To Love

To Love
Tidak Ada Yang Menyayangiku



Sungguh saat itu aku hanya menatap Kirei dengan tatapan bingung. Kirei benar-benar memberikan raut wajah kesal.


"Kirei, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin menolongmu." Ujarku.


"Sudahlah. Kau seharusnya tidak menganggapku teman. Aku belum mengatakan hal itu. Kau juga tidak seharusnya mencampuri urusan orang lain. Lagi pula bagaimana bisa kau berada disini, kau seharusnya pulang sudah dari sebelumnya. Kau ternyata hanya ingin bolos." Ujarnya.


Aku hanya bisa menunduk dengan perasaan yang bercampur aduk. Kirei langsung keluar dari lorong, dan pergi sembari memanggil Hideakou.


"Ya, sepertinya aku sendiri yang terlalu bodoh. Mereka saja belum menganggapku apa-apa, aku telah bodoh mencoba membantu orang!. Semoga saja aku tidak diberi tahu, jika aku bolos." Ujarku.


"Hideakou!, Hideakou. Ayo pulang!" Teriak Kirei.


Pada akhirnya Hideakou yang mendengar suara itu pun langsung keluar dari salah satu toko.


"Apa ada masalah?" Tanya Hideakou.


"Tidak ada!. Aku hanya ingin pulang lebih awal." Ujarnya.


Ternyata aku benar-benar tidak mengerti masalah Kirei dengan mereka hingga masalah itu sendiri membuatnya berbohong.


"Aku tidak perlu memperdulikan siapa-siapa lagi." Ujarku dengan raut wajah sedih.


Aku hanya melangkah, walau aku akan melewati mereka kembali. Tidak ada rasa takut untuk menyembunyikan sikapku kembali.


"Miyuki?. Ternyata dia benar-benar bolos." Ujar Hideakou.


"Tidak perlu bertanya." Ujar Kirei.


Raut wajah mereka sungguh penasaran, terutama pada Haruka yang tidak sama sekali aku kenal itu. Ia memberikan raut wajah bingung padaku,dan bergantian pada Kirei.Ia seperti kesal tapi tidak bisa berbicara. Hal itu juga tidak dapat aku ketahui.


"Ternyata begini saja lebih baik," gumamku.


Aku merasakan, jika Hideakou ingin berbicara padaku. Lebih tepatnya memberi pertanyaan. Namun Kirei menahan Hideakou dengan memegang tangannya Hideakou.


"Aku harus bertanya. Yang aku tahu, jika dia benar-benar sakit." Ujar Hideakou.


"Sudahlah!. Apa kau harus mengurusi orang lain yang belum saja kau kenal!." Ujar Kirei.


Kakiku terus melangkah dengan dagu yang menghadap ke tanah. Meskipun pikiranku telah tidak ingin terlibat dengannya, mereka tetap mengusikki terutama pada sikapnya Hideakou.


"Untuk apa Hideakou bertanya padaku?. Dia sudah tahu, jika sekarang aku bolos. Apa tidak bisa mencampuri urusanku," gumamku.


Ternyata Hideakou benar-benar telah terlepas dari adiknya Kirei. Ia telah menarik tanganku. Membuatku menoleh tepat di wajahnya. Aku langsung terkejut, dan kembali jatuh dalam tatapannya.


"Apa-apaan maksudnya ini." Ujarku.


Aku tidak tahu mengapa penyakitku kambuh. Saat itu terlihat tepat di matanya. Tentu saja matanya terlihat seperti ombak yang melaju dengan hembusan angin. Bercahaya dengan gemilau percikkan seperti air laut.


"Kenapa aku selalu mendapatkan hal ini padanya?. Apa tidak bisa orang lain selain dia," gumamku.


"Kau bolos. Kau curang. Kau mengambil kesempatan dari hal ini. Aku akan melaporkanmu!." Ujar Hideakou.


Ucapannya seketika membuatku benar-benar terkejut. Aku salah besar memikirkan, jika ia masih memiliki perasaan yang baik namun tersimpan. Ternyata tidak!, aku menatapnya dengan mata yang bergetar.


"Kau tidak sama seperti itu!. Laporkan saja aku!. Aku tidak takut!. Lepaskan aku!. Aku ingin pulang sekarang!." Ujarku dengan nada tegas.


Tentu saja kata 'seperti itu' diaartikan dari penyakitku, atau gemilaunya tidak seperti sifatnya. Hideakou medengar itu langsung menatap tangannya yang melekat di tanganku. Seketika ia melepaskan cukup dengan perasaan panik. Lebih tepatnya seperti tidak menyukai hal itu.


"Lagi dan lagi!. Kau ini tidak sopan denganku!" Ujarku.


"Terserahku. Memangnya kau siapa?" Ujarnya.


Lagi dan lagi rasanya aku semakin sesak dalam kawasan mereka. Aku langsung pergi tanpa meninggalkan kata-kata lagi.


"Apa tidak bisa berkata lebih lembut atau tidak bisakah sedikit saja tidak jujur?," gumamku.


"Hideakou!, kau seperti orang jahat berbicara seperti itu." Ujar Kirei.


Akhirnya aku benar-benar telah melangkah jauh dari mereka. Dan tidak mendengar suara mereka. Akhirnya aku telah tiba dihalaman rumahku. Entah mengapa memasuki kawasan itu saja telah membuatku gemetaran. Aku mulai merasa tidak ada tempat dimana aku bisa tenang.


"Sebaiknya aku tidak mati saja. Tidak ada yang menyukai diriku. Semua orang egois." Ujarku dengan rayt wajah kesal.


"Ya begini lebih baik. Kesendirian itu hal yang lebih baik dimana orang tidak bisa berkata buruk tentangku." Ujarku.


Namun semua perasaan itu seperti ditangkis ketika aku melihat sepatu wanita yang diperlihatkanku kemarin.


"Tidak mungkin ayah membiarkan wanita ini masuk," gumamku.


Akhirnya aku yang merasakan hal aneh mulai mengecek bagian rumah. Belum saja melangkah lebih dalam, aku melihat wanita yang tidak aku ketahui namanya itu berada tepat di dapur.


"Apa-apaan ini?. Kau tidak boleh berada di rumahku!" Ujarku dengan nada tegas.


"Bukan aku ingin. Ayahmu menyuruhku. Apa kau sangat membenciku?. Aku akan menjadikanmu kesayanganku juga." Ujarnya.


Wanita itu berparas muda, wajahnya terlihat seperti memiliki sifat lembit. Aku merasakan hal itu padanya. Namun tetap saja menjadi anak tirinya tetaplah tidak aku inginkan.


"Kau wanita mudah!, bagaimana bisa kau menginginkan ayahku. Kalian akan merebut kebahagianku. Kalian akan berbahagia dengan bayi yang kau kandung, dan melupakanku." Ujarku.


"Ayahmu pria yang baik. Ia sungguh bertangguh jawab. Tenang saja!, aku tidak akan melupakanmu. Kau akan menjadi anaku juga, bukankah begitu?" Ujarnya.


"Aku masih perlu berpikir." Ujarku.


Aku sadar, ayahku belum saja menikah dengannya. Namun wanita itu sudah bertubuh dua. Aku benar-benar bingung. Tentu saja aku benar-benar marah dengan perlakuan ayahku. Namun teringat hak sebelumnya, melihat wanita mudah itu juga aku semakin bingung.


"Dasar ayah!. Ayah memperpanjang masalah dengan ini." Ujarku.


Kakiku melangkah menaiki tangga, dan menuju kamarku. Tas yang berada dj tangaku langsung terlempar di atas kasur. Tanpa aba-aba aku langsung membiarkan tubuhku terduduk di atas kasur.


"Apa beginikah kesialan hidupku?. Tidak satu pun orang mengerti denganku. Termasuk ayah!" Ujarku.


"Kan ada mama!." Ujar Mamaku.


"Tentu saja. Mama adalah orang yang terbaik di kehidupanku ini." Ujarku.


Aku yang sedang mengkhayal seakan mamaku berada di dalam kamarku. Berpura-berpura, jika dia ada. Aku memeluk bantalku sebagai Mamaku.


"Mama bolehkah aku memelukmu?" Ujarku.


"Tentu saja nak!. Peluklah dengan sangat erat." Ujarnya.


Akhirnya  aku benar-benar memeluk bantalku sendiri bersama tetesan air mata yang belum membuatku sangat terisak.


"Mama!, aku benar-benar tidak bisa begini terus. Tidak ada orang yang menyayangiku sepertimu!" Ujarku.


Akhirnya aku benar-benar terisak denga n suara tangis akan rasa mengeluhku.


"Hikss..., hikss..., hiksss, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku lelah berpura-pura. Aku tahu mama sudah tidak ada lagi." Ujarku.


Aku yang kembali sadar mulai menatap bantal itu. Dan melemparnya ke tepi ruangan dengan sangat keras.


"Mama sudah tidak ada lagi!." Teriakku.


Aku langsung membiarkan tubuhku terbaring di atas kasur. Aku menatap ke atas langit-langit ruangan bersama tangis yang terus keluar.


"Seandainya aku yang pergi!. Aku tidak akan merasakan hal ini. Rasanya sangat sepi. Sungguh sepi. Hikss, hikss, hikss." Ujarku.


Entah berapa lama aku telah menangis, aku mulai terlelap dengan mata yang basah, dan pipi yang lembab. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang sangat basah, juga kasar terus menyentuh pipiku. Seketika aku langsung kembali bangun.


"Akhh!, geli!." Ujarku.


Ternyata anjing yang merupakan milik keluarga kami yang bernama jusy telah menjilat pipiku. Entah bagaimana anjing itu bisa masuk. Aku bisa melihat pintu yang sedikit terbuka.


"Kau membuka pintu atau pintu yang memang tidak tertutup rapat!." Ujarku.


Aku langsung bangkit dan mendudukkan diriku tepat di tengah kasur. Kedua kakiku terlipat, dan tanganku menghelus lembut bulunya.


"Jusy! Apakah kau merindukan mama?. Jusy! Apakah kau merindukan masa kecil!." Ujarku.


Ternyata aku terbangun tepat di mana langit telah memberikan warna gelapnya. Angin seperti bersiul memasuki jendela yang terbuka lebar.