To Love

To Love
Perubahan



Aku telah kembali di atas kasurku dengan sinar mentari yang datang ke arahku.


"Hah..., huhhh.., sebaiknya lupakan saja." Gumamku.


Hariku pun aku sambut seperti biasa,


dan kembali untuk bersiap menuju kampusku. Aku pun beranjak dari kasurku dengan cepat bergegas, dan membiarkan kakiku melangkah dari setiap pijakan, dan tubuhku yang akan di bawa oleh transportasi. Akhirnya aku pun sampai berada di dalam kampusku.


"I hope you here..., you're mine." Gumamku dalam sebuah nyanyi.


Membiarkan diriku melangkah dengan nyanyian kecil mengikuti lagu yang aku putarkan melalui Headsetku, tanpa memandang siapa yang akan menyapaku Tepat saja memikirkan hal itu, seseorang merangkulku dengan cepat dari belakang.


"Hei...,hei.., Kau ini selalu saja mau sendirian." Ujar Hideakou.


Hideakpu mengejutkanku akan sikapnya membuatku melirik pandanganku kearahnya. Lebih tepatnya aku hanya bisa membiarkannya merangkulku.


"Kau berniat tidak menganggapku seorang wanita ya!. Terserahmu lagi pula aku tidak akan mencoba berniat jadi pacarmu. Aku tidak akan" Ujarku dengan tegas.


Namun rangkulan itu disusul oleh seseorang wanita. Tentu saja wanita itu cukup menarik bagiku, karena sikapnya yang aktif.


"Hei..,hei..., lepaskan itu Headsetnya!. kau sudah seperti seorang pasangan saja dengan Headset itu!." Ujar Kirei tegas.


Entah mengapa aku menganggap hal ini sebagai hal baru yang harus aku terima. Aku bisa merasakan, jika ini bukanlah hal biasa kulalui sebelumnya, hingga aku pun mencoba untuk melepaskan Headsetku.


"Mimpi apa aku, hingga seperti ini?Huh..., terserahnyalah." Gumamku.


Aku bisa merasakan diriku yang sedikit memercikkan senyum kecil, dan sangat tersembunyi, karena tidak pernah merasakan rengkulan sebelumnya. Namun Hideakou tiba-tiba saja melepaskan rengkulannya sebelum kirei merangkulku, dan memberikan jarak padaku dengan senyumannya yang tidak seperti biasanya lagi.


"Aku duluan ya Miyuki Chan. Berteman yang baik ya!." Ujarnya tegas.


Aku pun hanya bisa membalas senyumannya, dan membiarkan dirinya berlari tanpa maksud yang tidak aku mengerti sebelumnya. Aku pun kembali melangkah bersama Kirei.


"Aku jarang melihatmu tersenyum seperti ini. Jangan bilang kalau kau lagi dekat dengan pria tampan." Ujar Kirei.


Jika dipikir, rasanya aku memang sangat jarang tersenyum. Aku mulai sadar, jika aku telah memberikan senyuman itu untuk seseorang yang bernama Hideakou.


"Huhh.., terserah!. Aku tidak terlalu peduli hal seperti itu. Kemana temanmu?." Ujarku.


Seiring langkah kami yang akan menuju kelas. Ia pun melepaskan rengkulannya.


"Pftt..ha!., temanku banyak. Tentu saja kau juga temanmku. Jawabanmu itu, fttt... Zaman sekarang kau masih santai ya. etss.., sebentar lagi kau bakal tamat dari kuliah, cari kerja. Apa lagi jurusan kita Musik. Dan tentu saja kita semua akan menikah, bukan?!." Ujarnya dengan tertawa.


Ucapan Kirei memang terlihat santai dan tergesah-gesah membuatku menjadi meliriknya secara perlahan. Aku pun kembali untuk melihat arah langkahku. Aku juga hanya bisa mengabaikannya, walaupun sebenarnya aku sangat ingin terus menjawabnya. Namun sesaat aku mengabaikannya. Rasanya aku teringat perkataan Hideakou yang menyarankan untuk berteman, hingga akhirnya aku pun memaksa diriku sendiri kembali membuka suara dari balik bibirku.


"Pffft.., huf!. Nikah!, lagi pula kenapa juga sekarang mencarinya. Nanti bakal datang juganya. Tenang saja aku tidak terlalu berharap pada temanku ini untuk mencarikannya." Ujarku.


Sesaat setelah aku berbicara, benar saja aku pun tersentak akan betapa terkejutnya aku yang telah berbicara secara spontans. Aku juga menyadari cara bicaraku tidak seperti biasanya bagiku.


"Ooo.., Miyuki..., Miyuki. Semoga saja ini bertanda baik." Gumamku.


Ia pun kembali mengejutkanku dengan menggerakkan sikunya kearah lenganku, walaupun tidak terkesan sakit padaku.


"Wah.., wah.., jadi sepertinya kau sudah santai saja denganku. Teruskan!, lagi pula siapa juga mau mencarikannya untukmu!. Aku saja belum mendapatkannya." Ujarnya.


Akhirnya perbincangan spontans dari aku dan Kirei pun berakhir. Akhirnya kami telah berada di ruangan. Namun sebelum aku mulai duduk, Wanita dari kelompokku mulai datang ke arahku.


"Aduh.., aduh.. Kau terlalu polos, jadilah adikku saja!. Kau juga selalu cantik, walau dengan dandanan naturalmu." Ujar Chieko.


Melihat beberapa dari mereka mendekat padaku, rasanya seperti tidak dapat aku bayangkan. Aku spontans bingung,dan hanya bisa terdiam pada langkahku, terutama alisku yang mulai sedikit naik.


"Apa aku boleh seperti ini?." Gumamku.


Aku juga bisa melihat Mitsuko yang selalu memberi jarak padaku. Tentu saja Ia tidak mengikuti reaksi Izumi dan Chieko yang telah berada dihadapanku.


"Nanti temani kami belanja ya. Sekali-kali!." Ujar Izumi.


Benar saja hal seperti ini tidak pernah membuatku menduga-duga. Kedua bola mataku pun langsung melirik mereka berdua.


Alasan dibalik itu, tentu saja karena masalah pada imajinasi yang tidak karuan. Imajinasiku selalu menimbulkan kejadian buruk di luar imajinasiku. Aku pun kembali beranjak ke kursiku, dan melewati mereka. Namun ternyata Kirei juga tidak menyetujui sikapku.


"Hei...,hei..., Adakah seseorang yang akan bersedia menemani Miyuki di dalam rumahnya?. Dia sendirian, juga kesepian." Ujarnya dengan tersenyum licik.


Tentu saja ucapannya membuatku panik. Aku kembali menatap Kirei dengan wajah sangat kesal.


"Apa-apaan maksudmu itu. Oh, astaga. Aku mohon, jangan mempermainkan aku!" Ujarku tegas.


Serentak para mahasiswa lainnya menatapku, dan juga Kirei.


"Miyuki Chan, benarkah perkataanya Kirei?. Aku saja ya!. bukankah kau suka sendirian?." Ujar salah satu dari mereka.


Aku tidak memperdebatkan masalah kecantikkan. Tapi melihat setiap langkahku, selalu saja aku sudah seperti santapan bagi mereka. Terkadang aku berharap mereka benci terhadapku.


"Tidak mungkin!. Jangan dengarkan perkataannya!." Ujarku tegas kepada mahasiswa lainnya.


Setelah Kirei yang bereaksi, Chieko mulai bereaksi. Chieko memanggil Eiji, dan membawanya berada dihadapanku.


"Eiji, nanti kau ikut saja dengan kami ya. Untuk Miyuki!." Ujar Chieko dengan santai.


"Eh.., apa hubungannya denganku?." Gumamku.


Entah apa yang telah mereka pikirkan untuk mengajak Eiji. Aku bisa melihat wajahnya Eiji mulai terlihat sedikit bingung, karena reaksi mereka secara tiba-tiba.


"Apa sih!. Tentu saja tidak. Tidak mungkinkan aku sendirian dan kalian 5 wanita. Lebih baik aku santai di pojok." Ujar EIji tegas.


Namun tiba-tiba saja Hideakou yang berada di balik tubuh mereka semua mulai melirikku. Hideakou terlihat ingin berbicara padaku, walau dengan isyarat tangan.


"Huhhh..., apa yang mereka mau?. Bukankah itu Hideakou?. Apa yang dia lakukan." Gumamku.


Aku pun hanya bisa membiarkan, dan mengabaikan mereka yang terus melanjuti percakapan aneh mereka. Akhirnya Dosen pun datang.


"Rasanya tidak mungkin. Aku bisa dianggap tidak waras, jika aku mulai berada di ruangan imajinasiku." Gumamku.


Akhirnya mata Kuliahku pun selesai. Aku dengan cepat kembali mengambil Headset, dan memasangkan musik kesukaanku. Aku sempat berpikir mereka tidak akan mencoba lagi, ternyata dugaanku salah. Tepat saja saat kakiku telah melangkah, hingga berada didepan ruangan. Mereka dengan santai menggenggam tanganku, dan menariknya.


"Kau ini!, tidak akan kami biarkan !." Ujar Izumi.


Aku terkejut karena mereka mengejutkanku secara sepihak. Bulu tubuhku seakan tersentak berdiri.


"Huhh..? jangan lagi." Gumamku.


Semakin lama aku melihat tingkah mereka, mereka telah membuatku lelah. Namun sesaat mereka membawaku, Hideakou melangkah santai melaluiku. Ia juga mengedipkan salah satu matanya, dan juga sedikit megeluarkan suaranya.


"Percaya dirilah!, nanti takutnya tidak ada yang mau nikah denganmu." Ujarnya pela.


Hideakou kembali membuatku meliriknya. Aku sedikit kesal, karena sifatnya yang meremehkan diriku. Hideakou pun pergi begitu saja dengan wajah liciknya.


"Huh., ada apa dengan pria itu?." Gumamku.


Entah mengapa rasanya aku harus memaksa diriku untuk mengikuti mereka. Tentu saja semua itu tidak lain karena Hideakou.


"Lepaskan saja aku!. Kalian tidak perlu terus menggenggamku. Aku akan ikut, jadi lepaskan aku." Ujarku dengan wajah pasrah.


Walaupun begitu, aku penasaran mengapa aku tidak menemukan Mitsuko di pandanganku.


"Hmmm.., Mitsuko tidak bersama kalian ya." Ujarku lembut


Mereka kembali melirik karahku, dan menjawab pertanyaanku dengan santai


"Huhh.., kau tidak perlu khawatir. Dia memiliki beberapa sahabat, tapi mereka semua saling berbeda jurusan." Ujar Kirei dengan lembut.


Setelah mendengar alasan dibalik ketikhadiran Mitsuko, aku dengan yang lainnya pun kembali beranjak melangkah.