
Imajinasi yang nyata bagiku telah menenggelamkanku, seakan menutupi identitasku dengan buramnya pandanganku menuju kenyataan. Mataku yang sedang menatapi langit dengan perantara jendela yang terbuka dan angin yang riuh melewati setiap sela rambutku masih tak membuatku sadar dari sisi imajinasiku.
"Tetap saja ini tak nyata." Gumamku.
Aku masih berada dalam sebuah ilusi dibalik imajinasiku yang biasa aku sebut dunia keduaku. Ini selalu terjadi saat aku menginkannya, ataupun tidak dan memungkinkan itu bisa datang kapan saja. Tak seperti manusia yang biasa lainnya menatap bintang berserakan di atas langit. Aku dapat melihat lebih nyata dari hal itu dan apa saja yang akan aku bayangkan akan terjadi dari imajinasi yang sebenarnya ingin sekali aku lepaskan.
"Huh, jika saja aku tak terlahir seperti ini." Gumamku.
Terutama aku sedang melihat konser melayang di atas langit, tapi konser ini lebih seperti pertunjukkan sesuatu yang tak seharusnya ada di dunia. Kereta api melayang, hewan-hewan berwarna warni, dan hal lain yang terkadang membutakanku sehingga terkadang aku kesulitan untuk kembali.
"Aku lelah seperti ini terus, huh..." Gumamku diakhiri dengan menghela nafas.
Namun kenyataannya aku selalu kabur untuk dikatakan manusia yang tak waras. Aku selalu bekerja keras agar imajinasi tak datang di waktu yang sangat penting bagiku, dan berharap menjadi manusia normal lainnya dengan caraku sendiri.
"Sebaiknya aku tidur saja." Ujarku.
Memikirkan hal itu didepan imajinasiku, membuatku lelah, dan ingin terlelap dalam tidurku. Kedua tanganku pun saling melipat diatas meja, memikul kepalaku, hingga akupun terlelap di dinginnya malam, namun tetap saja dibalik mataku tertutup dan menghasilkan sebuah mimpi masih saja terkadang seperti akulah yang menjalankan mimpi yang masih sangat nyata bagiku.
" Gelap!." Ujarku.
Kakiku pun melangkah di dalam kegelapan itu. Aku tak tahu kemanakah aku akan berhenti, hingga aku merasakan begitu banyak sosok gelap seperti serpihan pasir menyerupai tubuh manusia, dan tak dapat terlihat sangat jelas yang tak jauh dari sekitarku.
"Jangan mendekat!. Aku mohon!. Apa yang kalian ingin kan?!. Jangan mendekat!." Teriakku.
Tubuhku bergetar menghasilkan keringat dingin, langkahan sosok itu mendekat padaku hingga kedua tanganku menyilang memegang bahuku.
"Aku mohon jangan mendekat!. Aku ingin keluar dari mimpi ini!. Jangan melangkah lagi kumohon!." Teriakku.
Teriakku tak terdengar oleh mereka. Mereka terus mendekat padaku hingga tubuhku terduduk dan menutupi wajahku akan takutnya aku pada sosok itu. Air mataku langsung keluar begitu saja dibalik lenganku yang menutupi wajahku.
"Hiks, hiks, kumohon pergilah kalian!. Hiks, aku takut, hiks....." Teriakku disertai tangis.
Walau begitu sosok itu terus mendekat, hingga badanku terasa sangat hangat, mereka mengerubungiku. Aku tak tahu sebelumnya apa yang mereka maksud, namun semakin mereka mendekat. Tangan mereka seakan ingin menyentuhku, dan benar saja mereka membiarkan sosok mereka yang sangat banyak memelukku, hingga tangisku sebelumnya berlinang sudah hilang begitu saja akan betapa terkejutnya diriku melihat reaksi mereka secara tiba tiba.
"Sebenarnya apa yang kalian mau!." Ujarku tegas.
Akupun bangkit dan kembali berdiri normal sembari membiarkan mereka memelukku. Entah mengapa di balik banyaknya sosok itu, aku merasakan jika mereka sedang menangis. Aku semakin tak mengerti akan suara tangis mereka yang aku dengar dan wajah yang tak dapat kukenali karena sosok mereka yang tertutupi oleh kegelapan.
"Mengapa kalian menangis?. Aku tak dapat mengerti apa yang kalian maksud!." Ujarku dengan wajah bingung.
Akupun terpaksa membalas pelukan mereka, walaupun aku tak tahu bagaimana air mata mereka jatuh. Tiba-tiba saja cahaya datang dari jauh menyinari kami, namun bersama cahaya itu. Terlihat sosok yang melangkah ke arah kami. Sosok itu sama seperti lainnya hanya saja lebih bersinar. Mereka melepas pelukan mereka dan menoleh ke arah sosok yang datang dari cahaya itu.
"Apa itu?." Tanyaku.
Suasana yang sebelumnya sedikit pilu dan dingin, begitu saja hilang dan menggantikannya menjadi hangat.
"Sebenarnya apa yang terjadi?." Ujarku dengan wajah bingung.
Kakinya terus melangkah. Aku mulai sadar bahwa setiap langkahannya menyingkirkan setiap sosok yang berada didepannya, hingga akhirnya aku berhadapan dengannya, tanpa mengetahui wajah dan bentuk tubuhnya seperti apa. Aku meyakini jika ia seorang pria, terlihat dari kepala dan caranya melangkah.
"Mengapa?." Tanyaku.
Ia tak membalas pertanyaanku, jusru ia semakin mendekat padaku. Sebelumnya aku masih belum sadar, jika salah satu tangannya bergerak menuju bahuku. Betapa tak menyangkanya aku saat itu. Tubuhku yang sebelumnya gelap. Menghasilkan warna menyeluruh tubuhku juga sekitarku. Tetap saja sosok pasir menyerupai manusia itu tak berubah sedikitpun. Sebelumnya aku mengira bahwa mereka seperti sosok hantu. Ternyata tidak, itu semua tak lain dari perasaan akan kegelapan yang menyelimutiku.
"Hahh." Gumamku.
Mataku seakan tak dapat mengelak dari apa yang kulihat. Terutama badanku yang seakan seperti patung hanya bisa menerimanya begitu saja. Sosok yang sebelumnya memegang bahuku, tiba-tiba saja salah satu tanganya bergerak ke arah leherku, juga tubunya yang semakin dekat. Aku mulai sadar wajahku dan wajahnya yang tak memiliki rupa telah bersentuhan. Aku hanya merasakan bibirku semakin hangat dan mataku yang semakin terpejam, walaupun begitu aku tak merasakan apa-apa karena wajahnya yang tak memiliki rupa dan hanya datar seperti sosok asap yang menggumpal membentuk tubuh manusia dan dikelilingi pasir lembut. Dia seperti angin yang hanya melewatiku.
"Huh, apa ini?." Ujarku dengan nada rendah dan wajah bingung.
Akhirnya sosok itu memberi jarak kembali. Betapa terkejutnya aku saat itu. Sosok yang di hadapanku itu semakin berwarna, walau begitu sosok itu juga semakin terlihat buram dipandanganku. Seluruhnya telah kembali berwarna seakan cahaya menderangi seluruh isi didalam kegelapanku.
"Sebenarnya apa yang terjadi?!." Teriakku.
Semua sosok itu tentu saja manusia, rupa mereka kembali, namun aku masih tak bisa melihat mereka jelas. Pria yang sebelumnya telah memberikan jarak kembali mulai memegang tengkuk leherku dan mendekati bibirku kembali. Kali ini aku bisa melihat matanya yang berwarna biru tua buram sedang menatapku begitu dekat. Aku bisa merasakan kehangatan dari bibirku yang semakin lama menimbulkan cahaya dari wajahnya yang buram, hingga menghilangkan pandanganku. Aku mencoba semakin menyadari, jika hanya matanya semakin jelas, hingga membuatku kaku karena cahaya yang terus menyinari pandanganku.
"Huuhh, apa yang sedang dia lakukan padaku?." Gumamku.
Mataku seketika saja seakan membuka hal baru, dan ternyata cahaya pagi telah menyinari ruanganku.
Akupun dengat cepat bergegas untuk bersiap memulai mata Kuliahku yang baru saja pertama kali kumulai sebagai mahasiswa jurusan Musik, dan menjadi masa remaja terakhirku. Aku hanya bisa membiarkan diriku dibawa oleh beberapa kendaraan untuk menuju kampusku. Suara laju telapak sepatuku pun dapat terdengar olehku sesaat. Akhirnya aku pun sudah berada dihalaman Kampus.
"Huh, Akhirnya." Ujarku.
Akupun akhirnya bisa menyelaraskan langkahku kembali. Terlihat beberapa dari mereka bertukar pikiran atapun bercanda tawa. Tetap saja hal seperti itu tak mengusikku. Aku pun kembali melangkah kakiku hingga tak jauh dari koridor Kampus terlihat papan yang menunjukkan ruannganku.
"Kira-kira seperti apa mereka bermain musik?." Gumamku.
Kakiku terus melangkah dan membiarkan kepalaku menundu. Tepat saja saat aku memasuki kelas. Seorang pria menabrakku hingga kami berdua pun terjatuh
"Brakk." Suara tubrukan.
Salah satu tanganku langsung bereaksi memegang dahiku. Pria itupun langsung bangkit dan menyalurkan tangannya sembari memohon maaf.
"Maaf." Ujarnya.
Tepat saja saat aku menoleh kearahnya dan membiarkan tanganku menyentuh salah tangannya. penyakitku mengulah kembali. Suasana berubah seakan gelembungan air yang berterbangan bersama angin. Perubahan suhu dan sekitarku menghilang bersama gelembung air yang terbang itu.
"Oh astaga...astaga..kumohon jangan lagi." Gumamku.
Betapa tak menyangkanya jika pria yang berada dihadapanku masih hadir dan berada didalam dunia keduaku. Semua perasaan itu terhalang saat perubahan dari matanya yang sangat indah menjadikannya berwarna coklat terang juga berbinar, dan pakaiannya yang tak pernah kulihat didunia normalku sebelumnya. Akupun terpaksa tidak terpesona dan kabur dari hadapannya.
Namun ruangan yang telah berubah menjadi dataran hijau membuatku memberhentikan langkahku. Aku hanya bisa terdiam melirik hamparan dedaunan dan rumput yang bersenandung bersama angin riuh.
"Mengapa hari pertama?. Mengapa harus sekarang?!." Gumamku.
Ternyata pria yang berada didalam duniaku sudah mencoba memangilku beberapa kali untuk menoleh kerahnya, namun sepertinya tak terdengar olehku. Aku tidak sadar, jika aku hanya milirik langit, hingga akhirnya pria itu pun berada dihadapanku. Tangannya langsung menarikku mengikuti langkahnya, hingga akhirnya Ia menyuruhku duduk.
"Duduklah disini!." Ujarnya.
Matanya langsung melirik kedahiku. Jari tangannya tiba-tiba saja langsung mendekati dahiku, hingga aku merasakan rasa sakit dari dahiku setelah ia menyentuhnya.
"Akhhh." Suara kesakitan.
Suaraku yang membuatnya terkejut langsung kembali menjauhi dahiku. Akupun bisa melihat wajahnya yang begitu khawatir.
"Maaf!. Aku akan segera mencari obat!." Ujarnya.
Entah mengapa aku hanya bisa mematuhinya dan diam karena tak tahu apa yag bakal terjadi jika aku terlalu mengikuti suasana sehingga mengacaukan dunia normalku. Ia pun bangkit menjauhi diriku. Pergi mencari obat yang tak jauh dari tempat yang kami duduki. Kakinya perlahan melangkah dan semakin lama lajunya juga semakin cepat.
"Tunggulah!." Teriaknya.
Berapa menit kemudian pun ia kembali. Terlihat tak jauh dari pandanganku jika ia sedang berlari. Mataku seakan hanya bisa melirik kemana tubuhnya bergerak hingga akhirnya pria yang tak kukenali telah berhadapan padaku.
"Dia benar-benar serius ternyata." Gumamku.
Tanganya langsung kembali menghampiri dahiku. Aku bisa melihat obat yang berupa ramuan dari beberapa tumbuhan. Ia mengoleskannya didahiku. Tanpa kusadari aku terus melirik gerak-gerik kedua bola matanya dan wajahnya yang sangat fokus untuk mengobatiku.
"Akh." Suara menahan sakit.
Tentu saja semakin lama jantungku semakin terasa berbeda. Aku yakin bahwa semua wanita bakal merasakan perasaan ini jika melihat pria yang sangat fokus pada suatu tujuan. Akhirnya jari tangannya pun menjauhi dahiku. Akupun bisa melihat garis tangannya yang menarik, juga terlihat tegas itu.
"Apa kau merasa baikkan?." Ujarnya dengan tersenyum.
Ternyata senyumannya dan wajahnya yang terlihat dihadapanku telah mengusikku untuk terus menatap matanya yang berkilau. Aku mulai sadar, jika semakin aku melihatnya tanpa keraguan, dan tak membalas pertanyaannya telah merubah matanya yang indah menjadi berwarna coklat biasa.
"Apa-apaan itu!." Gumamku.
Akupun langsung melirik sekitar dan ternyata perubahan itu telah dimulai sejak aku menatap matanya. Seiring waktu berjalan, dan mengalami perubahan. Aku dengan cepat menoleh kearah berlawanan dan menyempatkan diriku untuk melihat sekitar yang semakin lama hilang bersamaan percikkan yang menghasilkan perubahan. Dan akhirnya perubahan itupun selesai begitu saja.
"Sebaiknya lebih cepat." Gumamku.
Ternyata aku telah kembali di dunia pertamaku. Ternyata aku telah terduduk diatas kursi. Tepat saja aku menghadapkan wajahku kedepan untuk mengucapkan terima kasih pada pria yang sebelumnya menoleh ke arahku. Ternyata telah duluan menoleh kedepan. Dan diakhri dengan menampakkan dahi sebelahnya yang juga lembab.
"Terima..." Ujarku terpotong.
Terlihat juga Dosen yang ternyata telah duduk, sehingga tak memberiku kesempatan untuk mengucapkan terima kasih. Aku sadar, jika aku sudah tak dapat mengeluarkan suara dari mulutku kembali.