To Love

To Love
Hampir



Sinar mentari menembus udara, kicauan macam burung seakan sedang memainkan suatu musik. Embun pagi membasahi seisi semesta. Dan saat mataku terbuka oleh hal itu, aku bisa merasakan hari telah berubah.


"Aku harus siap-siap." Ujarku.


Entah berapa menit telah berlalu. Akhirnya aku telah dapat menginjakkan kakiku menuju tanah yang berbeda.


"Aku pergi!." Teriakku.


"Apakah kau sudah benar-benar merasa baik? Aku tidak memaksamu, bukan?" Ujar Ayahku


Tentu saja aku tidak ingin mencari masalah hanya berurusan dengan Hana. Kakiku seakan ditarik cepat menuju luar.


"Lebih cepat juga lebih bagus daripada di dalam rumah ini," gumamku.


Akhirnya aku telah tiba dimana setiap mahasiswa terlihat seperti orang-orang sawah. Tentu saja tidak lain karena aku muak dengan kehidupanku. Dan sekarang cara pandangku menjadi begitu.


"Beginikah rasanya ketika Headsetku hilang? Aku benar-benar tidak menyukai suasana ini." Ujarku.


Tepat kakiku telah berada di dalam kelas. Aku bisa melihat Kirei, Hideakou yang saling bertukar pikiran, termasuk lainnya. Aku berjalan santai sembari menunduk tanpa mencoba berbicara dengan siapapun hingga akhirnya aku telah berada dikursiku.


"Apa yang akan aku lakukan? Tentu saja sebaiknya aku membaca novel," gumamku.


Beberapa orang meliriku dengan raut wajah penasaran, namun aku tidak menghiraukan itu. Sekitar beberapa menit berlalu. Aku tidak sadar, jika Mitsuko kali ini tidak bolos.


"Kali ini dia datang," gumamku.


Mitsuko tidak sadar atas perbuatannya. Ia berjalan memasuki kelas dengan ponsel yang terpajang di tangannya, dan Headset yang melekat di telinganya.


"Astaga? Apa dia tidak takut menunjukkan ponselnya begitu?," gumamku.


Hal yang mengejutkan bagiku saat semua orang tidak memperdulikannya. Aku semakin yakin, jika hal itu sudah biasa baginya.


"Kali ini tidak perlu berurusan dengan orang lain," gumamku.


Belum saja aku melanjutkan membaca buku. Hideakou sudah dari sebelumnya melirik ke arah Kirei. Aku berpikir, jika Hideakou lah mempunyai rasa dengan Kirei bukan dengan Haruka. Namun dugaanku salah.


"Tidak!, sebenarnya apa yang ingin dilakukan Hideakou bodoh itu," gumamku.


Suara gertakkan keras dari meja terdengar membuat beberapa orang melirik mereka. Hideakou menatap kasar Mitsuko. Kali ini aku berpikir, jika Kirei telah memberi tahu kebenaran.


"Apa Kirei sudah mengatakannya?," gumamku.


Dugaanku salah kembali. Hideakou menarik Headset milik Mitsuko seperti yang dilakukannya padaku. Raut wajahnya benar-benar tegas.


"Astaga! Entah apa yang dipikirkan orang bodoh itu. Apa tidak lelah mengganggu orang," gumamku.


Tentu saja dugaanku berlalu dengan salah kembali. Headset yang berada di tangannya seakan bergerak ke arahku bersama telapak tangannya. Seketika aku hanya bisa mengerutkan dahiku.


"Kenapa dia berjalam ke arahku? Apa aku salah lagi," gumamku.


Hideakou meletakkannya tepat di atas mejaku. Seketika aku memarahinya atas perbuatannya.


"Kau ini! Apa aku ada urusan lagi denganmu?. Itu punya Mitsuko." Ujarku


"Ini punyamu!." Ujarnya.


Mendengar ucapan Hideakou membuatku ingin melirik ke arah Mitsuko. Mitsuko benar-benar memberikan raut wajah gelisah, dan ketakutan. Namun entah apa yang membuatnya takut.


"Hei Mitsuko! Darimana kau mendapatkan Headset ini? Katakan padaku!." Ujar Hideakou dengan nada tegas.


Aku benar-benar tidak mengerti. Yang aku tahu Headset yang diberikannya merupakan Headset umum biasanya yang berwarna putih. Aku bisa menebaknya, jika orang-orang memang mempunyai Headset yang sama.


"Hideakou! Kau tidak boleh menuduhnya. Kau juga tidak tahu apa-apa. Headset seperti ini memang banyak digunakan orang-orang." Ujarku.


"Kau seharusnya memeriksa Headset itu dengan jelas. Aku selalu memberi tanda ke semua barang yang selalu keberikan pada orang!." Ujarnya.


"Aku tahu mereka telah merebut Headsetku kemarin, namun Headset seperti ini juga banyak dimiliki orang," gumamku.


Hal yang aneh karena aku sendiri tidak mengetahui tandanya. Aku melirik ke arah Mitsuko berangsur-angsur, dan terlihatlah raut wajah benar-benar gelisah.


"Sebenarnya ada apa ini? Apa Mitsuko itu memang menggunakan Headsetnya kemarin," gumamku.


Aku bisa melihat tanda milik Hideakou yaitu Stiker kelinci berwarna pink tepat berada di tengah kabel yang panjang itu.


"Apa beginikah dia memberi tanda. Ini terlalu imut." Ujarku.


"Mitsuko kau tidak salah!," Ujarnya.


"Apa?" Ujarnya dengan raut wajah bingung


"Apa yang kau katakan itu?" Ujar Hideakou.


Dengan hal ini aku sadar, jika Mitsuko tidak dapat berbuat banyak tanpa kelompoknya. Ia benar-benar terlihat lemah dengan hal begitu saat sendirian.


"Ini punya dia!, aku memberikannya kemarin! Aku bertemu dengannya juga, walau kau tahu dia bolos, bukan?." Ujarku.


Entah apa yang telah terucap olehku. Aku benar-benar berbohong. Hideakou benar-benar memberikan raut wajah kesal padaku.


"Aku memberikannya padamu atas kesalahanku dan itu keinginan Kirei. Aku tidak mengerti cara pikirmu. Ternyata kau benar-benar tidak ingin barang yang berasal dariku!. Ujarnya.


Hideakou langsung melangkah. Namun atas ucapannya juga aku tidak bisa menerima pikirannya. Tanganku merenspon untuk menarik ujung pakaiannya.


"Hideakou bukan begitu maksudku! Aku bukan tidak suka!" Ujarku.


Entah mengapa lagi penyakitku datang. Dan kali ini aku merasakan permukaan lantai seperti lantai es.


"Oh tidak! Ini sangat licin." Ujarku.


"Apa?" Ujar Hideakou.


Aku bisa merasakan jariku benar-benar bertumpu pada pakaian Hideakou. Hideakou terus berjalan. Kali ini aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan!." Ujarnya.


Aku tidak dapat melepaskannya dikarenakan lantai es itu seakan disiram dengan suatu yang lebih licin.


"Oh tidak mengapa ini terasa nyata." Ujarku.


Beberapa siswa lainnya tertawa melihat tingkahku. Hideakou pun menepis tanganku sembari menoleh ke arahku.


"Kau ini senang sekali membuat orang kesal!" Ujar Hideakou.


"Pfft lihatlah aneh-aneh saja anak baru itu!." Ujar salah satu siswa.


Kali ini aku tidak bisa menyeimbangkan tubuhku. Aku seakan bergoyang tidak tentu arah. Hideakou yang melihat itu benar-benar berdecit dengan tawa tipis.


"Apa-apaan sih yang kau lakukan ini?" Ujarnya.


Hideakou sebaliknya semakin mempermainkan aku. Kakinya menggertak lantai, dan menggertak kakiku.


"Jangan! Hentikan!" Ujarku.


"Tidak ada yang licin! Kau ini aneh saja!" Ujarnya.


Kakinya seperti sedang melawan kakiku. Aku benar-benar seperti bertarung demi keseimbanganku.


"Hideakou! Hentikan!" Teriakku.


Akhinya aku tidak bisa merasakan keseimbangan, aku mulai terasa ingin jatuh. Namun semua itu hilang saat aku sadar, jika Hideakou telah memegang tanganku.


"Hideakou?" Ujarku dengan raut wajah bingung.


Ia menahanku. Kali ini aku merasa takut dengan Deja-Vu saat di kolam berenang, dan Hideakou akan melepaskanku. Namun tidak!, Hideakou menarikku, dan membuat kedua wajah kami semakin dekat.


"Berhati-hatilah!." Ujarnya.


Entah berapa jarak lagi wajah kami akan saling bersentuhan. Ia benar-benar membuatku menatapnya. Hal aku tidak sukai saat menatapnya, ketika aku sadar penyakitku membuatku melihat gemilau dimatanya.


"Astaga!" Ujarku.


Ketika matamu membuatku ingin menatapmu rasanya jantungku berhenti berdetak. Dan setelah itu aku merasakan jantungku semakin berdebar dengan kencang. Kau benar-benar seakan memberhentikan setengah waktu milikku. Namun sayang aku tidaj berharap penyakit ini memberikan hasil palsu padamu yang seharusnya tidak terlihat seperti itu.


Setelah membuatku berjarak sangat dekat dengannya. Hideakou menarikku dengan tegas untuk berada di kursiku. Ternyata Sang Guru telah berada tepat di depan kelas.


"Ternyata sudah datang," gumamku.


Hideakou dengan cepat telah berada di atas kursinya. Aku bisa melihat gerak-geriknya seakan berhenti. Tangannya hanya terlipat tenang di atas meja. Tengkuk lehernya masih menunjukkan keringat yang entah darimana asalnya.


"Oh astaga apa-apaan ini," gumamku.