To Love

To Love
Pelukan dari Hideakou



Saat itu aku mulai terkejut, jika sosok tanpa rupa itu memberikan ucapan yang membuatku tidak menduganya.


"Hei!, seharusnya aku yang bertanya padamu. Kau ini makhluk apa?. Bagaimana bisa kau disini." Ujarku dengan wajah kesal.


Entah mengapa rasanya aku pernah sekali menemuinya, namun entah mengapa aku tidak dapat mengingatnya sama sekali.


"Entahlah, kau kira aku hantu ya!. Tentu saja aku manusia. Apa kau wanita bodoh?, sudah jelas aku manusia." Ujarnya tegas.


Aku benar tidak tahu bagaimana ekspresinya. Tentu saja suaranya terdengar seperti seorang pria, namun perkataannya semakin membuatku tidak mengerti.


"Jadi kau manusia!. Mengapa aku tidak dapat melihat rupa di wajahmu?." Ujarku tegas.


Walaupun sosok itu tidak membuatku takut, tetap saja dengan wajah tanpa rupanya masih membuat suasana terasa sepi tanpa wajah-wajah manusia.


"Ha!, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, yang penting aku masih bisa menyentuh salah satu bagian tubuhku. Jangan pernah kau mengira aku sosok aneh. Panggil aku Arnius!." Ujarnya dengan tegas.


Rasanya pikiranku seperti melayang, dan sangat membuatku pusing. Aku tidak dapat sama sekali untuk mengerti tentang dunia keduaku yang semakin aneh.


"Apa aku semakin tidak waras?. Oh astaga." Gumamku dengan wajah kesal.


Tiba-tiba saja Arnius melangkahkan kakinya, dan menoleh ke arah berlawanan dari hadapanku. Aku semakin tidak mengerti dengan sikapnya. Mataku rasanya seakan menatapnya. Aku pun tidak dapat mengatakan sepatah kata pun.


"Sebenarnya apa yang dia mau?. Jika saja aku bisa melihat rupa di wajahnya." Gumamku dengan wajah terkejut.


Ia pun semakin menjauh dari hadapanku. Rasanya angin tiba-tiba saja bertiup kencang saat sosok itu tidak dihadapanku lagi, namun siapa sangka Arnius akan menoleh ke arahku kembali sebelum semakin jauh.


"Hei!, Aku minta maaf mengganggu kalian, dan pergi tiba-tiba." Ujarnya dengan lembut.


Ucapannya yang mengatakan 'kalian' seakan membuat jantungku berdetak kencang, dan ingin langsung melirik ke segala arah tanpa memperdulikan Arnius yang akan hilang dari pandanganku.


"Mengapa dia mengatakannya 'kalian'? " Gumamku dengan wajah panik.


Aku pun segera menoleh kebelakangku dengan cepat. Benar saja seorang pria lebih tinggi dariku dengan tubuh yang lumayan bagus telah berhadapan kembali denganku. Tentu saja itu Hideakou yang telah membuatku mencarinya sebelumnya.


"Hideakou?." Gumamku.


Namun kejadian yang pernah terjadi sebelumnya tiba-tiba membuatku kembali teringat. Melihatnya saja langsung membuatku terduduk. Aku hanya bisa menatapinya dengan tangis yang histeris, karena bisa melihatnya lagi di dalam ruang imajinasiku.


"Hiks..., hiks.., hiks... Kau memang menyebalkan, ya bodoh. Dasar Hideakou bodoh. Aku sudah mencarimu dari tadi" Ujarku.


Aku sebelumnya berpikir Ia akan memberikan wajah yang kecewa untuk dirinya sendiri, ternyata tidak. Hideakou semakin memasangkan wajah bingung. Ia pun segera terduduk dihadapanku untuk mengatakan sesuatu.


"Aku minta maaf, tapi jujur aku tidak mengerti Miyuki Chan." Ujarnya dengan lembut.


Jari-jari tangan Hideakou mulai mendatangi wajahku, dan mengusap air mataku. Aku masih bisa melihat jelas raut wajahnya yang bingung.


"Apa maksudmu tidak mengerti?. Aku tidak suka kau mempermainkanku. Aku melihatmu berdarah, kesakitan, dan wajah yang hampir kehilangan nyawa itu!. tidak mungkin kau tidak mengingatnya. Hideakou!." Ujarku dengan wajah tegas.


Jari Hideakou yang mengusap air mataku seketika berhenti, sesaat air mataku pun juga terhenti. Hideakou pun membalas tatapan tajam mataku, walau dengan wajah yang masih bingung.


"Aku tidak tahu apa yang kau katakan!. Aku yakin itu sangat buruk, jadi maafkan aku, dan lupakan saja." Ujarnya lembut.


"Hideakou, jangan berkata kau tidak ingat semuanya!. Aku tidak memaafkan diriku sendiri, jika kau berkata begitu." Ujarku yang semakin lembut.


Imajinasi bukanlah suatu kehidupan yang berjalan. Imajinasi adalah hal baru, sayangnya aku tidak mengerti hal itu.


"Ini imajinasimu. Entah mengapa aku bisa mengetahui namamu begitu saja. Maafkan aku Miyuki Chan, tapi kau juga tidak bisa menganggap ini semua sesuatu yang akan berjalan seperti kehidupan nyatamu." Ujarnya lembut.


Kenyataannya aku tidak sanggup kembali menatapnya. Aku langsung menoleh ke arah berlawanan. Aku juga tidak dapat menyimpulkan semua yang Ia katakan.


"Kenapa aku tidak ingin kesepian kenapa?!." Ujarku.


Hideakou kembali mencoba mendekatiku. Telapak tangannya pun memegang bahuku dari belakang, namun dengan cepat tubuhku menyingkirkan tangannya. Semua itu tidak lain karena emosi yang sulitku simpulkan.


"


Maafkan aku Miyuki." Ujarnya dengan lembut.


Wajahku pun terus berpaling darinya, namun semakin aku perhatikan akan pikiranku, semua ini bukanlah salahnya.


"Aku tidak menyuruhmu meminta maaf padaku. Aku hanya ingin dianggap normal. Aku hanya ingin bersenang, seharusnya aku yang minta maaf denganmu." Ujarku dengan suara yang semakin rendah, dan diakhiri dengan suara tegas.


Aku yang bisa meratapi kenyataan yang tidak ingin aku dengar, akhirnya membuatku pasrah, dan hanya bisa membiarkan Hideakou kembali mendekat padaku, dan memegang bahuku kembali. Namun kenyataannya, air mataku semakin jatuh.


"Bukankah sebaiknya kau mencoba berteman, dan berbicara seperti lainnya didunia pertamamu. Aku akan disini sebagai teman di dalam ruangan imajinasimu ini." Ujarnya dengan nada lembut.


Entah mengapa ucapan yang Ia katakan semakin membuatku menangis.


"Hiks..., hish... Aku harap seperti itu. Hiks..., hiks...." Ujarku dengan menangis.


Tiba-tiba saja Hideakou melangkahkan kakinya, dan melepaskan tangannya yang menyentuh bahuku menuju hadapanku. Tiba-tipa saja Hideakou membuka Kedua tangannya secara lebar.


"Miyuki Chan!. Aku yakin Hideakou disana tidak suka kau menangis, jadi peluk aku dengan tangismu. Jika bisa hingga bajuku pun basah." Ujarnya dengan tersenyum.


Reaksi Hideakou membuatku langsung kembali manatap wajahnya. Terlihatlah senyum lebarnya yang membuat matanya tertutup. Tentu saja, aku pun semakin menangis walau masih melihatnya.


"Miyuki Chan!, peluk aku!." Ujarnya dengan tegas.


Kakiku rasanya seakan berlari menghampirinya tanpa rasa canggung. Aku mulai sadar, jika aku telah dipeluk olehnya dengan sangat erat. Hiks..., hiks..., hiks..., jika saja, jika saja." Ujarku.


Tanpa terasa, Hide semakin erat memelukku, dan semakin tersenyum walau tidak terlihat olehku. Aku dengan Hideakou pun saling membalas pelukkan itu.


"Begitulah seharusnya!. Teruslah menangis. Aku ingin kau keluarkan semuanya." Ujarnya.


Namun pelukan hangat itu berubah menjadi dingin, dan semakin dingin.


"Panggil aku Kou ya untuk selanjutnya!." Ujarnya.


Suara yang masih dapat aku dengar tidak merensponsku untuk membalas. Aku hanya bisa menangis di dalam pelukannya. Namun kali ini benar saja, dingin itu semakin lembut. Kelembutan yang sangat nyaman, hingga aku mulai sadar, jika tubuh pria yang sebelumnya telah aku peluk semakin tidak terasa olehku. Aku hanya semakin merasakan sebuah kelembutan yang datang dari balik pelukan itu. Dan kelembutan itu berasal dari bantalku.


"Hiks...., hiks...., hiks.., Kou!, teruslah menemaniku." Ujarku sembari menangis.