To Love

To Love
Benarkah?



Aku pun melalui mata Kuliahku saat itu dengan tetesan air mata yang akusembunyikan dibalik kedua tanganku. Walaupun aku tahu mungkin saja Dosenku akan bertanya padaku, dan semua Mahasiswa yang berada disekitarku akan melirikku, ataupun akan dimarahi, jika tidak memperhatikan penjelasan dosen. Tapi kali ini aku beruntung tak terlihat oleh dosenku.


"Ini semua karena penyakitku. Ini semua karena kalian tidak mau mengerti aku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku benar-benar tidak tahu." Gumamku.


Semakin lama pun kedua tanganku terlipat sangat kuat. Dan tidak membiarkan cahaya memasuki disetiap sela dari kedua lenganku yang terlipat, hingga mata kuliahku pun selesai. Aku terus dibalik kedua tanganku. Saat itu juga, aku sangat berniat untuk membiarkan ruangan sunyi, agar nantinya aku merasa legah. Namun ternyata tiba-tiba seseorang dari belakangku memanggilku.


"Miyuki Chan!." Panggil seorang wanita.


Aku hanya bisa membiarkan lengan tanganku untuk menyapu wajahku. Saat aku mencoba untuk menoleh kearahnya, suara yang senyap langsung menghilang.


"Ya.., Miyuki Chan namamu, bukan?" Ujarnya dengan suara lembut.


Ternyata orang yang memanggil namaku adalah seorang wanita. Aku mulai menyadari bahwa orang yang berada dihadapanku bukanlah hanya dia.


"Ya.., .kenapa?." Ujarku dengan lembut kembali.


Awalnya aku tidak terkejut melihat seseorang memanggilku, namun kenyataannya sekitar beberapa orang berada dihadapanku termasuk Hideakou.


"Hari ini kita akan mengerjakan laporannya, tapi sepertinya kau tidak sehat dari tadi." Ujarnya dengan nada yang lembut.


Pikiranku terkejut betapa tidak menyangkanya aku bahwa seorang wanita yang tidak pernah terlihat dipandanganku sebelumnya, dan tidak pernah berbicara padaku telah begitu saja memberi janji padaku, tanpa aku telah mengetahui janji itu sebelumnya.


"Hahhh.., benarkah?.'' Ujarku dengan wajah bingung.


Aku menyangkal pikiranku agar tidak langsung memberikan emosi, karena hal seperti ini selalu terjadi dimasa laluku.


"Tunggu. Sejak kapan jajninya telah dikatakannya padaku." Gumamku.


Tiba-tiba saja Hideakou memberikan senyum licik seakan merendahkanku atas kesalanku yang tidak mengetahui jadwal yang telah diberikan oleh kelompokku.


"Kau memang seperti itu." Ujarnya dengan tampak sombong dan senyum licik.


Namun pernyataan Hideakou membuatku hanya membuatku semakin mengacuhkannya.


"Ya..., mau bagaimana lagi, lagi pula sepertinya aku baik-baik saja." Ujarku dengan tersenyum.


Kesepian yang kuterima bukan berarti aku benci pada sebuah pertemanan, dan bersosial. Semua itu tidak lain, karena masa laluku yang selalu dihampiri dengan buaian dan cacian tentang penyakitku yang mendekati kegilaan.


Saat itu aku hanya perlu menghindar, agar aku tidak terus diperlakukan seperti itu dan tidak ingin membuat mereka tahu akan penyakit imajinasiku, walaupun aku sadar imajinasiku bisa kapan saja datang dan membuatku terpaksa diam pada gerakanku, agar tidak terlihat aneh dari luar suasana imajinasiku.


"Ya, jika sudah sebaiknya kita langsung saja ya." Ujarnya.


Kakiku pun beranjak kembali untuk melangkah. Setelah aku membalas senyuman wanita yang dihadapanku, aku mulai merasa kesal. Kesal yang kurasakan itu, dikarenakan beberapa pria yang berada di sekitar ruangan itu telah melirik ke arahku.


"Huhhh.., aku benci wajah-wajah mereka yang terus melirikku." Gumamku.


Aku tidak tahu apakah aku bisa berkata, jika akulah wanita cantik. Kenyataanya semua pria selalu melirikku sembari tersenyum jahat padaku. Tentu saja aku tidak menyukai mereka. Mereka melirikku dengan tatapan yang telah menganggapku seekor mangsa.


"Tidak berguna sekali wajah mereka. Apa mereka semua pria murahan?." Gumamku.


"Huhh..., jika saja." Gumamku sembari memasangkan Headset.


Satu persatu dari mereka menoleh kearah yang akan dituju termasuk aku. Aku pun langsung bangkit dari kursiku.


Kakiku pun melangkah seiring mereka mulai melangkah. Aku bisa melihat bahwa kelompok kami beranggotakan empat wanita dan dua pria pria. Lebih tepatnya berangotakan tujuh orang.


Aku bisa melihat mereka yang bertukar pikiran. Aku juga sedikit mendengar suara mereka yang berantakan.


"Wah!, kau suka musik Genre apa?." Ujar seorang wanita berkaca mata.


"Huhh, aku suka Genre Jazz." Ujar salah satu pria.


"Entahlah, yang penting terdengar bagus untukku." Ujar seorang wanita lainnya.


Aku juga bisa melihat Hideakou yang sangat ribut disetiap langkahnya. Tapi mengapa aku merasa sesak melihat mereka, ataukah aku yang salah.


"Ayolah bergabung Miyuki!." Ujar Hideakou dengan tersenyum licik.


Tawa mereka yang pecah mengusikku. Rengkulan mereka yang terlihat olehku telah membuatku ingin saja berteriak. Namun aku hanya berharap saat itu, agar penyakitku tidak datang secara tiba-tiba. Aku bisa merasakan kedua tanganku saling menempel dihadapan dadaku, walaupun aku tahu sebenarnya aku masih berharap untuk seperti mereka.


"Segitukah kalian senang dengan dunia ini?. Jika saja aku tidak memiliki imajinasi ini, apakah aku bisa merasakan hal seperti mereka." Gumamku sembari melirik mereka.