Apa aku harus mencintai seseorang?." Gumamku.


Akhirnya aku pun sampai di dalam rumah, tanpa aba-aba pun aku telah langsung menuju kamar, dan membiarkan diriku tergeletak di atas kasurku.


"Brakk.." Suara kasur.


Tanganku pun langsung meraba ke arah bantal, dan membiarkan diriku memeluknya.


"Akhhh, banyak sekali kejadian hari ini. HIdeakou yang berada disanalah, Hideakou yang berada disanalah, Kenapa mereka sama-sama membuatku memikirkannya." Ujarku dengan wajah kesal.


Aku yang terus menyebut nama Hideakou menjadi teringat dengan Hideakou yang berada di dalam ruangan imajinasiku. Badanku pun langsung memberhentikan gerak-gerik tubuhku yang terus berlawanan.


"Bagaimana Hideakou yang disana?. Aku benar-benar ingin sekali menemuinya. Aku harap dia masih disana." Ujarku tegas dengan wajah penasaran.


Akhirnya aku pun beranjak untuk tidur, dan berharap di dalam mimpiku yang bercampur dengan imajinasi, agar dapat bertemu dengan Hideakou.


"Hideakou pasti ada disana." Gumamku.


Kegelapan pun datang dibalik kedua bola mataku yang tertutup, hingga akhirnya percikkan-percikkan warna datang memberi warna disetiap kegelapan yang aku lihat. Dan kali ini terlihat sebuah taman permainan yang cukup besar.


"Wahh...., apakah aku pernah berpikir hal ini?." Gumamku.


Perubahan yang selesai, dan wujudku yang telah terlihat didalam duniaku yang berbeda membuatku ingin cepat melangkahkan kaki sembari memanggil Hideakou.


"Hide Kun!, Hide Kun!. Aku tidak suka, jika kau mempermainkan aku!, Hide!." Teriakku denga wajah gelisah.


Aku pun terus melangkah, tanpa mencoba permainan yang terlihat dihadapanku, namun semakin aku sadari suasana yang terasa semakin redup membuatku juga meyakini bahwa itu bukanlah perubahan.


"Hide!, jika kau lakukan seperti ini!, aku akan menangis!, Hide!. Kau tidak ingin menunjukkan darah, tapi aku tadi melihatnya jelas!. kau pasti kembalikan. Temani aku!. pandu aku di dalam sini!,  Hide!." Ujarku dengan berteriak


Aku mulai sadar, jika diriku pun telah terduduk di tengah taman permainan itu. Kedua tanganku pun langsung menutupi wajahku. Aku pun hanya bisa membiarkan tangisku hadir, dan jatuh di atas kedua lenganku yang telah terlipat.


"Hiks... Aku juga tidak ingin sendirian menikmatinya. Temani aku!. Hiks..., hiks..." Ujarku sembari menangis.


Tiba-tiba aku mulai sadar, jika seseorang sedang berbicara padaku. Aku pun langsung menghusap air mataku melalui kedua lenganku.


"Kenapa kau menangis?." Ujar seorang pria.


"Hideakou?, apa itu kau?." Ujarku.


Betapa tidak menyangkanya aku, jika dihapanku ternyata sosok hitam tanpa rupa diwajahnya yang diselimuti gumpalan asap, dan sedikit pasir itu telah berdiri di depanku.


"Makhluk apa kau?. Mengapa kau berada disini?, ini duniaku!." Tegasku.


 Sosok itu pernah aku temukan sebelumnya, hanya saja aku seperti kesulitan mengingat hal itu.


"Aku yakin!, aku yakin rasanya aku pernah menemui mereka, tapi kapan!?, kapan!?." Gumamku.


Aku semakin terkejut, jika sosok itu hanya menunjukkan kedua bola matanya yang sedikit berwarna biru tua.


"Kenapa kau disini?." Ujarnya.