
Walaupun aku tahu, aku berada di dalam dunia imajinasiku. Aku sangat takut, dan gelisah ketika melihat nyawa Hideakou yang mulai kelihatan antara mati atau sekarat. Aku tahu, jika aku masih belum terlalu dekat dengannya, namun entah mengapa perasaanku sangat sedih.
"Huhh.., hah.., huh..." Suara nafas yang tidak karuan.
Melihatnya seperti itu dengan darah yang menjulur di setiap tubuhnya yang berada di dalam duniaku yang berbeda, tetap telah membuatku sedih berat. Aku hanya bisa terus menatap pada tubuhnya dengan wajah panik.
"Ahk.., benarkah?. Apa maksud ini semua?." ujarku dengan wajah panik.
Seluruh bagian tubuhku langsung bergetar secara mendadak. Badanku yang semakin lama semakin dingin dengan apa yang tidak aku percaya dihadapanku. Aku mulai menyadari rasanya aku sangat ingin berteriak. Mataku hanya bisa menatap tajam akan apa yang telah aku lihat.
"Tidak mungkin. Aku hanya ingin alasan dari hal ini!." Ujarku dengan wajah bingung.
Imajinasi tetaplah imajinasi, dan imajinasi bukanlah tentang kesedihan atau duka. imajinasi adalah sebuah karya yang dihasilkan dari pikiran, dan sulit untuk memungkinkan itu terjadi. Namun kali ini aku di dalam duniaku yang berbeda, dan yang terjadi bukanlah suatu yang aku inginkan.
"Bukan...., bukan..., bukan ini yang kuinginkan!." Teriakku.
Beberapa menit mataku terus menatap kejadian itu tanpa bergerak dari tempatku, hingga akhirnya jariku pun mulai mendekatinya.
"Hideakou itu bukan kaukan!." Teriakku.
Tubuhku yang semakin bergetar membuatku bergerak kearahnya, tidak sedikit pun aku menghiraukan darah yang akan mengenaiku. Tanpa aba-aba aku langsung memeluk badannya dengan kuat walaupun aku tahu tanganku akan menyentuh darahnya.
"Hide...Hideakou bangun!... Temani aku disini!." Teriakku kembali.
Sesaat aku memang tidak menangis, karena terkejut dengan hal yang terjadi. Aku terus memeluknya, dan berteriak padanya. Aku mulai sadar bahwa tidak sedikit pun tubuhnya beranjak untuk bergerak. Air mataku tidak menetes secara perlahan lagi. Air mataku telah mengalir begitu saja tanpa menyadari darahnya yang telah berada di sekitar pakaianku.
"Hiks.., hiks..., hiks.. Bangun!. Bangun!... Temani aku!." Teriakku dengan tangisku yang masih belum berhenti.
Tanganku langsung meletakkan kepalanya secara perlahan di bagian bawah pinggulku untuk memangkunya.
"Kau masih hidupkan. Kau akan datang lagi. Katakan padaku, kau akan memanduku di duniaku ini, dan menemanikukan!." Teriakku beriringan dengan tangisku.
Ocehanku akan hal yang terjadi memecahkan suaraku, dan semakin tidak karuan.
"Hideakou.... Kau membuatku tidak merasa sendirian lagi di dunia ini. Kau memang terkadang membuatku kesal, tapi kau membuatku rindu akan perasaan kesal yang telah kau buat. Aku mohon datanglah kembali." Ujarku.
Saat aku memegang tengkuk lehernya, dan mendekati kepalanya untuk terus kupeluk dalam peganganku, tangisku pun semakin tidak karuan.
"Hiks.., hiks... Saat itu kau menutup mataku, agar aku tidak melihat darah itu. Hiks..., hiks... Lalu, kenapa kau menunjukkannya sekarang?!. Hiks..., hiks..." Ujarku sembari terisak dalam tangisku.
Saatku terus mengoceh tidak karuan tentangnya, air mataku terus mengalir. Aku hanya bisa membiarkan air mataku terus mengenai wajahnya, dan bajunya Hideakou. Aku mulai tidak sadar bahwa tangis itu merupakan tangis pertamaku yang pernah aku lakukan demi seseorang.
"Jangan pernah tunjukkan ini lagi padaku!. Hiks.., hiks... Kau harus datang." Teriakku yang masih beriringan dengan tangisku.
Dinginnya udara, dan hangatnya api unggun yang berada di sebelahku, sudah tidak terasa. Seiring tangisan yang keluar dari perasaanku telah bercampur antara sedih, bingung, juga kecewa. Aku pun sadar bahwa pandanganku telah tertutupi oleh tubuh Hideakou. Dan air mata yang membuat penglihatanku buram semakin membuatku terus memeluknya. Aku juga semakin takut berpaling padanya,namun tiba-tiba saja, aku mendengar suara yang samar dari tubuh yang sedang aku peluk erat itu.
"Ahhk... Maaf!. jangan terus memelukku!." Ujarnya.
"Hideakou?." Gumamku.
Namun betapa terkejutnya bahwa aku telah berada didunia normalku. Aku telah sadar setelah merasakan bajunya yang terus aku erat itu bukanlah Hideakou yang berada didalam imajinasiku. Dan seseorang yang berada dihadapanku bukanlah suara Hideakou yang sangat ingin aku dengarkan sekali. Aku sangat merasakan, jika dibalik pelukan itu lebih hangat, juga tak berbau darah seperti sebelumnya dalam pelukan Hideakou.
"Maafkan aku. Bolehkah kau hentikan pelukannya?. Apa kau ingin aku memelukmu?." Ujar seorang pria.
Ternyata seseorang itu sedang berdiri. Pelukan itu berada pada bagian pinggulnya, tidak seperti sebelumnya bersama Hideakou yang berada di bagian antara leher, dan dadanya. Mataku pun langsung mengarah keatas, tanpa memberhentikan pelukanku.
"Hah.. Jadi!, siapa yang telah aku peluk?." Gumamku dengan wajah bingung.
Betapa terkejutnya aku saat itu, ternyata pria yang sedang berada dipelukanku itu bukanlah Hideakou yang berada di dunia yang nyata, namun tidak lain adalah Eiji yang merupakan salah satu pria yang berada dikelompokku. Ia seperti hanya bisa membiarkanku dalam pelukannya. Aku juga sempat menatapnya, namun keadaan saat itu membuatku langsung berpaling darinya. Aku pun langsung melepaskan pelukan yang diterimanya, juga mengusap air mataku dengan cepat.
"Maaf!. Aku tidak bermaksud melakukannya. Maaf!." Ujarku sembari menghusap air mataku.
Terlihatlah Eiji yang sedang mengusap tengkuk lehernya berkali-kali walau hanya sesaat, aku kembali untuk meneruskan ucapan maafku padanya akan rasa malu juga rasa yang telah bercampuk aduk saat itu.
"Maaf...., aku benar-benar tiak bermaksud untuk memelukmu!." Ujarku tegas dengan wajah panik.
"Ya, tidak apa-apa. Akhirnya kau terbangun juga ya. Kau sebelumnya pingsan!, untung saja rumah kirei dekat lagi saat itu ya!. Mengapa kau terlihat seperti baru menangis?. Apakah kau sebelumnya mimpi buruk? ." Ujarnya sembari menghusap tengkuk lehernya.
Wajahnya langsung seakan berpaling dari hadapan wajahku. Aku tidak tahu perasaan apa yang membuatnya tidak langsung menatapku saat berbicara, namun yang pasti aku sangat merasa malu setelah memeluknya.
"Untung saja ya. Sepertinya aku tadi berada didalam mimpi buruk. Aku juga tidak tahu mengapa aku menangis." Ujarku.
Saat itulah aku sadar jika aku telah berada diatas kasur setelah Eiji mengatakan bahwa aku dan lainnya berada di rumah Kirei tentu saja tak lain adalah kamarnya kirei chan.
"Siapa..." Ujarnya yang terpotong.
Ternyata suara perbincangan aku dan Eiji telah membuat anggota lainnya langsung datang menemuiku.
''Klak." suara pintu.
Terlihatlah semua wajah mereka yang membuatku sadar, jika aku sudah dari tadi berada dengan Eiji, namun aku tidak menghiraukannya. Tiba-tiba saja aku langsung melirik Hideakou yang datang. Terlihatlah Hideakou yang mengikuti langkah anggota lainnya yang berada di depanya.
"Ternyata Miyuki sudah bangun ya. Apa kau sudah merasa lebih baik?. " Ujar kirei dengan wajah cemas.
"Miyuki Chan?!." Tegasnya kembali.
Wajah Hideakou yang akhirnya terlihat dari pandanganku seperti membuatku tersenyum padanya. Betapa terkejutnya aku saat itu, jika Hideakou juga membalas senyuman dariku. Walaupun aku tahu, jika senyuman itu telah aku berikan pada Hideakou yang berada di dunia nyataku.
"Huhh.., akhirnya." Gumamku.
Namun tatapan itu terhalang kembali saat suara Eiji keluar sangat keras, dan pertanyaan Kirei yang terus berlanjut dengan nada yang tegas. Aku pun mulai sadar, dan menepis langsung senyuman tipis yang telah aku perlihatkan pada Hideakou.
"Hei.., Miyuki Chan!. Apa kau sudah merasa lebih baik?. Kirei sudah bertanya padamu dari tadi!." Ujar Eiji sembari mengusap tengkuk lehernya.