To Love

To Love
Aku yang salah



Aku mulai percaya, jika Hideakou tidak sama sekali melihat keseluruhan tubuhku. Walaupun begitu aku benar-benar tidak ingin memikirkan hal sedikit menjijikkan, dan kotor itu.


"Akhh, sudahlah. Aku tidak terlalu suka memikirkan hali ini. Aku hanya berharap itu bukan hal yang saat menjijikkan. "Sebaiknya aku mandi saja!." Ujarku tegas.


Aku pun langsung bergegas untuk mandi. Aku mulai tidak sadar, jika pikiranku masih terasa tidak tentu, dan sangat mengusikku. Aku mulai kembali membiarkan diriku basah ditengah terjangnya air yang jatuh.


"Huh, segarnya." Gumamku.


Aku pun mulai merasa tubuhku kembali segar. Wangi shampo dan sabun yang lembut ternyata tidak mengusikku. Sikap Hideakou sebelumnya membuatku terus memikirkannya.


"Aku tidak mengerti apa yang dia katakan tadi." Ujarku.


Aku mulai tidak sadar, jika aku telah terlelap dalam lamunan. Lamunan itu menandakan diriku yang sama sekali tidak dapat mengerti akan hal yang terjadi pada hari itu.


"Astaga, mengapa aku melamun seperti ini?." Ujarku.


Akhirnya balutan kain yang lembut, nyaman, dan mudah untuk terbuka telah aku kenakan. Rambutku pun juga dibalut oleh handuk, agar cepat untuk kering. Akhirnya aku kembali mengenakan pakaian tidurku.


"Huhh, segarnya. Sepertinya di luar sana hujannya deras sekali." Gumamku.


Aku mulai membiarkan diriku terduduk di atas kasur. Akhirnya pikiranku yang sebelumnya kembali mengusikku.


"Sebenarnya apa yang dia lakukan tadi?. Mengapa bagian tertentu di bajuku bisa sangat lembab. Apa huja telah datang saat aku berjalan dengannya?." Ujarku dengan wajah bingung.


Tiba-tiba pandanganku mulai terasa janggal. Aku melirik kearah sesuatu yang tidak jauh berada dihadapanku. Aku mulai melihat benda yang cukup besar, namun tertutupi plastik sampah yang berwarna hitam.


"Tunggu, tunggu sepertinya itu plastik sampah. Bagaimana bisa disini?. Apa ada sampahnya?." Ujarku dengan wajah penasaran.


Tanpa aba-aba kakiku langsung melangkah tegas, dan cepat. Aku mulai membiarkan jari-jariku menyeringai untuk membuka ikatan plastik itu. Ternyata benda itu adalah Gitar yang sebelumnya hampir aku lupakan.


"Gitar!, ini Gitarnya. hampir saja aku lupa. Kenapa Gitarnya terbungkus oleh plastik?." Ujarku dengan tegas.


Aku hanya bisa terus memegang Gitar itu. Aku mulai berpikir dengan apa yang seharusnya aku pikirkan.


"Huhh sebenarnya, apa yang terjadi tadi?. Apa benar, jika kami telah kehujanan sebelumnya?." Gumamku dengan wajah gelisah.


Aku mulai sadar, jika plastik hitam yang sedikit bercak air itu mulai membuat pandanganku benar-benar risih. Semua itu tidak lain, karena aku tidak terlalu suka dengan suasana yang berantakan, walau sekecil apapun itu.


"Mengganggu saja!." Ujarku dengan tegas.


Tanganku pun mulai menjauhi Gitar yang telah berada di atas kursi. Aku langsung mengambil plastik hitam yang berada di dekatku. Aku pun langsung melangkah menuju bagian luar kamarku.


"Hmm, plastik ini seperti sudah seperti menyuruhku berjalan saja." Gumamku.


Sepasang kakiku pun mulai melangkah bergantian, hingga aku telah berada diluar kamarku. Namun belum saja beranjak semakin jauh dari pintu kamarku, aku telah menemukan beberapa sedikit genangan air. Dan genangan air itu mulai mengenai telapak kakiku.


"Ahhh, air!. Ini basah sekali. Kemana arah genangan air ini?." Gumamku.


Lagi dan lagi perasaanku akan penasaran muncul. Aku pun melangkahkan, dan mengikuti bercak air itu itu. Walaupun aku tahu plastik hitam yang sebelumnya, masih berada di telapak tanganku.


Akhirnya sebelum aku mendekati lebih dekat jejak air itu, aku telah menemukan tempat sampah yang tidak jauh dari sudut rumahku. Aku pun langsung membuang plastik, meskipun aku tahu, jika plastik itu masih sedikit basah.


"Huh, akhirnya plastik basah ini aku buang juga." Gumamku.


Aku kembali melangkahkan kakiku , dan kembali mengikuti jejak air yang berceceran itu. Aku mulai sadar bahwa aku telah berada di hadapan pintu yang menuju luar. Tiba-tiba saja aku mulai merasakan panik, dan gelisah.


"Jadi!, jadi!, hujan itu sudah datang dari tadi. Apa salju yang terlihat di ruang imajinasiku tadi merupakan sebuah tanda?. Bagaimana bisa imajinasiku mulai berhubungan dengan dunia asliku?." Ujarku dengan wajah panik.


Aku mulai semakin percaya, jika ini tidaklah terlalu sulit unyuk dimengerti. Hanya saja perasaan gelisah, dan takut membuatku terus berpikir buruk pada Hideakou.


"Hujan!, pasti hujannya semakin deras saat di tengah jalan. Kalau tidak salah di dalam duniaku tadi, aku sedang mengejar Kou. Sepertinya memang kami sudah mulai basah. Jadi itu yang dimaksud oleh Kou. Lalu, apa maksud kata 'maaf' yang diberikannya padaku." Ujarku dengan tegas.


Tiba-tiba saja aku semakin percaya, jika diantara kami atau pun Hideakou tidak benar-benar melakukan hal yang menjijikan. Aku pun sadar, jika aku telah mengingat perkataan Hideakou sebelumnya.


"Oh ya, Hideakou tadi 'aku meminta maaf, hanya bisa melakukan seperti ini'. Aku jadi semakin percaya ucapannya, jika yang dimaksud oleh Hideakou adalah mengenai untuk melindungiku, agar tidah basah kuyup. Walaupun Ia sadar, jika pada akhirnya akan basah kuyup. Seharusnya aku berterima kasih padanya telah menjaga Gitar itu dengan plastik sampah." Ujarku tegas.


Semua keyakinan akan perasaanku pada dirinya mulai menyatakan, Jika Hideakou tidak bersalah. Aku pun semakin panik dengan pikiranku.


"Aku jadi semakin percaya, jika Hideakou membuka bajunya karena memang sudah basah. Dan masalah tentang berada di kasurku, mungkin saja aku tidak sadar mengatakan sesuatu. Akhh, entahlah. Aku tidak boleh memikirkan hal buruk. Hideakou telah banyak membantuku." Ujarku dengan tegas.


Kedua bola mataku seketika menatap tajam pada satu arah. Aku mulai sadar, jika Hideakou pergi saat hujan semakin deras.


"Tidak, tidak. Hideakou pergi saat hujan deras. Dia bisa sakit. Ini salahku. Oh.. tidak, seandainya aku percaya perkataannya tadi. Hideakou pasti sudah sampai dirumahnya dengan basah. Akhhh, sepertinya aku yang telah melakukan hal buruk padanya. semoga Hideakou tidak sakit." Ujarku.


Aku pun terduduk dihadapan genangan air sembari menyesali perbuatanku. Aku terus berharap, jika Hideakoy benar-benar pulang dalam keadaan baik.


"Au mohon!. Aku mohon, semoga dia baik-baik saja. Aku akan benar-benar meminta maaf padanya besok. Aku mohon!. Aku mohon, semoha Hideakou benar-benar dalam keadaan baik-baik saja." Ujarku dengan tegas.


Pikiranku kembali terusik tentang kesehatan Hideakou di rumahnya. Aku mulai sadar, jika aku mulai kembali melamun, karena terus memikirkan tentang Hideakou.


"Akkh, aku tidak seharusnya melamun." Ujarku dengan tegas.


Aku kembali memandangi genangan air itu. Genangan itu sudah terlihat semakin sedikit. Aku mulai sadar, jika pandanganku telah buram. Percikkan warna-warni mulai datang dari bagai arah.


"Ohh tidak. Belum saja aku tidur. Mengapa imajinasi ini datang sekarang?. akhhh." Gumamku dengan wajah yang mulai kesal.


Percikkan warna, dan suasana mulai berubah. Kali ini angin tidak bertiup lembut, dan tidak membuat telingaku bergema seperti sebelumnya. Aku mulai tidak sadar, jika perasaan cemas, sedih, gelisah, dan bingung telah hadir.


"Apa ini?. Mengapa sesak? Akhh, apa in?. Mengapa?, akhh." Ujarku.


Perasaan sesak itu datang dari balik dadaku. Kedua tanganku mulai menempel di bagian atas dadaku.


"Ohh, ini benar-benar tidak dalam situasi baik. Tidak, aku tidak pernah menginginkan hal ini. Sebenarnya apa yang terjadi?. Mengapa duniaku semakin aneh." Ujarku tegas.


Tiba-tiba saja penglihatanku mulai kembali normal. Aku mulai melihat dengan jelas. Namun betapa terkejutnya aku saat itu, jika dihadapanku telah diperlikatkan olehku genangan darah. Aku tidak sadar, jika perubahan itu telah membuat pakaian yang aku kenakan mulai bercak darah.


"Akhh, aku benar-benar tidak suka ini. Apa maksudnya?. Apa maksud ini semua?." Ujarku dengan wajah panik.