To Love

To Love
Akhh



Tentu saja Sang Dokter baranggapan itu hanya halusinasi kecil atau rasa ketakutan.


"Tidak apa-apa, semoga saja itu bertanda baik. Ini obat vitamin untuknya, jika dia terbangun sebaiknya berikan saja padanya" Ujar Dokter.


"Makasih Dok!." Ujar Hideakou.


Hideakou sadar, jika Sang Dokter tidak memberikan langsung ke tangan Hideakou. Obat itu terletak di meja sebelah yang berlawanan darinya.


"Astaga, kenapa juga dokter itu masih tidak percaya padaku?," gumam Hideakou.


Beberapa menit Hideakou hanya bisa berdiam di sampingku. Saat itu jam istirahat akan dimulai sedangkan aku masih terbaring.


"Apa selama ini dia pingsan? Oh astaga kenapa juga aku yang harus menunggunya. Seharusnya gadis lain atau Kirei." Ujar Hideakou.


Tiba-tiba saja jari tanganku mulai terasa. Hawa, angin, dan suara mulai terdengar oleh telingaku. Hideakou yang mengetahui itu lewat jari tanganku yang mulai bergerak segera bangkit.


"Sepertinya dia akan terbangun. Sebaiknya aku memasang wajah kesal. Sebelum itu aku harus mengambil obatnya biar dia meminumnya," gumam Hideakou.


Hal bodoh yang dilakukan Hideakou adalah saat Ia sendiri mengambil obat tanpa bergerak melewati kasur. Tangan Hideakou meraih obat milikku. Tangannya begitu saja melewati tubuhku.


"Ya, semoga saja dia cepat bangun. Aku bosan disini terus," gumamnya.


Aku tidak sadar, jika tangannya berada di atas langit-langit penglihatanku. Tepat saja tanpa aba-aba aku langsung memegang dahiku, dan bangkit.


"Brakk"


Bagian atas kepalaku mengenai dagu miliknya. Seketika kami saling menyentuh bagian yangs sakit.


"Akhh. Kau bangun tiba-tiba, bangkitpun tiba-tiba. Apa tidak bisa bersuara dulu?" Ujar Hideakou dengan raut wajah kesakitan.


"Akkhh, sakit tahu!. Kau terlalu malas untuk bangkit ya!. Apa ini di Klinik?." Ujarku dengan raut wajah kesakitan.


Hideakou langsung menjauhkan tubuhnya dariku. Ucapannya seakan kabur dari kejadian. Aku sadar, jika aku meneruskan ucapannya tanpa meneruskan tentang hal sebelumnya.


"Kau ini merepotkan sekali. Bisa-bisanya kau berteriak soal kecoa. Tentu saja ini klinik. Aku mau kembali ke kelas sebentar lagi jam istirahat. Apa kau ingin terus berada disini? Aku bosan!." Ujar Hideakou.


"Entahlah, aku lebih bosan berada di sekolah ini. Apa saat itu aku terlihat aneh?" Ujarku.


"Sepertinya kau terlalu takut hingga berhalusinasi soal kecoa. Sudahlah!, tentu saja semua orang aneh melihatmu!" Ujarnya


"Oh astaga," gumamku.


Pikiranku terlintas untuk mengambil surat izin pulang yang berasal dari klinik itu sendiri. Semua itu tidak lain agar, semua siswa tidak membuaiku soal sebelumnya. Lebih tepatnya aku melarikan diri dari kenyataan.


"Aku bosan!. Karena tadi aku pingsan, sebaiknya aku pulang saja." Ujarku


"Kau bosan ya?. Aku lebih bosan menunggumu tadi." Ujarnya.


"Aku menebakmu, jika kau hanya melihat wajahku ya? Jangan terpesona melihatku." Ujarku.


Perkataanku seketika membuat raut wajah Hideakou mulai kesal. Ia hanya menoleh ke arah berlawanan dari hadapanku.


"Dasar!, tidak ada, tidak ada!." Ujarnya.


Ia mulai melangkah untuk mencoba meninggalkan ruangan klinil. Namun sebelum itu dia mengatakan sesuatu padaku.


"Jangan lupa makan obatnya!. Sepertinya kau merindukan Mamamu!. Dia pasti selalu menunggumu dirumah pasti kau tidak sabar bertemu dengannya!." Ujar Hideakou.


Lebih tepatnya Hideakou sama sekali tidak mengetahui, jika mamaku telah meninggal. Hideakou berjalan hingga akhirnya aku tidak sama sekali melihatnya.


"Apa maksudnya? Apa aku masih memanggil mama?" Ujarku.


Beberapa menit aku mulai bangkit dari kasurku. Dengan kejadian aku pingsan, aku bisa mendapat surat izin pulang.


"Sebaiknya aku bersantai saja diluar." Ujarku.


Beberapa menit berlalu, akhirnya aku benar-benar telah mendapatkan surat izin.


"Akhirnya. Sebaiknya aku langsung mengambil barangku." Ujarku.


Aku melangkah menuju kelasku. Saat itu lorong sekolah dipenuhi para siswa lainnya dikarenakan jam istirahat yang sudah dimulai.


"Ramai sekali," gumamku.


Rasanya saat ingin menuju ke kelasku, aku merasakan jantungku yang berdetak kencang. Entah apa perasaan itu. Aku hanya menebak, jika itu perasaan takut, dan gelisah.


"Kenapa aku jadi takut?" Gumamku.


Penyakitku ternyata kambuh kembali. Walau begitu aku masih bisa melihat kenyataan.


Terlihat pintu kelas yang terbuka itu sebenarnya tersegel oleh akar yang menutup pintu.


"Apa-apaan ini lagi," gumamku.


"Aku harus terlihat normal," gumamku.


Aku melewati akar bersabut itu seakan tidak melihat sesuatu. Walaupun begitu aku melangkahkannya dengan memejamkan kedua mataku.


"Begini saja," gumamku.


Akhirnya aku bisa melewatinya begitu saja. Semua orang melirikku dengan tatapan aneh. Hal itu juga yang membuatku mulai menunduk.


"Kenapa juga mereka menatapku seperti itu, apa yang salah denganku?," gumamku.


Sebelumnya aku berpikir, jika aku telah terbebas, ternyata tidak. Akar serabut itu seakan bergerak ke arahku. Rasanya pikiranku sendiri yang mempermainkan diriku. Aku berjalan dengan menunduk dan menganggap apa yang aku lihat bukanlah kesungguhan.


"Tidak!, sebaiknya aku memang pulang saja," gumamku.


"Brak."


"Akhh." Suara kesakitan.


Ternyata akar serabut itu menarik pergelangan kakiku. Seketika semua orang melihatku. Akar itu masih menjalar di pergelangan kakiku. Aku benar-benar terasa tidak dapat bangkit. Rasanya aku ingin menangis menahan malu.


"Oh kenapa?, bisakah aku hidup normal kembali?" Gumamku.


Aku terdiam dengan terduduk diatas lantai. Semua orang berbisik-bisik tentangku.


"Apa yang terjadi dengannya?. Bukankah tidak ada apa-apa disana? Apa dia memang sedang sakit parah. Sepertinya dia demam." Ujar salah satu dari mereka.


Cara mengatasi hal itu hanyalah dengan tidak bersikap panik, dan percaya hal sesungguhnya nyata.


"Aku harus tenang!," gumamku.


Walau jantung berdetak kencang karena malu, aku berusaha tenang. Aku menghembuskan nafasku berkali-kali dengan sikap normal.


"Huhhh, hahhhh. Jangan melihatku!. Aku terjatuh karena aku menginjak kakiku sendiri!. Aku bilang jangan! Ya jangan." Teriakku.


Aku memejamkan mataku untuk bangkit. Akar itu sama sekali sudah tidak terasa olehku ataupun terlihat oleh pandanganku.


"Huhh, akhirnya," gumamku.


 Aku berlari menuju kursiku sembari membereskan barangku. Aku juga tidak melupakan untuk memberikan surat izinku.


"Aku sepertinya sakit!. Ini surat izinnya." Ujarku.


"Ya. Apa tidak apa kau sendiran?." Ujar Ketua Kelas.


"Ya." Ujarku.


Untungnya saja kelas tidak terlalu ramai dikarenakan beberapa siswa berada di kantin. Aku sadar, jika aku sendiri melewati kantin untuk menuju luar sekolah.


"Aku sudah tidak sabar untuk berada diluar," gumamku.


Hideakou tepat berada di kantin. Ternyata Ia melihatku. Walaupun begitu aku tidak ingin menyadari hal itu, aku hanya pergi dengan laju yang cepat.


"Miyuki?. Apa dia benar-benar ingin pulang? Oh ya itunya," gumamnya.


Akhirnya aku telah berada dihadapan rak sepatu. Aku pun langsung menggantinya.


"Aku seperti dikejar anjing saja, jika cepat seperti ini." Ujarku.


Tiba-tiba saja aku mendengar tidak jauh dari belakang tubuhku seseorang yang memanggilku. Aku hanya bisa menoleh ke arah belakang tubuhku.


"Miyuki!, tunggu!." Teriak Hideakou.


"Apa yang diinginkan si Hideakou bodoh itu?" Ujarku.


Rasanya untuk melihatnya saja aku terlalu benci. Namun hasi penyakitku seperti menghiadnya menjadi indah. Tepat saja saat Hidrakou berlari. Rasanya aku melihat kebun di seluruh lorong. Cahaya kilauan menempel di bagian dinding lorong.


"Miyuki tunggu!." Teriaknya kembali


"Astaga," gumamku.


Hal lain yang diperlihatkan olehku, jika Hideakou yang semakin dekat denganku telah terlihat dengan pakaian khas kerajaan jepang lama. Seketika aku mengedipkan kedua mataku berkali-kali. Aku juga tidak sadar, bibirku telah terbuka melihat suasana itu.


"Astaga, kenapa juga harus dia? Apa tidak ada yang lain untuk melihat suasana ini," gumamku.


Kupu-kupu berkilau terbang menelusuri rambutnya. Entah apa yang membuatnya memanggilku. Tentu saja melihat suasana itu padanya telah membuat jantungku berdebar akan keindahan yang diperlihatkan padaku.


"Astaga, astaga. Aku tidak akan terpesona olehmu bodoh!, tidak akan!," gumamku.


Akhirnya saat Hideakou telah dekat olehku, hasil penyakitku mulai hilang. Dia terlihat seperti siswa lainnya.